
...~~``~~...
Edo hampir menjerit, ingin menangis sekencang-kencangnya saat melihat punggung Ratih yang semakin jauh. Rasanya begitu tak kuasa, dia ingin menumpahkan segala kerinduan dengan memeluknya sangat erat. Tapi sayang, semua itu hanya terhenti sebatas keinginan saja.
"Nenek," gumamnya, sangat lirih dan nyaris tak terdengar oleh telinganya sendiri.
Matanya begitu berlinang, hingga akhirnya beberapa tetes tetap keluar tanpa permisi namun dengan cepat Edo menghapusnya hingga kering kembali.
Seandainya tidak dalam keadaan seperti sekarang ini, mungkin Edo tidak akan merasa sedih seperti sekarang. Tapi jika tidak! Dia juga tidak akan tau seberapa dalam dan besar Ratih menyayanginya.
"Edo janji, Nek. Edo akan menjadi yang terbaik untuk Nenek." gumamnya lagi. Berkali-kali dia menyeka matanya supaya apa yang menggenang di dalamnya tidak akan luruh.
Terus Edo menatap Ratih, begitu fokus hingga Ratih tak terlihat oleh matanya karena sudah berbelok arah. Edo masih tetap berada di sana dalam sejenak setelah Ratih tak terlihat, hanya beberapa menit saja lalu gegas kembali.
Kakinya perlahan mengayun langkah, pelan namun pasti. Namun, baru juga beberapa langkah kakinya kembali berhenti karena ada orang yang menghadangnya.
"Hehehe, mau kemana kamu?" ucapnya. Seorang pemuda yang penuh dengan tato di beberapa bagian tubuhnya. Pria dengan pakaian khas preman. Baju dan celana berbahan jins berwarna hitam, ada beberapa bagian yang terlihat bolong juga ada beberapa rantai yang menggantung.
Wajah Edo mengerut tak suka, pemuda yang sebenarnya gagah itu terdapat bau alkohol, jelas dia juga mabuk. Tatapan matanya juga tajam dengan warna kemerahan yang mengelilingi netranya yang hitam. Tatapan lurus, kosong, sungguh khas seorang yang mabuk.
Semakin dekat dan dekat pada Edo, menatap tanpa berkedip lalu tatapannya mengisyaratkan kekesalan yang kian besar.
"Heh anak muda, kenapa kamu mau menindas nenek tua." ucapnya. Suaranya parau tak jelas. Bergetar dan serak-serak aneh.
"Bukan itu saja, tapi kenapa kamu begitu kejam merampas uangnya. Kamu benar-benar tak melihat-lihat dalam mencari mangsa." ucapnya. Berjalan berseok-seok hingga sampai tepat di hadapan Edo.
Edo mengernyit, masih tak mengerti apa yang pemuda itu bicarakan. Menindas? Merampas? Apakah Edo salah dengar. Bagaimana mungkin dia akan melakukan hal itu pada neneknya sendiri.
Ucapannya memang terdengar samar, tak begitu jelas di telinga Edo mungkin karena pengaruh dari mabuknya itu.
Kata-katanya yang tidak jelas membuat Edo malah berpikir kalau pemuda yang jelas seperti berandalan itu malah akan merebut uangnya. Karena takut itu benar terjadi Edo kabur dari pemuda itu.
Dia harus pergi sejauhnya supaya uang pemberian Ratih tidak bisa dia ambil. Itu uangnya, bukan uang brandal itu.
__ADS_1
Ferry, itulah nama dari berandal itu. Melihat Edo lari tentu saja dia tidak mau tinggal diam, dia langsung berlari, mengejar Edo hingga dapat. Meski dalam keadaan terseok-seok namun akhirnya dia dapat menarik Edo dari arah belakang.
Edo yang merasa terancam dan takut uangnya diambil tentu tidak terima, dia berontak juga berteriak. "Jangan ambil uangku!" teriak Edo.
Namun apa yang Edo lakukan juga mendapat perlawanan dari Ferry, dia tetap berusaha keras menahan Edo supaya tidak kabur lagi.
"Diamlah!" sentaknya. Ternyata masih dalam keadaan mabuk dia bisa berteriak juga dan itu sangat jelas.
"Lepaskan, aku tidak mau berkelahi denganmu!" ucap Edo yang terus membela.
Ferry terlihat semakin marah. Dia tidak terima Edo terus berontak seperti itu. Hingga dengan mudahnya Ferry berhasil mengambil uang Edo pemberian dari Ratih.
