Sampah Sepertiku Mempunyai Body Goals Yang Baru

Sampah Sepertiku Mempunyai Body Goals Yang Baru
51. Kedatangan Andri


__ADS_3

~~``~~


Edo terus diam kala berada di dalam mobil Andri yang terus melaju. Bagaimana tidak! Andri akan mengantarkannya pulang dan di rumah ada neneknya.


Tubuhnya yang sempurna ini juga tetap ada rasa takut kalau berhadapan dengan Ratih karena dia belum bisa jujur. Seandainya saja jujur bisa lebih mudah, maka Edo akan jujur sejak awal. Tapi sayang! Tak semudah itu untuk mengatakan kebenaran, apalagi yang terjadi padanya itu bukan hal yang wajar. Bagaimana bisa satu orang memiliki dua tubuh yang berbeda.


“Do, ada apa? Dari tadi diam saja, apa ada masalah?” tanya Andri seraya menoleh ke samping dalam sekejap.


“Hah!” Edo terperangah. Dia sangat terkejut dengan pertanyaan Andri yang tiba-tiba. “Ti-tidak, aku tidak ada masalah.”


Edo begitu kikuk untuk menjawab, tersenyum kecil bersamaan dengan menggeleng. “Masalah apa sih, kamu kan tau kalau aku baik-baik saja.” Edo terus berusaha terlihat baik padahal pikirannya sedang gelisah.


“Hem, tau. Emang masalah apapun yang akan datang padamu? Nggak ada." Andri nyengir. Dia sudah benar-benar mengenal bagaimana Edo. Dia sangat jago dan juga begitu banyak akan kelebihan, dia begitu sempurna mustahil ada masalah.


“Kenapa kamu senyum seperti itu, senyumnya mencurigakan." Edo penasaran.


“Tunggu, jangan-jangan masalah kamu itu__, cewek?” Andri terkekeh. Dia hanya asal menebak saja, biasanya masalah bagi orang tampan kan memang para cewek yang memperebutkan cintanya.


“Hah! Sembarangan,” mata Edo melotot. Cewek? Tak ada waktu untuk memikirkan masalah cewek karena Edo hanya serius tentang kehidupannya juga masa depannya. Bagaimana dia harus bisa sukses di masa mendatang dan juga bagaimana dia akan menjalani hidup yang seperti sekarang, dengan dua tubuh.


“Hahaha! Kan mungkin saja. Lagian cowok sempurna seperti kamu pasti banyak cewek yang antri.”


“Antri? Gue nggak punya tiket buat diantriin," jawab Edo dengan sewot. Wajahnya terlihat begitu kesal tapi Andri malah semakin tertawa. Terlihat senang sekali dia menggoda Edo.


Edo kembali diam, rupanya Andri orangnya juga sangat menyenangkan, berbeda dengan awal saat bertemu yang terlihat begitu cuek dan begitu dingin. Semakin kesini dia semakin asyik.


Edo menoleh ke samping, jarak dengan rumah masih lumayan sih. ‘Hen, sepertinya aku harus memberitahu nenek lebih dulu.' batin Edo.


Perlahan Edo bersandar pada sandaran kursi, matanya terpejam dan secara otomatis dia terbangun pada tubuhnya yang lain. Edo yang sedang ada di luar buru-buru kembali ke rumah, dia harus memberitahu neneknya akan kedatangan Andri dan juga tubuhnya yang sempurna.


“Nek," Sapa Edo. Masuk dengan buru-buru lalu mencari Ratih hingga akhirnya bertemu neneknya itu di dapur.


“Edo, kamu sudah pulang?” Melihat cucunya itu kembali Ratih terlihat begitu senang, wajahnya begitu sumringah dan melangkah menghampiri, “Kamu pasti haus kan? Sebentar.”


Ratih berhenti sejenak setelah sampai di sebelah meja, mengambil gelas dan menuangkannya air putih dan segera dia berikan pada Edo. “Minumlah,” pintanya.


“Terima kasih, Nek.” Edo langsung menenggaknya di hadapan Ratih, nenek itu terlihat semakin bahagia terlihat jelas dari senyumnya yang semakin lebar.


“Nenek masakan makanan kesukaan kamu, sebentar lagi matang.”


“Hem, Edo sedikit capek, Nek. Edo akan istirahat dulu sebelum makan.” ucap Edo. Dia kembali menenggak sisa minumnya dan menghabiskan.


“Oh iya, sebentar lagi teman-teman Edo akan datang, Nek. Kalau mereka sampai tolong bersikap baik dengan mereka ya, dan tolong bilang Edo sedang istirahat. Nenek juga tidak perlu membangunkan Edo.”

