Sampah Sepertiku Mempunyai Body Goals Yang Baru

Sampah Sepertiku Mempunyai Body Goals Yang Baru
25. Ajakan Ronald


__ADS_3

~~``~~


"Kamu?" Edo nampak terkejut melihat siapa yang datang menghampirinya disaat dia sedang piket seorang diri. Edo juga langsung menghentikan pekerjaan dan menunggu anak itu sampai di hadapannya.


Yang datang adalah Ronald, anak kelas B. Edo sangat mengenalinya, apalagi dia sempat melihat Ronald yang mendapat bullyan dari teman-teman sekelasnya hanya karena keadaan yang sama seperti Edo disaat dengan tubuhnya yang gendut. Edo membantunya saat itu.


Saat itu___,


Waktu istirahat makan siang. Edo hendak pergi ke kantin untuk membeli makan siang untuk dirinya. Dia terlihat begitu tergesa-gesa karena maklumlah dia juga sudah sangat lapar.


"Jangan, lepaskan!" teriak seseorang.


Edo seketika mundur lagi saat setelah melewati beberapa langkah dari kelas B yang semulanya terlihat sepi. Edo melihat dengan begitu teliti, ada Ronald yang sudah berjongkok di tengah-tengah beberapa anak yang berdiri mengerubunginya. Bukan itu saja, tapi mereka juga tertawa terbahak-bahak.


"Hahaha, dasar gemuk dekil!" Seru salah satunya.


"Hahaha!" Yang lainnya ikut tertawa. Suaranya begitu menggelegar memenuhi kelas B itu. Ronald hanya terus menunduk melindungi wajahnya dengan kedua tangan supaya tidak mendapatkan pukulan ataupun coretan dari semuanya, tapi mereka tak menyerah begitu saja. Mereka tetap memaksa untuk membuka tangan Ronald yang tertutup.


"Jangan, lepaskan! Jangan ganggu saya!" Ronald terus berteriak. Dia terus meminta untuk dilepaskan tapi mereka tetap tidak peduli. Semakin Ronald ketakutan mereka semua semakin senang dan tawa mereka semakin menggelegar.


"Berhenti!" Teriak Edo. Melihat Ronald diperlakukan seperti itu jelas saja Edo tidak akan tinggal diam. Dia pernah ada di posisi itu dan itu sama persis. Mendapat perlakuan seperti itu jelas tidak enak, itu sangat menyedihkan.


Semua menoleh cepat. Melihat Edo yang sudah mulai berjalan ke arah mereka, tatapan Edo terlihat begitu tak suka, begitu juga dengan tatapan mereka semua.


Murid-murid pembully itu seketika menghadap ke arah Edo, menghadang kedatangan yang ingin mendekati Ronald.


"Apa Lo!" Baru juga Edo akan melewati mereka untuk membantu Ronald berdiri tapi Edo sudah langsung di dorong hingga membuatnya mundur beberapa langkah.


"Siapa Lo! Berani sekali Lo mengganggu kebahagiaan kami. Pergi dan jangan ganggu kami. Pergi!" suara dari ketua mereka begitu tegas.


Edo terdiam sejenak, melihat mereka semua yang begitu mengerikan dengan wajah garang mereka.

__ADS_1


"Hahaha, sok mau jadi pahlawan. Pergi sana, pergi!" Teriak yang lainnya.


"Hahaha!" Sementara yang lain menyambung dengan tawa yang menggelegar.


Semua peringatan tidak lantas membuat Edo takut begitu saja. Edo tetap maju untuk membantu Ronald.


Edo berjalan begitu saja tanpa rasa takut, dia menepuk pundak Ronald yang menunduk dan membuatnya mengangkat wajah.


"Bangun, dan ikutlah denganku." Ajak Edo. Dia dengan mudahnya menarik tangan Ronald hingga dapat berdiri.


Tanpa melihat para pembully Edo terus berjalan untuk keluar dari kelas itu. Tak peduli dengan tatapan penuh kebencian dari mereka semuanya.


Karena kejadian saat itulah Edo bisa mengenal Ronald. Memang belum begitu akrab, tapi sudah saling mengenal.


Awalnya Ronald tidak berniat untuk masuk apalagi mendatangi Edo yang sedang piket, tapi setelah mendengar suara Edo yang begitu indah. Ronald tidak tau kalau ternyata Edo juga pandai akan musik.


