
Edo yang terus berada di sana dengan wajah yang meyakinkan membuat Dimas dan yang lainnya mulai percaya bahwa Edo yang berwajah sempurna itu adalah adiknya. Perlahan Dimas melepaskan tangan Edo dengan masih terus menatap penuh keraguan, antara percaya dan tidak.
Bukan hanya rasa ragu saja yang ada pada Dimas dan teman-temannya, tapi juga ada rasa takut yang datang di pikiran mereka. Tentu Mereka takut kalau Edo yang sempurna akan mengetahui bahwa mereka telah merundung Edo yang gemuk. Jika dia sampai tahu jelas saja mereka akan mendapatkan sesuatu yang lebih dari yang mereka dapatkan kemarin.
"Benarkah dia adikmu?" Ucap Didik yang juga tidak percaya kalau mereka adalah saudara kakak beradik. Apalagi perbedaan dari semua segi yang ada dalam diri mereka.
Edo mengangguk, mencoba menjelaskan bahwa dia memang benar adiknya dan dia datang untuk membawanya pulang.
"Be\_ benar, dia adalah adik saya," dengan Edo tetap bisa menjawab dengan sempurna meski tetap hanya sedikit saja dia berani melihat ke arah mereka semua.
Wajah-wajah yang awalnya terlihat begitu mengerikan kali ini terlihat penuh rasa curiga dan juga tidak percaya kepada dirinya. Jelas, mereka tidak akan percaya begitu saja bahkan Edo pun juga tidak percaya bahwa dia adalah dirinya. Bagaimana bisa ada orang yang memiliki dua tubuh dan satu jiwa.
"Ba\_ baiklah. Bawa dia pulang," ucap Dimas yang akhirnya membiarkan Edo yang gemuk membawa pulang Edo yang sempurna yang tidak sadarkan diri karena terpengaruh dari minuman yang diberikan oleh Dimas. Seandainya Edo yang sempurna tidak tertidur maka dia pun juga tidak akan terbangun dan sampai di tempat itu sekarang.
"Te\_ terima kasih," Edo masih saja gugup meski Dimas sudah membiarkan dirinya membawa pulang tubuhnya yang sempurna, jelas saja masih ada rasa takut dalam dirinya.
Dengan sangat perlahan Edo mulai menggendong tubuhnya yang sempurna di punggungnya. Ternyata dia juga memiliki kekuatan meski hanya sebatas menggendong tubuhnya saja.
Andri yang juga tidak percaya kini malah memesankan taksi supaya ditumpangi oleh Edo dan bisa mengantarkannya sampai rumah.
"Biar aku pesankan taksi," ucapnya.
Edo tersenyum kecil, dia begitu terima kasih meski tidak sampai dia ucapkan dengan kata-kata.
Deng berusaha sangat keras akhirnya Edo berhasil membawa tubuhnya yang sempurna pulang, asalkan dia masih mabuk maka dia tidak akan terbangun dan tidak akan berganti tubuh.
Setelah belasan jam kemudian Edo yang tidak sadar akhirnya bisa bangun juga dengan tubuhnya yang sempurna. Akhirnya dia bisa mengganti tubuh dan saat dia sadar dan ternyata waktu sudah siang.
__ADS_1
Edo yang masih merasa sedikit pusing akibat minuman yang memabukkan itu di perlahan benar-benar mulai sadar, matanya juga mulai terbuka sempurna dan menyadari waktu yang seharusnya dia buru-buru berangkat ke sekolah.
"Aku harus bergegas, sekolah sudah menungguku," gumamnya yang begitu terburu-buru. Dia harus bergerak cepat untuk bisa sampai di sekolah hari ini.
Tak lama Edo dalam bersiap, setelah semuanya selesai dan dirasa cukup baru dia meluncur ke sekolah.
~~~~\`\`
Sore pukul empat, waktunya Edo dan semua murid pulang ke rumah masing-masing. Bersamaan itu ternyata Ratih datang ke kontraktor Edo. Tentu dia juga mendapat alamatnya dari Edo yang hanya di tulis di selembar kertas kecil.
"Kok sepi," gumam Ratih. Baru saja dia akan masuk dan melihat keadaan kontrakan yang sepi bagaikan tak berpenghuni.
"Apa mungkin Edo belum pulang sekolah?" gumamnya lagi. Mungkin yang dia pikirkan adalah benar kan?
