
~~``~~
Pagi hari seperti biasa Edo akan berangkat ke sekolah. Dengan memakai seragamnya juga sepedanya yang seperti biasa, dengan begitu yakin Edo terus berjalan.
Saat melewati salah satu jalan Edo menemukan seorang nenek tunanetra yang berjalan di depannya. Begitu pelan dia berjalan tentu juga dengan sedikit kesusahan karena hanya mengandalkan semua tongkat yang dia yakini akan menunjukkan jalan yang benar padanya.
Seseorang dia akan berteriak memanggil seseorang dan itu tidak luput dari penglihatan Edo yang kini terus mengawasinya dari belakang. Rasanya ingin mendahului, tapi Edi tak sampai hingga akhirnya memilih untuk tetap bertahan pelan.
"Dito! Dito!" teriaknya. Dia terus berjalan dengan bantuan tongkat di tangannya nenek itu terus berjalan dengan begitu pelan. Satu tangan memang memegang tongkat, tapi tetap satunya lagi terus mengambang di udara karena takut akan menabrak sesuatu atau mungkin seseorang.
"Dito!" teriaknya lagi. Terus dia memanggil tanpa henti.
"Dito, bukannya itu adalah nama yang sama dengan pria semalam?" gumam Edo. Nama yang nenek-nenek itu panggil juga dengan nama pria yang di tangkap polisi kemarin sangat sama. Apakah itu memang orang yang sama?
Edo menghentikan sepedanya sejenak saat mendengar nama yang d panggil oleh nenek itu, bahkan Edo sempat tertegun. "Dito?" gumam Edo.
Edo teringat akan pria kurus kering dan berwajah mesum kemarin yang di tangkap oleh polisi, namanya juga sama 'Dito' apalagi dia juga mendengar bahwa Dito memiliki ibu yang seorang tunanetra, apakah Dito yang sama? Pikir Edo.
"Apakah iya nenek ini adalah ibu dari pria semalam?" gumamnya lagi. Terus Edo melihat langkahnya yang nampak lemah dan juga sangat perlahan itu. Sungguh! Hati Edo rasanya sakit melihatnya.
Edo semakin kasihan melihat nenek itu yang terus berteriak, berjalan dengan tanpa arah yang pasti. Dia tak melihat bahkan menyadari dia akan pergi ke mana.
Edo menghampiri, "Nek," panggilnya dengan suara yang sangat ramah tamah dia juga sudah turun dari sepedanya barusan.
Nenek itu menghentikan langkah, dia menoleh ke arah Edo meski dia juga tidak akan bisa melihatnya, "Ka-kamu siapa?" tanyanya, suara bergetar, entah dia takut ataukah mungkin karena kelelahan.
"Sa-saya?" Edo sempat ragu, berpikir dengan sangat bingung. Dia akan mengatakan apa?
"Iya, kamu siapa?" tanyanya lagi sepertinya dia tidak bakal percaya begitu saja sebelum mengetahui dengan jelas siapa pria yang datang menyapanya barusan.
Edo masih terlihat bingung, menggaruk tengkuknya sendiri seraya berpikir untuk mencari alasan yang tepat.
"Sa-saya, saya adalah teman dari putra nenek, Dito." jawab Edo yang akhirnya menemukan jawaban yang dia rasa pas.
"Oh, temannya Dito." Nenek itu mengangguk percaya.
"Kalau begitu, apakah kamu tau dimana keberadaan Dito saat ini? Sudah dari semalam dia tidak pulang, saya sangat khawatir," ucapnya.
"Dito? Dito sedang mendapatkan kerja di tempat lain, Nek. Sepertinya dia butuh waktu yang lama untuk bisa pulang," jawab Edo, terpaksa dia harus kembali berbohong kepada nenek itu.
Sebenarnya sangat ingin mengatakannya dengan jujur apa yang telah terjadi pada Dito, tapi Edo gak enak hati, dia sangat tak tega jika ibunya itu tau kalau ternyata anaknya sekarang ada di penjara.
"Kerja?" Nenek itu tertegun tak percaya, benarkah anaknya bekerja sekarang?
__ADS_1
"Iya, Dito bekerja," jawab Edo dengan suaranya yang sangat meyakinkan.