Ferry menarik dengan paksa, meski Edo berusaha mempertahankan uangnya tapi tidak bisa membuatnya tetap bertahan di tangannya.
"Ini uangku. Hahaha!" tawa Ferry menggelegar setelah berhasil mendapatkan uang yang ada pada Edo.
Melihat dengan binar bahagia uang yang kini sudah ada digenggaman tangannya. Ferry terus tertawa.
Dugh!
"Hahaha!" Tawanya lagi.
Beralih melihat Edo yang hampir tersungkur ke depan karena tendangannya yang begitu kuat. Mata Ferry kembali melotot, ternyata dia masih belum puas melakukan itu.
Ferry kembali berjalan, mengejar Edo dan ingin menghajarnya dari belakang. Tapi tidak semudah yang dia bayangan, ternyata niatnya disadari oleh Edo.
Edo yang merasa ada pergerakan di belakang punggungnya langsung bergerak cepat. Membalikan badan dengan begitu ringan lalu mendorong Ferry.
Gerakan Edo yang begitu kuat tak bisa membuat Ferry mempertahankan diri, dia bergerak cepat dan terpental jauh hingga berakhir menabrak tempat sampah yang ada di seberang.
Brakk!
Tubuh lemasnya karena mabuk kini berada di pinggir tempat sampah yang juga tak berdiri seperti sebelumnya. Ferry terkapar begitu saja dengan tubuhnya terkena sampah yang keluar dari tempatnya.
__ADS_1
"Akh!" Ferry mendesis kesakitan. Bagaimana tidak! Hanya karena sedikit dorongan saja yang terasa begitu mudah membuat dia seakan terbang dan berakhir di seberang lain dari tempat yang semula. Mana menabrak tempat sampah lagi?
Bukan hanya tentang sakitnya saja, tapi juga malunya karena jelas ada beberapa orang yang melihat akhir dari pendaratan tubuhnya yang tidak sesuai keinginan.
"Ekhm! Ekhm!" Ferry berdehem. Perlahan berdiri meski begitu kesusahan.
Ferry yang baru saja seperti kerasukan setan dan akan marah karena perbuatan Edo kini kembali seperti semula. Kembali bertingkah selayaknya orang mabuk berat yang memang kehilangan kesadaran. Rasa sakit juga rasa malu jiga ikut menghilang.
Edo masih terus berdiri diam. Bagaikan terpaku di tempat Edo sama sekali tidak bergerak dan melihat semua pergerakan Ferry meski itu hanya pergerakan kecil.
Tak mau masalah semakin besar Edo memutuskan pergi begitu saja dari tempat itu. Mengabaikan Ferry yang diam namun berdiri dengan terseok tak tenang.
"Hehe," Melihat Edo pergi begitu saja Ferry malah terkekeh. Dia berpikir kalau dia yang menang juga berpikir kalau Edo takut padanya.
Masih terus menatap dan terkekeh Ferry hanya bisa melambaikan tangan kepada Edo tapi tidak memanggilnya. Dia bingung mau memanggil dengan nama siapa karena dia juga tidak tau.
Tak lama setelah Edo pergi, ada beberapa orang berpenampilan sama persis seperti Ferry berdatangan. Mereka berlari menghampiri Ferry sembari berteriak memanggil.
"Ferry!" Teriaknya. Mereka berbondong-bondong menghampiri Ferry. Ada rasa khawatir tapi juga lega.
"Ferry, kamu tidak apa-apa?" tanya salah satu diantara ketiga orang itu yang kini sudah sampai di hadapan Ferry. Berdiri mengerubungi Ferry yang tetap mabuk dan seolah tak sadar apa yang sudah terjadi.
"Apa sih kalian? Ah! Minggir-minggir!" teriak Ferry dengan nada kesal. Sepertinya dia tak suka jika temannya terus mengerubungi dirinya. Mungkin dia merasa gerah.
Terpaksa mereka semua mundur, namun tetap di sekitaran Ferry.
Penampilan sama, tato juga sama. Tato Api.
Jika ada yang melihat tato itu, siapapun yang sudah tau akan siapa mereka pasti akan lari terbirit-birit. Mereka akan menjauh dari kelompok itu.
Sebuah tanda dari geng mafia di daerah sana yang sesungguhnya. Geng Api.
~```~~~
__ADS_1
Bersambung.....