
Ibu Siska benar-benar bingung, dan menjadikan pura-pura pingsan sebagai jurus paling ampuh untuknya lari dari kenyataan. Padahal karena kenyataan tersebut pula, polisi dan aparat setempat justru melakukan segala pemeriksaan dengan leluasa.
Warga yang ada di sana nyaris ikut masuk, tapi dihentikan oleh pak RW yang sengaja berjaga. Itu menjadi tugas pak RW yang berjaga di depan pintu, setelah pak RT menemani polisi yang datang, keliling rumah. Bersama polisi, Ryuna dan Kim juga ikut bergabung. Sementara paman Syam, pria itu diam-diam sudah menyelinap, mencari bukti yang berkaitan dengan Ryuna.
Paman Syam memasuki setiap kamar, tapi jika yakin itu bukan kamar ibu Siska layaknya kini, paman Syam akan segera pergi. Sebab paman Syam yakin, semua bukti menyangkut Ryuna, ada di kamar ibu Siska mengingat rumah di sana memang kecil dan tak sampai disertai ruang rahasia. Juga, kenyataan ibu Siska yang selalu main ancam, membuat setia lawan termasuk itu Ryuna, wajib tunduk.
Di luar, ibu Siska kocar-kacir sendiri. Ia berusaha bangun, minta bantuan Dodo yang sempat memangkunya. Namun yang ada, ia mengalami pepatah mirip sudah jatuh, tapi kejatuhan tangga. Karena Dodo yang bertubuh besar layaknya dirinya, malah terjatuh menimpanya dan benar-benar tidak bisa diandalkan.
“Dodoooooo, kamu ini apa-apaan, sih? Badan kamu berat banget tahu!” omel ibu Siska tak segan mendorong tubuh sang putra. Hanya saja, ibu Siska juga tak kalah sulit gerak dari Dodo efek tubuhnya yang terlalu besar.
Fasilitas untuk para pekerja, dianggap pihak polisi sekaligus pak RT tidak layak. Sepanjang pemeriksaan, Ryuna juga menjelaskan secara detail. Setiap karyawan termasuk Ryuna, selalu diancam atau malah mendapat hukuman. Dari pemotongan gaji yang berakhir bon atau hutang, tidak diberi makan, maupun hukuman fisi*k lainnya. Alasna yang juga membuat tubuh karyawan kebanyakan kering karena kekurangan gizi.
Usaha ketering yang digeluti ibu Siska terbilang mempuni. Setiap harinya selalu mendapat banyak pesanan. Namun Ryuna juga berdalih, andai ada keluhan dari pelanggan, atau masakan yang dimasak tidak terjual semua meski yang menentukan segala sesuatunya memang ibu Siska, karyawan wajib ganti rugi. Jadi, andai jualan tidak habis, karyawan wajib beli dibagi rata biayanya, tapi makanannya wajib dibagi lagi dengan ibu Siska karena wanita itu ikut makan.
__ADS_1
Ibu Siska segera diamankan beserta Dodo yang kebetulan ada di sana. Termasuk bukti hutang-hutang karyawan yang di beberapa keterangannya sampai dihiasi “potongan barang enggak laku”, juga semua yang Ryuna ceritakan. Semua itu langsung menjadi bukti.
“Paman sudah dapat informasi mengenai rumah sakit Ryuna dirawat. Ternyata mereka menjalani rawat bersama-sama. Kejadiannya beneran saat Ryuna masih berusia lima tahun dan ini buktinya. Ryuna terluka parah sampai operasi besar karena otaknya mengalami pendarahan, tapi papahnya Dodo lebih bernasib tragis karena dia meninggal. Jadi, suami ibu Siska yang sekarang, bisa jadi hanya ayah sambung Dodo karena di keterangan medis sekaligus tagihan biaya, ada nama Dodo maupun ibu Siska sebagai pasien.” paman Syam berbisik-bisik kepada Ryuna maupun Kim. “Semuanya sudah ada di depan mata, tapi Paman tetap yakin, kecelakaan ini sengaja mereka manfaatkan untuk memer*as Ryuna sekeluarga, padahal bisa jadi, justru Ryuna yang korban.”
