
~~``~~
Karena perkataan dari para polisi membuat Edo terus saja kepikiran akan hal yang mungkin terjadi di tempat rekreasi. Edo nampak begitu gelisah dia bingung harus bagaimana, tapi dia harus tetap memberitahu kepada semua yang ada di sana, tapi sayangnya dia tak ada ponsel sama sekali sekarang.
"Ini bagaimana, aku tidak ada ponsel untuk menghubungi semua orang di sana. Tapi ini sangat bahaya, Mario bukan orang baik, dia sangat jahat. Bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu pada para gadis?" gumam Edo.
Rasa gelisah semakin besar kala Edo mengingat bagaimana para gadis terus saja mengejar Mario, mereka begitu tertarik padanya bahkan mereka begitu antusias meminta foto juga mengatakan kata-kata yang seperti merayu.
Toko sudah semakin sepi, bahkan tak ada satupun pembeli yang datang.
Edo semakin tak karuan, dia bahkan terus mondar-mandir memikirkan sesuatu supaya bisa memberitahu pada semua orang.
"Apa aku tidur saja? Dengan cara seperti itu aku bisa kembali ke sana dengan cepat." ide yang bisa di lakukan dan pasti sangat pas.
Edo mulai mengambil posisi untuk tidur, dia terus berusaha untuk bisa tertidur saat itu juga, tapi sayang, dia sama sekali tidak bisa tidur karena memang tidak merasa ngantuk sama sekali.
"Arghh! Ini bagaimana?" pekik Edo merasa frustasi. Di saat dalam keadaan yang begitu genting seperti sekarang tapi kenapa malah begitu susah untuk bisa tidur.
Edo kembali berusaha, mengganti posisi yang lebih nyaman siapa tau dia akan bisa tidur.
"Ini bagaimana sih?!" Edo kembali berseru. Dia masih tidak berhasil dan membuat dia mengacak rambutnya dengan sangat kasar.
Biasanya dia akan mudah tidur, tapi kenapa tidak dengan sekarang? Apa yang terjadi?
Edo kembali beranjak, dia semakin bingung apa yang harus dia lakukan sekarang. Tapi yang jelas dia sangat khawatir dan dia harus mengatakan semuanya pada orang-orang di tempat rekreasi.
Edo menoleh, tidak sengaja dia melihat obat tidur yang terpajang di dalam etalase kecil tak jauh dari tempat dia berdiri.
"Apa aku minum obat tidur saja?" gumam Edo. Berpikir sejenak sebelum dia memutuskan langkah yang akan dia ambil.
Setelah yakin Edo langsung berlari ke tempat etalase, meraih obat tidur tersebut dan memutuskan untuk segera meminumnya. Edo kembali berlari, mengambil air mineral lalu duduk di tempat yang tadi.
"Semoga ini berhasil." gumamnya.
Dengan buru-buru Edo meminumnya, dia berharap setelah itu dia bisa tidur dengan cepat. Apalagi dia mengingat para gadis masih terus bersama dengan Mario.
Sebelum dia tidur para anak-anak gadis malah tengah meminta Mario untuk mengantarkan mereka pergi ke lautan bunga yang indah di samping penginapan. Tidak terlalu jauh, tapi tetap saja akan butuh waktu.
__ADS_1
Semakin memikirkan Edo semakin takut, dia takut kalau sampai dia terlambat dan datang setelah sudah terjadi hal buruk pada teman-teman gadisnya.
Para laki-laki yang lelah dan juga bosan mereka memutuskan untuk tidak ikut. Istirahat lebih menyenangkan bagi mereka daripada jalan, maka dari itu Edo semakin gelisah.
"Aku harus bisa secepatnya tidur," gumamnya setelah berhasil meminum obat tidur itu. Meletakkan air mineralnya di tempat terdekat.
Baru beberapa menit minum obat tidur Edo langsung tertidur di tempat itu, dan dengan pasti dia langsung terbangun di tubuhnya yang sempurna.
"Akhirnya," gumamnya. Edo nampak buru-buru bangun, dia merasa sangat lega karena berhasil bangun di tempat rekreasi.
Edo berlari keluar dengan buru-buru, dia sudah sangat khawatir, dia sangat takut kalau ada hal buruk terjadi pada teman-teman gadisnya.
Nafas lega berhembus dari hidung Edo, baru keluar dia melihat teman-teman gadisnya yang tengah berjalan masuk setelah pergi.
