
Bersyukur Edo hari ini. Tak ada hal buruk yang terjadi di sekolah pertamanya di tempat yang baru. Semuanya lancar tanpa hambatan sampai dia kembali pulang.
Dengan sepedanya, dia kembali ke tempatnya tinggal. Sesampainya di rumah Edo bergegas makan, menikmati makanan sederhana yang hanya seadanya.
Begitu lahapnya dia makan, terlihat begitu kelaparan karena begitu buru-buru. Sebenarnya bukan karena dia kelaparan, tapi karena dia bergegas untuk segera mengganti tubuh dengan yang satunya.
Setelah dia berhasil mengganti tubuhnya, barulah dia bergegas untuk berangkat ke tempat dia bekerja. Di toko Pak Mamang. Menyempatkan sebentar untuk melihat tubuh tampannya sebelum dia pergi, dan setelah itu baru dia benar- benar pergi.
Semua seolah berjalan begitu baik bahkan sampai dia sampai di tempat bekerjanya. Tak ada hambatan dan gangguan yang berarti.
Tapi tidak! Sepertinya, tubuhnya yang sekarang tetap tak akan seberuntung tubuhnya yang tampan dan sempurna. Dia terus mendapatkan tatapan sinis dari para pelanggan, mereka terlihat tak suka bahkan tak puas dengan pelayanan Edo.
"Ih, sungguh menjijikkan," ucap salah satu pelanggan dengan terang-terangan. Mengatakan hal itu dengan ekspresi wajah yang terlihat begitu jijik dengan Edo, seolah Edo adalah kotoran yang tak pantas untuk di lihat.
"Hey, tolong ambilkan barang itu," titahnya. Dia tak menyukainya tapi dia tetap memerintah Edo.
"Baik, Bu." Sesuai arahan tangannya Edo mengambil dan membawa barang yang di minta. Tapi ternyata? Apa yang di bawa Edo itu bukan yang dia ingin.
"Bukan yang ini, tapi yang sebelahnya," ucapnya. Semakin jelas kalau dia memang tidak menyukai Edo. Semua dapat di jelaskan dengan nada bicaranya tanpa harus dengan kata-kata.
"Baik, Bu." Edo tetap bersabar, dia mengambilkan barang yang di mintanya tapi tetap saja salah.
Sepertinya dia memang sengaja mencari-cari kesalahan Edo.
Itulah jika sudah tidak menyukai seseorang, dia akan terus mencari kesalahan orang tersebut. Bahkan menganggap bahwa apapun yang dilakukan tidaklah benar.
Bukan hanya dirinya saja yang berbuat seperti itu kepada Edo, tetapi juga pelanggan lainnya, mereka semua seperti membuat kesepakatan untuk membuat Edo terlihat tidak becus dalam pekerjaannya. Tapi Edo lebih besar kesabaran, dia terus diam dan menuruti apapun yang mereka minta.
Tak akan sakit, meski hanya akan ada hati yang terluka karena ucapan tak menyenangkan dari mereka semua.
Jam 20:00 Pak Mamang pergi. Entah kemana tapi dia hanya pamit pergi pada Edo dan tak mengatakan mau kemana. Edo hanya sendiri, duduk diam di dalam toko apalagi saat ini juga tak ada pelanggan yang datang.
Sesekali Edo menoleh, memastikan ada dan tidaknya pelanggan yang datang namun ternyata tak ada.
__ADS_1
"Lebih baik aku belajar mengangkat sesuatu?" gumamnya. Dia mulai melangkah, ke salah satu sudut untuk mengambil barang dan menata ke tempat yang semestinya.
"Lelahnya," Nafas Edo tak beraturan. Dia begitu terengah meski dengan gerakan kecil saja.
Keringatnya mulai keluar dari pori-pori wajahnya. Memang sebelumnya Edo tak pernah melakukan hal ini, mengangkat barang-barang berat apalagi Edo juga tak pernah berolahraga sebelumnya.
Seandainya Edo sering berolahraga dia tidak akan pernah mengalami hal-hal yang seperti sekarang ini, dia tidak akan terlalu lemah dan akan kuat dan dengan mudah menjalankan semua pekerjaan.
Baru beberapa saat Edo melakukan pekerjaannya tiba-tiba ada beberapa orang yang datang. Edo sangat mengenali orang-orang tersebut karena mereka adalah teman-teman sekolahnya.
Dimas dan juga teman-temannya yang datang ke toko tersebut, tak terkecuali Bagus, dia juga yang datang ke sana.
Mereka tertawa saat datang suaranya begitu menggelegar dan semakin dekat ke toko tersebut. Tak begitu jelas apa yang mereka katakan dan Edo juga masih terus diam sampai mereka benar-benar dekat dengannya.
