Sampah Sepertiku Mempunyai Body Goals Yang Baru

Sampah Sepertiku Mempunyai Body Goals Yang Baru
12. Tantangan Andri


__ADS_3



Dengan keahlian taekwondo yang pernah di pelajari sebelumnya tentu membuat Andri sangat percaya diri akan bisa mengalahkan Edo. Di tambah dengan pencapaian sabuk biru yang dia dapatkan. Tentu dia akan mudah bukan?



Wajah tampan, keturunan orang kaya bahkan seorang pewaris dari keluarga besar nomor dua di kota tersebut, bagaimana mungkin Andri akan kalah hanya dengan seorang cowok yang biasa-biasa saja seperti Edo. Bukankah sebenarnya itu tidak level baginya untuk melakukan pertarungan?



Demi bisa mendapatkan Yulia gadis paling cantik dan sangat dia idamkan dia rela melakukan apapun, tak peduli dengan kata orang tentang dia yang menantang orang biasa yang dia yakini juga tak bisa apa-apa.



Kabar Andri dan juga Edo yang hendak bertarung sampai juga di murid-murid kelas lain, semua berkumpul di luar kelas hanya untuk melihat pertarungan mereka. Semua hanya menjadi penonton saja.



Andri dan Edo sudah saling berhadapan dalam jarak yang tak begitu jauh juga tidak dekat, tatapan Andri begitu tajam ke arah Edo yang sebenarnya tak mau berkelahi.



Sekuat apapun dirinya dalam hatinya dia hanyalah seorang pecundang yang lemah. Dia tetap memiliki rasa takut untuk berkelahi karena itu memang bukan kebiasaannya.



Dengan tiba-tiba Andri langsung memukul Edo, pergerakannya sangatlah cepat lebih cepat dari berandalan luar sekolah yang selalu merundung dirinya, juga sangat jauh dari Dimas dan teman-temannya yang seorang pembully di sekolah.



Tapi ternyata, kecepatan dan kuatnya Andri sama sekali tidak mempan bagi Edo, Jangankan kesakitan atau terpental jauh, bergerak selangkah saja tidak padahal Edo juga tidak menghindar sama sekali.



"Hah!" Semua orang melongo di buatnya. Bagaimana bisa Edo begitu kuat, Andri memukulnya sangat kuat kan?



Padahal semuanya sudah berpikir bahwa Edo akan langsung kalah hanya dengan satu serangan dari Andri tapi ternyata pikiran mereka semuanya salah.



"Berhenti! Berhenti saya bilang!" teriak Yulia.



Jelas dia tak tega melihat Edo yang terus di pukul Andri pada bagian tubuhnya, Yulia berpikir itu pasti sangat sakit meski Edo sama sekali tak bergerak dan seperti tak bereaksi apapun.



Tak peduli dengan yang Yulia perintahkan padanya, Andri hanya melirik sebentar ke arah Yulia dan kembali lagi memukuli Edo dan semakin cepat dari sebelumnya.



Yulia terus berteriak histeris, tapi Andri tak peduli dengan gadis yang sangat dia suka itu.



"Ayo, serang balik," Seperti seorang supporter setia Dimas malah mengatakan supaya Edo membalas serangan dari Andri, begitu juga dengan teman-temannya yang sepemikiran.



Dengan wajahnya yang masih ngilu dan begitu banyak lebam mereka tetap duduk dan menjadi penonton di sana, mereka begitu menantikan Edo akan melakukan penyerangan dan akan membuat Andri sama seperti mereka, alias babak belur.


__ADS_1


"Ayo Do, Balas! Ayo!" Teriak Dimas lagi begitu keras.



"Diam, dasar k\*mpret kalian semua!" Maki Yulia tak terima. Yulia yang begitu ngeri meminta berhenti tapi Dimas dan para komplotannya malah jadi provokator aktif.



"Sshh," Baru juga berteriak heboh Dimas langsung mendesis sakit saat mulutnya menganga, dia rasakan sakit di bagian sudut bibirnya yang sedikit robek.



"Syukurin!" seru Yulia kesal. Hatinya begitu dongkol karena perkataan Dimas barusan.



Sebelumnya mereka di hajar habis-habisan di toilet oleh Edo, dan sekarang? Mereka berpikir hanya Andri saja yang memiliki sabuk biru dari taekwondo yang bisa mengalahkannya. Entah siapa sebenarnya yang mereka dukung, Andri atau Edo?



