Sampah Sepertiku Mempunyai Body Goals Yang Baru

Sampah Sepertiku Mempunyai Body Goals Yang Baru
18. Rencana Berantakan


__ADS_3



Melihat King dan para anak buahnya yang pergi dari sana membuat Dimas dan juga teman-temannya tak percaya terlebih lagi dengan Andri yang juga masih terus menatap kepergian mereka yang semakin jauh dengan begitu santai.



"Apa- apaan ini?!" Dimas terlihat begitu marah, matanya membulat sempurna melihat kepergian mereka namun juga kesal karena tak bisa menghentikan mereka. Tak ada keberanian namun juga meras sangat sia-sia saja apa yang sudah dia usahakan untuk hari ini.



Sejenak memang mereka sama-sama tertegun karena tak percaya, tapi ternyata itu adalah benar. Mereka semuanya sudah pergi karena takut pada Edo mest mereka tidak menjelaskan dengan pasti.



"Kita sangat di rugikan, Dim," ucap Bagus. Dia juga ikutan kesal sama seperti yang terjadi pada Dimas saat ini. Tak ada yang baik-baik saja hatinya kecuali Andri karena dia memang dari awal merasa bahwa ini tidakkah benar.



Tatapan mereka semua pada King dan anak buahnya di kejutkan oleh kekehan daru Edo yang begitu tiba-tiba. Mereka semua langsung membalik dengan bersamaan dan fokus pada Edo.



"Hehehe," suaranya kali ini sangat jelas meski masih dalam keadaan mabuk. Meski sedikit parau tapi dapat di pahami dengan mudah.



Mereka semua mengerutkan kening, apa yang membuat Edo terlihat begitu bahagia, apakah ada sesuatu yang memancingnya untuk seperti itu?



"Terima kasih kalian semua sudah menganggap ku sebagai teman." ucap Edo. Katanya terlihat begitu susah untuk terbuka sempurna. Sesekali berkedip-kedip untuk bisa memperjelas penglihatannya.



"Sebelumnya tak pernah ada yang mau menganggap ku teman. Tak ada yang baik padaku kalian semua sangat baik. Terima kasih," ucapnya lagi. Wajahnya terlihat begitu pilu seolah dia begitu menderita selama ini dalam kehidupannya. Sebenarnya kehidupan yang seperti apa yang di alami oleh Edo? Mungkin itulah yang muncul dalam angan mereka.



"Kalian sungguh baik padaku," Bahkan Edo ingin menangis karena ucapannya sendiri. Begitu tragiskah hidupnya?



"Asal kalian tidak merundung orang yang lebih lemah dari kalian, dan tidak mengambil foto tel\*jang mereka dan mengancam mereka, dan juga belajar dengan baik-baik saja ma\_\_,"



Perkataan Edo terbata-bata namun tetap jelas mereka pahami. Namun perlahan semakin lirih bersamaan dengan matanya yang kian terpejam hingga akhirnya\_\_,


__ADS_1


Bruk!



Padahal baru setengah apa yang dia katakan tapi Edo sudah langsung tertidur di atas meja, begitu sempurna matanya yang terpejam dan tak lagi ada suara apapun.



"Hahhh!"



Nafas lega keluar dari mereka semua setelah melihat Edo yang tertidur pulas. Dodo dan juga Didik terduduk lemas di kursi, Bagus dan juga Kipli begitu lemas dan langsung bersandar pada meja sementara Dimas terbengong. Kesamaan mereka adalah tatapan mereka yang kosong ke arah Edo.



Beralih tatapan Dimas pada tangan Edo, masih ada pecahan botol yang ada di sana. Dimas tidak berani mendekat, tentu ras takut masih sangat besar di dalam dirinya.



Mereka semua saling pandang, ingin tertawa melihat ekspresi mereka masing-masing, tapi itu tidak terjadi karena jantung mereka masih berdisko ria di dalam sana karena rasa panik.



Kini tatapan Dimas beralih pada Andri yang diam santai.




