Sampah Sepertiku Mempunyai Body Goals Yang Baru

Sampah Sepertiku Mempunyai Body Goals Yang Baru
42. Semua Nilai Meningkat


__ADS_3

~~``~~


Edo berpikir untuk curang, dia bisa membaca ulang semua kosakata yang dia lupa saat ini dengan tubuhnya yang gendut yang sekarang tengah tersadar. Dia tercenung sejenak menatap kamus yang masih setia ada di sebelahnya, apakah benar dia akan melakukan hal itu?


Edo nampak berpikir cukup lama hanya untuk memutuskan apakah dia akan melakukan hal itu atau tidak.


"Benarkah aku harus melakukan hal ini?" gumamnya. Terus dia hanya menatap kamus tersebut.


Ingin rasanya dia meraih kamus itu tapi kembali dia berpikir ulang. "Tapi ini ujian? Kalau aku lakukan ini bukankah ini sama saja aku curang dari teman-teman yang lainnya?'' gumamnya lagi.


Dengan melakukan itu sama saja Edo seperti pembohong, dia ingin jujur sama seperti yang lainnya. Dia ingin bekerja keras seperti teman-temannya yang lain. Edo ingin nilai yang dia dapatkan itu adalah dari usahanya yang maksimal, tak masalah hasilnya mungkin akan di bawah keinginannya, tapi setidaknya itu didapatkan karena kejujuran.


"Tidak. Aku tidak boleh melakukan hal ini. Ini bukan hal yang benar, ini salah dan aku tak boleh melakukannya," gumam Edo lagi.


Setelah bertarung dengan pikirannya sendiri akhirnya Edo tidak jadi melakukan kecurangan, dia tetap akan jujur dan akan mengerjakan sebisanya. Dia harus yakin dengan kemampuannya sendiri. Teman-temannya saja bisa kenapa dia tidak?


Dengan melakukan kejujuran Edo akan adil dengan teman-temannya. Bukankah mereka juga melakukan dengan kemampuannya sendiri? akhirnya Edo kembali ke tubuhnya yang sempurna dan mulai berpikir lagi sama seperti yang lain.


"Aku harus berusaha keras supaya bisa mengerjakannya dengan kemampuanku sendiri,'' gumam Edo yang tampan. Tersenyum penuh percaya diri, dia yakin dia bisa.


~``


Ujian telah berhasil selesai. Semua murid nampak begitu gugup dengan hasilnya padahal biasanya mereka sangat acuh dan terkesan tak peduli dengan masalah nilai yang mereka dapatkan.


Semua terlihat tak sabar menunggu pengumuman yang memang sudah direncakan akan diumumkan sekarang. Semua nampak berdiskusi, bukan! Tapi mengada-ada siapa yang akan mendapatkan nilai tertinggi.


Semua berkumpul menjadi satu, mereka tak sabar menunggu.


"Aku sangat yakin, pasti kamu yang akan menjadi juara," ucap Bagus. Mengatakan itu kepada Andri yang memang sebelumnya lebih pintar dari semuanya.


Andri tidak menjawab, dia hanya mengedikan kedua bahunya saja dengan begitu acuh bahkan dia juga menyunggingkan bibirnya hingga terlihat begitu manyun.


"Ih, menyebalkan kalau bicara sama patung hidup," Bagus terlihat begitu kesal dengan Andri yang selalu saja bertingkah seperti itu, tidak hal baru sih tapi tetap saja sangat menyebalkan.

__ADS_1


"Sudah, mending Lo diam dan menunggu saja dengan tenang. Itu akan lebih baik untuk kamu," ujar Dimas, "daripada buang-buang tenaga."


Benar yang dikatakan oleh Dimas mending menunggu dengan tenang sama seperti yang lain.


Ada Edo yang juga sangat was-was, dia sangat tak sabar dengan hasil yang dia dapatkan dari kerja kerasnya selama beberapa hari ini.


Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, kedua tangannya saling bertautan satu sama lain, menandakan bahwa dia memang benar-benar gelisah.


Semua langsung berlarian saat salah satu guru berjalan ke arah papan pengumuman, semua mengikutinya.


