
``
Langkah Edo begitu berat dan cepat, matanya tajam dengan membawa tujuan untuk pergi ke salah satu perumahan di mana para berandalan sekolah berada. Kepergiannya kesana jelas dengan membawa maksud tertentu, Edo ingin merebut kembali uangnya yang mereka rampas.
Edo sudah bekerja keras untuk bisa mendapatkan uang itu, tak akan rela jika uang hasil kerja kerasnya diambil begitu saja. Dinikmati oleh orang yang tak seharusnya.
“Aku harus bisa mendapatkan kembali uang ku.” gumamnya. Semakin cepat Edo melangkah, dia begitu tak sabar untuk bisa mendapatkan uangnya kembali.
Saat dirampas uangnya dia berada di tubuhnya yang gemuk dan dia tak bisa melawan mereka. Bukan hanya karena dia tak punya keahlian untuk melawan tapi juga karena kalah jumlah. Edo hanya sendiri saja kan?
Dengan tubuhnya yang sempurna sekarang dia bisa melawan mereka semua tanpa takut. Edo juga yakin akan menang dan bisa mendapatkan uangnya kembali.
Matanya memandang fokus pada perumahan yang sekarang sudah ada di depan mata. Sejenak Edo menghentikan langkah, mengawasi sekitar dan perumahan itu terlihat sepi.
“Mereka kemana, apakah ini benar tempat mereka?” gumam Edo. Semakin dia menelisik dan melangkah dengan perlahan. Mencari-cari keberadaan para berandal yang mengambil uangnya.
“Jangan! Jangan sakiti saya, jangan! Tolong ampuni saya, jangan sakiti saya!”
Suaranya begitu menggema keras di telinga Edo. Ada orang yang begitu ketakutan, seperti di paksa oleh seseorang atau mungkin memang sedang mendapatkan perundungan.
“Sebenarnya siapa dia? Dan memohon dari siapa?” Edo begitu heran.
Edo melangkah lagi semakin masuk, mencari arah suara yang baru saja dia dengar. Suaranya terdengar begitu memohon dan juga ketakutan. Sebenarnya siapa dia?
“Beraninya kamu ikut campur urusan kita. Kamu tidak tau siapa kami? Hah!” suara bentakan juga terdengar sangat jelas membuat Edo semakin penasaran.
Edo melangkah dengan hati-hati ketika sampai di tempat dan melihat ada beberapa orang pria yang dengan merundung seorang saja. Terlihat satu orang itu berlutut di hadapan mereka dan tak berani melawan.
Begitu kasihan pria itu, dia begitu memohon, wajahnya sangat memelas dan bercampur takut tapi para berandalan itu sepertinya tak ada rasa bekas kasih sama sekali dan tetap merundungnya.
“Tolong lepaskan saya, biarkan saya pergi,” ucapnya. Kedua tangan sudah menangkup di depan wajahnya yang menunduk, tapi para berandalan itu malah semakin kesal juga sebagian ada yang mengejek dan menertawakannya.
“Enak saja main lepas,” ujar salah satunya. Dia bahkan mendorongnya hingga orang itu terjengkang. Orang itu jelas semakin takut.
“Ampun, jangan! jangan pukul saya, jangan!" Teriaknya semakin keras. Tak berani mengangkat wajahnya yang ada hanya memicing kecil saja.
“Agh!" Satu orang sudah siap melayangkan tangannya untuk memukul dengan keras, tapi belum juga terjadi ada botol berisi air mineral yang melayang dan mendarat tepat di kepalanya. Jelas saja tangannya berpindah memegangi kepalanya sendiri sembari menoleh mencari pelakunya.
__ADS_1
“Hey! Siapa itu!?” teriaknya. Wajahnya terlihat marah, hidungnya kembang kempis mengeluarkan hembusan nafas tak beraturan.
Teman-temannya juga sontak menoleh mengikuti ke arahnya. Sejenak tak ada siapapun yang terlihat tapi beberapa saat ada pria tampan yang keluyuran dari persembunyian. Dia melangkah dengan begitu berani.
“Siapa kamu!” tanya pria tadi. Dia belum pernah melihat Edo ini kayaknya, atau mut dia lupa karena terlalu banyak orang yang sudah dia rundung atau dia rampas uangnya.
“Kamu tak bisa bicara?!” tanyanya lagi. Suaranya semakin melengking, matanya semakin lebar melihat Edo yang semakin dekat. “Loh bisu?”
“Hahaha! Wajahnya boleh juga, tapi sayangnya tidak bisa bicara. Heh!" Salah satu menyungging sinis. Mengira kalau Edo tidak bisa bicara karena masih terus diam.
Setelah sampai di hadapan mereka semua Edo berhenti, memandang satu persatu lalu berhenti pada wajah pria yang sepertinya adalah ketuanya.
“Lepaskan dia, dan kembalikan uang saya.” ucap Edo tegas. Tangannya sudah terulur untuk meminta uangnya kembali.
