Sampah Sepertiku Mempunyai Body Goals Yang Baru

Sampah Sepertiku Mempunyai Body Goals Yang Baru
19. Adik?


__ADS_3



Semua tengah kebingungan, bagaimana mengurus Edo yang tertidur di rumah makan yang menjadi tempat mereka makan-makan saat ini. Tak terkecuali Dimas dan juga Andri yang terus saja saling meminta untuk berpikir.



"Sekarang kamu mikir dong, apa yang harus kita lakukan untuk dia," ucap Dimas sedikit ngotot. Tatapan matanya begitu kesal kepada Andri yang hanya diam saja.



"Hey, mikir dong!" ucapnya lagi. Masih terus meminta Andri untuk bicara. Semakin kesal Dimas dia duduk tidak tenang sekarang.



"Heh! Kalian semua juga ikutan berpikir. Masak iya hanya gue sendiri yang berpikir di sini," Dimas semakin dongkol. Bukan hanya Andri tapi semua teman-temannya juga sama.



"Apa yang harus di pikirkan, Dim. Kami juga sangat bingung!" seru Bagus.



Keenam remaja itu begitu bingung padahal hanya mengurus satu orang saja, apalagi dalam keadaan tak sadarkan diri.



"Hem, buat apa aku ikutan berpikir aku tidak ikutan dengan rencana kalian," jawab Andri. Memang itu kan yang terjadi, bahkan dia juga tidak tau kalau Edo ternyata juga datang di acara itu.



"Ihh!" Dimas begitu geregetan dengan Andri. Memang dia tidak ikut serta tapi apa iya hanya di mintain saran tidak bisa?



"Gue tau loh nggak ikutan, tapi loh juga ikut di sini kan? Semua orang juga taunya loh ikut meski loh mengatakan tidak," kesal Dimas.



"Hem, kalau ikut saran gue ya antar saja dia ke rumahnya," ucap Andri dengan begitu acuh, bahkan dia juga tidak melihat ke arah Edo sana sekali.



"Heh! Itu juga gue tau, tapi masalahnya kita tidak tau dia tinggal di mana!" Rasanya ingin marah kalau bicara dengan Andri, dia yang paling sok bijak, sok banyak ide padahal apa yang menjadi idenya itu mereka semua juga tau.



Keadaan Edi yang benar-benar sudah mabuk berat membuat mereka semakin bingung, meski mereka berusaha membangunkan juga untuk bertanya yang jelas tak akan mendapatkan jawaban.



Bukan itu saja, tapi malam yang semakin larut juga restoran yang sudah mau tutup membuat mereka semakin kalang kabut. Penuh kebingungan seakan buntu akan jalan keluar.



"Hem, dasar. Kalian ya, kalau buat rencana makanya harus matang!" omel Andri.



"Gue tau tempat dia tinggal sekarang, kita antar dia ke rumahnya," ucap Andri dengan begitu enteng.



"Hah!!" Semua maya membulat kesal. Kalau dia tau bukankah seharusnya langsung di kasih tau tanpa harus berdebat lebih dulu?


__ADS_1


"Ihh!" Bukan hanya Dimas saja yang semakin geregetan dengan tingkah Andri tapi Bagus juga Kipli dan yang lainnya.



"Ayo, mau di antar tidak," Andri yang sudah mulai berjalan kembali menoleh karena mereka masih duduk dengan mengawasinya dengan begitu geram.



"Kalau tidak gue mau pulang," imbuhnya lagi.



"Iya iya!" Dimas berseru kesal.



"Cepat, angkat dia," titahnya. Dan membuat Kipli dan juga Didik langsung beranjak dan memapah Edo dengan sedikit keberatan. Memang, secara tubuh pun mereka juga kalah bagaimana mungkin bisa mengalahkan Edo.



Baru juga mereka hendak keluar dan baru sampai belakang pintu ternyata pintu sudah bergerak terbuka dari luar. Pria gemuk berkulit gelap mendadak muncul dari balik pintu dan mengejutkan semua.



"Bu\_ bukankah dia si gendut yang saat itu? Yang gue ambil foto tel\*njangnya?" gumam Dimas seakan tak percaya. Begadang bisa pria gendut itu datang di tempat itu.



Mereka hanya terkejut saja kenapa dia bisa sampai di tempat itu, tidak berpikir apa yang akan dia lakukan dan alasannya dia bisa sampai di sana.



