
Tiba lah saatnya Ryuna menjalani persalinan. Keanehan itu sungguh terjadi. Hal-hal di luar nalar dan tak semua mata bisa menyaksikan dengan jelas. Sekelas Kim yang begitu ingin melihat makhluk-makhluk tak kasat mata di sekitar sana saja tetap tidak bisa.
Anj*ing hutan terus menggonggong menyertai angin yang terus berputar-putar dalam kekuatan hebat mengelilingi kediaman pak Helios yang ada di sebelah pondok pesantren. Di halaman depan sudah diselenggarakan pengajian dalam sekala besar, tapi di dalam kamar Kim, keadaannya benar-benar mencekam.
Nyaris semua benda yang ada di dalam kamar Kim selaku kamar yang Ryuna tempati, terguncang-guncang tak ubahnya terkena gempa dahsyat. Pintu lemari yang sudah dikunci sampai terbuka. Begitu juga dengan laci yang kompak keluar padahal sama sekali tidak ditarik. Beberapa berkas berterbangan, termasuk kain gorden tipis yang sampai terlempar ke seberang.
Kim terjaga di sebelah Ryuna. Pemuda itu tampak sangat tegar dan tetap berdiri memeluk erat Ryuna yang juga masih mendekap erat punggungnya. Baru saja, peci hitam milik Kim dan harusnya berat, terlempar dari kepala dan berakhir jatuh di perut Ryuna yang tak lagi bergerak-gerak.
Seorang Bidan dan seorang perawat siap membantu jalannya persalinan. Termasuk seorang duku*n beranak, selain ibu Chole yang juga sudah siaga. Di sana juga ada pak Helios yang mengetuai para leluhur. Sosok-sosok berpenampilan serba putih dan tak hentinya tersenyum bersahaja di tengah tubuh mereka yang memancarkan cahaya, itulah yang merupakan leluhur pak Helios. Mereka baru saja selesai mengusir para de*mit yang masih saja berusaha mengambil anak Ryuna. Terkhususnya wewe gombel, kuntilanak, buto ijo, dan makhluk mengerikan lainnya, dan terus saja menatap Ryuna dengan bengis.
“M-maaas!” lirih Ryuna yang sudah gemetaran menahan rasa sakit dari proses pembukaan menuju persalinan.
Kedua tangan Kim sudah langsung membingkai wajah Ryuna. “Sakit banget, ya? Dikit lagi, ya. Sabar, bentar lagi yang di perut keluar!” yakinnya benar-benar lembut.
Buih keringat terus mengalir dari wajah Ryuna yang kelewat pucat. Ryuna yang sekadar menatap dengan benar saja sulit, berkata, “Kayaknya sudah mau kelu—ar, deh!” yakin Ryuna yang kemudian berusaha melongok ke perutnya.
“Sabar, Mbak. Soalnya tadi baru pembukaan empat. Paling enggak setengah atau satu jam lagi. Tiduran yuk, miring ke kiri ya. Ayo semangat!” ucap sang bidan yang menjadi agak kehilangan senyumnya lantaran di hadapannya, Ryuna justru berangsur agak berdiri sementara di bawah pangkal perut wanita itu yang masih tertutup selimut merah, seolah ada yang keluar.
__ADS_1
“Subhanallah ... sudah keluar itu!” heboh ibu Chole yang dengan cekatan mengambil sang cucu lantaran bidan, suster, sekaligus duk*un beranak di sana, malah tampak syok sekaligus ketakutan.
Kim yang sempat ikut panik, reflek menatap sang papah. Di depan sana dan awalnya berdiri di belakang ibu Chole, sang papah langsung menatapnya sambil tersenyum. Senyum yang makin lepas bersama tangis bayi laki-laki yang benar-benar keras.
“Sayang ... Sayang ... Sayang! Ini Oma ... alhamdullilah ... masya Allah gantengnya kesayangan semuanya, lahir sehat lancar. Alhamdullilah enggak mirip Paojan. Alhamdullilah ... Masya Alloh bercahaya!” ucap ibu Chole sudah langsung heboh.
Dari ketiga yang harusnya membantu persalinan, baru duku*n beranak yang mulai bertindak. Itu saja si wanita baya salaku duk*un beranaknya masih tampak linglung.
