
~~``~~
Edo berdiri di pojokan dengan melihat adegan dari Dito yang terlihat begitu erat memegangi Yulia, bahkan juga terus memaksa Yulia dengan begitu kejam. Edo terus was-was karena takut Dito akan bertindak kejam apalagi Dito yang memiliki pisau.
"Bagaimana ini, bagaimana kalau dia bertindak buruk pada Yulia." Gumam Edo yang masih dengan tubuhnya yang gendut. Terus Edo mengendap-endap, terus bersembunyi karena tak ingin Dito tau.
"Ini tidak bisa dibiarkan. Kalau di biarkan begitu saja takutnya dia akan melakukan hal buruk pada Yulia," gumamnya lagi.
Matanya masih melihat ke arah Dito yang terus memegangi Yulia dengan begitu kuat, tapi tangannya sudah mulai merogoh saku untuk mengambil ponsel.
"Aku akan melaporkan ini pada polisi," katanya. Dan benar saja, Edo langsung melakukan apa yang baru saja dia katakan. Dia begitu buru-buru untuk melapor kejadian ini pada Posisi, sebelum semuanya terlambat.
"Halo, Pak. Di sini ada tindak kejahatan pak. Di jalan XX," ucapnya dengan berbisik pelan. Edo tidak berani berbicara dengan keras karena takut akan ketahuan.
Setidaknya dia sudah memberitahu pada polisi dimana letak tindak kejahatannya. Dengan itu pasti bantuan akan segera datang dan Yulia akan baik-baik saja, pikirnya.
Tanpa menunggu waktu lama Edo menutup kembali ponselnya, menyimpan lagi ke saku dan dia kembali fokus pada keduanya.
Terlihat begitu ngeri ketika Dito terus mengancam Yulia, bahkan juga memaksanya. Yulia tentu sudah terus menangis, dia tak bisa berbuat banyak karena tenaganya juga kalah kuat. Bukan itu saja, tapi Yulia juga takut karena Dito yang membawa pisau yang dia gunakan untuk mengancamnya.
"Lepaskan saya, lepas," suara Yulia sudah mulai lemah, dia takut hingga suaranya seakan ikut tertahan. Tubuhnya juga juga terus gemetaran.
"Hahaha! Kamu pikir bisa lepas dariku? Tidak! Kamu itu milikku!" kecam Dito dengan suaranya yang kian melengking. Dia hendak menyeret Yulia dan tentu membuat gadis itu semakin bertambah ketakutan.
"Tolong! Tolong!" Yulia mencoba berteriak, siapa tau akan ada yang datang untuk menolongnya. Membantu dia bisa terlepas dari pria mesum yang begitu mengerikan itu.
Tapi sayang, sudah beberapa kali Yulia berteriak belum juga ada yang datang untuk menolongnya. Tapi hal itu tak lantas membuat Yulia pasrah, dia terus berontak untuk melepaskan diri dan juga kembali berteriak sekuat yang dia bisa.
"Diam!" sentak Dito. Matanya semakin menyala-nyala menakutkan, begitu tajam dengan warna yang sudah berubah memerah.
Hal itu membuat Yulia terperanjat, dan juga langsung meringsuk takut. Menundukkan wajahnya yang sudah terus menangis karena takut.
__ADS_1
"Jangan berisik! Atau kalau tidak, aku bisa berbuat kasar padamu. Paham!" teriak Dito lagi. Dia tak ingin Yulia berteriak dan berontak, dia ingin Yulia menurut padanya dan ikut tanpa perlawanan.
"Ini tidak bisa di biarkan. Pria itu harus di hentikan. Kalau tidak Yulia pasti akan semakin ketakutan," gumam Edo, dia mulai tak tega melihat Yulia yang sudah begitu pucat karena takut.
Sudah sedari tadi dia melihat Yulia yang menangis, berharap dilepaskan tapi tak dapat kesempatan itu. Berteriak berharap ada yang datang menolong tapi ternyata satupun tak ada yang datang. Hanya dirinya yang ada di sana.
Edo memutuskan keluar dari persembunyian, dia ingin membantu Yulia entah bagaimana caranya tapi dia harus bisa membuat Yulia lepas dari Dito.
"Lepaskan dia!" teriak Edo berani. Padahal dia sendiri juga ragu kalau dia akan berhasil tapi tak ada salahnya dia mencobanya.
Mendengar ucapan Edo, Dito langsung berhenti melangkah, dia menoleh dengan cepat dan berhadapan melihat Edo yang baru saja keluar dari persembunyiannya. Apakah itu artinya Edo memang sudah ada di sana sejak tadi?