"Hem," Dimas menyeringai saat melihat Edo. Bukannya dia melanjutkan untuk niatnya mengantarkan Edo tapi malah berniat untuk kembali merundung Edo yang gendut lagi.




Bagus dan juga Dodo ikut serta di belakang Dimas, sepertinya dia juga akan ikutan untuk kembali membuat masalah dengan Edo gendut tersebut. Sementara Andri hanya diam, meski dia tidak mengenalnya tapi dia pernah melihat dari foto yang Dimas pamerkan saat berada di sekolah.



Melihat ekspresi dari semuanya seketika membuat kaki Edo mulai gemetar, dia mulai takut.



"Bagaimana ini?" Edo terus menoleh takut. Tubuhnya yang gendut ini sana sekali tidak punya keahlian apapun untuk bisa mengalahkan mereka, bagaimana kalau mereka kembali merundungnya lagi?



Edo menunduk, dalam kepalanya langsung muncul semua adegan perundungan yang di lakukan oleh Dimas dan juga teman-temannya.



Melihat Dimas Edo semakin takut, dia sudah bersiap untuk melarikan diri, kabur dari mereka supaya tertunda dari perundungan yang akan di lakukan oleh mereka semua.



Ingin sekali kaki Edo bergerak untuk berlari namun itu si hentikan saat melihat dirinya yang sempurna jatuh terjeranbab di lantai karena di lepaskan.



"Hey, jangan pergi kamu!" seolah tau Edo yang ingin pergi Dimas langsung menghentikan dengan memanggilnya.



Semakin Edo ketakutan. Apa yang harus di lakukan oleh dirinya sekarang? Apakah dia harus kabur tanpa tubuh sempurnanya atau mungkin mengatakan sesuatu tak peduli apa yang akan mereka pikirkan asal dia tetap pergi membawanya.

__ADS_1



"Hem, hemm..." Edo begitu bingung apa yang akan diA katakan dan lakukan?



Semakin Dimas mendekat semakin Edo ketakutan, tubuhnya seolah mengkerut dengan wajah yang menunduk tak berani memandangi para anak-anak nakal yang pernah merundungnya, apakah mungkin kali ini akan di dapatkan lagi?



Tertangkap tangan Edo oleh Dimas, di cengkeram dengan erat dan akan di tariknya ke arah samping untuk kembali melakukan hal yang sana seperti yang sudah pernah dia lakukan.



Edo menunduk, mengerut takut dengan berusaha untuk menarik tangannya namun Dimas juga semakin kuat menariknya, jelas Edo kalah jika menggunakan tubuhnya yang gemuk.



"Sini!" Sentaknya bersamaan dengan menarik kuat Edo yang benar-benar ketakutan kepadanya.



Saat Dimas hendak mulai memukulnya Edo seketika berteriak dengan sangat keras.



"Aku datang untuk mencari adikku!!" Teriak Edo memberanikan diri. Entah darimana kata-kata itu datang dan langsung celetuk begitu saja di waktu yang tepat.



"Adik? Siapa adikmu?" Dimas terbengong mendengar alasan dari Edo yang begitu cepat saat tangannya yang mengepal sudah terangkat dan siap melayang ke arah wajah Edo.



Dengan tubuh gemetar Edo menunjuk dengan jarinya ke arah tubuhnya yang sempurna. Hanya dengan alasan itu yang di rasa tepat untuk dirinya sekarang.



Tentu Dimas tidak akan percaya begitu saja dengan perkataan Edo barusan. Mana mungkin?



"Benarkah dia adikmu?" Tanya Dimas dengan wajah curiganya. Menoleh ke arah Edo yang gemuk juga yang sempurna dengan bergantian, sungguh mustahil.



Terus Dimas menoleh dengan bergantian, meyakinkan diri meski dia tetap curiga dengan yang Edo katakan.



Mereka semua saling pandang setelah mendengar perkataan dari Edo. Bukan hanya Dimas saja tapi mereka semua yang ada di sana tak bisa percaya begitu saja. Bagaimana mungkin?



"Masak sih?" ucap Bagus tak percaya. Yang lainnya pun juga mengangguk mengiyakan, mereka juga sama tidak percaya.



"Adikku namanya Edo, sekolah di SMP Tunas Bangsa kelas tiga. Nomor teleponnya 085\*\*\*," ucap Edo. Semoga dengan identitas yang di katakan Dimas dan teman-temannya akan percaya.



~~~~••~~~~



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2