Sampah Sepertiku Mempunyai Body Goals Yang Baru

Sampah Sepertiku Mempunyai Body Goals Yang Baru
10. Ulah Dimas


__ADS_3



Edo duduk di tempatnya dengan perasaan sangat lega. Akhirnya dia tidak terlambat karena guru belum datang, tapi kalau di lihat dengan menggunakan waktu dia memang sudah terlambat. Untung saja.



Benar-benar menenangkan posisinya sekarang. Dia bisa membuat dirinya nyaman setelah lelah berlari dan juga buru-buru datang ke sekolah.



Baru beberapa saat dia duduk Yulia datang menghampirinya. Dengan langkah yang meliuk-liukan tubuh indahnya Yulia semakin dekat. Dia tersenyum ke arah Edo, menampilkan senyuman termanis untuk pria pujaan.



Yulia berhenti setelah sampai di hadapan Edo, senyumnya semakin merekah saja saat itu.



"Hey, Edo tampan." Sapa Yulia dengan suara manisnya.



Menatap Edo dengan penuh ketertarikan. Menatap wajah Edo yang berkeringat membuat dia semakin terpesona, Edo sangat menggoda meski wajahnya sedikit merah dengan peluh yang menempel.



Itulah kalau pria tampan, dalam keadaan apapun dia akan selalu terlihat tampan dan sempurna. Itulah saat cewek punya ketertarikan, seburuk apapun keadaan pujaannya dia tetap indah di matanya. Dan itulah yang Yulia rasakan saat ini.



"Kok keringetan, aku usapin ya keringatnya." ucap Yulia menawarkan diri. Bergegas dia mengambil tisu dan bersiap untuk mengusap kening Edo yang memang masih penuh dengan keringat.



"Tidak, terima kasih." tolak Edo. Dia langsung menepis tangan Yulia yang memegangi tisu dan hampir menyentuh keningnya.



"Kenapa, aku kan hanya tidak tega melihat kamu yang keringetan," Yulia tetap bersikeras untuk mengusap kening Edo dan mengeringkan keringatnya.



Semakin Edo menolak maka semakin semangat Yulia ingin melakukannya. Terus membujuk dengan cara-cara yang dia anggap akan sangat manjur.



Tak ada kata menyerah meskipun sudah dilarang Yulia tetap memaksa untuk melakukan apa yang dia inginkan, tetapi Edo juga tetap bersikeras untuk menolak hingga apa yang diinginkan oleh Yulia tidak terjadi.



"Baiklah," akhirnya Yulia pasrah dan tak lagi ingin melakukan itu, Yulia tidak ingin membuat Edo marah dan semakin menjauh darinya apalagi membuatnya ilfil.



Meskipun menerima larangan dari Edo tetapi Yulia tidak berpindah dari tempat dan tetap berada di dekat Edo. Bahkan Yulia juga duduk di sebelahnya membuat Edo ketika menggeser duduknya untuk menjauh.



Meskipun sudah seperti itu tapi Yulia tidak merasa tersinggung sama sekali, dia tetap menikmati dirinya yang berada di dekat Edo dan dengan seperti itu tidak ada cewek lain yang berani mendekatinya.



Sejenak keheningan terjadi, bahkan Yulia juga mulai diam dan tak banyak bicara. Melihat ke arah lain dan juga seolah ingin memperlihatkan kalau dia bisa dekat dengan Edo.

__ADS_1



Apa yang Yulia lakukan tentu membuat iri cewek-cewek yang lain, mereka juga ingin bisa dekat pada Edo, tapi jika Yulia sudah melarangnya mereka tak berani mendekat selama ada dirinya.



Semua tetap begitu gaduh dengan kegiatan mereka masing-masing yang membuat mereka senang, hingga akhirnya mereka berhenti setelah mendapatkan hal yang lebih menarik.



Bukan hanya Edo yang terdiam setelah mendapati Dimas yang hendak menaruh foto gemuknya yang dia dapat semalam ke dalam proyeksi, tapi semua murid di dalam kelas.



Semua begitu fokus dengan apa yang Dimas lakukan sampai akhir mereka tercengang dalam sesaat.



"Lihatlah, bukankah dia begitu mirip dengan seekor b\*bi? Aku yakin salah satu keluarganya adalah b\*bi! Hahaha!" hina Dimas.



Semua teman tertawa setelah melihat foto Edo tersebut yang tidak berdaya dengan tubuhnya yang gemuk setelah mereka hajar sebelumnya. Terlebih lagi dengan Dimas, dia lebih bahagia setelah memperlihatkan apa yang dia dapatkan semalam.



