Sampah Sepertiku Mempunyai Body Goals Yang Baru

Sampah Sepertiku Mempunyai Body Goals Yang Baru
43. Rencana Jalan-jalan Andri


__ADS_3

~~``~~


"Hem..., bagaimana kalau nanti pas liburan kita pergi rekreasi? Ya, hitung-hitung buat rilekskan pikiran kita," ujar Andri. Dengan begitu antusias dia mengajak semuanya yang kini tengah berkumpul di dalam kelas.


Ya! Setelah membaca pengumuman ujian akhir mereka semua masuk ke kelas, bukan karena permintaan guru tapi karena inisiatif mereka sendiri.


Semua nampak terdiam sejenak, memikirkan ajakan Andri yang terkesan sangat mendadak. Mereka juga saling pandang memandang seolah mereka tengah berbicara tapi dengan bahasa isyarat.


"Bagaimana, setuju nggak dengan saran saya." tanya Andri lagi. Dengan serius Andri memandangi semua teman-teman sekelasnya itu. Yang mana mereka masih terlihat bingung.


Jika benar, bagaimana bisa semua dipersiapkan dalam waktu singkat. Kalau murid-murid dari anak orang kaya nisa saja langsung berangkat, tapi untuk yang lain?


"Aku tau kekhawatiran kalian, tenang. Aku akan bertanggung jawab untuk semuanya. Aku yang akan membayar semua biayanya, bagaimana? Setuju kan?" ujar Andri lagi.


Tersenyum penuh keyakinan pada semua teman-temannya yang semula masih termangu.


"Boleh lah, mau kemana kita?" Dimas yang menjawab lebih dulu. Tak masalah mau kemanapun dia dan juga para komplotannya akan tetap ikut.


"Terserah kalian, semua bisa di bicarakan. Asal kalian semua yak maka kita akan berangkat." Andri semakin senang.


"Asyik, kita jalan-jalan gratis nih," celetuk Dodo. Dia seketika menyerobot duduk di tengah-tengah semua temannya.


"Heh!" Andri mengangguk pelan.


"Baiklah, kita setuju. Kita akan jalan saat liburan."


"Betul, kita pergi bersenang-senang. Pasti akan sangat menyenangkan."


"Benar, seharusnya kita sering-sering jalan supaya bisa merilekskan pikiran dari penatnya belajar."


Begitu banyak kata-kata yang muncul di bibir semua murid, beberapa susah langsung setuju dan memberikan jawaban, tapi ada juga yang masih diam dalam kebingungan.


"Kamu bagaimana, Do?" tanya Andri seraya menoleh ke arah Edo yang duduk diam.


"Hah! Aku?" Edo menoleh dengan cepat dan langsung memandangi Andri yang kini sudah mengangguk.


"Iya, kamu! Kamu setuju kan?" tanya Andri menegaskan.


"Boleh, tapi aku mau ngajakin beberapa teman. Tidak apa-apa kan?"

__ADS_1


"Teman, siapa?" Andri mengernyit dann semuanya juga langsung penasaran dengan siapa saja yang akan Edo ajak untuk ikut jalan-jalan bersama mereka.


"Ronald, Nino dan juga para murid yang mendapat peringkat awal. Mereka harus ikut." jawab Edo.


"Hah!" Semua mata terbelalak ke arah Edo, wajah mereka juga terlihat terkejut tak percaya. Semua murid yang Edo ajak adalah murid-murid yang selalu di bully oleh semua murid.


Edo hanya mengangguk enteng menanggapi keseriusan semua teman-temannya, bahkan Edo hanya meringis kecil.


"Seriusan?!" seru semua serentak.


