Sampah Sepertiku Mempunyai Body Goals Yang Baru

Sampah Sepertiku Mempunyai Body Goals Yang Baru
24. Rencana Perayaan Ulang Tahun Sekolah


__ADS_3

~~``~~


Kembali roda dari sepeda Edo berputar menempuh jalanan untuk menuju ke sekolah. Edo begitu semangat karena memang dia tidak mau menyia-nyiakan waktunya, dia harus bisa serius dalam belajar hingga membuat apa yang dia cita-citakan akan mudah didapatkan. Tentu, dia juga bisa membuat Ratih bangga dengan keberhasilannya di masa depan.


Kring kring kring!


Sesekali Edo akan membunyikan klakson pada sepedanya, sesekali menoleh ke arah lain sebelum dia menyebrang untuk memastikan tak ada kendaraan lain yang melintas. Edo semakin kuat mengayuh sepedanya.


Sampai di sekolah Edo akan kembali membawa sepedanya ke arah tempat parkir yang biasa, sepertinya semua orang tau kalau itu adalah tempat sepedanya hingga tak ada yang menempati, padahal Edo juga tidak mengharuskan untuk sepedanya tetap ada di sana. Dia tidak akan mempermasalahkan.


Setelah memastikan sepeda dalam keadaan benar, Edo langsung berjalan untuk menuju ke kelas. Langkahnya semakin pasti dan tentunya dengan begitu mantap. Mengabaikan semua mata terpana yang terus melihatnya.


Melihat Edo datang, Dimas dan juga teman-temannya nampak bergidik. Mereka semua ada rasa takut apalagi mengingat kejadian kemarin saat Dimas mengajaknya ke restoran Jepang.


"Astaga, dia datang." lirih Dimas. Dia yang terlihat santai kini menjadi tidak tenang, dia berlari menjauh dari pintu padahal baru saja dia ingin keluar.


"Ada apa, Dim?" tanya Bagus. Dia menoleh ke arah Dimas yang sudah ngacir kembali ke tempat duduk.


Bagas menoleh memastikan, tentu dia sangat penasaran apa yang membuat Dimas begitu takut. Dia bahkan pura-pura tidur sekarang di bangkunya dengan menempelkan pipi di meja.


"Edo datang, Edo datang!" Bagus pun sama. Dia juga ikutan berlari dan duduk di sebelah Dimas. Langsung dia mengambil posisi yang sama.


"Apa sih?" Dodo dan juga Didik yang jalan di belakang tentu belum melihat apa yang mereka takutkan. Mereka sangat khawatir kalau sampai Edo akan mengingat semua yang terjadi kemarin dan akan marah. Mereka takut kalau Edo akan dendam pada mereka dan membalas dengan hal yang menyakitkan.


"Eh, Edo. Hehehe." Dodo merenges, sekarang dia tau apa penyebab Dimas dan juga bagus lari dengan takut. Dan alasannya adalah Edo.


Edo menghentikan langkah di tengah-tengah pintu karena ada Dodo dan Didik yang ada di hadapannya.


"Edo, baru datang ya?" tanya Didik juga. Dia sama halnya dengan Dodo. Terkekeh tapi nadanya bukan karena kebahagiaan.


"Kalian kenapa?" tanya Edo. Dia mengernyit bingung melihat tingkah dari mereka semua yang terlihat begitu aneh hari ini.


"Ti-tidak." jawab Didik dengan berusaha biasa-biasa saja. Tangannya bergerak untuk menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Edo menggeleng, dia tak mengerti dengan jalan pikiran kedua teman sekelasnya itu yang begitu aneh. Beralih Edo berjalan menuju bangkunya sendiri.

__ADS_1


Edo tak langsung duduk, dia melihat Dimas dan juga Bagus yang meletakkan kepalanya di meja, benarkah mereka tidur?


"Aneh," gumam Edo. Kemudian dia menaruh tasnya dan duduk di bangkunya. Masih dia menatap aneh keempat teman sekelasnya itu.


Baru juga duduk ada Andri yang juga datang. Dia juga sempat berhenti melangkah saat melihat Edo yang sudah datang lebih dulu. Tatapannya terlihat begitu aneh, membuat Edo juga dibuat bingung karenanya.


'Mereka pada kenapa sih?' batin Edo.


Rupanya Edo benar-benar tidak mengingat semua yang terjadi kemarin. Mungkin Edo yang saat itu sedang mabuk dan itu membuat dia lupa segalanya sekarang.


