
~~``~~
Di dalam gedung terlantar di samping lautan bunga. Dua siswi teman Edo ada di dalam sana, keduanya terlihat begitu tak berdaya dan menatap Mario dengan sangat ketakutan. Mereka adalah Dina dan juga Ririn.
Keringat sudah terus bercucuran membasahi wajah mereka itu karena rasa takut yang teramat besar. Tangan dan juga kaki keduanya di ikat dengan begitu kuat, ponsel di rampas dan sekarang entah ada di mana.
Dengan tatapan mesum Mario mulai mendekati keduanya, ternyata benar, dia bukan pria baik-baik. Mereka hanya menjadi tour guide hanya untuk mencari mangsa. Apalagi mangsanya masih sangat secar karena masih sangat muda.
"Kenapa cantik, bukannya tadi kalian bilang mau bersamaku? Lalu kenapa sekarang kalian begitu takut? Ck ck ck, janganlah takut sayang. Aku tidak akan menyakiti kalian, kita hanya akan bersenang-senang saja," ujar Mario dengan tatapan laparnya.
Melihat keduanya yang ketakutan dengan wajah memerah juga penuh dengan keringat membuat Mario malah semakin bersemangat untuk melakukan apa yang sudah terbiasa dia lakukan pada par mangsa sebelumnya. Dia begitu tak sabar untuk menikmati hidangan malam yang sangat menggiurkan.
"Ja-jangan, Kak. Lepaskan kami," Dina menggeleng takut, wajahnya berusaha menyingkir saat Mario mulai menyentuhnya. Matanya juga terpejam karena tak mau melihat wajah Mario yang sebenarnya sangat tampan. Tapi ternyata, tampannya hanyalah sebuah topeng untuk menutupi kelakuannya juga untuk mempermudah mendapatkan mangsa segar.
"Lepaskan, hahaha! Bagaimana bisa aku lepaskan, kita belum melakukan apapun, Sayang. Kita nikmati dulu acara kita dan setelah itu hari aku lepaskan." Mario menyungging sinis. Melepaskan? Padahal itu tidak akan mungkin karena setelah mendapat apa yang dia mau biasanya dia akan melenyapkan mangsanya. Dia tidak mau ada masalah besar selanjutnya.
Dina menggeleng dan semakin ketakutan. Dia bahkan sudah menangis dengan tubuh yang bergetar.
Bukan hanya Dina saja, tapi juga Ririn. Ririn juga sudah menangis dan juga ketakutan. Saat tangan Mario berpindah pada pipi Ririn dia juga memejamkan mata dan berusaha menghindar, tapi sayang, dia tidak bisa melakukannya karena tangan Mario meraih dagunya dan memeganginya dengan kuat.
"Tidak usah takut, Sayang. Kita bertiga akan bersenang-senang malam ini. Hahaha!" tawa Mario begitu menggelegar. Dia merasa begitu puas dengan mangsanya yang masih begitu muda dan juga segar. Apalagi mereka juga sangat cantik.
"Tolong! Tolong!" teriak Dina.
"Berteriaklah sesuka hati kalian. Aku tidak keberatan karena juga tidak akan ada yang datang membantu kalian." ujar Mario yakin. Di samping waktu sudah malam juga tempat itu sangat jauh dari penginapan dan juga jauh dari kawasan pemukiman.
"Hahaha!" Mario kembali tertawa.
"Tolong, tolong!" Ririn dan juga Dina terus saja berteriak, berharap akan ada yang mau menolongnya.
Di saat yang sama, di saat Mario begitu senang dengan mangsanya, Ronald masuk dari luar. Sebelumnya Ronald memang merasa sangat ganjil makanya dia mengikuti Mario dan juga para teman-temannya.
Rasa khawatir dan perasaan tak enaknya ternyata sangat benar, ada kejadian buruk yang menimpa teman-temannya. Ronald merasa untung karena dia datang.
Melihat Ronald yang datang kedua gadis itu menatap dengan begitu berharap, seolah minta bantuan padanya dengan tatapan mata yang begitu memelas.
__ADS_1
"Tolong, tolong bebaskan kami," ucap Dina dan itu berhasil membuat Mario menoleh ke arah Ronald.
Sejenak Mario nampak begitu terkejut karena melihat ada Ronald di sana. Dia pikir akan aman dan juga tak ada yang tau apa yang dia lakukan sekarang, tapi ternyata?
"Kamu! kenapa kamu kesini?" Mata Mario begitu menyala-nyala, dia begitu marah karena melihat Ronald yang sudah berhasil masuk tanpa sepengetahuannya dan tentu juga tidak seizin darinya.
"Lepaskan mereka," ujar Ronald yang berusaha berani. Meski ada rasa takut di hatinya tapi tidak boleh terlihat begitu saja di mata Mario.