"Hahaha! Lihatlah dia!" Dimas tertawa lebih dulu. Seperti provokator yang mengajak semua teman-temannya untuk menghina Edo yang begitu gemuk menurut dia.
"Hahaha!" Seperti yang Edo lakukan, semua teman-temannya juga ikut menertawainya. Menghina Edo yang memiliki tubuh berlebih.
"Lihatlah dia, dia begitu gemuk bahkan lebih besar dari seekor b\*bi." Dimas berkata lebih dulu.
Edo masih diam, itu sudah hal yang biasa jadi dia tetap diam. Berusaha untuk sabar dalam semua hinaan yang mereka semua lakukan padanya.
"Hey gendut," sapa Dimas dengan suara kasar juga dengan wajah yang penuh dengan penghinaan.
Edo mendekat, menghampiri Dimas yang dia pikir akan membeli sesuatu.
"Ambilkan r\*kok," ucapnya. Ucapannya begitu menegaskan, bahkan seperti tidak sabar dan meminta untuk segera di ambilkan oleh Edo.
"R\*kok tidak baik untuk kalian yang masih di bawah umur. Tidak akan bagus untuk kesehatan kalian." ucap Edo. Menasehati sedikit untuk Dimas dan teman-temannya.
Apa yang dia katakan memang hal yang dapat di benarkan. Itu memang tidak baik untuk kesehatan mereka, juga usia mereka yang belum pantas.
Dimas maju, semakin mendekati Edo karena tak terima dengan yang dia katakan. Tak akan mau di tegur, tak menerima nasehat apapun dari siapapun apalagi orang yang seperti Edo. Tak pantas di dengar nasehatnya, pikir Dimas.
"Kamu berani melarang\_ku!" Dimas begitu marah tak terima. Matanya melotot tajam.
__ADS_1
Edo juga maju, dia ingin menantang Dimas. Tapi baru beberapa langkah dia menyadari bahwa dia yang sekarang adalah pria yang gemuk dan lemah, tak akan bisa mengalahkan mereka semua.
Edo mundur lagi kembali ke tempat semula dia berdiri tapi Dimas tetap mendekatinya. Hanya karena di tegur oleh Edo dia sangat marah dan hendak memberikan pelajaran padanya.
Bugh bugh bugh!
Dan benar saja, Dimas langsung memukuli Edo dengan sangat kuat. Membuat Edo yang gemuk itu meringis kesakitan bahkan terjengkang dan membuat berantakan satu sudut yang tertimpa tubuhnya.
"Pukul saja dia, siapa suruh menentang ku," titah Dimas.
Semua teman-temannya langsung maju, ikut menghajar Edo yang tak bisa melawan mereka. Jangankan semua, melawan Dimas saja Edo tak kuasa.
"Jangan, jangan pukul saya," Wajah Edo memelas. Dia berharap untuk di lepaskan dari mereka semua tapi kenyataannya mereka tak peduli dengan permintaannya.
"Jangan ampuni dia," titah Dimas. Dia menjadi pengawas saja untuk mereka semua yang tengah menghajar habis Edo.
Sudah begitu lemah tapi mereka tak peduli. Sudah begitu banyak luka lebam akibat pukulan tapi mereka tetap tak peduli. Mereka tetap melakukan perintah Dimas.
Wajahnya sudah terlihat begitu menyedihkan, kesakitan yang begitu banyak dia rasakan.
Dimas kembali mendekat, dan semua temannya berhenti saat itu. Dimas maju berjongkok di hadapan Edo yang sudah tak kuasa untuk bergerak lagi, kembali memukulnya hingga membuat Edo semakin kesakitan.
Tanpa rasa kasihan Dimas mel\*cuti Edo, membiarkan dia terbaring tak kuasa di sana. Berontak, jelas saja Edo melakukan di sisa-sisa tenaganya, tapi tetap dia tak bisa menghentikan apa yang Dimas lakukan.
Krek krek!
Beberapa jepretan Dimas ambil dari tubuh tanpa busana Edo yang tak berdaya.
"Hahaha! Benar-benar seperti b\*bi! Hahaha!" Tawanya menggelegar saat berhasil mengambil foto. Apa yang Dimas lakukan membuat semua temannya juga puas.
"Ambil beberapa r\*koknya," Titah Dimas. Dan benar saja, salah satu di antara mereka mengambil dan setelah berhasil mereka semua pergi tanpa ada rasa bersalah apapun, bahkan mereka malah menertawakan Edo yang tak berdaya juga masih ada yang menendangnya.
~~~~••~~~~
Bersambung...
__ADS_1