"Akhirnya mereka pulang, dan syukurlah tidak terjadi hal buruk pada mereka."
Edo masih terus melihat satu persatu teman-teman gadisnya, bahkan Edo juga menghitungnya hingga akhirnya dia mendapati ada dua teman gadisnya yang tidak ada di barisan.
"Mereka di mana?" Edo mulai khawatir.
Kembali Edo melihat lagi, memastikan kalau dia salah menghitung tapi ternyata dia benar. Memang ada dua teman yang tidak ada.
Edo berlari dengan cepat dan berhenti tepat di hadapannya.
"Edo, ada apa?" tanyanya.
"Itu, teman kalian, siapa namanya?" Edo nampak berpikir dia lupa dengan nama dua temannya.
Mereka saling celingukan, hingga akhirnya mendapati kedua temannya tidak ada.
"Dina dan Ririn maksudmu?" salah satu menjawab. Yang lainnya mengernyit karena tak mengerti kenapa Edo mencari mereka, apa ada sesuatu diantara mereka?
"Ya, Dina dan Ririn. Mereka dimana?" tanya Edo. Wajah khawatirnya tentu di lihat oleh mereka.
"Mereka masih bersama dengan Mas Mario. Kenapa? Hayo, jangan-jangan kamu cemburu ya?" godanya. Mereka malah berpikir kalau Edo suka dengan mereka dan tengah cemburu. Kalau tidak! Tidak mungkin kan ada rasa khawatir yang berlebihan.
"Gawat," ucap Edo. Dia tidak menjawab ucapan dari para gadis itu dan hendak pergi. Tapi, baru juga dia menoleh hendak berbalik ada Andri yang datang.
__ADS_1
Edo kembali berhenti namun posisinya sudah berganti ke arah Andri yang datang dan melangkah semakin dekat ke mereka.
"Ada apa, semua baik-baik saja kan?" tanya Andri. Dia datang hanya untuk memastikan semua baik-baik saja, ingin menayangkan keadaan semuanya.
Edo menoleh ke arah teman-teman gadisnya sebentar sebelah dia meraih lengan Andri dan membawanya menjauh beberapa langkah dari para gadis.
"Ada apa sih?" Andri nampak terkejut, dia bingung dengan sikap Edo yang seperti itu. Meski dia seperti akan protes tapi tetap mengikuti kemana Edo membawanya.
Setelah jaraknya cukup aman Edo berhenti dan langsung menghadap ke arah Andri yang terlihat kebingungan. Menoleh sebentar ke arah para gadis, mereka juga terlihat bingung.
"Mereka kenapa?" tanya salah satu gadis pada temannya.
"Mana saya tau," jawabnya sembari mengangkat kedua bahunya dan juga menjawab dengan acuh. "Kamar yuk, aku lelah banget."
"Hem," Temannya mengangguk dan langsung berjalan namun masih sangat ragu. Sekali dia berhenti dan menoleh lagi ke arah Edo dan Andri. 'Sebenarnya ada apa sih? Semoga saja semua baik-baik saja.' batinnya. Lalu berlalu pergi.
Sementara Edo dan Andri sudah berhadapan dan saling memandang.
"Ada apa sih, Do?" tanya Andri tak sabar ingin tau.
"Aku dapat berita buruk, Dri."
"Berita buruk, maksudnya?" Andri mengernyit, dia semakin penasaran dan tak sabar untuk tau. Berita buruk apa yang Edo ingin sampaikan.
"Ternyata, Ternyata Mario itu bukan orang baik-baik. Dia seorang pembunuh dan juga suka melakukan kekerasan s*ksual pada para gadis."
"Kamu jangan sembarangan, Do. Jangan main-main ya." Andri nampak tidak percaya tapi sekaligus juga terkejut.
"Ini benar, Dri. Dan aku sangat khawatir karena masih ada dua teman perempuan kita yang ada bersamanya. Aku takut hal buruk terjadi pada mereka. Kita harus segera pergi mencari mereka, Dri."
"Ini beneran?" tanya Andri. Tatapannya begitu serius pada Edo.
"Ini beneran, Dri. Saya tidak bohong!" Edo begitu menegaskan hingga akhirnya Andri mulai percaya.
"Baiklah, kita cari mereka sekarang." Andri mengangguk.
Keduanya langsung berlari untuk mencari para teman-temannya, jelas mereka tak mau sampai hal buruk terjadi pada mereka.
__ADS_1
~~``~~
Bersambung...