Sejenak Ratih melihat sekitar bagaimana keadaan tempat yang di tinggali oleh cucunya. Memang terasa lebih nyaman daripada tempatnya yang lama, pantas saja Edo betah tinggal di sana.
Begitu pelan, bahkan nyaris tak bersuara dari pergerakan Ratih saat masuk ke dalam kontrakan yang ditempati oleh Edo saat ini.
Kembali Ratih melihat sekitar, melihat keadaan yang ada di dalam yang ternyata hampir sama seperti tempat tinggalnya yang lama. Sama-sama sempit dengan beberapa tempat yang ada di sana.
"Mungkin Edo memang belum pulang," gumamnya lagi.
Begitu penasaran untuk melihat kamar yang ditempati oleh Edo, dan ternyata Ratih benar-benar masuk ke salah satu ruangan yang satu-satunya tertutup.
"Eh," Ratih begitu terkejut saat melihat Edo ternyata tertidur pulas di dalam kamarnya. Ratih menghampirinya dan duduk di sebelahnya.
Memperhatikan dengan wajah Edo yang tetap sama dan tidak berubah dalam beberapa hari ini, tetap terlihat penuh seperti biasanya.
"Kamu pasti sangat lelah kan?" Ucap Ratih sembari mengelus lembut pipi dari cucunya yang begitu damai dalam tidurnya itu, Ratih tersenyum sejenak. Dia sangat merindukan cucunya itu maka dari itu dia datang tanpa menghantarkan lebih dulu kepada Edo.
__ADS_1
"Kalau begitu nenek akan masak sesuatu untukmu, saat bangun kamu pasti akan merasa sangat lapar." gumam Ratih lagi.
Ratih memutuskan untuk segera beranjak dari tempat tidur Edo lalu melangkah menuju ke dapur untuk memasak sesuatu. Edo pasti lelah bersekolah jadi dia tidak sempat memasak untuk dirinya sendiri, pikir Ratih.
Dengan begitu senang hati Ratih memasak sesuatu di dapur, dia terus tersenyum membayangkan Edo yang akan makan makanan yang dia masak lagi. Bisa melihat Edo makan makanannya di hadapan dirinya sendiri terasa memberikan kepuasan tersendiri, dia begitu bahagia apalagi ditambah melihat senyum Edo yang begitu menggemaskan.
"Aku harus cepat, jadi saat Edo bangun siang sudah bisa langsung makan," Ratih begitu antusias. Berjalan ke sana kemari untuk menyiapkan segalanya. Meski hanya dengan peralatan sederhana tapi dia tetap yakin bisa menyelesaikan keinginannya.
Sementara Edo yang baru pulang sekolah langsung membulatkan matanya ketika melihat pintu kontrakannya terbuka. Dia berpikir\_\_\_,
"Apakah ada maling?" gumam Edo. Meski dia tahu tidak ada barang yang berharga di dalam yang sangat menguntungkan bagi seorang maling tapi dia tetap takut jika barang yang tidak pentingnya ada yang mengambil.
Barang dirasa tidak penting bagi orang lain itu sangat penting bagi dirinya, apalagi dia juga tidak akan mungkin bisa membelinya lagi jika itu hilang. Tidak barang yang mewah sama melainkan baju dan juga semua keperluan sehari-harinya.
"Tidak, tidak mungkin ada maling yang masuk," Edo begitu buru-buru menyerobot masuk begitu saja ke dalam kontrakannya, dia tetap takut kalau benar-benar ada maling yang menyatroni kediamannya.
Edo Melangkah dengan cepat dan tujuan pertamanya adalah kamarnya sendiri, di mana barang-barang yang tidak berharganya ada di sana dan tentunya juga tubuhnya yang gemuk yang tertidur.
Bukannya menemukan seorang maling tetapi Edo malah melihat neneknya yang ada di kamar dan ternyata sudah duduk di sebelah Edo.
Begitu bahagia itu melihat kedatangan neneknya di sana, Dia sangat merindukannya hingga tanpa sadar dia langsung menyapa neneknya tanpa dia menyadari bahwa tubuhnya belum berganti dengan tubuh Edo yang dikenal oleh Ratih.
"Nenek," Panggil Edo. Ingin sekali dia langsung berhamburan dan memeluk neneknya tapi ternyata tidak! Dia hanya berdiri dengan tersenyum bahagia memandangi Ratih.
Ratih menoleh, "kamu siapa?"
~~~~••~~~~
Bersambung...
__ADS_1