"Syukurlah kalau begitu," senyum manis hadir di bibirnya. Jelas dia sangat bahagia karena akhirnya Dito bisa bekerja sekarang.
"Nenek tunggu di sini sebentar," Edo langsung gegas berlari dari hadapan nenek itu, jelas hal itu membuatnya bingung.
"Nak, kamu mau kemana?" tanyanya nenek itu terpaku di tempat, menunggu Edo yang sudah berlari.
Tak selang waktu lama Edo kembali, di tangannya sudah kresek yang sepertinya berisi sesuatu.
"Nek, ini ada beberapa makanan. Mohon diterima ya." ucap Edo seraya menyodorkan kresek tersebut.
"I-ini?"
"Terima saja, Nek. Hanya sekedarnya saja sih. Semoga nenek suka." Edo tersenyum. Dia semakin senang ketika pemberiannya diterima dengan bibir yang terus tersenyum.
"Terima kasih ya, Nak." ucapnya.
"Sama-sama, Nek. Oh iya, bagaimana kalau saya antar saja pulangnya. Nenek pasti sangat lelah, benar kan?" Edo menawarkan.
"Tidak usah, Nak. Saya akan pulang sendiri saja." jawabnya seraya menolak tawaran dari Edo.
Edo terdiam dia tak bisa membujuknya lagi sekarang. Dia tidak bisa memaksa meski dirinya sangat kasihan dan akhirnya memilih membiarkan nenek itu pergi.
Edo terdiam, melihat nenek itu yang kini semakin jauh. Melihatnya membuat Edo menjadi teringat dengan neneknya sendiri, Ratih. Entah bagaimana keadaannya sekarang.
Tiba di sekolah, saat pelajaran akan di mulai, bu guru mengatakan bahwa ujian pertengahan semester akan di laksanakan. Semua nampak diam mendengarkan.
"Ibu ingin, kalian bisa mendapatkan bila yang terbaik saat ujian nanti," kata Bu guru. Suaranya terdengar sedikit berteriak mungkin karena ingin semuanya mendengar apa yang dia katakan.
"Kalian paham kan?" tanya bu guru itu menegaskan.
"Iya, Bu!" jawab semuanya serentak.
__ADS_1
Edo terdiam, dia menyadari keadaan kelasnya. Semua teman-teman tak ada yang serius belajar, mereka selalu asyik sendiri. Bagaimana mungkin mereka bisa mendapatkan nilai yang bagus sesuai harapan guru?
Dari sekian banyaknya murid, hanya ada beberapa saja yang benar-benar tekun dalam belajarnya dan itu bisa di lihat, mereka yang selalu mendapatkan hal yang tidak baik dari teman-temannya lah yang diam-diam belajar dengan serius.
'Apakah benar mereka bisa mendapatkannya? Keinginan dari bu guru sangat susah sepertinya untuk diwujudkan. Tapi semoga saja mereka busa,' batin Edo yang kini terdiam namun terhadap mengawasi dengan teliti.
Satupun tak ada yang terlewat dari pandangan Edo. Semua pergerakannya Edo sadar sepenuhnya.
Sebelum dirinya datang ke sekolah itu, hanya karena tidak ingin orang lain tau rahasianya. Dia terus menyembunyikan tubuh satunya.
Bagi Edo, belajar adalah hal yang paling penting. Apalagi selama ini terjadi beberapa banyak hal. Dia tidak mau hal buruk menimpanya.
Semua Edo lakukan, dia harus belajar dengan benar hingga bisa lebih pandai dadi sebelumnya. Dia sangat ingin, kelak dia bisa merawat neneknya dan bisa di banggakan karena kesuksesannya.
Edo terus belajar, dia mulai mengecek semua buku-buku di rak, tapi sayang, dia tidak mendapatkannya.
"Aku harus bisa, aku pasti bisa," gumamnya. Tekatnya sangat bulat untuk bisa sukses. Dia akan berusaha keras untuk mencapai apa yang dia inginkan.
Bukan hanya sebatas kata-kata yang hanya di ucapkan, tapi Edo juga mulai serius. Dia harus benar-benar membuktikan kalau dirinya mampu.
~~~~\`\`~~~~
__ADS_1
Bersambung...