
Begitu buru-buru Edo untuk mengganti pakaiannya setelah pulang sekolah. Dia harus bergegas pergi lagi untuk menghadiri undangan dari Dimas untuk makan bersama.
Untung saja dirinya yang bertubuh gendut tak harus berangkat bekerja hari ini jadi dia bisa menerima tawaran dari Dimas dan teman-temannya.
"Aku harus segera bergegas, aku tak boleh mengecewakan mereka yang sudah mengundangku," gumamnya, buru-buru Edo untuk membersihkan diri.
Edo semakin cepat, juga mengambil baju baru untuk menggantikan seragamnya. Dia pakai dengan gerakan cepat hingga benar-benar melekat pada tubuhnya yang bersih.
Menoleh sejenak ke arah tubuhnya yang gendut. Kali ini dia harus tetap membiarkan dia tetap tidur, kapan lagi dia akan bersenang-senang dengan teman kalau tidak sekarang.
Tak lupa Edi juga meraih ponselnya, dia harus tetap membawanya siapa tau ada telfon penting nantinya.
"Aku akan berangkat," gumamnya lagi.
Begitu tergesa-gesa, berangkat dengan sepedanya menuju tempat yang sudah di kirimkan oleh Dimas melalui ponselnya. Tak sengaja Edo membuka konten chat dari teman-teman lamanya, dan semua isinya hanya tentang menghina dirinya. Edo tak peduli, dia mengabaikan dan lebih memilih untuk cepat berangkat ke tempat yang menjadi tujuannya sekarang.
Terletak di sebuah restoran khas Jepang. Lokasi yang memiliki jarak agak jauh dari tempat Edo tinggal hingga dia berangkat lebih awal supaya tidak terlambat.
Terus mengayuh dengan cepat. Tak ada rasa lelah atau menyerah bagi Edo, bayangannya adalah kesenangan dengan teman-teman barunya.
Setelah perjalanan yang sangat melelahkan akhirnya Edo dapat melihat bangunan yang dia yakini adalah tempat dimana acara makan-makan akan di langsungkan.
"Benarkah ini tempatnya?" gumam Edo. Terperangah melihat restoran khas Jepang yang kini sudah ada di hadapannya.
Edo turun dari sepedanya, berjalan semakin dekat dengan tak pernah memalingkan tatapannya. Hingga akhirnya dia memarkirkan sepeda di tempat kosong.
Masih dengan keraguan Edo masuk. Antara yakin dan tidak apakah itu adalah tempatnya, tapi melihat dari kiriman Dimas memang itu adalah tempatnya.
Edo masuk, dan ternyata benar, memang di sanalah tempatnya. Tidak hanya melihat Dimas dan teman-temannya saja di sana tapi Edo juga melihat Andri di sana juga.
Andri terlihat sangat bingung melihat kedatangan Edo di sana, begitu juga dengan Edo yang berpikir hanya dirinya saja yang di undang tapi ternyata tidak!
"Aku yang mengundangnya. Lagian kita juga sekelas dan kita semua adalah teman." ucap Dimas pada Andri, seolah dia tau kebingungan Andri atas datangnya Edo.
"Setelah makan-makan ini terjadi kita semua akan menjadi teman. Dan itu harus kan?" ucap Dimas lagi.
__ADS_1
Andri tidak menjawab, dia hanya diam saja dengan hati yang sedikit kesal karena Dimas yang tidak mengatakan kalau ada Edo juga.
Berbeda dengan Andri, tapi Edo malah semakin terharu. Dia begitu senang kalau apa yang di katakan oleh Dimas akan terjadi. Mereka bisa menjadi teman baik. Bukankah itu adalah hal yang baik kalau mereka yang satu kelas bisa menjadi teman!
Tak saling menghina dan tak saling meremehkan satu sama lain. Berteman dengan baik dan berhubungan yang sehat. Itulah yang Edo inginkan.
Dimas langsung meminta Edo untuk duduk di tempat yang sudah dia sediakan. Pergerakan Edo yang sangat lambat membuat Dimas tak sabar dan langsung sedikit menekan pundaknya hingga membuat Edo langsung duduk.
"Duduklah, kalau tidak kapan acara makan akan di mulai. Aku sudah sangat lapar," ucapnya.
Dengan terpaksa Edo duduk di tempat itu, semua juga ikut duduk di tempat masing-masing yang sudah mereka pilih begitu juga dengan Andri dan Dimas sendiri.
