
Ronald. Dia adalah murid yang juga sering kali ditindas di sekolah. Seringkali tidak mendapat hal yang pantas seperti teman pada umumnya, tidak bisa berteman, juga perlakuan baik.
Tentu, hal itu dia dapatkan juga karena dirinya yang memiliki hal yang sama seperti Edo. Memiliki tubuh yang gemuk dan sangat jelas tidak akan mendapatkan perlakuan baik. Entah, kenapa semua memandang fisik saat akan menjalin pertemanan.
Ditengah-tengah Ronald yang sering dibully dan ditindas, diam-diam Ronald memilih menulis lagu dan juga sesekali ikut kompetensi menyanyi.
Ronald adalah murid yang pandai, pendiam dan juga sangat rendah diri. Selalu menyibukkan diri dan tidak mengurusi urusan orang, bahkan selalu mengabaikan kata-kata dari teman-teman yang selalu menindasnya dengan berbagai kata yang tak pantas.
Suatu ketika, diam-diam Ronald mengikuti acara audisi menyanyi. Dia sudah begitu yakin dengan kemampuannya sendiri. Dia yakin bahwa akan menang. Dia sudah mendaftarkan dirinya.
Ronald begitu semangat, tak ada keraguan untuk bisa menjemput mimpi yang sudah menjadi harapannya sejak lama. Dengan tersenyum penuh binar Ronald datang.
Semua prosedur pendaftaran sudah Ronald lakukan. Dia tentunya juga sudah terus berlatih vokal dan sudah lebih baik.
"Aku sudah sangat tidak sabar," gumamnya. Menunggu dengan tidak tenang. Menunggu namanya di panggil untuk menampilkan suaranya yang akan dia kumandangkan dengan yang paling maksimal.
Semakin dekat dengan nomornya, Ronald semakin bahagia. Jantungnya terus berdetak lebih cepat. Ada rasa grogi karena sebentar lagi dia akan berdiri di depan para dewan juri yang tentu sudah sangat ahli di bidangnya.
"Ya Allah, saya mohon lancarkan. Dan berikan hasil terbaik dari apa yang sudah aku usahakan." ucapnya. Ronald terus berdoa, bermunajat dengan yang terbaik untuk dirinya sendiri.
Ronald semakin tak sabar ketika peserta yang barusan ada di panggung sudah selesai dan mulai turun. Ronald semakin gusar namun juga sudah tidak sabar untuk dirinya naik ke panggung dan menampilkan penampilan terbaiknya kepada para juri. Apa lagi di deretan para juri ada seorang yang menjadi idolanya tentu ada rasa gugup.
Namun ternyata penantian Ronald membuat dirinya kecewa, membuat dirinya terpaku dan begitu terperangah saat nama yang dipanggil adalah nama dari peserta lain.
"I-ini?" netra Ronald memutar bingung. Kenapa bisa nama lain yang di panggil, dan tentunya peserta yang miliki nama itu langsung naik ke panggung dengan begitu senang. Terlihat senyumnya begitu lebar.
"Tidak, ini pasti salah. Pembawa acara pasti salah," ucap Ronald. Dia mulai bingung, apa yang harus dia lakukan.
Ronald masih berdiri di tempat dengan keadaan bingung, namun peserta itu kini sudah mulai menyanyikan lagu yang dia bawakan. Penampilannya memang sangat menakjubkan.
"Aku harus mencari tau," ucap Ronald. Tangannya masih terus memegangi nomor dan dia sudah mulai melangkah untuk mencari tau apa yang sebenarnya terjadi. Apakah mungkin ada kesalahan teknis? Itulah yang menjadi pemikirannya.
Tapi, usaha Ronald malah semakin membuat dirinya kecewa. Dia semakin sedih saat tau ternyata namanya di coret dari peserta audisi. Dan alasannya?
Alasannya sungguh tidak masuk akal. Mereka mencoret namanya hanya karena dirinya yang gemuk juga pendek.
__ADS_1
"Gemuk, pendek, dekil seperti mu bisa apa, jangankan menyanyi, bicara saja kamu pasti kesusahan. Pergi sana!"
Kata sadis itu yang Ronald dapatkan.
Setiap kali Ronald mengingat waktu itu, dia hanya bisa tersenyum kecut. Kenapa? apakah orang yang gemuk seperti dirinya tak boleh mempunyai mimpi? Apakah tidak boleh maju dan berjuang seperti yang lain untuk bisa menggapai semua mimpi sama seperti yang lain?
Brak!
"Gendut! Bagi uang!" Lamunan Ronald seketika buyar.
~~~~\`~~~
Seperti biasa, setelah pulang sekolah Ronald akan langsung ke tempat ibunya berjualan. Tentu, kedatangannya adalah untuk membantu sang ibu yang terus sibuk sepanjang hari dengan dagangannya.
"Kamu sudah datang, Nak?" Tanya Dian. langsung menghentikan pekerjaannya dan menghampiri putranya. Dia terlihat begitu senang kala melihat kedatangan putranya itu.
