
~~``~~
Ronald sangat ragu ketika mengajak Edo datang ke rumahnya yang begitu sederhana. Karena saking semangatnya Ronald tidak memikirkan akan hal itu hingga sekarang dia begitu ragu saat akan mengajak Edo masuk ke rumahnya.
Ronald berdiri ragu, terdiam dan sangat bingung. Bagaimana kalau Edo akan jijik dan akan menghina rumahnya sama seperti yang lain?
''Ronald, kamu kenapa?'' tanya Edo marasa sangat curiga pada Ronald yang sangat berdiri diam di depannya.
Sejenak Ronald diam dan begitu enggan untuk membalikkan badannya, tapi setelah Edo menyentuh pundaknya Ronald membalik dengan sangat pelan.
Terlihat jelas kalau ada hal yang sangat Ronald pikirkan saat ini, Dia terlihat begitu tertekan namun Edo sangat tidak tau apa yang menjadi alasannya. ''Kenapa?'' mata Edo memicing curiga.
''Hemm?'' bahkan sekedar untuk bicara saja Ronald tak mampu, dia merasa begitu malu dengan keadaan rumahnya.
Rumah yang sederhana nampak dari luar dan di dalam pun juga sama. Bahkan terkesan sangat berantakan.
''Hm, rumahku sangat buruk dan juga sangat berantakan, apakah kamu tidak merasa jijik datang di tempat seperti ini?'' tanya Ronald yang akhirnya keluar juga apa yang menjadi pertanyaannya.
''Kenapa harus jijik?'' edo mengulas senyum yang begitu tulus. Tak ada kebohongan yang terlihat di wajahnya.
Kenapa harus merasa jijik atau apapun hanya karena keadaan rumah Ronald, bahkan semua yang ada padanya lebih parah dari milik Ronald. Posisi Ronald selalu saja membuat dia mengingat ketika dirinya di daam tubuh yang gemuk.
Rasa percaya dirinya bahkan tak sebanding dengan yang Ronald miliki, Edo yang gemuk sangat penakut dan juga sangat lemah, tidak seperti Ronald yang memiliki keberanian meski hanya sedikit. Tapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali bukan?
''Apa yang kamu punya lebih baik dari apa yang ada padaku.'' senyum kecil Edo mengantarkan langkahnya lebih dulu dari Ronald.
Ronald seketika membalikkan badannya ke arah Edo yang sudah hampir sampai pada pintu rumahnya, memandang Edo dengan sangat bingung. Ronald tak mengerti apa yang Edo maksud barusan. Lebih baik?
'Baik dari segi mananya? bahkan dia memiliki kesempurnaan yang sangat lengkap. Aku tak ada apa-apanya dibandingkan dia.' batin Ronald.
__ADS_1
Dengan perlahan namun pasti Ronald mulai berjalan mengikuti Edo yang sudah berdiri tepat di depan pintu, sepertinya dia tidak akan masuk begitu saja tanpa izin dari pemilik rumahnya.
''Mari,'' ajak Ronald seraya tangan membuka pintu. Menoleh sebentar lalu tersenyum meski masih ada perasaan tak yakin kalau Edo akan memberikan ekspresi seperti yang tadi.
Tanpa keraguan Edo masuk ke rumah Ronald yang dia bilang selalu membuat orang merasa jijik itu, netranya memutar menjelajahi setiap penjuru.
'Tidak buruk, ini bahkan lebih baik daripada ruah nenek,' batin Edo.
Ronald terdiam sejenak, melihat Edi yang ternyata tidak jijik sama sekali. Dia pikir Edi akan sama seperti yang lain ternyata tidak. Dia sempat berpikir seperti itu tadi.
"Aku ada lagu baru, lihatlah," ucapan Ronald mulai memperlihatkan.
"Aku juga bikin instrumen baru." Lanjutnya lagi. Dia mulai berjalan lalu duduk di sebelah Ronald untuk melihat apa yang barusan di perlihatkan
Dengan cepat Edi melihat dengan seksama., mulai me. pelajari lagi yang Ronald tunjukkan.
***
Edo memandangi sekitar lagi dengan sang sabar dan pelan.
Terlihat begitu banyak buku yang berjejer begitu banyak. Dia sangat yakin itu adalah milik Ronald. Bukannya hanya di beberapa tempat, tapi dia seluruh tempat, bahkan di meja juga. Dan semua itu berarti banyak akan catatan Ronald.
"Kenapa?" tanya Ronald. Memandangi dengan tatapan aneh kepada Edo.
"Tidak apa-apa," Edo menjawab.
Melihat bagian Ronald yang sering di bully membuat Edo kembali ingat dengan dirinya yang sebelumnya. Tubuh yang selalu mengeluh.
Ronald lebih berusaha untuk bisa memiliki keterampilan yang sesuai dengan yang dia ingin, tapi dirinya? Bahkan dirinya tak memiliki keterampilan apapun, dia bahkan sering menggerutu dan juga masih banyak lagi hal tak bernilai yang dia lakukan.
__ADS_1
Mengingat semua itu membuat Edo merasa terenyuh, dia menjadi sangat sedih karena dulu, bahkan dia melihat neneknya sendiri saja merasa jijik.
"Edo, kamu baik-baik saja kan?" tanya Ronald lagi. Dia merasa aneh saja melihat tingkah Edo yang sangat berbeda. Lebih banyak diam saat ini. Padahal diamnya karena tengah menyesali apa yang selama dia lakukan.
"Saya baik," Edo kembali menjawab, dia menoleh seraya tersenyum untuk lebih meyakinkan Ronald kalau dirinya memang baik.
Kembali keduanya berlatih, sedikit demi sedikit Edo mulai menguasai lagi yang Ronald tunjukkan padanya tadi. Ternyata tak begitu sulit.
"Kami hebat," puji Edo. Jelang dia sangat bangga melihat Ronald yang bisa membuat lagu yang begitu bagus dan sangat enak di dengar. Bukan hanya enak saja, tapi juga sangat mudah di dengar.
Bukan hanya berlatih saja, tapi mereka berdua sudah mulai membicarakan tentang penampilan mereka berdua besok.
"Kamu sungguh berbakat, Ronald." puji Edo. Jelas saja, Ronald sangat berbakat karena telah berhasil. Bukan hanya membuat lagi saja tapi juga bagaimana dia membimbing Edo hingga dia mudah memahami dann dengan mudah bisa.
"Aku sangat beruntung bertemu dengan kamu," lanjut Edo. Dia begitu senang hari ini karena Ronald. "Terima kasih."
"Bukan kamu yang beruntung, tapi aku yang sangat beruntung bisa bertemu dengan kamu." Ronald juga bicara.
Ya! Keberuntungan bukan hanya di salah satu diantara mereka saja, tapi mereka berdua sangat beruntung karena bertemu dan bisa berteman hingga berniat untuk menampilkan sesuatu di acara perayaan ulang tahun sekolah yang biasanya akan sangat meriah.
Terus Edo berlatih dengan dibantu oleh Ronald. Mulai dari dia pertama memulai hingga sekarang.
"Kamu sungguh luar biasa, Do." Puji Ronald. Tentu itu dia lakukan Kate dia begitu tersanjung dengan Edo yang begitu mudah mengerti.
Keduanya sama-sama tersenyum dengan saling menatap. Edo sangat senang bisa bertemu dengan Ronald, begitu juga sebaliknya.
~``~~
Bersambung....
__ADS_1