
~``~
Hampir dua jam Edo dan juga Ronald latihan, karena merasa cukup untuk hari itu dan juga waktu yang sudah malam Edo terpaksa pamit untuk pulang.
"Ronald, saya pulang. Terima kasih untuk hari ini," ucap Edo. Bagaimana dia tidak berterima kasih, ini adalah hari pertama dia mendapatkan teman yang terlihat tulus padanya. Dan tentunya juga teman yang hampir sama dengan tubuhnya yang gendut.
Seulas senyum Ronald mengantarkan Ronald yang sebentar lagi akan mulai melangkah. Ronald juga sangat bahagia karena berpikir, Edo sangat baik padanya. Dengan wajah yang begitu tampan dan sempurna dia mau berteman dengannya yang selalu mendapatkan hal buruk dari teman-teman lainnya.
"Iya, sama-sama. Dah ya! Hati-hati di jalan." Ronald memperingatkan. Perlahan tangannya terangkat lalu mulai melambaikan tangan.
Edo menoleh sebentar, dia juga tersenyum sebelum akhirnya dia mengayuh sepedanya dan berjalan pergi dari rumah Ronald yang sangat sederhana.
Setelah tak terlihat barulah Ronald masuk lagi dan menutup pintu. Senyum tak pernah pudar, dia begitu bahagia hari ini. Ada harapan besar tentang kedepannya dari keahlian tarik suara. Berharap akan ada keajaiban dan mimpinya akan terwujud.
Setelah sampai rumah, Edo buru-buru mengganti tubuhnya dengan tubuhnya yang gendut. Dia harus segera pergi ke tempat kerjanya di tempat Pak Mamang. Kerjannya separuh waktu harus tetap dijalankan.
Di tempat bekerjanya, Edo yang menyadari bahwa suaranya tetap bagus meski dengan tubuh yang berbeda dan langsung mulai menyanyi.
Suara sangat merdu, begitu sama dengan suaranya di saat ada di tubuhnya yang sempurna.
Rupanya hanya tubuh saja yang berbeda tapi suaranya tetap sama.
Edo terus menyanyi, seakan tak menyadari ada orang yang masuk di bagian belakang di tempatnya yang sekarang.
Edo nampak begitu terkejut dengan kedatangan orang itu. Tersenyum canggung dan menghentikan lagunya yang belum selesai. Tidak mungkin dia tetap menyanyi begitu saja sekarang.
Ternyata, yang datang saat ini adalah seorang gadis cantik, sepertinya gadis itu adalah gadis yang tinggal di sekitar toko.
"Ma-mau beli apa, Kak?" Tanya Edo yang sangat gugup. Dia masih sangat canggung, masih sangat malu karena dia ketahuan sedang menyanyi. Bagaimana kalau dia tidak suka dengan suaranya, bagaimana kalau dia akan menghina dirinya?
Gadis itu masih diam, terlihat wajahnya nampak merona sejak diawal masuk. Apakah karena mendengar lagu Edo yang bagus atau mungkin karena suaranya? Entahlah.
"Kak, Kakak mau cari apa?" tanya Edo lagi. Melihat ekspresi gadis itu Edo merasa ada sesuatu. Tapi apa?
__ADS_1
Wajah gadis itu nambah semakin lucu aneh, dia tersenyum dengan begitu merah pipinya. Edo mengernyit, dia merasa bingung dengan tingkah gadis itu yang seperti mulai salah tingkah.
"Ke-kecap manis," jawabnya dengan gugup. Suaranya begitu spontan membuat Edo terkejut barusan.
"Oh, kecap." jawab Edo dengan mengangguk mengerti. Melangkah ke salah satu sudut untuk mengambil apa yang di cari oleh gadis itu.
Tak berapa lama Edo kembali dan membawa ke hadapan gadis itu lalu memberikannya. "Ini kecapnya, Kak." ucap Edo sangat ramah. Tangannya menyodorkan kecap tersebut di hadapannya.
Netra kedua bersi tubruk dalam waktu beberapa detik sebelum akhirnya tangan gadis itu terangkat dengan ragu untuk mengambil kecap itu tadi tangan Edo.
"Te-terima kasih," ucapnya. Dia terlihat Semakin aneh, pipinya semakin merona dan hal itu tentu membuat Edo sangat bingung. Dia tak mengerti apa yang terjadi pada gadis itu. Apakah dia suka padanya? Ah! Itu tidak mungkin. Dia terlalu sempurna untuk Edo yang memiliki tubuh gendut seperti sekarang ini.