Andri berjalan setelah melihat Edo tak mengatakan apapun. Bukan hanya Andri saja yang mulai bersikap biasa. Kini Dimas, Bagus yang sudah kembali duduk dengan tegak, juga Didik dan Dodo yang sudah duduk.


Sesekali mereka tersenyum ke arah Edo. Bersikap baik karena takut Edo hanya pura-pura tidak ingat padahal dia sedang membaca pergerakan mereka saja.


"Dasar aneh," gumam Edo tak mengerti.


'Syukurlah, sepertinya Edo benar-benar tidak mengingat kejadian kemarin. Kalau sampai dia ingat, bisa habis kita-kita.' batin Dimas.


"Halo, Do." sapa Dimas memecah hening juga canggung di antara semuanya.


'Pelit amat. Apa dia sedang sakit gigi atau sakit hati?' batin Bagus.


**


Waktu istirahat.


Semua teman-teman sekelas tengah sibuk membahas acara perayaan ulang tahun sekolah yang akan di adakan beberapa hari lagi. Semua nampak begitu senang dan begitu antusias.


"Eh, kalian akan ikut kan untuk acara perayaan besok?" tanya salah satu murid perempuan pada Dimas dan teman-temannya. Jelas, jika mereka semua ikut acara akan semakin meriah karena diikuti oleh para pria tampan.


"Kamu juga ikut ya, Do." Beralih dia menoleh ke arah Edo. Bukan hanya sekedar menoleh saja, bahkan dia juga melangkah menghampiri.


"Hem, bagaimana ya?" jawab Edo ragu. Dia belum pernah ikut dalam acara seperti itu. Pasti dia akan merasa sangat canggung nantinya.


"Ikut lah, kami semua menantikan kamu ikut. Kami pasti akan sangat senang dan acara pasti akan sangat meriah." ucapnya lagi yang tak menyerah untuk membujuk.

__ADS_1


Edo masih bingung, bisa-bisanya dia diajak di acara sedemikian. Apa yang akan dia lakukan di acara seperti itu?


"Ikut lah, Do. Acara pasti akan sangat meriah." Kini Dimas mendekat. Edo mengernyit di buatnya. Apakah benar Dimas dan teman-temannya itu menganggap dirinya sebagai teman?


Dulu-dulu, saat ada acara sekolah seperti itu Edo tidak pernah ikut, benarkah dia akan ikut?


"Saya tidak janji." jawab Edo. Sepertinya dia masih mempertimbangkan keputusan yang akan dia ambil.


**


Di tengah kesepian setelah pulang sekolah, hanya tinggal Edo yang masih tetap tinggal dan sedang menjalankan piket. Menyapu sendiri tanpa ada yang menemaninya.


Edo terdiam sejenak, terlintas beberapa lirik lagu di kepalanya. Lagu lawas namun tetap indah di nyanyikan.


"Na na na na," Edo mulai mengolah vokalnya sendiri. Ternyata, kesempurnaan yang dia dapatkan pada tubuhnya juga dia dapatkan pada suaranya. Suaranya terdengar sangat merdu saat menyanyikan beberapa lirik lagu.


Edo tersenyum kala mendengar suaranya sendiri, ternyata semua yang dia dapat benar-benar sempurna. Seperti tak ada yang kurang.


Dengan terus menyanyi Edo juga terus menjalankan tugas piketnya. Sesekali dia menunduk melihat kolong-kolong meja untuk melihat apakah sudah bersih atau belum. Ternyata, pria tampan seperti Edo tetap mau menjalankan tugas dengan baik. Padahal, Dimas dan juga temannya saja mereka tak pernah melakukannya. Mungkin karena gengsi.


"Hemm hemm." Terus Edo mengolah vokalnya.


"Apakah aku coba mendaftar saja di acara perayaan ulang tahun sekolah? Dengan itu aku bisa menuangkan keahlianku." gumam Edo. Dia mulai mempertimbangkan memutuskan.


Kembali dia berdiri tegak, berpikir untuk mengikuti acara yang sangat dinanti-nanti oleh semua murid juga para pelajar untuk merayakannya.


"Tapi, bagaimana kalau nanti,,?" Edo kembali menimang. Bagaimana kalau apa yang dia suka dan dia dengan indah ternyata tidak untuk orang lain.


"Bagaimana ya, ikut atau tidak." Edo terlihat begitu ragu. Keputusan belum bisa diambil karena dia masih kurang percaya diri dalam hal menyanyi. belum yakin.


Di saat Edo masih terus berpikir akan keputusan untuk ikut atau tidak muncul seorang ke kelas tersebut. Edo terdiam, memandangi orang itu dengan sedikit terkejut.


"Dia."


~~``~~~

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2