Sampah Sepertiku Mempunyai Body Goals Yang Baru

Sampah Sepertiku Mempunyai Body Goals Yang Baru
07. Terlalu Tampan


__ADS_3



Terlalu overdosis akan ketampanan. Itulah yang pantas di sematkan pada Edo dengan tubuh sempurnanya.



Dari mata, hidung, alis, pipi, bibir dan semuanya tak ada yang kurang, begitu sempurna bahkan lebih dari yang lainnya. Bagaimana tidak akan menjadi perhatian para cecan, alias cewek-cewek cantik di sekolah itu?



Semua begitu terpana, menatap tanpa berkedip. Bahkan dari beberapa cewek ada yang seolah rahangnya mau jatuh karena saking menganganya. Matanya seakan mau keluar saking melototnya. Mereka adalah pemersatu cewek cantik penggemar visual sempurna.



Yulia Agustin. Gadis dengan tubuh yang sempurna indah dengan wajah cantik yang juga enak di lihat. Rambut panjang hitam pekat, dan juga lurus. Mata sipit, alis tebal, hidung nangkring mancung dengan bibir tipis berwarna merah alami. Semua mata akan selalu terpana saat melihatnya, dia adalah primadona sekolah.



Yulia kini terpana melihat Edo padahal biasanya dia tak akan pernah menanggapi bahkan menoleh ke arah siapapun meski itu tampan dan keturunan orang kaya, tapi dengan Edo?



"Tampannya," puji Yulia. Matanya begitu terpana, sama sekali tak berkedip dengan kedua tangan berdiri menyangga dagunya sendiri.



"Perkenalkan, nama saya Edo Saputra." ucapnya memperkenalkan diri.



"Apa ada pertanyaan?" tanya Pak Djarot pada semua murid lamanya.



Yulia menunjuk jari sembari bertanya membuat semua orang tertuju termasuk Andri, cowok yang tadi menjadi pembully.



"Ya, mau tanya apa Yulia?"



"Apakah Edo sudah punya pacar, kalau belum maukah menjadi pacar Yulia?" tanyanya. Melenceng jauh dari harapan Pak Djarot.



Dengan senyuman manisnya Yulia menatap Edo dengan begitu terpana. Sungguh manis tapi malah membuat Edo mengerutkan wajahnya.



"Maaf, Yulia. Pertanyaan mu tidak usah di jawab sekarang. Tunggu saja jawabannya secara pribadi oleh Edo." ucap Pak Djarot, "Edo, silahkan duduk di kursi itu."



"He'em," Edo mengangguk patuh, berjalan ke arah sesuai arahan Pak Djarot. Baris kedua di sebelah bangku Yulia. Semakin girang Yulia melihatnya, hingga dia meminta pada temannya untuk bertukar tempat supaya bisa berada di sebelah Edo meski dengan bangku berbeda.



Cewek menjadi pujaan para pria tampan yang sudah lebih dulu ada sebelum Edo datang. Cewek yang selalu acuh dan mengabaikan para cowok yang mendekatinya, tapi sekarang? Dia sendiri yang mendekati Edo karena keinginannya sendiri.



Satu pasang mata menatap tak suka Yulia yang memperlihatkan ketertarikannya pada Edo, meski dia belum mengatakan secara terang-terangan tapi sudah mampu membuat hatinya terasa panas. Siapa lagi kalau bukan Andri yang kini juga mengepalkan tangan penuh dengan kebencian.



Semakin di lihat semakin membuat panas hati, Yulia sendiri yang mendekati Edo, bukan Edo yang mendekatinya lebih dulu. Cemburu, tentu saja dia memiliki rasa itu karena Yulia tak pernah melakukan itu padanya.


__ADS_1


"Uh manisnya," puji Yulia. Matanya terus menatap Edo yang begitu serius memperhatikan pelajaran. Sudah tampan, rajin lagi, siapa yang tidak akan terpana karena itu.



Apa yang di lakukan Edo adalah hal yang sangat jarang, bahkan nyaris tak ada dari murid lainnya mereka terus saja mengabaikan guru saat menjelaskan. Mereka terus sibuk dengan kegiatannya sendiri, jadi saat ada satu anak saja itu adalah hal yang ajaib di sana.



Semakin Yulia memuji Edo jelas saja hal itu membuat Andri semakin kesal dan juga semakin marah. Berkali- kali dia berusaha mendekatinya tapi sama sekali tak di anggap, tapi Edo? Bahkan tidak mendekat saja Yulia yang lebih antusias.



