Sampah Sepertiku Mempunyai Body Goals Yang Baru

Sampah Sepertiku Mempunyai Body Goals Yang Baru
53. Menemani Ratih


__ADS_3

~~``~~


Setelah berteman dengan Edo bertubuh sempurna dan pernah datang ke rumah yang dia tinggali bersama dengan tubuhnya yang gemuk Andri juga akrab dengan Edo yang gemuk. Selalu bersikap baik padanya dan tak pagi mengejeknya meski awalnya ada rasa jijik. Tapi tidak dengan sekarang.


Keinginan Edo yang ingin mengantarkan Ratih untuk kembali ke toko untuk menukar pakaian yang tidak sesuai dengannya tanpa sengaja di ketahui oleh Andri, jelas saja dia tak diam dan malah ingin membantu.


“Aku akan bantu kamu dan nenek kamu untuk menukar pakaiannya. Aku punya banyak koneksi yang bisa aku mintain tolong." Ujar Andri kala itu.


“Tidak usah, Dri. Saya tidak mau merepotkan kamu. Dengan kamu memperlakukan aku dan nenek dengan baik saja saya sudah berterima kasih," jawab Edo. Dia sangat sungkan untuk menerima bantuan dari Andri, yang jelas dia tak mau sampai hutang budi pada siapapun tak terkecuali Andri.


“Tidak usah sungkan, aku melakukan ini karena kita adalah teman,” Andri tersenyum manis seraya menepuk pundak Edo dengan akrab.


Edo yang baik tentu membuat Andri senang berteman dengannya, tak pagi mempermasalahkan keadaannya yang memiliki berat badan berlebih.


“Baiklah, aku menerima bantuanmu. Tapi ini beneran tidak apa-apa kan? Tidak merepotkan kan?” lagi Edo menegaskan. Jangan-jangan Andri hanya terpaksa melakukan itu karena takut dengan Edo yang sempurna.