“Mas, ... ini beneran sudah? Beneran sudah enggak sakit juga, dan—” lirih Ryuna yang memang berbisik-bisik kepada sang suami. Ia bahkan belum sampai mengejan secara berarti, selain suasana di sana yang tak lagi berisik. Tak ada lagi yang terguncang-guncang. Tak ada lagi yang berterbangan. Termasuk juga di luar, tak lagi terdengar gemuruh dari suara angin yang berputar-putar kencang. Yang terdengar kini murni tangis bayi yang begitu kencang tak kalah dari lantunan doa di acara pengajian yang ada di depan.
“Masya Allah!” ucap pak Helios tersenyum bahagia sekaligus bangga keada cucu pertamanya.
“Rasanya sebahagia ini. Melebihi kebahagiaan cinta pertama. Iya, lebih membahagiakan dari ketika akhirnya aku jatuh cinta ke papahnya. Dengar suara dia nangis, lihat tubuhnya yang bercahaya, semua rasa sakit sekaligus ketakutan sepanjang aku hamil hingga tadi, beneran bukan apa-apa,” batin Ryuna benar-benar bersyukur.
Kim masih menemani Ryuna dan sesekali mengajak sang papah mengobrol. “Sini dong, sini. Masih mau tendang-tendang lagi, enggak?” ucapnya sengaja menggoda sang putra.
“Kayaknya nantinya kalian jadi kayak kakak adik apalagi kalau lihat perbedaan usia kalian yang cuma berapa sih,” ucap pak Helios masih mengawasi jalannya pembersihan sang cucu. Di sana, ibu Chole turun langsung membersihkan mengikuti arahan duku*n beranak. “Keren, Mbak!” lanjut pak Helios yang kemudian mengacungkan kedua jempol tangannya kepada sang menantu.
__ADS_1
Ryuna kian tersenyum haru. Lebih-lebih ketika dirinya berkode mata dengan para leluhur keluarga pak Helios. Anehnya, sosok-sosok tersebut perlahan hilang dari pandangannya. “Apa gara-gara sudah lahir, ya?” pikir Ryuna bertanya-tanya dalam hatinya. “Enggak apa-apa, lah. Berarti memang bawaannya mas Aqwa,” batinnya lagi yang langsung mesem ketika sang ibu mertua menyumbangkan nama berbau Korea untuk putra pertamanya.
“Nanti diganti pakai nama Kim Oh Jan!” ucap pak Helios dan sukses membuat sang istri sibuk merengek.
“Namanya Aqwa kan Mah ... sekuat itu. Si luar biasa pintarnya. Si luar biasa gantengnya. Si luar biasa sabarnya,” ucap Kim segera mengambil alih sang putra lantaran sang mamah yang memberikannya, izin untuk membersihkan badan terlebih dahulu. Karena biar bagaimanapun, pakaian ibu Chole turut terkena darah.
“Ditaruh di sebelah mamahnya,” santai pak Helios masih mengarahkan kepada Kim.
Bayi gemoy berkulit kemerah-merahan sekaligus bercahaya itu tak lagi sibuk menendang. Sudah langsung anteng dan tak lagi berebut Ryuna dengan sang papah.
“Pinter, ya ... bentar, Papah Adzan dulu,” lembut Kim menggunakan telunjuk tangan kanannya untuk mengelus pipi sang putra.
“Enggak panggil Daddy apa pappi saja, biar kayak saudara laki-laki kamu?” ucap pak Helios. Kebahagiaan yang ia rasa dan itu mendapatkan cucu sangat sehat dan memiliki keiistimewaan khusus, membuat ia sibuk bicara sekaligus melawak.
Adzan berkumandang dari Kim dengan lirih tapi sangat merdu. Bersamaan dengan itu, bukan hanya Kim yang menitikkan air mata. Sebab Ryuna, pak Helios, termasuk si bayi gemoy yang langsung diam dan seolah hanyut menyimak, juga menitikkan air mata.
“Alhamdullilah,” refleks semuanya.
__ADS_1
Pak Helios baru berani mendekat setelah Bidan dan perawat beres membersihkan Ryuna dan tak ada tirai penutup khusus untuk persalinan. Semuanya tersenyum bahagia termasuk adik-adik Kim yang seketika masuk berdatangan berebut melihat bayi ajaib dan sudah memiliki panggilan Aqwa, si bocah laki-laki luar biasa yang juga sangat kuat.