“Ungkap sampai tuntas, Paman!” tegas Kim meski ia hanya berbisik-bisik.
Sambil terus menggandeng Ryuna, memastikan istrinya baik-baik saja, Kim kembali memboyong sang istri ke mobil. Namun kali ini, paman Syam yang sengaja menyetir. Kim duduk di sebelah Ryuna, mencoba menguatkan sang istri yang terlihat sangat tidak baik-baik saja. Baru saja, tatapan mereka bertemu, sementara tangan kanan Ryuna yang tidak Kim genggam, berangsur menggenggam tangan kiri Kim.
“Kalau dugaan kita benar, bahwa sebenarnya aku memang korban, tapi selama ini, mereka justru memperlakukanku maupun orang tuaku dengan tidak manusiawi—aku benar-benar ingin keadilan. Keadilan ....?” Suara Ryuna makin lirih, dan tatapannya kembali tertuju kepada sang suami. “Hukumannya pasti tetap enggak sebanding, Mas. Paling hanya beberapa tahun, atau malah bulan.” Ryuna tidak bisa untuk tidak menangis. Sebab fakta yang akhirnya terkuak, benar-benar menyakitkan. Terlebih terhitung sejak kecelakaan itu juga, bisa ia pastikan, hak asasi manusia orang tua maupun dirinya sudah diram*pas!
Melalui kaca spion di atasnya, paman Syam mengawasi kebersamaan Ryuna dan Kim. “Kalian terima beres saja, ya. Apalagi Ryuna sedang hamil muda.”
Mendengar itu, Ryuna buru-buru menggeleng. Sambil tersedu-sedu, Ryuna berusaha duduk dengan tegar menatap paman Syam melalui kaca spion di atas sebelah paman Syam. “Enggak, Paman. Aku mau kawal kasus ini secara langsung! Aku mau urus tuntas semuanya, dan berharap ibu Siska mendapatkan hukuman paling berat!”
__ADS_1
“Andai hukuman dari kepolisian kurang berat, biarkan hukuman dari masyarakat yang berbicara!” ucap paman Syam. “Atau malah, aku yang akan turun tangan sendiri, membuat mereka menyesal selama-lamanya dan menghabiskan waktu mereka dengan banyak kesakitan! Hukuman semacam ini akan jauh lebih menyakitkan ketimbang langsung mati secara instan!” pikir paman Syam yang sengaja merahasiakannya, bahkan dari Kim dan Ryuna.
Ibu Siska maupun Dodo langsung ditahan. Karena meski tidak terlibat langsung dalam kasus Ryuna, selama ini Dodo terbukti kerap semena-mena kepada karyawannya, khususnya kepada Ryuna. Namun sepanjang itu, ibu Siska masih sering mengamuk dan tak segan akan melaporkan apa yang polisi lakukan kepada kapor*li bahkan presiden.
“Ibu Siska sudah dipastikan bersalah. Waktunya kita istirahat!” yakin Kim.
Ryuna yang tak mau egois apalagi dirinya memang sedang hamil muda, ditambah lagi kini statusnya merupakan istri, menantu, sekaligus calon ibu, memilih menurut.
“Kalian pergi dulu saja. Biar Paman yang urus. Nanti urusan pulang pakai apa, Paman bisa minta jemputan karyawan!” yakin paman Syam masih siaga mengurus sekaligus menyelesaikan segala sesuatunya.
Kim dan Ryuna kompak mengangguk kemudian mengucapkan terima kasih. Lagi-lagi Kim memboyong Ryuna, setelah mereka memastikan, karyawan lain dan sempat menjadi rekan sekaligus bagian dalam hidupnya, mendapatkan penanganan tepat.
“Kita ke restoran, ya?” ucap Kim sambil memasang sabuk pengaman untuk Ryuna yang kali ini duduk di sebelahnya.
__ADS_1
“Restoran bagaimana?” tanya Ryuna tak paham dengan maksud suaminya. Karena sampai detik ini, Ryuna memang belum tahu usaha sekaligus gurita bisnis dari suaminya.