Semua bergerombol melihat guru menempelkan beberapa kertas di papan pengumuman, dan setelah guru pergi semua langsung bergegas membaca.


Mata mereka terlihat begitu fokus. Melihat satu persatu kertas dan jari mereka berjalan di kertas tersebut dari atas ke bawah, dari satu kertas ke kertas lainnya hanya untuk mencari nama mereka.


"Yes!" seru Edo. Dia sangat bahagia melihat hasil ujiannya.


Bukan hanya mendapatkan peringkat pertama dari semua teman-teman sekelasnya, tapi Edo juga mendapat peringkat ke lima dari semua murid satu angkatannya. Hatinya sungguh berbunga-bunga saat ini, dia begitu bangga dengan keberhasilannya.


"Ronald!" panggil Edo. Dan seketika Ronald yang juga baru dari sana menoleh ke arahnya.


Ronald tersenyum. Berdiri menunggu Edo yang langsung menghampirinya. Keduanya sama-sama tersenyum, jelas mereka sama bahagia karena pencapaiannya.


"Selamat ya," ujar Edo. Dia begitu bangga pada Ronald, ternyata dia lebih baik dari dirinya. Tapi itu juga tak lantas membuat Edo benci, tapi malah sebaliknya.


"Terima kasih, selamat juga untuk kamu." ucap Ronald. Tentu, bagi Ronald Edo juga sangat luar biasa, dia bisa mencapai lima besar seangkatan padahal Edo masih terbilang anak baru di sana.


"Hem," Edo mengangguk.


"Oh iya, kamu tau nggak siapa yang berada di peringkat satu, dua dan empat?" tanya Edo penasaran. Ya! Dia sangat ingin tau siapa mereka.


"Mereka adalah___," Ronald mengatakan semua yang Edo tanya.


Edo begitu terkejut, ternyata yang mendapat peringkat di awal adalah murid-murid yang selalu ditindas oleh para murid yang paling nakal.

__ADS_1


Edisi seolah melihat bayangannya sendiri setelah tau siapa saja, hingga dia putuskan akan menjaga mereka dari tindak pembullyan lagi.


~~``


Selain Edo, hal yang membuat guru tak percaya juga semua para murid-muridnya yang kini nilainya meningkat. Memang tidak sempurna sih, tapi nilainya yang sekarang lebih bagus daripada kemarin.


Nilai mereka benar-benar meningkat meski masih di bawah KKM, dan itulah yang membuat para guru merasa heran dan sangat penasaran membuat.


Bukan hanya para guru saja yang terkejut dengan nilai mereka, bahkan mereka sendiri juga gak kalah terkejutnya. Biasanya mereka tak pernah mendapat nilai segitu banyak, dan itu adalah nilai tertinggi mm bagi mereka.


"Ini beneran ya?" tanya satunya.


"Kayaknya iya, tapi kok aku masih meragukan ya. Maksudnya kan tidak mungkin kalau kota bisa dapat nilai segitu. Kayak mustahil maksudnya."


"Iya, kayak aneh ya."


Semua membicarakan mereka sendiri. Mereka tidak percaya kalau semua itu adalah hasil mereka, hasil kerja keras mereka. Entah sebuah kebetulan atau memang benar.


"Apa mungkin ini terjadi karena kota sering baca-baca kemarin?"


"Bisa jadi sih." jawabnya.


Memang, kemarin mereka lebih senang baca-baca daripada melanjutkan hal-hal yang tak bermanfaat. Itupun mereka lakukan juga hanya karena iseng dan hanya ikut-ikutan saja.


Sepertinya bukan hanya mereka saja dan guru terkejut dengan semua nilai mereka, bahkan kepala sekolah terlebih lagi. Beliau juga begitu tak percaya bahkan nilai mereka lebih bagus sekarang.


"Ini sangat luar biasa, semoga saja ini menjadi awal yang baik untuk mereka semuanya dan nilai mereka akan semakin meningkat," gumam kepala sekolah yang penuh dengan harap.


~~`~


Bersambung....


__ADS_1


__ADS_2