__ADS_1


“Hem, baiklah.” Ratih hanya bisa mengangguk pasrah. Melihat wajah lelah Edo dia begitu kasihan. ‘Kasihan, Edo terlihat begitu lelah. Dia harus sekolah juga bekerja. Ya Tuhan, beri kekuatan dan kesehatan selalu untuk cucu hamba.’ batin Ratih seraya memandang kepergian Edo ke kamar.


Ratih kembali menyelesaikan pekerjaannya di dapur, melihat masakan yang dia masak. Sementara Edo, dia langsung membaringkan tubuhnya di kasur, sebentar lagi Andri dan juga tubuhnya yang sempurna pasti akan segera sampai.


Tak butuh waktu lama, Edo langsung tertidur dengan begitu pulas dan jelas dia hanya ingin berpindah tubuh lagi ke tubuhnya yang sempurna.


Di dalam mobil, Andri berkali-kali berdecak karena melihat Edo yang tidur begitu lelap, berkali-kali dia mengajak bicara tapi apalah, dia hanya bicara sendiri karena awalnya dia pikir Edo hanya sengaja memejamkan mata tapi masih sadar.


“Ganteng-ganteng tapi kalau tidur kayak kebo, dasar!" umpat Andri kesal. “Do! Do! Bangun, sebentar lagi sampai nih.”


Kesal karena tak kunjung bangun Andri meninju lengan Edo dengan cukup keras, terkejutlah sang empu dan cepat membuka mata.


“Kebo amat sih kamu, Do?” omel Andri.


“Emang aku tidur?” jawab Edo sekenanya.


Terlihat makin jengkel si Andri. Bisa-bisanya Edo tidak sadar kalau dia tidur dengan begitu pulas. Apalagi tadi membiarkan dirinya ngomong sendiri kayak radio bodol. Kemresek.


“Ihh!” geram Andri. Tapi Edo malah terkekeh melihat Andri, “dasar menyebalkan."


“Hahaha!” tawa Edo menggelegar.


“Diam kamu,” Andri semakin sewot. Tapi yang disewotin malah semakin girang. Ternyata Edo menyebalkan juga.


“Siapa juga yang galau?”


“Lah situ kan, siapa lagi emang, aku?”


“Bodo,” Andri harus ekstra jengkel sekarang. “Do, ternyata kamu menyebalkan juga ya. Di sekolah Raja sok kalem tapi nyatanya, resek."


“Menyebalkan, nggak! Gue imut-imut."


“Ya Tuhan, pede sekali hei kau manusia."


Edo semakin terkekeh karena Andri. Satu jengkel satunya nikmati saja dengan semua kelakuannya.




Meski sudah pernah datang ke rumah Edo tapi Andri masih saja menelisik setiap titik tempat sederhana itu. Berbeda dengan tampangnya yang begitu sempurna, tapi Edo begitu senang tinggal di rumah yang sederhana. Jika orang baru melihatnya pertama kali, pasti mereka akan mengira kalau Edo adalah anak orang kaya dan tinggal di tempat mewah. Tapi nyatanya?


__ADS_1


“Eh, kalian sudah datang.” Ratih begitu senang, menyambut dengan ramah tentunya dengan senyumannya yang begitu menenangkan. Edo tersenyum melihat itu.



“Iya, Nek." Jawab Edo. Sementara Andri hanya mengangguk dan tersenyum simpul.



“Ayo masuk, Nenek sudah menunggu sedari tadi. Maaf ya, rumahnya ya beginilah.” ucap Ratih sembari berjalan lebih dulu.



“Apa sih, Nek. Seperti ini juga tempat tinggal saya kan?" ujar Edo.



Ratih tersenyum, dia jelas sudah sangat mengenal pria tampan itu. Teman sekamar cucunya.



“Hem, ayo masuk." Ratih mengangguk. Kembali dia mengajak keduanya masuk. “maaf ya, cucu nenek sedang tidur. Katanya dia lelah. Maklum, dia habis pulang kerja.”



Edo kembali gelisah, takut saja kalau dia akan bicara yang aneh-aneh tentang Edo. Meski tubuh mereka berbeda tapi jelas banyak kesamaan. Bagaimana kalau sampai Andri curiga. Benar kan?



“Nggak apa-apa, Nek. Biarkan dia tidur.” jawab Edo yang sudah duduk dengan Andri.



Ratih kembali mengangguk. “Sebentar," ucapnya dan gegas masuk ke dapur. Tak lama Ratih keluar dan membawa nampan berisi cangkir. “Maaf ya, hanya minum saja."



Ratih tentu akan melayani ke-dua dengan baik sesuai perintah dari cucunya. Bersikap ramah karena dia memang terbiasa juga melakukan itu pada siapapun. Hanya saja, terkadang orang-orang yang tidak mau menghargai mereka karena hanya orang miskin.



~~~~~\*~~~~


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2