"Lepaskan? Hahaha! Jangan harap aku bisa melepaskan mereka." Mario malah terbahak-bahak. Rasanya lucu saja, dia sudah berusaha keras untuk mendapatkan mangsanya bagaimana mungkin mau melepaskan begitu saja.
"Hem, bagaimana kalau kamu ikut bersenang-senang saja denganku. Aku akan membagi salah satu diantara mereka untuk kamu, bagaimana?" ucap Mario menawarkan.
Dina dan juga Ririn kembali menggeleng takut, bagaimana kalau sampai Ronald menerima tawaran dari Mario. Mereka mengingat apa yang sudah mereka lakukan, mereka menghina Ronald dengan begitu jahat, bagaimana kalau Ronald akan balas dendam dengan itu dan menjadi tawaran Mario sebagai kesempatan.
"Jangan, terima itu. Kami minta maaf. Tolong kami," seru Dina yang begitu takut. Sementara Ririn hanya mengangguk lemah.
Kedua pria beda usia, beda postur tubuh, beda tampang itu menoleh secara bersamaan. Melihat keduanya yang masih tetap dalam ketakutan, bahkan semakin bertambah takutnya.
"Jangan jangan lakukan itu. Saya mohon ampuni kami," ucap Ririn. Memandangnya Ronald dengan penuh harap.
"Saya tidak tertarik dengan tawaranmu, lebih baik kamu lepaskan saja mereka." kekeuh Ronald.
"Dasar munafik, sebenarnya kamu ingin, tapi kaku hanya sok jual mahal saja, iya kan!" Mario begitu marah. Matanya melotot semakin tajam.
"Tidak, saya sama sekali tidak tertarik. Jadi lepaskan saja mereka."
"Jangan harap aku akan melepaskan mereka. Rasakan ini!" seru Mario. Dia langsung menyerang Ronald. "Kamu harus m*ti sekarang juga karena telah mengganggu kesenanganku."
Dengan begitu begitu kuat Mario hendak melukai Ronald. Dia tidak dengan tangan kosong, melainkan ada senjata tajam bersamanya.
"Aa!" teriak Dina. Melihat hal itu tentu Dina dan juga Ririn sangat takut, tapi mereka juga berharap bahwa Ronald akan bisa mengalahkan Mario. Dengan itu jelas mereka akan selamat kalau tidak?
Tapi sayang. Ronald bukanlah lawan Mario, dengan begitu cepat Mario dapat mengalahkan Ronald, bahkan dia juga berhasil melukainya.
Bruk!
__ADS_1
"Aa!!" teriak kedua gadis itu bersamaan. Takut semakin menjadi, tangisan juga kembali lagi. Dengan kalahnya Ronald tentu mereka pun juga akan bernasib buruk setelah ini.
"Hem, sok-sokan mau jadi pahlawan. Dasar lemah! Cuih!" seru Mario, bahkan dia juga meludah ke arah tubuh Ronald yang sudah tak berdaya.
Mario yang begitu senang dapat mengalahkan Ronald dengan mudah kini kembali menghadap ke arah kedua gadis tawanannya itu. Tatapannya begitu mesum, begitu lapar namun terlihat begitu menjijikkan bagi keduanya.
"Dina, ini bagaimana?" ujar Ririn. Dia mulai panik karena Mario mulai mendekat.
"Kita harus bisa lepas, Rin." Jawab Dina. Keduanya berusaha melepaskan diri dari ikatan tapi sayang, ikatannya terlalu kuat hingga membuat mereka tak berhasil.
Cek!
Baru juga beberapa langkah kaki Mario di hentikan dengan di pegang, dia menoleh dan ternyata Ronald yang berusaha menghentikan meski dalam keadaan lemah.
"Jangan, saya mohon lepaskan mereka." ujar Ronald sembari menggeleng dan memohon.
Mario tidak menjawab, tapi matanya menyala dengan sangat marah.
Dugh! Bruk!
"Aa!!" Dina dan Ririn kembali berteriak melihat Ronald yang tak lagi sadarkan diri setelah di tendang dengan begitu sadis oleh Mario tepat di bagian kepalanya.
Tatapan Mario semakin sinis melihat Ronald yang sudah tak sadar, membalik dengan kilat dan juga berjalan dengan cepat ke arah kedua gadis itu yang sudah semakin ketakutan.
Dengan begitu kasar Mario menarik kedua baju dari keduanya hingga berhasil robek. Terlihatlah apa yang mereka sembunyikan di balik baju mereka.
"Aa!" Teriak keduanya.
Ruangan yang sepi dan malam yang begitu sunyi, hanya di penuhi dengan raungan dari Ririn dan juga Dina yang begitu tak berdaya. Mereka hanya bisa pasrah dan juga menyesal karena sudah begitu tergila-gila pada Mario yang ternyata begitu menakutkan seperti monster.
"Hahaha!" Tawa Mario menggelegar. Dia begitu puas melihat semua yang ada di hadapannya. "Menakjubkan."
~~``~~
Bersambung..
__ADS_1