
“Sudah kenyang, berarti aku tinggal tidur, yah, Mas? Bujang baik kan enggak boleh keluyuran, biar istrinya cantik!” ucap Rain dengan santainya, dan sukses membuat Kim mendelik. Apalagi ketika akhirnya Rain sungguh tiduran terlentang, tapi Sabiru justru menertawakannya.
“Mas, bawa pergi ih. Sudah malam, Ryuna mau istirahat!” bisik Kim benar-benar memohon kepada Sabiru yang memang berusia lebih tua beberapa bulan darinya.
“Nah maka dari itu, Mas. Ini sudah malam, pamali bujang keluar rumah, takut diculik wewegomb3l!” balas Rain masih sangat santai sambil meringkuk sekaligus menghadap ke arah Kim.
“Ya makanya kamu sekalian pulang, enggak usah jadi biduan karena enggak ada garisan takdirnya, ngamen dapat pulau atau malah dapat planet! Lagian, besok kamu sekolah, kan?” ujar Kim kepada Rain yang memang masih kelas 3 SMA. Dari mereka bertiga, meski kerap nongkrong bareng, Rain memang yang paling piyik atau itu muda.
“Aku kan sudah beres ujian, Mas. Ya tinggal leha-leha, ibaratnya jadi pengangguran sukses. Memang Mas enggak lihat, pipiku jadi gembul gini, setiap posting foto, ciwi-ciwi pada komen : Ih, gemesnya pipi mas Rain. Boleh ci*um dikit enggak, biar foto kita disatukan di buku nikah?”
Kim menghela napas sambil geleng-geleng. “Itu paling yang bilang begitu, matanya katarak. Atau malah, dia lagi kesur*up*an, terus enggak sengaja lihat foto kamu. Makanya enggak bisa lihat barang bagus sama yang memang enggak seharusnya dianggap bagus!”
Bukannya marah, balasan dari Kim justru sudah langsung membuat Rain cengengesan. “Mas Kim memang bakalan jadi radio butet, eh butut kalau lagi cemburu gini. Padahal kalau biasanya, Mas kan paling diem. Hahaha ....”
“Lagian Mas, ... kalian kan pengantin baru, kok tega-teganya ajak istri hidup susah? Kalau aku yang jadi Mbak Ryuna, asli aku nadjis punya suami yang hobi hidup misk*in. Anak dilahirin, dibesarkan susah payah kok dinikahi cuma buat hidup sesat. Kan dakjal laki-laki macam itu!” lanjut Rain.
Sabiru yang sadar suasana sudah tidak kondusif, sengaja buru-buru memungut bekas makanan dan berniat membuangnya agar ia tak jadi bagian di sana.
Tak beda dengan Sabiru, Kim yang merasa tert*ampar atas ucapan Rain barusan juga sudah langsung merasa bersalah.
“Kim, pulang ke rumah kamu saja, yuk. Di sana tempat tidurnya lebih nyaman. Ryuna pun bisa istirahat dengan lebih leluasa,” ucap Sabiru yang sudah ada di luar.
“Kamu bawa mobil, enggak?” tanya Kim kepada Sabiru.
“Mobilnya Mas Sabiru kehabisan bensin, diisi teh cek*ek malah aku yang jadi mandi keringat karena mobil mendadak mogok!” ucap Rain terdengar melantur.
__ADS_1
Detik itu juga Kim langsung berbisik-bisik kepada Ryuna. “Kalau gitu, kita pulang saja, ya, tapi enggak usah ajak-ajak Rain.”
Ryuna berangsur menoleh ke Kim, hingga yang ada, lantaran Kim masih menunduk di sebelah telinganya, bibir suaminya itu langsung menempel di keningnya. Namun, Kim yang tak mau menyia-nyiakan kesempatan tersebut sengaja beberapa kali mengecu*p dalam, bagian di sana.
Ulah Kim sudah langsung membuat Ryuna tersipu. Meski ketika ia ingat di sana ada Rain, ia langsung panik dan sengaja buru-buru mundur. Hanya saja ketika ia memastikan keadaan Rain, selain kedua mata pemuda itu sudah terpejam, ternyata bunyi mirip seseorang yang sedang ngorok juga masih Rain. Kenyataan tersebut juga yang membuat Ryuna refleks mengembuskan napas lega.
“Rain memang begitu, ... kalau sudah kenyang, mata pun langsung terbenam. Lain kalau lagi lapar, berisiknya ngalah-ngalahin toak orang demo!” jelas Kim yang kemudian meminta Sabiru untuk membawa Rain pulang.
“Aku malas pulang, lah. Orang rumah lagi ke kampung semua. Makanya aku sengaja ajak Rain ke sini. Sudah mau satu minggu kan, kami di sini,” jelas Sabiru dari depan.