Mata Edo membulat dengan begitu tajam, tangannya mengepal sempurna seakan ingin langsung membalas perbuatan dari Dimas dan teman-temannya.



'Sungguh keterlaluan,' batin Edo dengan hatinya yang sangat kesal dan sangat marah.



Edo ingin membalas saat itu juga, tapi dia urungkan dan kini berusaha untuk bersabar. Menahan diri, menahan amarah untuk tidak membalas saat itu juga. Kalau tidak semua pasti akan kacau.




~~~~\`\`



Sebelum pulang Dimas dan teman-teman masih saja menghina dirinya, menghina keluarga Edo bahkan mengatakan salah satu diantara keluarganya adalah seekor b\*bi.



Semua tertawa begitu bahagia dengan ucapan Dimas, seakan hal itu adalah lelucon bagi mereka semuanya. Tak ada habisnya mereka melakukan itu, tidak di dalam sekolah di luar sekolah pun mereka juga menghina dan membully orang lain. Terbuat dari apa hati mereka sampai tak ada rasa kasihan pada siapapun yang lebih lemah.



Edo sangat marah karena ucapan Dimas. Kedua orang tuanya meninggal di usianya yang masih muda karena kecelakaan, dan dia hanya tinggal bersama Ratih neneknya dari dia kecil, bukankah itu artinya dia menghina Ratih?



Edo masih tetap menahannya, dia tetap tidak mau buru-buru membalas perbuatan mereka yang sangat kejam padanya. Meski tak mudah tapi dia harus bisa menahan diri.



Hingga akhirnya waktu pulang sekolah telah tiba. Edo berdiri dengan hati yang begitu banyak kekesalan dan kemarahan yang dia tahan. Seperti dia harus segera menuntaskan saat itu juga.



Rupanya Yulia tak ada henti-hentinya terus berusaha untuk mendekati. Dia ingin terus memberikan perhatian pada Edo, dia harus terus melakukan itu dan bisa mendapatkan hati Edo.

__ADS_1



"Edo, kamu mau kemana?" tanyanya. Begitu mendayu suaranya, wajahnya terlihat begitu berbinar dan berharap Edo akan tertarik padanya. Tingkahnya begitu genit, itu semua adalah sebuah usaha yang dia lakukan untuk mendapatkan Edo.



"Mau ke toilet," jawab Edo dengan tegas. Bergegas dia melangkah menuju toilet sama seperti yang sudah dia katakan.



Yulia tak lagi menjawab tapi dia terus melihat kepergian Edo yang semakin menjauh darinya.



"Hemm, aku yakin aku akan mendapatkan\_mu," gumam Yulia penuh dengan keyakinan yang sangat besar.



Di dalam toilet Edo tak melihat siapapun selain Dimas dan teman-temannya, semua orang sudah di usir olehnya karena dia ingin melakukan kesukaannya.



Mengeluarkan sebungkus r\*kok dan membagi pada teman-temannya. Begitu leluasa mereka melakukan, tanpa rasa takut ketahuan sama sekali.



"Bagaimana, ini sangat enak ya kan?" tanya Bagus. Memuji cita rasa dari sepuntung r\*kok yang baru dia nikmati.



"He'em," Bukan hanya Dimas yang menjawab tapi juga semuanya, mereka mengangguk setuju dengan apa yang di katakan oleh Bagus.



Semakin menikmati mereka semua, terus menghisap r\*kok dan terus berbincang-bincang dengan tenang dan sangat nyaman.



Dimas menoleh, dan ternyata melihat Edo yang sedang datang ke sana.



"Do, sini!" Teriak Dimas memanggil.



Dengan langkah tegas Edo mendekati Dimas dan teman-temannya, matanya begitu tajam, seperti harimau yang siap untuk menerkam.



"Mau memaki orang jangan bawa-bawa keluarga, apalagi orang tua dan juga neneknya!" ucapan Edo begitu menegaskan.



Mendengar itu semua terdiam, mereka tak mengerti apa yang di maksud oleh Edo. Mereka sungguh tidak menyadari akan kemarahan Edo itu karena ulah mereka di dalam kelas tadi.



Dengan begitu cepat, seperti langkah kuda Edo berlari menuju ke tempat Dimas dan juga teman-temannya, tentu saja juga dengan amarah besar yang dia bawa.



~~~~••~~~~


__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2