
~~``~~
Dengan begitu tergesa-gesa Edo dan juga Andri gegas masuk di gedung terbengkalai itu di mana tempat Mario menyekap kedua gadis, teman-teman mereka. Keduanya begitu sangat khawatir dan sekaligus takut kalau mereka datang terlambat.
Nafas keduanya begitu terengah karena terus berlari dari base kamp. Mereka harus datang tepat waktu meski kalau tidak tentu saja kedua teman mereka menjadi korban dari Mario.
Bukan hanya suka mel*cehkan mangsanya, tetapi Mario juga akan menghabisinya karena tidak mau sampai terjadi masalah. Dan apa yang dia lakukan selalu saja membuat dia begitu puas dan begitu senang. Sepertinya dia memang memiliki kelainan yang hanya bahagia ketika melakukan keduanya setelah dia puas.
"Dri, kita harus bisa secepatnya sampai dan menyelamatkan mereka berdua. Aku sangat khawatir Mario akan melakukan hal buruk kepada mereka."
Edo berbicara dengan terus berlari di depan Andri langkah kakinya mengayun terasa begitu ringan, meski sesekali dia menemukan barang yang akan menjadi penghalang langkahnya tapi pada akhirnya dia tetap bisa berhasil melaluinya
"Benar, kita harus segera bergegas!" Andri pun tak kalah kencang dalam berlari. Meskipun dia berada di belakang Edo tapi dia mampu mengajar langkahnya.
Sampailah keduanya di ruangan yang menjadi tempat di mana Mario akan melakukan kejahatanmu kepada Dina dan juga Ririn. Laju kaki dari itu terhenti saat dia melihat Mario yang hendak melakukan kejahatan kepada kedua temannya.
Terlihat sekali bahwa keduanya begitu pasrah dalam keadaan ketakutan, bagian-bagian tubuh yang seharusnya tertutup hal ini benar sudah dibuka oleh Mario dan hanya menyisakan beberapa bagian saja tepat di bagian inti.
"Hahaha, mari kita bersenang-senang, Sayang. Aku yakin kalian juga akan menikmati setelah ini." ucap Mario.
Perlahan dia mendekat, menyentuh tubuh mulus dan kenyal dari keduanya. Bahkan kedua tangannya bergerak secara bersamaan. Bersamaan itu tatapan matanya yang begitu mesum, begitu menikmati pemandangan manis nan menggiurkan untuk segera di nikmati.
"Lepaskan, jangan sentuh saya!" teriak Dina begitu histeris. Dia begitu takut saat merasakan tangan Mario mulai menjamah tubuhnya.
"Hahaha! Terus sayang. Semakin kamu berontak itu malah membuatku semakin tertantang. Aku jadi semangat untuk segera melakukannya. Hahaha!" tawanya menggelegar bersamaan dengan tangan yang terus bergerak liar.
"Aa! Aa!" Ririn pun tak kalah takut. Dia juga terus berteriak karena tangan Mario yang mulai menjamah bagian-bagian tubuhnya.
"Hem, siapa dulu ya?" Mario menoleh kepada keduanya bergantian. Semakin melihat wajah takut mereka membuat dirinya semakin ingin secepatnya melakukannya.
"Oke, aku akan melakukannya padamu dulu," Mario menoleh ke arah Dina. Lidahnya menjulur keluar dan menyapu bersih bibirnya hingga basah. Dia sudah tidak tahan sepertinya.
__ADS_1
"Jangan jangan!" teriak Dina histeris saat Mario akan membuka satu penghalang lagi di bagian intinya.
"Berhenti!" Teriak Edo dengan begitu lantang saat Mario hendak melakukan tujuannya.
"Sshh!" desis Mario. Dia begitu kesal, marah karena kegiatan utamanya di ganggu dengan kedatangan seseorang yang belum dia ketahui.
Mario menoleh cepat, beranjak dari tempatnya dengan tatapan yang langsung tajam ke arah Edo dan juga Andri.
Melihat Edo dan Andri membuat Mario semakin marah. Tatapan matanya begitu tajam dengan kedua tangan yang sudah mengepal, Mario mulai mengayunkan langkah dengan langkah yang begitu berat untuk menghampiri keduanya yang juga sama sudah melangkah.