Tapi apa? Apa yang membuat dia seperti itu. Edo yakin ada hal yang membuat dia tertarik.
"Suara kamu begitu merdu," kata gadis itu setelah botol kecap berhasil berpindah ke tangannya. Sebelum dia pergi rupanya dia mengatakan apa yang membuat dia menjadi salah tingkah dan juga merona itu. Ternyata semua itu terjadi karena suara Edo.
Edo begitu membatu di tempat dengan memandangi kepergian gadis itu yang terasa begitu kilat. Hingga gadis itu tak terlihat lagi Edo masih saja dalam posisi tersebut.
"Apakah itu benar?" ucapnya. Dia merasa sangat tidak percaya dengan semua itu. Mana mungkin suaranya sebagus itu dan mampu membuat gadis itu sampai segitunya.
Edo tersenyum, membayangkan wajah gadis itu berubah setelah mendengar suaranya.
Hati Edo begitu bergemuruh, ini sungguh hal langka yang Edo dapatkan. Edo merasa malu sendiri sekarang, pipinya terasa panas. "Apakah itu benar?" katanya lagi. Dia masih tak percaya.
Bagaimana bisa ada gadis yang memujinya dalam keadaan dirinya dengan tubuh yang gendut seperti sekarang ini. Biasanya, tak ada hal baik yang bisa di puji oleh para gadis dulu saat dia ada dengan tubuhnya yang gendut.
Maka dari itu dia merasa malu sendiri sekarang. Antara percaya juga tidak.
__ADS_1
Edo melangkah ke tempat semula terus dengan tersenyum. Dia begitu senang mendapatkan pujian dari gadis tadi. Meski hanya kalimat singkat saja tapi mampu membuat hati Edi juga bergemuruh bahagia. Kebahagiaan yang tak dapat di ungkapkan dengan kata-kata. Ini adalah hal yang pertama kalinya dalam sejarah Edo gendut.
"Kenapa kamu?" pertanyaan itu seketika membuyarkan angan Edo, membubarkan semua kupu-kupu kebahagiaan yang sedang berkerumun di atas kepala Edo yang tangannya sudah mulai bergerak bekerja kembali.
Senyum Edo juga pudar seiring buriton itu hilang suaranya.
"Pak Mamang," ucap Edo. Dan ternyata Pak Mamang pemilik toko itu yang datang.
"Kamu ya, bekerja apa hanya melamun saja? Senyum-senyum sendiri seperti orang gila lagi." ucapnya dengan nada yang begitu ketus. Seperti biasa dia seperti tak suka dengan apapun yang Edo lakukan. Tapi Edo tau, maksud kedatangan Pak Mamang dan niat yang sebenarnya.
"Tuh tuh! Kamu bagaimana sih kerjanya! Nggak becus sekali. Bukannya benar tapi malah berantakan semuanya. Heh!" Suaranya semakin menegaskan. Matanya menyala tak bersahabat.
Edo menoleh ke arah yang di tunjuk oleh Pak Mamang, "semuanya beres kok, Pak." Edo lebih berani sekarang. Dia tidak begitu takut seperti awal karena dia memang benar. Pekerjaannya tetap beres meski apa yang Edo lakukan.
"Beres apanya, tuh lihat. Tuh! Tuh!" Tangan Pak Mamang menunjuk kemana-mana.
Edo juga terus melihat, pandangannya mengikuti kemana tangan itu pergi. Semuanya beres.
"Pak, semuanya beres, Pak," ucap Edo.
Edo tau, Pak Mamang melakukan itu karena apa. Sebenarnya dia mau mencari-cari kesalahan Edo hanya karena dia tidak mau membayar full gaji Edo hari ini. Kalau ada kesalahan yang Edo lakukan jelas dia bisa memotong gaji dengan alasan itu.
Tapi, tidak untuk sekarang. Edo ada bukti kalau semua pekerjaannya beres. Dia tidak bisa kehilangan separuh gajinya lagi seperti yang sudah-sudah.
"Arghh!" Pak Mamang mulai kesal. Dia mulai celingukan mencari-cari yang bisa di jadikan sumber masalah untuk Edo. Dia terlihat begitu frustasi karena tidak mendapatkannya.
Wajahnya terlihat begitu tegang dengan warna berubah memerah. Frustasi, dia tak bisa menemukan setitikpun kesalahan. Sudut bibir Edo terangkat. Dia senang karena Pak Mamang tidak bisa mencari alasan lagi untuk memotong gajinya.
~"~
__ADS_1
Bersambung...