“Tidak apa-apa, sungguh," Andri juga lebih menegaskan lagi. Dia kembali tersenyum dan membuat Edo yakin kalau memang dia tak keberatan melakukan hal itu untuknya dan neneknya.


~~~~``


Langkah Ratih begitu pelan ketika masuk ke salah satu toko pakaian yang begitu besar. Toko dimana Edo membeli pakaian untuknya kemarin. Ratih ragu, dia juga takut. Toko sebesar itu dan juga semewah itu pasti baju-bajunya sangat mahal, bagaimana kalau uang Edo tidak cukup?


“Edo, lebih baik kita kembali saja. Nenek tidak masalah dengan baju ini," Ratih menoleh sejenak seraya menunjukkan baju yang dia bawa pada Edo. Dia sangat khawatir.


“Kenapa, apa nenek takut? Tenang saja, Nek. Nenek tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Ayo,” ajak Edo. Kembali dia menuntun Ratih untuk kembali melangkah.


“Tapi, Do?" Sungguh berat kaki Ratih untuk melangkah, semua ketakutan begitu besar di hatinya, ditambah dengan tatapan mata dari para karyawan yang ada di sana.


“Tidak apa-apa, ayo Nek,” begitu tenang Edo mengajak Ratih, menuntun dengan begitu sabar hingga akhirnya Ratih menurut, ya karena memang tak ad jalan lain selain menurut karena Edo tetap memaksanya.


Edo hanya ingin membahagiakan Ratih, membelikan baju yang dia mau dari hasil kerja kerasnya sendiri. Dia sudah bekerja, dan kini dia ingin memakai uangnya untuk Ratih. Tak masalah kan?


Ketakutan Ratih menjadi nyata kala beberapa pelayan datang menghampiri dengan tatapan sadis mereka. Menghadang Ratih dan Edo dengan begitu bengis seolah tak rela jika keduanya datang. Bahkan keduanya juga menertawakan mereka, mungkin mereka pikir Edo dan dirinya tidak akan mampu membeli pakaian di sana.

__ADS_1


“Ngapain kalian kesini?" tanyanya. Begitu sadis ucapannya, perlakuannya juga terlihat begitu songong dengan melipat kedua tangan didepan dada. Tersenyum, tapi senyumnya hany sekedar untuk merendahkan, menghina Ratih dan Edo yang terlihat tak sama dengan mereka.


“Saya ingin menukar baju yang saya beli kemarin. Ukurannya tidak pas pada tubuh nenek saya,” Edo tetap bicara dengan sabar, ramah.


“Heh, apa kamu tidak baca peraturan si sini? Dilarang mengembalikan atau menukar barang yang sudah dibeli. Apa kamu tidak membacanya, tuh lihat! Tulisan di sana, apa kurang besar? Jangan-jangan kamu buta,” sinisnya.


Ingin Ratih menangis saat itu juga. Demi kebahagiaan dirinya Edo dela dihina seperti itu, bahkan dia tak melawan meski Ratih yakin hatinya sangat kesal saat ini.


“So, kita kembali saja ya, nenek benar-benar tidak apa-apa dengan baju ini,” kembali Ratih mengajak pulang. Dia tau ini akan terjadi, tapi demi Edo dia menurut tadi untuk membuat Edo senang.


“Sebentar, Nek. Edo akan kembali setelah bajunya Edo tukar dengan ukuran yang pada dengan nenek." Edo tetap bersikeras.


Begitu sombong keduanya, tak ada ramah-ramahnya sama sekali seolah toko itu milik mereka. Sok berkuasa padahal mereka juga hanya bekerja di sana.


“Hem, kalau begitu boleh saya bertemu dengan bos kalian?"


“Untuk apa, dengan kami saja sudah cukup. Lebih baik kalian pergi dari sini. Bisa-bisa baju di sini pada kotor karena kedatangan kalian.”


“Mbak, kami hanya datang untuk menukar pakaian ini, bukan untuk mengotori yang lain. Saya mohon, Mbak. Izinkan kamu menukarnya.” Ratih ikut bicara. Tak tega jika Edo yang terus bicara karena yang terjadi pasti hanya sama saja.


“Ada apa ini?” Suara menggelegar terdengar bersamaan dengan suara langkah kaki yang begitu tegas dan berat.


Bukan hanya kedua pelayan itu saja yang menoleh tapi juga Edo dan Ratih. Mereka melihat secara bersamaan ke arah sumber suara dan akhirnya terlihat oleh mata seseorang laki-laki dengan pakaian rapi yang mendekat. Kedua pelayan itu seketika mundur dari langkah dan menunduk.


“Itu, Pak. Kedua orang itu datang dan membuat keonaran." ujar salah satu pelayan. Keonaran?


Mata Ratih langsung membulat ke arah pelayan seraya menggeleng, “Tidak Tuan, kami datang tidak bermaksud seperti itu. Kamu datang hanya untuk menukar pakaian ini saja. Ukurannya kurang pas pada tubuh saya.” Terang Ratih.


Laki-laki yang sepertinya pemilik toko itu terdiam, mengamati kedua secara bergantian, dia juga seperti tengah berpikir sesuatu. “Apakah kamu temannya Andri?" tanyanya.


Cepat Edo mengangguk, “Benar Tuan. Saya teman Andri."


Beralih mata laki-laki itu melotot ke arah kedua pelayan yang kasih ada di sana. “Kenapa kalian kasar dengan mereka, sekarang minta maaf pada mereka atau kalian akan saya pecat!” laki-laki itu begitu marah.

__ADS_1


“Hah!” keduanya terperanjat, terkejut dengan pernyataan bosnya yang akan memecatnya. “Ja-jangan pecat saya, Tuan. Ka-kami minta maaf," Sesalnya.


Penyesalan memang selalu datang di akhir kan? Dan kini mereka menyesal karena berbuat semena-mena pada orang lain hanya karena menilai dari penampilan saja. Padahal ternyata, penampilan mereka yang sederhana ternyata begitu dihormati oleh bos mereka. Entah karena apa, tapi yang jelas mereka harus minta maaf karena tak mau sampai kehilangan pekerjaan.


“Ka-kami minta maaf, Nyonya." ujar mereka. Menunduk dengan sangat menyesal. “Kami salah.”


“Mari kami bantu untuk menukar pakaiannya," Kini perlakuan mereka berubah 90% karena takut ancaman dari bos mereka. Semoga ini bisa menjadi pelajaran untuk mereka bahwa mereka harus memperlakukan pembeli dengan baik. Pembeli adalah raja, jika tidak ada pembeli toko sebesar apapun pasti akan gulung tikar dengan cepat.


~~~~``


Senang rasanya, akhirnya Ratih bisa mendapatkan pakaian yang pas untuknya. Ukurannya sangat pas dan tentu akan sangat nyaman dipakai.


“Edo, terima kasih ya," ujarnya seraya duduk di kursi setelah sampai di rumahnya.


“Sama-sama, Nek. Bagaimana, nenek senang?”


Ratih mengangguk. Jelas dia sangat senang, ”Sangat. Nenek sangat senang." Dielus pipi sang cucu, hanya beberapa detik saja karena Ratih kembali melihat pakaiannya. Dia puas dan senang.


Melihat itu, Edo yang lebih senang. Akhirnya dia bisa membelikan pakaian untuk Ratih.


“Nek, mulai sekarang. Nenek sudah boleh kembali mengambil barang-barang bekas dan kardus-kardus di perumahan biasa. Dan___, perumahan-perumahan di sampingnya juga boleh. Semua menjadi milik nenek.” dengan senyum Edo memberitahu.


Ratih yang sedang fokus pada pakaiannya langsung menoleh, dia setengah tak percaya. “Benarkah?!”


Edo mengangguk antusias, “Iya, benar.”


Ratih semakin bahagia. Akhirnya dia bisa melakukan pekerjaannya lagi dengan lancar tampa hambatan seperti dulu. Dengan itu dia juga pasti akan mendapatkan untung yang lebih banyak.


Sebenarnya Edo kasihan jika melihat neneknya bekerja seperti itu, tapi mau bagaimana lagi? Semua itu atas keinginan Ratih sendiri. Dia belum mau berhenti, dia masih menikmati pekerjaannya.


~~```~~


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2