
Demi kesehatan Ryuna sekaligus janinnya, acara resepsi yang memang hanya dihadiri keluarga besar, tapi jumlahnya jika ditotal dengan pasukan anak-anak, nyaris ada 50 orang, sengaja dibuat sesantai mungkin. Mereka mengobrol sambil duduk-duduk dan tak lupa menikmati aneka sajian yang memenuhi meja.
Ryuna bahkan tidak diizinkan menghampiri setiap tamu. Justru Ryuna yang dihampiri. Yang mana setiap dari mereka yang akan salaman atau memeluk Ryuna, juga sengaja disediakan di tempat duduk khusus persis sebelah Ryuna.
Semuanya setuju dengan konsep tersebut, mengingat dulu, di masanya, Azzura pernah keguguran karena kelelahan mengurus persiapan resepsi sekaligus menjalaninya.
“M—mas ...,” lembut Ryuna yang sudah langsung berbisik-bisik ke telinga kiri Kim, tak lama setelah suaminya itu langsung menatap kemudian menunduk. “Istrinya paman Syam kok diem terus. Tadi pas giliran salaman sama dia, juga dia diem dan beneran kaku. Apa aku salah, yah, Mas?”
Mendengar itu di tengah lagu barat romantis yang disetel lirih mengiringi kehangatan acara di sana, Kim langsung menggeleng kemudian menatap Ryuna. “Memang orangnya begitu. Aunty Cinta orangnya memang gitu. Gimana sih yah, jelasinnya? Pokoknya orangnya baik. Insya Alloh!”
“Loh, kol insya Allah? Berarti, Mas juga enggak yakin?” balas Ryuna yang memang jadi bingung.
Kim langsung mesem dan perlahan tersipu menatap Ryuna. “Kita lanjut makan saja. Ayo, habisin makannya. Aku suapi, ya?”
Ryuna yang menghargai usaha Kim dalam membahagiakannya, segera menyudahi tanda tanyanya. Ia tersenyum manis kemudian mengangguk. Tentunya, ia menerima setiap suapan yang suaminya lakukan. Orang tua sekaligus kakek neneknya Kim yang satu meja dengan mereka, tampak begitu bahagia memandangi kebersamaan Kim dan Ryuna. Senyum hangat tak pernah meninggalkan wajah keempatnya di setiap mereka menatap kebersamaan Kim dan Ryuna.
Tak jauh dari meja Ryuna dan Kim, hadirnya Sabiru yang tampak sengaja duduk di sebelah Calista, sudah langsung mencuri perhatian Ryuna. Sebab otak Ryuna langsung ingat agenda titip bunga dari Sabiru untuk Calista. Karenanya, dengan sendirinya pandangan Ryuna memperhatikan apa yang keduanya lakukan. Calista yang awalnya membungkuk dan Ryuna yakini tengah makan, sudah langsung terbengong-bengong menatap Sabiru yang detik itu juga mengumbar senyuman kepada Calista. Paling mencolok, sebelah tangan Sabiru merangkul pinggang Calista, tapi mendadak menepuk-nepuk pelan punggung Calista. Sabiru terlihat sangat menyayangi Calista dan perhatian pemuda itu mirip perhatian Kim kepada Ryuna.
“Sstt ...,” lembut Kim sengaja mengusik Ryuna yang tak fokus menatapnya. Namun dengan segera, istrinya itu tersenyum kemudian kembali menerima suapannya.
__ADS_1
“Mas,” lirih Ryuna yang kali ini sengaja bertanya mengenai kedekatan Calista dan Kim.
“Mereka sudah dijodohkan dari kecil,” singkat Kim masih sangat manis kepada Ryuna.
Detik itu juga Ryuna bengong menatap takjub kebersamaan di depan sana. “Masya Allah banget ya Mas,” lirihnya ketika tatapannya kembali fokus kepada kedua mata Kim.
Kim yang meraih segelas lemon tea hangat miliknya berkata, “Memangnya kita kurang Masya Allah apa?”
Detik itu juga, Ryuna yang harus menengadah hanya untuk menatap wajah Kim, langsung tersenyum tak berdosa sambil menggeleng. “Enggak, Mas. Kita juga Masya Allah banget!”
Kim langsung tersipu. “Kalau capek bilang. Kita langsung ke kamar saja, apalagi hampir sehari perawatan sepertinya kamu juga sudah capek.”
“Memangnya boleh, Mas. Pergi sebelum tamu pergi?” tanya Ryuna.
