
~~``~~
Bis sudah berjalan, hari yang direncanain telah tiba dan semua nampak semangat juga gembira menyambut acara rekreasi yang sudah direncanakan.
Bis besar yang Andri sewa telah penuh dengan semua teman-teman sekelas dan hanya tambah beberapa anak saja dari kelas kain karena Edo yang mengajaknya.
Semua nampak bersukacita, terus tertawa, berbincang-bincang hangat bahkan juga ada yang menyanyi. Semua nampak begitu heboh di tempat duduk masing-masing.
Setelah merasa penat belajar beberapa hari dalam menyambut ujian akhir sekarang tiba mereka merilekskan pikiran, bersenang-senang dan datang ke tempat yang sudah direncanakan.
Edo begitu senang, baru kalo ini dia bisa merasakan rekreasi bersama teman-teman sekelasnya, sebelumnya belum pernah dia rasakan. Hatinya begitu berbinar dan tak sabar untuk segera sampai ke tempat tujuan.
"Aku harus banyak-banyak berterima kasih dengan Andri, dia yang sudah membuat aku bisa merasakan kebahagiaan seperti ini," Edo tersenyum, melihat sejenak ke arah Andri yang ada di kursi depan, dia tidak menyadarinya karena dia tengah asyik.
"Terima kasih juga karena kamu sudah mengajakku," Giliran Ronald yang bicara. Dia menoleh ke arah Edo yang duduk bersebelahan dengannya.
Ronald yang lebih berterima kasih pada Edo, kalau tidak karena dia berinisiatif mengajaknya maka dia tidak akan ikut bersenang-senang seperti sekarang. Benar begitu bukan?
"He'em," Edo mengangguk, tersenyum kepada Ronald yang terlihat begitu bahagia sama seperti dirinya.
Kebahagiaan benar-benar terasa, Edo melihat beberapa teman yang dia ajak di kursi belakang, mereka juga nampak bahagia. Kebahagiaan Edo begitu berlipat ganda sekarang karena mereka yang bisa ikut.
Meski Edo tidak memiliki wewenang sebenarnya tapi syukur Andri memperbolehkan mereka ikut. Ternyata, Andri sangat baik meski terkadang suka menyebalkan. Sikap acuh dan juga sombongnya memang sangat menyebalkan, tapi di balik itu ternyata ada secuil rasa simpati pada yang lain.
"Mereka juga terlihat sangat bahagia, dan itu semua karena kamu," ujar Ronald lagi, dia ikut serta menoleh melihatnya.
Bagi Ronald orang yang paling pantas mendapatkan ucapan terima kasih itu adalah Edo, karena tampa Edo dia dan juga yang lain tidak akan bisa ikut serta dalam acara itu.
"Hem, aku senang melihatnya," jawab Edo. Dia tersenyum sebelum akhirnya membawa senyum itu kembali pada ke arah depan.
Setelah perjalanan jauh, akhirnya bis sampai di tempat tujuan, sebuah Base kamp di dekat pinggir kota Jakarta. Semua nampak berseru sangat senang. Mereka bersorak kegirangan dan langsung berdiri melihat luar meski belum bisa turun.
Tour guide juga Andri sewa untuk bisa membantu mereka semua dalam perjalanan di rekreasi mereka. Andri benar-benar mempersiapkan segalanya sejak awal.
Bis sudah berhenti, tapi para gadis masih terlihat begitu fokus pada salah satu pria yang sangat tampan, Mario. Seorang tour guide. Mereka terlihat bingung melihat Mario atau Edo yang lebih tampan di dalam bis.
Keduanya sama-sama tampan dan memiliki khas yang berbeda.
"Mari, kita sudah sampai di base kamp," ujar Mario. Mulai mengarahkan untuk semuanya turun dan Mario juga membantu para gadis untuk mengambil tas mereka.
Mereka pun masih terus membandingkan Edo dan juga Mario bahkan sampai Mario mulai turun. Satu persatu semuanya pun juga turun dari bis.
Semua mulai berhamburan, berlari ke tempat-tempat wahana yang begitu indah. Menampilkan pemandangan yang begitu memukau dan tentu juga memanjakan mata mereka semua.
__ADS_1
Semua begitu asyik, berlarian kesana kemari dengan begitu semangat. Semua hiburan tak ada yang terlewatkan.
Edo dan juga para teman-temannya juga terlihat begitu bahagia. Menikmati semua wahana dan sesekali mengabadikan momen yang begitu indah yang pasti akan menjadi kenangan di kemudian hari.
Malam hari tiba. Semua nampak begitu lahab makan malam mereka. Berkumpul menjadi satu dan menikmati pesanan yang sudah mereka makan.
"Na na na na...," Di tengah-tengah acara makan malam, Edo yang sudah selesai malah mulai menyanyi. Suaranya begitu merdu dan membuat semua teman-teman menoleh ke arahnya.