Edo menoleh dan mendapati Ronald yang sudah tak sadarkan diri di lantai dengan terluka. Edo sebenarnya sangat terkejut dan juga langsung khawatir dengan keadaan temannya itu, tapi dia tidak bisa langsung menolongnya karena sekarang yang menjadi prioritasnya adalah mengalahkan Mario dan membebaskan kedua temannya.
"Kurang ajar! Beraninya kalian datang dan mengganggu kesenanganku. Kalian berdua harus bernasib sama seperti dia!" ucap Mario kakinya melangkah dengan begitu cepat namun tangannya menunjuk ke arah Ronald.
Tangan satunya tidak kosong, tapi ada senjata yang tadi dia gunakan untuk membuat Ronald seperti sekarang. Dia ingin membuat Andri dan juga Edo sama seperti Ronald sekarang.
Pertarungan tak terelakkan dari mereka, satu lawan dua. Tak mudah untuk mengalahkan Mario meski Edo bersama dengan Andri. Meski keduanya sama-sama kuat dan memiliki keahlian, apalagi Edo yang memang lebih unggul dari Andri tapi tetap saja masih tak mudah.
Berkali-kali Edo dan juga Andri terjatuh karena terkena pukulan Mario bahkan keduanya juga sudah begitu banyak luka tapi mereka masih tetap bertahan dan berusaha untuk mengalahkan Mario.
Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama dan juga sudah penuh luka akhirnya Mario ambruk.
Brukk!!
Mario tumbang dan senjata tajam yang tadi di tangannya terpental jauh entah sampai mana. Cepat Edo dan Andri meringkus Mario sebelah dia kembali bangun lagi.
"Lepas! Awas kalian berdua aku akan membalasnya. Lepas!" Mario berontak tapi pergerakannya tetap tak bisa melepaskan diri dari Edo dan Andri.
"Diam!" sentak Edo, dia begitu geregetan pada Mario. Kejahatannya begitu besar dan tak bisa di tolerir lagi.
Baru juga keduanya berhasil meringkus Mario para polisi datang. Cepat mereka mengambil alih Mario dan menahannya lagi. Sementara beberapa polisi wanita langsung berlari ke arah Dina dan Ririn yang masih sangat ketakutan.
__ADS_1
Meski takut, tapi ada rasa lega di hati keduanya. Setidaknya mereka tidak benar-benar menjadi korban Mario, semuanya belum terlambat. Sekarang hanya menyesal dan jelas hanya bisa menjadikan kejadian ini sebagai pembelajaran.
"Ronald!" teriak Edo. Seketika dia berlari menghampiri Ronald yang tetap tak sadarkan diri. Bergegas menolongnya dan juga harus segera membawanya ke rumah sakit.
"Kita basa ke rumah sakit," ucap Andri dan Edo mengangguk cepat.
~~~~``
Keesokan harinya
Semua murid masih begitu terkejut mendengar berita yang begitu menakutkan itu. Dan dengan terpaksa mereka semua harus dipulangkan.
Kecewa, sebenarnya mereka masih belum puas dalam perjalanan mereka tapi mereka juga tak boleh egois. Mereka semua menurut karena Andri selaku yang bertanggung jawab atas semuanya juga menyuruhnya pulang.
Edo dan juga Andri yang tentunya mengerti keadaan Ronald sekarang mereka tetap tinggal. Mereka menemani Ronald di rumah sakit karena tak mungkin mereka akan meninggalkannya.
Sebenarnya keadaan Ronald tidak begitu kritis, tapi dia masih harus mendapatkan perawatan dari dokter, dia pun juga tidak bisa di ajak pulang sebelum keadaannya benar-benar membaik.
~~~~``
Setelah keadaan Ronald sudah membaik ketiganya pulang. Begitu bersyukur mereka karena bisa kembali dengan selamat, Ronald merasa tak percaya kalau dia akan mendapatkan hal yang begitu menyakitkan.
Karena keberanian dari ketiganya, mereka mendapatkan penghargaan dari kepolisian. Mereka tentu juga begitu senang karena secara tidak langsung mereka membantu menangkap Mario lagi.
Hari libur juga masih terus berlangsung dan Edo berniat untuk pergi ke tempat neneknya, dia begitu merindukannya.
"Aku akan menjenguk nenek," ujarnya dan bergegas untuk segera pergi dengan memakai tubuhnya yang gemuk.
~~``~~
Bersambung....
__ADS_1