Berbagai menu sudah ada di hadapan mereka, semua terlihat enak dan jelas sangat menggugah selera makan mereka. Tapi ada hal yang membuat Edo terkejut, ada beberapa botol minuman k\*ras yang ada di meja itu juga.
Mereka semua masih anak-anak sekolah, tak pantas untuk menikmati minuman yang menurut Edo sangat berbahaya itu. Apakah ini cara orang kaya makan?
Apakah mereka akan selalu di temani dengan minuman yang sangat memabukkan itu saat makan?
"Ayo- ayo makan," Ajak Bagus begitu antusias. Dia mengambil makanan lebih dulu seolah dia mengajari semuanya untuk ikut serta.
Dengan canggung Edo mulai mengambil juga, sama seperti yang lain yang juga yang sama. Begitu juga dengan Andri sama namun terus diam dengan sesekali melihat ke arah Edo. Masih tersimpan kekesalan pada Edo karena dia yang kalah.
Acara makan benar terjadi. Dengan begitu lahapnya mereka semua menikmati semua makanan yang sudah di pesan sejak awal.
Dimas yang duduk di sebelah Edo langsung berdiri, mengambil satu botol juga gelasnya. Menuangkan minuman itu hingga gelas kecil yang ada di tangannya itu penuh.
"Pertama untuk Edo," ucapnya.
Edo terkesiap, untuk dirinya?
Edo sangat bingung, dia belum pernah merasakan minuman itu, dan dia juga tidak ada niat untuk merasakannya.
Bukan hanya untuk Edo saja, tapi semua teman-teman di beri dengan takaran yang sama oleh Dimas, tak terkecuali Andri yang dari tadi hanya diam.
"Sa\_ saya tidak usah. Saya tidak minum," ucap Edo seraya menolak pemberian Dimas. Menggeser gelas yang sudah ada di hadapannya.
"Tidak ada kata tidak. Semua yang ada di sini harus minum. Lagian ini sangat enak, dengan minum sedikit saja tidak akan membuat kamu mabuk. Ini hanya untuk merayakan pertemanan kita saja." bujuk Dimas.
__ADS_1
"Iya, Do. Kita bersulang demi pertemanan kita," sahut Kipli. Dia juga antusias.
Semua mengangguk kecuali Andri yang tetap diam namun sudah bersiap untuk minum. Rupanya mereka semua memang sudah bersiap, terlihat mereka begitu biasa dengan minuman itu.
"Tidak, saya tidak akan minum." Edo tetap menolak.
"Ayolah, Do. Hanya satu gelas saja. Aku janji tidak akan lagi, ini yang terakhir. Kalau kamu tidak minum berarti kamu tidak menerima pertemanan dengan kami," ucap Dimas yang terdapat sedikit ancaman.
Terus saja Edo di bujuk meski sudah terus menolak. Hingga akhirnya pertahanan Edo runtuh dan dia menerima tawaran Dimas dan minum dengan perlahan setelah mereka semua bersulang.
Wajah Edo nampak mengerut beberapa saat kala minuman itu sampai pada lidahnya. Sungguh terasa aneh.
"Hahaha!" Melihat Edo yang seperti itu mereka semua malah tertawa, Edo terlihat begitu lucu.
"Minum lagi," pinta Dimas. Membantu Edo untuk meminumnya hingga beberapa teguk.
Belum habis satu gelas itu Edo sudah tertunduk, kepalanya tiba-tiba merasakan pusing juga rasa kantuk. Brukk!
Wajah Edo langsung menempel pada meja, dia tidur, tak sadarkan diri.
Semua terlihat begitu senang karena Edo yang sudah langsung mabuk meski baru beberapa teguk saja.
Bersamaan dengan itu ada beberapa pria berandalan dengan baju yang sama datang mendekat. Wajah mereka terlihat begitu menyeramkan.
"Kak!" Panggil Dimas pada salah satu diantara mereka.
Andri yang begitu bingung melihat kedatangan mereka semuanya. Raut wajah Andri langsung berubah, ada takut tapi juga sangat terkejut.
"Kamu memanggil orang-orang geng!" pekik Andri dengan matanya yang membulat ke arah Dimas.
Terlihat sangat jelas, Dimas dan teman-temannya bukan untuk mentraktir Edo, melainkan mereka yang ingin meminta tolong pada orang-orang geng untuk memberi pelajaran pada Edo.
Dimas tidak menjawab, dia hanya menyeringai saja dan itu sudah jelas sebagai jawaban untuk Andri.
~~~~••~~~~
Bersambung...
__ADS_1