Bukan hanya Edo, setelah Ronald juga selesai makan malamnya dia juga ikut mulai menyanyi bersama Edo. Menyahut lagu Edo hingga keduanya duet bersama.
Keduanya saling melihat, tersenyum di sela-sela lagu yang mereka nyanyikan.
Semua yang belum selesai nampak terburu-buru untuk segera menghabiskan makanannya. Dan setelah selesai mereka terlihat fokus dengan Edo dan Ronald, memandangi keduanya bergantian dan juga mulai menikmati lagu yang mereka nyanyikan.
Tepukan tangan mulai menggema, mengiringi lagu Edo dan Ronald. Membuat gerakan yang sama dan terlihat begitu kompak.
Semakin meriah suana makan malam yang sudah selesai, tergantikan dengan suara lagu yang Edo dan Ronald nyanyikan.
Keesokan harinya. Semua sudah mulai bersiap dengan aktivitas selanjutnya yang akan mereka lakukan.
Dengan tas punggung masing-masing semua sudah berkumpul menjadi satu. Mereka semua terlihat begitu bahagia juga semangat, siap untuk mendaki gunung bersama-sama.
Gunung yang tidak begitu tinggi namun sangatkah indah pemandangannya membuat semuanya begitu semangat untuk segera jalan.
"Mohon untuk tetap bersama-sama, jangan sampai ada yang pisah. Jika ada yang lelah kita bisa istirahat dulu dan jika ada yang tidak kuat maka harus langsung mengatakannya pada saya," seru Mario memberikan arahan.
__ADS_1
"Siap!" seru semuanya menjawab. Suaranya begitu kompak dan begitu tegas. Mereka terlihat sudah tidak sabar untuk segera berjalan.
Ronald dan juga Edo terus saja bersama-sama, bahkan mereka kini masih bersisihan.
"Kamu yakin kuat kan?" tanya Edo. Melihat tubuh Ronald yang gemuk dia terlihat khawatir sih. Takut kalau sampai Ronald tidak kuat dan akan kelelahan nantinya.
"Aku pasti kuat, kamu tenang saja, Do. Jangan terlalu khawatir," jawab Ronald. Tersenyum dan berbicara dengan meyakinkan.
"Baiklah, kalau jamu yakin aku juga akan yakin. Tapi kalau kamu tidak kuat kami bilang saja ya, nanti kita bisa berhenti dulu," ucap Edo.
"Iya, pasti." jawab Ronald.
Melihat Ronald membuat Edo juga teringat akan tubuhnya yang gemuk. Seandainya dia juga tengah memakai tubuhnya yang gemuk untuk mendaki dia juga akan ragu akankah bisa kuat atau tidak untuk mendaki.
"Do, kamu kenapa?" tanya Ronald penasaran, Edo malah melamun setelah bicara dengannya. Entah apa yang Edo pikirkan barusan hingga dia melamun seperti itu.
"Hah!" Edo terkesiap. Dia langsung tersadar karena panggilan dari Ronald barusan.
"Hem, kenapa sih? Kamu masih khawatir?"
"Tidak, tidak ada apa-apa." jawab Edo meyakinkan.
Mata Ronald memutar karena bingung, tapi itu tidak berlangsung lama karena semua teman-temannya sudah mulai berjalan.
"Yuk," ajak Ronald. Edo pun mengangguk dan langsung berjalan.
Perjalanan begitu lancar, tak ada hambatan apapun dan terasa begitu mudah untuk semuanya.
Setelah sampai di puncak, para gadis mulai aktif, padahal tadi Fu perjalanan banyak yang mengeluh lelah, tapi sekarang? Semua itu karena mereka melihat keindahan pemandangan yang sangat luar biasa, hingga akhirnya mereka mulai bersua foto.
Semua begitu senang, mengambil foto kesana kemari dengan pose yang begitu banyak macam, hingga mereka juga tak segan meminta foto bersama dengan Mario yang begitu tampan.
Tapi, keberuntungan Mario tidak di dapat oleh Ronald, para gadis nampak tak suka bahkan ada beberapa gadis yang menghina karena keadaannya. Ronald terlihat begitu buruk di mata mereka, terlihat begitu gemuk dengan wajah yang nampak berkeringat.
"Ihh!"
Ronald tetap diam, mengabaikan semua yang para gadis itu katakan.
Edo yang melihat hal itu menjadi ingat dengan tubuhnya yang gemuk. Jika dia memakai tubuhnya yang gemuk pasti perlakuan para gadis padanya akan sama dengan yang mereka lakukan pada Ronald.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Edo.
"Tentu, aku baik." Ronald mengangguk. Sepertinya perkataan dari para gadis tidak dia permasalahan. Ronald tetap terlihat begitu tenang seperti biasanya.
__ADS_1
~~``~~
Bersambung...