“Sepertinya keluarga besar suamiku memang tipikal orang kaya yang manusiawi. Beda jauh sama keluarga Dodo yang kejamnya melebihi kompeni,” batin Ryuna yang kemudian jadi penasaran pada apa yang Brandon lakukan. Seperti dugaannya, Brandon tak ubahnya patung yang benar-benar diam tapi wajahnya wajah judes. Lain dengan Boy yang kerap berbagi makanan maupun minuman khususnya kepada Calista yang satu meja dan memang duduk di sebelahnya.
Namun dari semua rombongan di sana, termasuk Hyera maupun sekelas Rain yang selalu tidak bisa diam, tampaknya memang tidak ada yang tahu pada interaksi rahasia antara Sabiru dan Calista.
“Brandon, sebenarnya apa beban hidup kamu? Kok bisa-bisanya kamu kayak tugu pahlawan gitu? Padahal kamu enggak kalah ganteng dari mas Kim, tapi sikap dingin kamu, bikin kamu kelihatan serem. Nanti yah, kita ngobrol pelan-pelan. Semoga ada kesempatan buat kita dekat. Terlebih biar bagaimanapun, Mbak juga kakak kamu. Biar beban Mas Kim agak berkurang kalau Mbak ikut bantu-bantu,” batin Ryuna yang kali ini disuapi rujak oleh sang suami.
__ADS_1
“Rujaknya enak banget dan kamu harus coba!” yakin Kim. Mirip tukang dagang yang sedang memikat hati pembeli agar jadi pelanggan.
Ryuna langsung tersipu tanpa bisa mengakhiri senyum berikut tatapannya kepada Kim. “Memang dasarnya Mas yang ngidam!” lirihnya yang kemudian menerima suapan dari Kim.
“Anakku sayang banget ke papanya. Makanya papanya jadi heboh ngidam!” ucap Kim dengan bangganya.
“Masya Allaaah ...,” balas Ryuna sambil menahan senyumnya di tengah kesibukannya mengunyah. Ulahnya itu sudah langsung membuat sang suami tersipu.
“Kapan-kapan, kalian nginep ke rumah Oma, ya.” Oma Aleya angkat suara, dan kali ini ia menatap Kim maupun Ryuna dengan tatapan memohon. Hanya diberi senyuman sekaligus anggukan dari Kim yang diikuti oleh Ryuna, hatinya sudah langsung senang. Baginya yang memang sudah tak lagi muda, hal paling membahagiakan di tengah usianya yang memasuki usia senja, tentu saja berkumpul bersama keluarga khususnya anak dan cucu, di temani Tuan Maheza yang sampai detik ini amat sangat mencintainya.
“Bruuuuutttttt!”
Tidak ada angin apalagi hujan, tiba-tiba ada bunyi mirip gelegar halilintar. Detik itu juga semuanya diam, bengong, kemudian refleks menatap penuh tanya sumber suara yang tak lain kak Ojan.
“Jan, kamu kentut sengaja pakai mic biar seluruh dunia bahkan kedengaran sampai neraka? Astagfirullah ... baunya ... innalilahi ini sih wabah!” omel pak Azzam yang sudah langsung kocar-kacir tidak nyaman sambil mencapit hidungnya, sementara tangan yang satu lagi sudah langsung menggandeng sang istri pergi dari sana.
Walau kentut kak Ojan memang sangat bau hingga disebut mirip wabah oleh pak Azzam, sebagian besar dari mereka malah tertawa termasuk itu anak-anak.
“Rain, mulai sekarang kalau kamu kalau mau tawu*ran, enggak usah repot-repot bawa senja*ta taj*am atau senja*ta lain yang bisa bikin kamu diraz*ia. Kamu beneran cukup bawa bapakmu, terus suruh dia kentut sesering mungkin!” ucap Bandon benar sinis, dan berakhir mual-mual.
__ADS_1
“Ayo, Dek. Kita ke kamar mandi,” ucap Calista langsung siaga. Ia memang mengkhawatirkan Brandon, tapi ia tetap tidak bisa untuk tidak tertawa.
Sementara alasan kentut kak Ojan bisa sekeras gemuruh halilintar, itu karena mic yang sedari tadi kak Ojan pakai utuk memandu acara, tak sengaja pak Ojan duduki lantaran kini, layaknya anggota keluarga lain, pak Ojan juga tengah makan bersama sang istri.