Sampah Sepertiku Mempunyai Body Goals Yang Baru

Sampah Sepertiku Mempunyai Body Goals Yang Baru
40. Panggilan Sayang


__ADS_3

~~``~~


Setelah pertemuannya dan melihat Edo yang saat itu tengah belajar bahasa Inggris membuat Yulia memutuskan untuk membantu mengajari Edo dalam bahasa Inggris, dengan itu juga Yulia bisa setiap malam datang dan bertemu dengan Edo.


"Kenapa?" tanya Edo. Keduanya duduk bersebelahan, karena tak mungkin akan berjauhan karena Yulia sedang membantu Edo.


Yulia yang malu-malu dilihat jelas oleh Edo. Rasa malu yang selalu muncul karena dia mengingat saat kejadian itu, dimana dia langsung memeluk Edo tanpa rasa malu juga takut, dia juga begitu semangat saat itu.


Yulia menggeleng, "tidak ada apa-apa," jawabnya dan yang jelas tidak sama dengan yang ada di dalam hatinya yang kini tengah merasa begitu bergemuruh.


"Oh, aku pikir__?" ucapan Edo menggantung begitu saja dan membuat Yulia penasaran. Sontak dia menoleh dan melihat Edo yang memandangi arah depan.


"Kamu pikir apa?" tanya Yulia, dia sangat penasaran karena ucapan Edo yang belum selesai. 'Sebenarnya apa yang Edo pikirkan saat ini?'


"Bukan hal penting," jawab Edo, dia menoleh dan tersenyum kecil pada Yulia.


Senyum yang begitu manis di tengah-tengah pipi yang begitu gembul membuat Yulia malu sendiri, senyum Edo terlihat begitu indah di matanya dan juga seakan mengisyaratkan sesuatu.


Yulia kembali fokus pada bukunya setelah memberikan senyum yang juga tak kalah manis. Melihat hal itu senyum Edo kini semakin lebar.


Semakin lama, dan setelah pertemuan yang kesekian kalinya membuat hubungan mereka juga kian dekat. Tak ada rasa malu lagi saat bertemu, tapi hanya akan ada rasa canggung di beberapa suasana dan juga selalu membuat mereka senang saat bertemu.


Yulia juga tidak pernah mempermasalahkan keadaan Edo yang gendut, tidak pernah sekali saja berkata hak yang menyinggung hati Edo apalagi kata-kata yang akan membuat dia sakit hati, Yulia begitu pandai dalam menjaga perkataannya.


"Bagaimana, kamu sudah paham kan, Domasku?" tanya Yulia.


"Domasku?" Seketika Edo membulatkan mata ke arah Yulia. Apa maksud dari panggilan aneh itu yang terasa begitu menggelitik di telinga.


"Hehe... Domasku, Edoku yang menggemaskan," Yulia meringis, deretan giginya yang putih nampak berjajar rapi di hadapan Edo.


Edo begitu tercengang, 'Edo ku yang menggemaskan?' batinnya. Hatinya mulai bekerja tak biasa. Semakin bergemuruh aneh dan memunculkan sesuatu yang begitu asing.


"Kenapa, matamu seperti itu? Kamu tidak suka dengan panggilan ku untukmu?" tanya Yulia, tatapan Edo membuatnya tak enak, apa jangan-jangan panggilan sayangnya itu telah menyinggung perasaan Edo?


"Bu-bukan seperti itu. Aku suka kok, hanya saja, terdengar lucu saja, aneh," jawab Edo. Benar aneh sih.

__ADS_1


"Tapi kamu suka kan?" tanya Yulia memastikan, menatap lekat wajah Edo untuk memastikan kalau Edo benar-benar tak masalah dengan panggilannya itu.


Edo mengangguk, "iya, aku suka."


Senyum Yulia semakin cerah, dia begitu senang karena tidak mendapatkan semburat tak sedih di wajah Edo. Sepertinya dia benar-benar tidak keberatan.


"Syukurlah, mulai sekarang aku akan panggil kamu Do-mas-ku," ucap Yulia mengeja.


"Terserah kamu saja," jawab Edo. Mendapatkan panggilan khusus dari Yulia membuat Edo merasa tersanjung, dia merasa dispesialkan oleh Yulia.