Menyambut uluran tangan dari sang, menyambut bagian dari sapaan sopan santun sang putra yang sudah seperti makanan sehari-harinya.
"Iya, Bu." jawab Ronald. Seketika dia berdiri tegak dan melihat semua dagangan ibunya. "Bagaimana bu dagangannya, laris?"
"Alhamdulillah, seperti biasa." jawab Dian. Ikut melihat hal yang sama seperti Ronald.
Meski masih banyak dagangannya yang belum laku, tapi Dian tidak terlihat sedih, dia selalu ikhlas dan menyerahkan semua kepada Sang Pencipta. Rezeki sudah ada yang ngatur, itulah yang selalu dia katakan pada Ronald.
Rejeki kalau belum waktunya di berikan, sekuat apapun mengejar malah seperti lari menjauh. Tapi, kalau sudah waktunya sampai di tangan, seperti apapun usaha kita, meski kadang kita begitu santai tetap akan sampai. Itulah rezeki.
Ronald diam, dia tidak mengatakan apapun lagi dia tau dagangannya masih banyak, kalau dia mengeluh jawab ibunya juga akan tetap sama seperti biasa. 'Sabar,' kata itulah yang akan dia dengar setelah dia mengeluh panjang kali lebar.
"Bu, Ronald ngapain sekarang?" tanyanya. Dia terlihat begitu antusias, dia harus semangat supaya dagangan ibunya bisa ludes terjual.
"Kamu istirahatlah dulu, kamu pasti lelah." ucap Dian ramah.
"Ronald!"
Baru juga beberapa langkah Ronald berjalan dia sudah kembali dihentikan oleh suara yang memanggil namanya. Ronald menoleh, seketika dadanya bergemuruh.
__ADS_1
"Ronald, mereka teman-temanmu ya?" tanya Dian. Terlihat Dian begitu bingung namun melihat mereka yang terlihat akrab pada Ronald, Dian beralih senang. Dia tak menyangka bisa bertemu dengan teman-teman Ronald.
Sekitar lima anak yang datang. Di hadapan Dian mereka terlihat begitu baik dan ramah, tapi tidak! Sebenarnya mereka sangat menyebalkan, mereka selalu menindas Ronald di sekolah.
"Iya, Tan. Kami teman-teman Ronald di sekolah. Iya kan, Ron?" ujar salah satu diantara mereka.
Ronald diam, di hatinya sangat marah, dia tau apa yang akan dilakukan oleh mereka semua.
"Sini-sini, silahkan duduk ya." Dian begitu gembira menyambut kedatangan mereka, bahkan Dian langsung meminta mereka duduk dan menunjukan tempatnya. Diamnya Ronald membuat Dian yakin kalau mereka memang berteman baik di sekolah.
Ingin sekali Ronald mengusir mereka semua, tapi dia tidak mau membuat ibunya tau apa yang terjadi di sekolah, dia tentu tidak mau kalau sampai ibunya sedih.
"Kalian di sini dulu, biar ibu bikinkan mie goreng. Kalian pasti pada lapar kan?" Dian begitu semangat.
Kelima anak itu tidak mengatakan apapun, mereka hanya tersenyum kecil saja. Tapi, setelah Dian pergi dari beberapa mereka memandang sinis pada Ronald.
Tangan Ronald mengepal, matanya mengisyaratkan sebuah kebencian yang begitu besar pada mereka. Tapi mereka malah tertawa dengan menahan suaranya supaya tidak terlalu menggelegar bebas.
"Ronald, sini bantu ibu."
Seketika Ronald menoleh. "Iya, Bu." Ronald kembali menoleh ke arah teman-temannya itu dan mereka masih tetap menertawakannya.
Begitu baik Dian pada semua teman-temannya Ronald. Tanpa bertanya bagaimana sikap mereka di sekolah, baikkah? Atau mungkin ramahkah? Atau malah sebaliknya?
Kebaikan Dian ternyata di manfaatkan oleh mereka semua, mereka terus memakan dagangan Dian bahkan hampir menghabiskannya padahal baru saja mereka makan mie goreng buatannya dengan begitu lahab.
Ronald tau, Ibunya pasti mengira bahwa kedatangan mereka karena ajakan dirinya maka dari itu dia membiarkan apapun yang mereka lakukan. Tapi Ronald, dia takut kalau dagangannya habis dan mereka jelas tidak akan mau membayar.
Ronald menatap kelimanya dengan tatapan yang semakin benci, tapi jelas saja itu tidak ada pengaruhnya sama sekali bagi mereka.
'Seandainya aku menjadi orang terkenal yang begitu kaya, menjadi penyanyi atau menjadi seorang komponis yang kaya. Orang-orang ini pasti tidak akan pernah berani menindas dan meremehkan ku.' batin Ronald.
Melihat hal itu tentu Ronald tidak terima, dia ingin menegur mereka tapi langkah pertamanya terhenti karena Dian menarik lengannya lalu menggeleng saat Ronald menoleh.
~~~~\`\`~~~~
__ADS_1
Bersambung...