
~~``~~
Sebenarnya Yulia juga bukan sengaja datang di tempat Edo bekerja saat ini, dia hanya sedang kebetulan saja berjalan dan lewat toko tersebut hingga akhirnya dia tak sengaja melihat Edo dan berpikir untuk menghampiri. Yulia mendekat, dengan perasaan yang sangat malu juga ragu namun akhirnya tetap sampai di hadapan Edo.
Bukan hanya Edo saja yang dibuat terkejut melihat kedatangan Yulia di sana, bahkan Yulia juga sangat terkejut dan tidak percaya kalau ternyata Edo bekerja di sana.
"Ha-hay," sapa Yulia. Tertunduk wajahnya di hadapan Edo, namun matanya melirik kecil ke arahnya. Pipinya bahkan memerah sekarang, rasanya sangat panas dan Yulia yakin warnanya sudah tidak seperti biasanya, biasa jadi seperti tomat matang.
Edo juga langsung gugup dengan kedatangan Yulia, untuk apa dia datang? Itulah yang langsung muncul di benaknya saat ini.
"Hay," jawab Edo. Dia langsung beranjak, berdiri dengan tegak dan memandangi Yulia yang tetap menunduk. Sejenak Edo menoleh kanan kiri, tak ada siapapun di sana selain mereka berdua.
"Kamu perlu sesuatu?" tanya Edo penasaran. Siapa tau Yulia datang hanya untuk membeli sesuatu kan karena seperti biasa orang yang datang pasti karena ingin membeli sesuatu, tidak menutup kemungkinan Yulia juga sama seperti yang lain.
Yulia menggeleng, dia tidak membutuhkan sesuatu di sana tapi sekarang dia bingung akan bicara apa. Apa alasan yang lebih tepat yang bisa dia katakan pada Edo.
"Apa kamu di gangguin orang lagi?" kembali Edo bertanya, dia kembali menoleh ke segala penjuru, apa mungkin ada orang yang mengikuti Yulia dan akan berniat jahat lagi padanya?
Setelah di pastikan tapi tak ada satu orangpun yang mengikuti Yulia, tentu saja hal itu membuat Edo semakin penasaran. Edo kembali menatap Yulia dengan begitu serius. "Terus?" Edo mengernyit.
Edo semakin bingung karena Yulia masih saja diam, dia tak kunjung bicara. Apakah mungkin Edo membuat kesalahan? Pikirnya. Tapi itu tidak mungkin kan? Edo dengan tubuhnya yang gemuk itu hanya baru bertemu sekali saja, dua kali dengan sekarang, tidak mungkin dia membuat kesalahan.
"Se-sabenarnya, sebenarnya saya mau berterima kasih pada kamu. Kalau tidak ada kamu waktu itu pasti sudah terjadi hal buruk padaku," ucap Yulia yang akhirnya mau bicara.
"A-aku?" Yulia begitu gugup. Terus dia menunduk dan kedua tangan yang saling menyatu, memijat satu sama lain dengan pikiran yang begitu campur aduk.
Edo masih terdiam, dia juga tak menyangka kalau Yulia akan bersikap ramah seperti ini. Dia pikir dia akan sama seperti para gadis lain yang tidak akan suka dengan pria gemuk seperti dirinya. Tapi ternyata? Pikiran Edo tidaklah benar.
__ADS_1
Edo juga begitu berpikir kalau seorang Yulia pasti hanya akan suka dengan pria tampan, seperti tubuhnya yang sempurna. Apalagi dia juga beberapa kali selalu mengejarnya di sekolah, tapi sekarang?
"Bukankah kamu sudah mengatakan itu kemarin?" tanya Edo yang akhirnya bicara. Yulia sudah berterima kasih padanya kemarin dia rasa juga sudah cukup, tapi sepertinya tidak untuk Yulia.
Yulia diam, dia malu. Memang benar sih, tapi dia memang merasa belum cukup saja. Sekali ucapan terima kasih dirasa belum cukup dan dia butuh berkali-kali setelah mengingat yang Edo lakukan untuknya.
"Ka-kamu kerja di sini?" Yulia mulai mengalihkan pembicaraan. Berusaha bersikap lebih akrab supaya bisa menghilangkan rasa gugupnya.