Bagaimana bisa dia akan melawan Edo jika sampai dia tau apa yang terjadi sekarang, Geng Roket yang terkena sangat menakutkan saja lari dari hadapannya dak tak lagi mau menyinggungnya, jelas mereka tak bisa melawan apa kabar dengan Dimas dan temannya?



Andri diam tak menjawab. Tapi hubungan mereka tetap baik meski setelah kejadian ini. Mereka berdua jiga tak banyak bicara lagi setelah itu.



Dan secara otomatis dengan tubuhnya yang sempurna tertidur maka tubuhnya yang gemuk akan terbangun. Begitu pelan dia membuka mata, perlahan membulatkan mata supaya lebih terang dan lebih jelas apa yang dia lihat di dalam kamarnya tersebut.



Meskipun tidak berada di dalam satu ruangan tapi Edo yang gemuk menyadari apa yang telah terjadi kepada dirinya yang sempurna. Dia begitu takut jika akan ada sesuatu yang terjadi pada tubuhnya yang sempurna hingga dia terus berusaha untuk mengganti tubuhnya kembali.



"Aku harus bisa berpindah tubuh," gumamku. Edo kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang, berusaha memejamkan mata supaya bisa tertidur dan bisa kembali terbangun itu punya yang sempurna.



Berkali-kali dia membuka dan memejamkan matanya berharap dia akan mengantuk dan secepatnya tertidur namun ternyata gagal, sebesar apapun dia mencoba tapi rasa kantuk itu tetap tidak datang dan membuatnya malah sedikit kesal karena gagal.

__ADS_1



Kembali Edo duduk, dia berpikir bagaimana bisa kembali ke tempat semula dan bisa menyadarkan tubuhnya yang sempurna. Tapi dia belum bisa menemukan jalan itu.



"Bagaimana kalau akan ada yang mengetahui rahasiaku?" gumam Edo. Iya begitu takut kalau apa yang dia pikirkan itu akan terjadi. Sesuatu yang buruk pasti akan menimpanya.



Kembali Edo berpikir bagaimana dia bisa tersadar di tubuhnya yang sempurna, dia melamun memikirkan sesuatu siapa tahu dia bisa menemukan jalan, namun ternyata tidak!



"Apakah akan terjadi sesuatu jika setelah belasan jam terus ada dari mabuknya?" Edo juga sangat takut akan hal itu. Bagaimana jika sesuatu terjadi saat dia sadar setelah beberapa jam dia tidur karena mabuk.



Kembali Edo berusaha untuk bisa tertidur lagi dia terus berusaha dan berusaha berharap akan ada hasil, namun tetap sama saja, sama-sama nihil dan dia tetap sadar pada tubuhnya yang gemuk.



"Akhh!" Pekiknya, dia mulai frustasi karena apa yang dia lakukan sama sekali tidak membuahkan hasil. Dia semakin bingung apa yang harus dia lakukan supaya bisa membuat tubuhnya yang tampan itu kembali sadar.



"Apa yang harus aku lakukan?" gumamnya. Mengacak rambutnya dengan kasar. Dia benar-benar sangat frustasi di dalam kamarnya sendiri. Ternyata tidak mudah memiliki dua tubuh.



"Pikir Edo, pikir," ucapnya lagi, kini beralih tangannya yang terus memukuli kepalanya sendiri, memaksa dirinya untuk berpikir dalam menghadirkan ide yang cemerlang untuk bisa membuatnya berhasil.



Hampir satu jam Edo berkutat dalam kebingungan di dalam kamar, belum juga menemukan cara untuk bisa membuat tubuh sempurnanya bangun.



"Hem, satu-satunya jalan aku harus mencarinya, aku harus datang ke tempat itu," Keputusan terakhir yang Edo ambil. Ternyata dia tetap tidak menemukan jalan selain datang langsung ke tempat dimana tubuhnya berada.



Edo bergegas, dia begitu buru-buru untuk pergi karena sudah sangat mengkhawatirkan tubuhnya yang sempurna. Dia takut akan terjadi sesuatu.



~~~~••~~~~



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2