Awalnya juga dia tidak tau kalau yang memiliki suara indah adalah Edo. Dia pikir orang lain, karena dia sangat penasaran makanya dia datang. Dan setelah melihat Ronald sedikit terkejut


"Sa-saya tidak sengaja mendengar kamu bernyanyi. Suara mu sangat sempurna. Sangat indah." puji Ronald. Dia sangat mengakui kalau suara Edo memang lebih baik dari sempurna daripada suaranya sendiri.


"Sungguh, suaranya sangat sempurna." ucap Ronald lagi. Tidak bisa di pungkiri, dia begitu suka dengan suara Edo meski baru pertama kali mendengar.


"Suara kamu pasti lebih bagus dari suaraku."


"Tidak, suara kamu yang lebih bagus." Edo tetap rendah dari. Dia tidak membanggakan apa yang dia miliki.


"Bagaimana kalau kita ikut di acara perayaan ulang tahun sekolah?"


"Hah!" Edo begitu terkejut. Benarkah apa yang Ronald katakan?


"Maksud saya, kita, hem...? kamu dan aku mendaftar untuk perform di acara perayaan ulang tahun besok." terang Ronald.

__ADS_1


Edo masih berada di perasaan terkejutnya, dia terus diam dia bingung. Benarkah dia akan ikut di acara seperti itu, bagaimana kalau pada akhirnya semua tidak akan sesuai dengan yang diinginkan.


"Bagaimana, suara kamu bagus loh. Aku yakin dengan itu kita akan bisa di kenal. Dan aku yakin, suara kamu pasti akan bisa menghipnotis semua orang." Ronald begitu percaya dengan keahlian Edo. Dia sangat yakin kalau semua akan terpaku di acara itu.


"Ta-tapi? Aku belum pernah mengikuti acara seperti itu. Bagaimana kalau?" tentu saja Edo sangat khawatir. Dia masih kurang percaya diri. Dia masih terlalu takut untuk maju.


Edo terdiam, dia terus melihat Ronald. Tubuh gemuknya hampir sama dengan tubuhnya yang gemuk. Melihat Ronald, Edo seperti melihat bayangannya sendiri, dia seakan melihat dirinya.


Edo seakan menemukan bayangan dirinya yang memiliki tubuh yang gemuk, bahkan semua yang ada pada dirinya itu lebih parah daripada apa yang ada pada Ronald. Ronald tidak begitu gemuk seperti dia yang kini pasti lah tengah berbaring tak sadar karena tidur.


"Apa kamu yakin?" tanya Edo. Menatap Ronald yang langsung mengangguk mantap.


"Kenapa tidak. Bahkan aku belum pernah merasa seyakin ini sebelumnya. Ayo ikut lah. Kita bisa daftar untuk acara besok," ucap Ronald.


Semakin Edo melihat Ronald dia semakin melihat bayangannya sendiri. Tapi tidak untuk sekarang, dia ada di tubuh yang sempurna. Dia seperti merasa hidup di dua tubuhnya langsung.


"Ba-baiklah." jawab Edo yang akhirnya setuju dengan ajakan Ronald.


Ronald tersenyum, dia begitu senang karena akhirnya Edo setuju dengan ajakannya. Bayangan mereka berdua yang tampil di depan para murid-murid lain dan membuat mereka terpana langsung melintas di benak Ronald.


"Kenapa kamu tersenyum seperti itu?" Tanya Edo yang sangat penasaran dengan yang dilakukan oleh Ronald.


"Tidak, aku hanya terlalu senang saja karena kamu mau menerima ajakanku. Terima kasih ya." jawab Ronald mantap. Hatinya masih terus berbunga-bunga. Ingin rasanya dia memeluk Edo, tapi diab takut kalau nanti Edo akan jijik padanya sama seperti yang lain.


"Oh, aku pikir ada apa." Edo mengangguk.


"Hem, bagaimana kalau nanti setelah pulang sekolah kamu datang ke rumahku, kita bisa lakukan persiapan untuk acara esok." pinta Ronald.


"Hemm, bagaimana ya?" Edo terlihat masih ragu.


"Kita bisa merencanakan semua dan berlatih supaya bisa menampilkan yang terbaik." Ronald tetap berharap Edo akan setuju dan mereka benar-benar bisa belajar bersama.

__ADS_1


~~``~~


Bersambung...


__ADS_2