"Iya, di sinilah aku bekerja," jawab Edo. Dia melihat sekeliling lagi, dan tentu semua barang-barang di sana akan rapi karena dia memang selalu memastikan itu. Dia tidak mau sampai ada kekurangan dalam penataan karena itu akan berimbas pada nasib gajinya yang kemungkinan akan di potong seperti biasa.
"Eh, kita belum berkenalan. Namaku Yulia." Dengan senyum penuh keyakinan Yulia mengulurkan tangan kepada Edo. Wajahnya sudah berganti begitu sumringah sekarang lebih baik daripada barusan.
"Edo," jawab Edo. Seketika dia membulatkan matanya sendiri karena memperkenalkan diri dengan nama yang sama dengan namanya yang di tubuh sempurnanya. Bagaimana kalau Yulia akan curiga?
"Edo?" Yulia mengernyit sejenak. Mengingat-ingat sesuatu dan akhirnya, "namanya sama seperti temanku di sekolah."
"Bisa jadi sih," Yulia pun mengangguk mengiyakan. "Memang banyak kan nama yang sama, tapi yang jelas orang yang berbeda."
"I-iya," Edo tersenyum gagu, seandainya saja Yulia tau, entah apa yang akan terjadi. Jelas juga dia tidak akan percaya dan akan berpikir kalau Edo hanya mengarang cerita saja.
Yulia menoleh dan melihat buku yang tadi digunakan Edo untuk belajar, "kamu baru belajar?" tanya Yulia.
Edo ikutan menoleh, tentu dia mendapatkan hal yang sama seperti Yulia. "Iya," Diambilnya buku itu dan di perlihatkan pada Yulia.
"Menghafal kosakata dalam bahasa Inggris," imbuhnya.
"Bahasa Inggris." Yulia manggut-manggut. "Sebenarnya bahasa Inggris itu tidak buruk, sangat menyenangkan malah,"
__ADS_1
Kini dia sudah bicara lebih baik lagi, gugupnya benar-benar telah hilang dari dirinya dan sekarang sudah bicara dengan benar.
"I-iya," jawab Edo. Memang benar yang Yulia katakan. Bahasa Inggris memang sangat menyenangkan, Edo juga sangat senang belajar bahasa Inggris tetapi karena itu pelajaran bahasa asing membuat dirinya sedikit kesusahan apalagi tidak ada yang membantu dalam belajarnya.
Dalam pelajaran lain memang Edo selalu bisa mengerjakan sendiri tetapi di pelajaran satu ini itu adalah pelajaran yang paling lemah bagi dirinya.
Yulia ikut melihat-lihat apa yang sedang Edo pelajari, bahkan dia juga mengambil buku itu dari tangannya. Yulia kembali mengernyit, pelajarannya hampir sama dengan yang dia pelajari dari sekolah.
Yulia melihat ke erah Edo, tapi tetap tak ada curiga karena dia berpikir ulang mungkin memang tingkatan dalam sekolahnya sama makanya pelajarannya juga sama. Mungkin?
"Ada apa?" tanya Edo gugup. Sekarang giliran dia yang gugup. Edo takut kalau Yulia akan curiga padanya dan akan bertanya yang macam-macam, bagaimana dia akan menjawab?
"Tidak ada, hanya saja pelajarannya sama dengan tempat ku," jawab Yulia.
Mata Edo membulat, apakah itu artinya Yulia mulai curiga? "Mung-mungkin hanya kebetulan saja," ucap Edo.
"Iya, kamu benar." Yulia mengangguk dan kini kembali fokus dengan buku Edo yang ada di tangannya.
Edo terus memperhatikan tingkah Yulia, dia terlihat begitu teliti serius dalam melihat bukunya. Tatapannya yang begitu serius kini di lihat oleh Yulia.
"Ke-kenapa?" tanya Yulia dengan begitu gugup. Dilihat seperti itu siapapun pasti akan menjadi gugup dan juga salah tingkah sendiri.
"Ti-tidak ada," jawab Edo lalu tersenyum gagu. Bukan hanya tersenyum saja, tapi Edo juga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Suasana yang sepi dan hanya ada mereka berdua saja menjadi suasana yang begitu canggung hingga akhirnya keduanya memutuskan diam.
~``~
__ADS_1
Bersambung...