“Uang? Uang kamu? Hahaha! Uang yang sudah ada di tangan kami adalah uang kami. Bukan uang kamu,” ketuanya itu sungguh marah, ucapannya begitu nyolot tak suka akan perkataan Edo yang mengatakan uangnya, padahal memang benar kan?
”Jangan mimpi uang itu akan kembali lagi. Uang itu adalah uang kami, dan akan selalu seperti itu." Imbuhnya lagi dengan sangat tegas.
“Sekali lagi saya bilang, berikan uang saya atau__?”
Bugh!
Kuat sekali Edo memukul ketuanya itu hingga dia mundur beberapa langkah, bahkan hampir terpental saking kuatnya.
“Hey! Beraninya kamu,” salah satu anak buahnya marah. Dengan cepat dia hendak memukul Edo, membalaskan pukulan yang dilakukan Edo pada ketuanya.
Bugh!
“Ahh!” Belum juga tangannya sampai pada Edo, tangan Edo lebih dulu memukul perutnya hingga terpental tak jauh dari ketuanya. Dia seketika jatuh dan mengaduh sakit.
Beberapa anak buahnya yang tersisa, masih sekitar tiga orang. Mereka melihat teman dan ketuanya yang begitu mudah dipukul membuat mereka juga sangat marah. Mungkin jika dikeroyok Edo akan kalah, pikir mereka.
“Aa!” teriak mereka bertiga. Berlari secara bersamaan ke arah Edo yang tak berpindah dari tempat dan terlihat santai.
Hembusan nafas kasar keluar dari Edo, dia siap melawan meski di keroyok sekaligus, dia yakin akan bisa mengalahkan mereka.
Bugh! Bugh! Bugh!
__ADS_1
Tiga pukulan untuk tiga orang. Sungguh cepat pergerakan yang Edo lakukan, tangannya mengayun lincah tapi kakinya sama sekali tak berpindah sejengkal saja.
Dalam sekejap mata saja ketiga orang itu sudah terbang ke arah yang berbeda dan jatuh dengan posisi yang berbeda pula. Baru juga satu pukulan tapi mereka sudah benar-benar kesakitan bahkan sangat kesusahan untuk bangun lagi. Sungguh sakit, mungkin tubuh mereka terasa remuk sekarang.
Ketuanya dan juga satu yang di pukul lebih awal membulatkan mata, tak percaya daja melihat keahlian Edo yang sungguh luar biasa. Tapi hal itu tak lantas membuat mereka menyerah, mereka kembali lagi menyerang karena masih belum mengakuinya kekalahannya.
“Kurang ajar!” sang ketua begitu murka, dia kembali berlari untuk menyerang Edo di ikuti anak buahnya. Sementara yang tiga pun juga akhirnya berhasil berdiri meski dengan kesusahan.
“Pemuda itu sangat luar biasa, tapi aku harus pergi,” pria yang dirundung tadi berlari terbirit-birit, dia takut saja kalau pemuda yang menolongnya akan kalah dan dia akan mendapatkan hal buruk lagi dari para berandalan itu, ya meski dia tidak yakin kalau Edo akan kalah.
Bugh! Bugh! Bugh!
Berkali-kali Edo berhasil memukul sementara dirinya sendiri, sekalipun tidak tersentuh oleh pukulan mereka. Sungguh memang ahli kan.
Bruk! Bruk!
Ketuanya itu dan juga para anak buahnya kini kembali terjatuh, dan sekarang tak kuat lagi untuk berdiri.
“Kembalikan uang ku,” ucap Edo. Tatapannya fokus pada ketuanya dan melangkah mendekatinya. Tangannya terulur seraya meminta.
“I-iya, akan saya kembalikan uangmu,” jawab ketua dengan suara gemetar begitu juga dengan tubuh dan juga tangan yang mengambil uang di dalam saku.
Tangannya semakin gemeteran, dan terasa panas dingin saat terulur ke arah Edo untuk memberikan uangnya. Tak tau uang yang mana, tapi yang jelas uang yang dia dapat dekat-dekat ini hanya uang tersebut.
“Terima kasih, tapi seharusnya tidak perlu ada kekerasan. Kalau kamu memberikannya dari tadi maka ini tidak akan terjadi. Maaf,” Edo menyesalkan kejadian itu.
Edo gegas untuk melangkah pergi dan baru bebet langkah saja dia kembali berhenti. Para berandalan kembali was-was, apakah mereka akan dihabisi sekarang?
“Dan ya! Jangan ulangi lagi perbuatan buruk kalian atau akhirnya tidak akan baik." ujar Edo tanpa membalik dan hanya menoleh kecil saja.
“I-iya,” jawabnya dengan suara serak-serak kesakitan sekaligus gemetar.
Edo mengangguk percaya setelah itu benar-benar pergi dari sana dengan membawa uangnya.
``
Bersambung...
__ADS_1