"Yah, nggak seru sama sekali. Nggak ada perlawanan." ucap Bagus. Merasa kecewa karena Edo sama sekali tidak memberikan penyerangan balik pada Andri yang terus memukulnya dengan mudah.



"Iya, jadi malas lihatnya. Ini mah perkelahian anak TK," jawab Dimas.



Sungguh membosankan bagi mereka semua, tapi tidak dengan Yulia yang terus berteriak histeris karena Edo yang sudah pasti kalah telak.



"Hentikan!" teriaknya, tapi Andri tak peduli dan semakin brutal memukuli Edo bahkan sampai pada wajahnya yang tampan.




"Rasakan ini! Kamu tak akan bisa sombong lagi jika wajahmu hancur!" pukulan pada wajah Edo telah Andri layangkan. Jelas membuat luka pada Edo.



Di saat semuanya malas untuk melihat perkelahian itu, di saat mereka memalingkan mata dan hendak pergi dari sana tiba-tiba saja Edo mendadak mundur satu langkah dan berhasil menghindar dari pukulan Andri.



Kegagalan serangan dari Andri dan keberhasilan dari Edo yang menghindar dengan gerakan yang begitu cepat membuat semuanya tercengang tak percaya.



Bagaimana bisa begitu cepat?



Mata mereka kembali terbelalak fokus pada Andri juga Edo. Berharap akan ada hal yang menarik dari pertarungan keduanya.



"Haahhh!" Seru Dimas tak percaya. Matanya melotot seolah akan keluar dari sarangnya.



Sementara Yulia, dia tersenyum melihat apa yang Edo lakukan, bahkan dia juga bertepuk tangan dengan girang.



Dengan semua yang sudah di dapatkan Edo tetap tenang, dia masih berusaha untuk mengendalikan diri untuk tidak menyerang balik, dari awal dia memang tidak mau melakukannya kan?

__ADS_1



Tapi apa yang Edo lakukan membuat Andri tak terima, dia yang pernah mendapatkan peringkat juara dua dan juara pertama taekwondo di kota bagaimana bisa di permalukan dengan gagalnya pukulan untuk Edo.



"Jangan pikir loh bisa menang dari gue. Loh bisa menghindar bukan berarti loh menang!" seru Andri dalam amarahnya yang besar.



"Andri, lebih baik kita hentikan semua ini. Kita bisa bicarakan baik-baik," ucap Edo, dia masih menginginkan untuk menghentikan setelah semua yang sudah dia dapatkan.



"Dasar pecundang! Kenapa, loh takut?" Andri menyeringai. Dia pikir bahwa Edo mengatakan itu hanya karena tak mau kalah.



Seandainya Andri juga menghentikannya bukankah dia yang akan malu pada semua orang?



Datang ke sekolah itu dan berada di posisi teratas karena tak ada yang berani menyinggungnya bukanlah hal yang mudah. Andri harus mengalahkan semua pembully yang selalu menindas yang lemah, hingga sekarang semua tak ada yang berani padanya.



Tapi jika dia menerima tawaran Edo bukankah itu berarti dia yang kalau, dia yang akan malu kan? Itulah yang dia pikirkan.



"Rasakan ini!" Tangan Andri mengepal sempurna, begitu kuat cengkramannya dan langsung di layangkan pada Edo lagi, tapi sayang, Edo berhasil menghindar lagi.



Semakin kesal Andri.



"Lawan gue kalau loh berani, jangan jadi seorang pecundang yang hanya diam saja. Atau hanya segini saja kemampuan loh!" hina Andri. Tak tau kenapa Edo tetap tak membalas, dia hanya ingin tidak mau keadaan semakin kacau.



Semakin Edo menghindar semakin kuat dan cepat Andri ingin memukul lagi. Dia terus menyerang sementara Edo masih terus menghindar.



"Sebenarnya apa yang di lakukan Edo!" gumam Dimas.



Edo benar-benar tak seperti saat menghajar dirinya bersama teman-temannya tadi. Sebenarnya Edo orang yang seperti apa?



"Sudah, hentikan!" kembali Yulia berteriak tapi Andri tak terima dan terus berusaha untuk mengalahkan Edo.



"Sial," umpat Andri. Usahanya terus gagal karena Edo yang terus menghindar.



~~~~••~~~~



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2