“Lah ... itu si kak Ojan ngapain ikut papah jemput aku KKN, kalau Rain saja terlantar?” balas Kim benar-benar heran.
Sabiru yang langsung menahan tawanya berkata, “Lagu lawas lah Kim.”
Setelah berunding, Sabiru sengaja membangunkan Rain, kemudian mengajaknya menginap di rumah Kim.
“Lah ... memang kamu lupa kalau kita sudah sampai Hawaii?” balas Sabiru sambil mengunci kontrakan yang mereka tinggalkan. Karena kontrakan tersebut merupakan kontrakan bersama, setia dari mereka memang memiliki kuncinya. Namun yang mengganggunya tentu kenyataan Rain yang histeris berseru kebakaran hanya karena pemuda itu tahu, di Hawaii sempat terjadi kebakaran parah.
“Astaga Rain, ... mulutmu. Jadi tontonan gini, kan—” Sabiru sengaja membekap mulut Rain sambil sesekali membungkuk, meminta maaf kepada tetangga kontrakan yang kompak keluar kontrakan gara-gara teriakan “kebakaran” yang Rain lakukan.
“Ya, yang bikin gara-gara siapa? Kan Mas juga,” lirih Rain antara jujur sekaligus tak mau disalahkan.
Berbeda dengan Sabiru dan Rain, ketenangan justru sudah Kim dan Ryuna rasakan dalam perjalanan yang mereka lakoni. Sebab mengendarai motor dan memilih jalan alternatif, membuat mereka mendapatkan jalanan dengan suasana sepi.
“Na ... dipeluk dong, biar aku enggak dikira tukang ojek! Lagian ini angin malam dingin banget loh!” keluh Kim sambil menahan tawanya, seiring ia yang mendengar suara cekikikan Ryuna dari belakangnya.
__ADS_1
“Tapi ....” Ryuna menggerakkan ragu kedua tangannya dan ia arahkan ke pinggang Kim.
“Tapi kenapa?” tanya Kim.
“M-malu.” Ryuna yang tak jadi mendekap pinggang Kim, berangsur menunduk. Ia meletakan kedua tangannya tadi, di kedua lututnya.
Kim yang menyadari suasana sekitar masih sepi, sengaja mendadak ngebut hingga Ryuna juga refleks memeluknya erat.
“Massss!” rengek Ryuna lantaran ia mendengar sang suami sampai menahan tawa.
“Pelan-pelan ... pelan-pelan. Jangan lupa, takutnya aku beneran hamil,” mohon Ryuna.
Dan Kim baru kembali ingat bahwa istrinya dicurigai tengah hamil. “Astaghfirullah, aku lupa. Ya sudah, pelan-pelan. Kami peluk aku dong. Ke suami sendiri dibiasakan, biar terbiasa dan enggak malu-malu lagi. Jangan kalah dari Rain apalagi kak Ojan, yang enggak punya rasa malu!”
Kali ini Ryuna hanya mesem. Susah payah ia tetap mendekap pinggang Kim, selain ia yang membiarkan tubuhnya menempel di punggung Kim. Hanya saja, efek tidak terbiasa justru membuat Ryuna yang melakukan segala sesuatunya dengan kaku, menjadi kewalahan sendiri. Tangan dan punggungnya jadi kebas dan ia mulai merasa lelah.
Kembali ke rumah orang tua Kim yang mewah dan di sana, ada pak Helios yang sedang menonton televisi dengan pak Ojan. Keduanya tengah duduk bersebelahan sambil menonton televisi. Lucunya, keduanya menggunakan warna piyama lengan panjang sama, yaitu merah maroon.
“Nah, kalian baru sampai? Itu Sabiru sama Rain sudah lagi rebus Mi di dapur!” seru pak Helios yang membiarkan tangan kanannya disalami dengan takzim oleh Kim, kemudian Ryuna yang mengikuti juga melakukan hal yang sama.
“Mereka lagi rebus Mi? Tadi saja baru aku beliin nasi padang, apalagi Rain sampai habis dua porsi,” ucap Kim.
“Lah biasa Broder Kim. Anak bujang, lagi masa pertumbuhan. Kan ada ungkapan, kadang, mereka yang sedang masa pertumbuhan kalau makan antara doyan sama kesu*r*upan!” balas pak Ojan dengan santainya dan masih menikmati air kelapa langsung dari buahnya.
Ryuna yang melihat tingkah konyol pak Ojan, yang mana hanya melihat wajah Ojan saja baginya sudah sangat lucu, refleks menahan tawanya.
__ADS_1
“Amit-amit, Na. Takut mirip!” bisik pak Helios tak segan mengusir Kim untuk membawa Ryuna pergi jauh-jauh dari Ojan. Sebab pak Helios tak mau, cucu-cucunya sampai mirip Ojan apalagi jika fisik sekaligus wujudnya.