Melihat Yulia, wajahnya terlihat begitu memohon pada Edo untuk di bantu untuk terlepas dari Dito yang masih tetap memegangi pergelangan tangannya. Bahkan pergelangan tangan Yulia sudah begitu sakit karena cengkeraman yang begitu kuat dan terus ditarik dengan paksa. Yulia juga masih terus menangis dengan satu tangan yang masih berusaha untuk melepaskan satu tangannya.
"Hem," Dito hanya menyungging sinis saat melihat Edo. Dia terlihat begitu tak suka karena bisa saja Edo akan ikut campur pada urusannya sekarang.
Melihat Edo, Dito juga terlihat semakin kejam, ekspresi wajahnya semakin menakutkan dari sebelumnya. Dia benar-benar tak suka dengan kedatangan Edo.
Edo harus extra waspada, Dito tidak dengan tangan kosong ada pisau di tangannya yang menjadi senjatanya saat ini. Bisa saja pisau itu akan melukai dirinya atau mungkin Yulia.
"Lepaskan dia, Kak. Jangan sakiti dia," ucap Edo berusaha bicara dengan lembut, siapa tau dengan itu hati Dito akan tergerak dan melepaskan Yulia.
"Tidak! Siapa kamu berani mengaturku." Dito malah semakin marah, dia tak terima dengan teguran Edo. Dia hanya menginginkan Yulia, siapa yang ikut campur maka pasti dia tidak akan tinggal diam begitu saja.
Dengan begitu berani Dito juga terus mengacungkan pisau yang dia bawa pada Edo, dia berusaha untuk melukai Edo tapi tetap tanpa melepaskan Yulia. Dia tidak mau sampai Yulia kabur darinya, itu akan semakin susah lagi nanti.
"Lepaskan dia, Kak." pinta Edo lagi. Tetapi lagi-lagi permintaan dari Edo diabaikan oleh Dito yang tetap tidak mau melepaskan Yulia dari genggaman tangannya. Bahkan mata Dito semakin tak bersahabat lagi. Dia semakin marah dan mulai menjadi bringas.
Karena merasa sangat khawatir dan tak mau sampai terjadi sesuatu pada Yulia, Edo langsung mendorong tubuh Dito dengan begitu kuat hingga membuat Dito berhasil jatuh di tempat sampah yang ada di sampingnya.
Brak!
__ADS_1
"Ahh!" Keluh Dito, dia nampak meringis merasa sakit akibat dorongan dari Edo.
"Aaa!" teriak Yulia yang begitu terkejut dengan pergerakan cepat yang terjadi di hadapannya. Ada rasa takut tapi juga ada rasa lega karena akhirnya bisa terlepas dari Dito yang begitu menakutkan.
Sementara Edo melihat Dito yang terjatuh, dia sudah mulai berdiri kembali dengan amarah yang kian besar. Dia jelas sangat marah karena perbuatan Edo.
Melihat Dito yang hampir berhasil berdiri Edo langsung menarik Yulia dan mengajaknya berlari. Keduanya berlari dengan bergandengan tangan, berusaha menjauh dari Dito yang kini sudah mulai mengejar.
"Berhenti!" teriakannya begitu menggelegar. Larinya juga begitu kencang hingga akhirnya dia berhasil mengejar Edo dan juga Yulia.
Yulia kembali panik, dia kembali takut melihat wajah Dito yang semakin mengerikan.
"Jangan harap kalian bisa kabur dariku, kalian tidak akan bisa kabur!" ucap Dito lantang.
Dalam rasa takut dan juga paniknya Edo mengingat tubuhnya yang sempurna dan tampan, dia mengingat bagaimana dia memberikan pelajaran pada para pembully di kelasnya.
'Aku juga pasti bisa,' batin Edo penuh keyakinan.
"Kamu di sini dulu," ucap Edo. Perlahan dia melepaskan tangan Yulia yang sudah berkeringat dingin itu.
Awalnya Yulia menggeleng, dia seakan tak memberikan izin pada Edo tapi setelah Edo mengangguk pelan dan keyakinan akhirnya Yulia mau melepaskan tangannya. Membiarkan Edo melawan Dito.
Beberapa kali Yulia berteriak histeris saat pertarungan Edo dan Dito terjadi. Ternyata Edo juga bisa mengalahkan Dito meski dengan tubuhnya yang gemuk, kekuatannya seakan datang dengan sendirinya.
Bruk!
Dito terjatuh setelah mendapatkan pukulan keras dari Edo.
~``~
Bersambung...
__ADS_1