Tangannya semakin kuat mengepal pena yang ada di tangannya hampir patah dan juga berusaha untuk membuat kusut buku yang hanya ada beberapa tulisan saja di dalamnya.



"Sungguh keterlaluan," ucap Andri marah.



Bukannya serius dengan pelajaran tapi Yulia dan para cewek lainnya lebih serius memperhatikan Edo yang begitu serius, mereka begitu terkagum- kagum pada anak baru itu.



Pelajaran terus berlangsung hingga sampai pada istirahat tiba, itupun hanya Edo juga yang serius akan pelajaran



~~~~\`\`



Teng!



Bel berbunyi, semua berhamburan keluar kelas dan berhamburan ke kantin, begitu juga dengan Edo yang terus di ikuti oleh para cewek cantik termasuk Yulia.




"Kamu ngapain ke sini?" tanya Edo, melihat fokus pada Yulia yang nyengir dengan tangan mulai bekerja dengan sendok dan garpunya



"Apa sih, aku hanya mau makan bersama kamu saja. Tak apa- apa kan? Seharusnya tak apa sih," jawab Yulia, tetap dengan cengiran khasnya yang begitu manis.



Jika saja yang ada di hadapannya adalah Andri pasti dia akan tersenyum bahagia, tapi sayang bukan dia yang ada di sana.



Edo menghela nafas panjang, ternyata di dekati cewek tak seindah dan menyenangkan yang dia bayangkan bikin merinding.



Edo juga merasa begitu sungkan, ini adalah pertama kali ada seorang cewek yang menemaninya makan, apalagi dia adalah cewek cantik yang menjadi idola sekolah. Apakah dia harus bahagia?



Tapi Edo juga teringat akan apa yang pernah terjadi padanya, biasanya dia akan selalu melayani para Alex dan juga teman- temannya yang selalu menindas dirinya, tapi sekarang? Dia bebas dari penindasan juga pembullyan, tapi bukan berarti dia juga merasa senang dan itu karena ada Yulia di hadapannya. Yulia yang mulai mengejarnya setelah dia datang di sekolah tersebut.



~~~~\`\`\`



Baru juga Edo melangkahkan kaki keluar dari kantin ada beberapa anak yang memanggilnya. Mereka juga bagian dari murid yang suka membully murid yang lemah.

__ADS_1



"Hey, mau kemana? Bagaimana kalau ikut kami saja?" ucapnya, mengajak Edo ke suatu tempat.



"Iya, ayo ikut kami," Ajak yang lainnya.



Dimas dan juga Bagus. Mereka juga bagian dari para penguasa di kelas. Mereka juga sering membully siapapun sesuai kehendak mereka. Mereka sangat penasaran dengan Edo makanya mereka berniat mengajaknya.



"Kemana?" tanya Edo. Ada rasa khawatir dalam dirinya takut jika apa yang pernah terjadi kepadanya akan kembali terulang lagi.



"Tidak usah banyak tanya, ayo ikut." Ajakannya memang tidak dengan cara yang kasar tapi tetap membuat Edo sangat curiga.



Teringat Edo akan perbuatan dari teman lamanya yang terus saja membully dirinya, membuat dia tidak banyak bicara tetapi langsung mengikutinya.



Dimas dan juga Bagus sangat senang karena Edo begitu menurut. Mereka bertiga menuju ke belakang sekolah dan ternyata mereka berdua mengajak Edo untuk merokok.



"Mau ini?" ucap Dimas dan Bagus mengangguk.



Mendengar ajakan dari mereka berdua Edo langsung menolaknya, dia tidak mau menyentuh barang tersebut karena dia tau itu bukan barang yang baik untuk di konsumsi.



"Maaf, saya tidak bisa." jawabnya.



"Oke, tak masalah." Dimas mengangguk, menerima keputusan Edo dan tak akan memaksanya.



"Hey, menurut kamu siapa cewek paling cantik di sekolah ini?" tanya Bagus.



Edo tak menjawab, dia tak memperhatikan akan hal itu dan juga tidak mau melakukannya.



"Gadis mana saja yang kamu tanggung kehidupannya?" tanya Dimas. Jelas saja mereka berdua akan berpikir akan hal itu karena melihat hampir semua cewek tertarik padanya. Tak ada tersisa.



"Tidak ada," jawab Edo, menjawab dengan singkat karena Edo memang tak mau banyak bicara.



Keduanya tersenyum, mereka pikir Edo adalah pria yang arogan dan sombong tapi ternyata tidak! Ketiganya terus berbincang di sana dengan Edo yang tidak melakukan apa yang mereka berdua lakukan. Hal yang sudah menjadi kegemaran mereka.



••



Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2