~``


Setelah pulang, Edo langsung berkaca pada cermin yang ada di rumah di dalam kamar, melihat tubuhnya yang begitu gendut. Tampangnya terlihat sangat buruk, bagaimana bisa Yulia nyaman bersamanya, bahkan dia juga terlihat begitu bahagia.


"Yulia begitu cantik, tinggi, dengan tubuhnya yang indah juga sempurna. Sangat tidak cocok dengan aku yang seperti ini." gumam Edo.


Membandingkan Yulia yang begitu sempurna dengan dirinya yang begitu buruk, dia merasa sangat tak pantas. Edo masih saja selalu merendah, dia memang lebih sensitif jika dengan tubuhnya yang gendut.


"Atau__?" Edo berpikir dengan begitu serius.


Edo tersenyum, bukan karena melihat pantulannya sendiri melainkan saat mengingat nama panggilan yang Yulia berikan padanya.


"Domasku," gumamnya. Hatinya ikut berbunga-bunga seiring kata yang terucap dari bibirnya. Mengingat panggilan itu, dan tentunya mengingat orang yang memberikan nama panggilannya juga.


Senyum Yulia yang lebih membuat dirinya begitu senang, baru kali ini dia merasa begitu dihargai oleh orang lain, apalagi itu seorang gadis. Yulia adalah gadis pertama yang mampu membuat Edo menjadi lebih semangat.


"Yulia Yulia," gumamnya. Senyumnya semakin lebar, apalagi saat memandangi pantulannya di cermin seakan dia melihat senyum manis itu, Edo tertegun dengan hati yang bergetar.


~~~~``


Kedatangan Edo ke sekolah ternyata membawa dampak baik untuk semuanya. Disaat Edo mulai serius belajar semua mulai mengikuti, semua juga mulai serius belajar.


Berawal dari para gadis yang ngefans sama Edo, mereka ternyata juga melakukan apa yang dilakukan oleh nya.


Melihat para gadis mulai serius para murid pria pun juga mulai membuka buku mereka. Awalnya memang hanya sebuah keisengan tapi lama-lama mereka semua juga mulai fokus dalam belajar begitu serius.

__ADS_1


Edo menarik senyum kala melihat semua anak yang nampak begitu serius dengan buku mereka di tempat. Semua yang mereka lakukan seolah mampu membuat Edo tersenyum. Hatinya juga begitu senang.


"Syukurlah, akhirnya mereka bisa mulai belajar juga." gumam Edo. Melihat itu tentu saja dia juga tak mau menyia-nyiakan waktunya, dia juga mulai sibuk dengan bukunya.


Baru juga beberapa saat Edo akan serius dalam sekejap dia langsung kembali menoleh, ada seorang cewek yg menghampirinya dan duduk di sebelahnya. Edo mengernyit.


'Sebenarnya apa yg dia inginkan?' batin Edo. Dia terus melihat gadis itu yang tersenyum.


"Edo, ajarin aku dong, aku belum mengerti tentang__, " ucap gadis itu dengan nada yang manja.


"Tentang apa?" Tanya Edo.


"Hem, tentara mempelajari isi hati kamu," jawabnya dan senyumnya semakin lebar.


Mata Edo semakin membulat, sejarah baru baginya. Ada perempuan yang datang dan menggombali dirinya.


"Uhuk uhuk uhuk!" Satu orang mirip pria dengan sengaja pura-pura batuk padahal itu juga karena mendengar ucapan gadis itu.


"Gue keselek," ucapnya.


"Keselek apa?" tanya teman sebelahnya.


"Keselek kisah asmara yang di tolak, hahaha," tawanya menggelegar dan diikuti oleh temannya juga.


"Syirik aja sih kalian," gerutu gadis itu yang terlihat begitu kesal. Namun ucapannya sama sekali tidak di gubris oleh kedua pria itu yang tetap tertawa.


Edo tak lagi menghiraukan mereka, dan kembali serius belajar, dan tak lama ketenangan datang. Tak ada suara apapun lagi.


**


Dua minggu berjalan begitu cepat, hingga akhirnya ujian pertengahan semester telah di mulai. Semua terlihat gugup, tapi juga meyakinkan diri kalau mereka pasti bisa. Dua minggu mereka belajar, tentu mereka bisa mengerjakannya. Pikir mereka.


~~``~


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2