Lagi-lagi Edo hanya mengangguk enteng dengan ekspresi wajah yang cukup menggemaskan. Sementara semua teman-temannya masih termangu memandanginya dengan mata yang membulat.


~~~~``


Begitu senang Edo mendapat peringkat pertama di kelas, setelah di rumah dia mengganti tubuhnya dan bergegas mengambil ponsel. Setelah ponsel ada di tangan Edo duduk dengan tenang lalu mencari nomor Ratih. Bukankah dia harus memberikan kabar baik itu pad neneknya?


Tut tutt...


Tak butuh lama telfon langsung tersambung, dan tentu langsung di jawab oleh Ratih.


"Hallo, Nek," sapa Edo. Rasanya tak sabar untuk segera memberitahu kabar gembira itu.


"Hallo, Nak. Bagaimana kabarmu, baik?"


"Benarkah?" Ratih terdengar tak percaya, dia begitu terkejut tapi ada suara bahagia di kata-katanya.


"Benar, Nek." jawab Edo kembali meyakinkan.


"Terima kasih Ya Tuhan," ucap Ratih. Suaranya terdengar gemetar juga mulai serak-serak, sepertinya Ratih menangis di seberang sana.


Mendengar itu Edo ikut terharu, dia senang karena dia tau bahwa neneknya itu menangis tapi tangis bahagia. Edo harus lebih giat lagi belajar supaya bisa membuat neneknya bangga padanya.


Telfon tertutup, Edo ataupun Ratih sama-sama bahagia meski di tempat yang berbeda. Seandainya ada di tempat yang sama pasti mereka akan saling berpelukan saat ini.


Edo kembali berdiri, melihat dirinya dari pantulan cermin.


"Aku harus lebih giat lagi dalam olahraga. Kalau perlu aku harus menambah waktunya, aku harus bisa menjadi lebih baik." gumamnya.


Edo tidak hanya ingin baik dalam akademik saja, tapi dia juga ingin tubuhnya berubah menjadi lebih baik dari sekarang.

__ADS_1


~~~~``


Setiap malam hari Edo akan tetap bekerja paruh waktunya di tempat biasa. Dan disaat itu juga Yulia selalu saja menemuinya.


Bilangnya datang untuk membeli sesuatu padahal itu hanya alasan saja supaya dia bisa bertemu dengan Edo dan juga berbincang-bincang. Kalau tidak dengan seperti itu bagaikan mungkin Yulia bisa bertemu dengan Edo.


"A-apa kamu tidak lelah?" tanya Edo pada Yulia. Bagaimana tidak! Jarak toko juga rumah Yulia lumayan jauh pasti akan sangat melelahkan jika terus berjalan.


"Kenapa lelah, tidak ada." jawab Yulia. Dia terlihat baik-baik saja, padahal kenyataannya juga memang sangat melelahkan tapi dia sangat ingin bisa bertemu dengan Edo dan berbicara berdua.


"Syukurlah, tapi kamu harus tetap hati-hatinya ya. Dan ya! Jangan terlalu sering nanti capek," ucap Edo.


"He'em," Yulia mengangguk. Pipinya merona mendapatkan ucapan seperti itu dari Edo. Ucapannya seperti memberikan perhatian.


"Sekarang kamu butuh apa?"


"Hem, bentar," Yulia gegas melangkah, sepertinya menuju ke arah tempat dimana dia akan mendapatkan apa yang dia butuhkan.


Edo tidak tinggal diam, dia juga melangkah mengikuti Yulia. Hingga akhirnya berhenti ke tempat barang yang Yulia ingin.


~~~~``


Di waktu yang super padat Edo juga masih tetap meluangkan waktu untuk datang ke tempat Ronald untuk melakukan siaran langsung.


Seiring waktu Ronald semakin bertekad untuk menjalani siaran langsung, penonton mulai banyak dan mulai mendukung dan mengakui keberadaannya.


"Akhirnya," Ronald terlihat begitu bahagia, dia terus tersenyum di hadapan Edo yang juga senang karena keberuntungan Ronald kali ini.


Edo juga tak henti-hentinya memberikan semangat pada Ronald untuk terus maju, dia harus yakin kalau semuanya pasti akan mengakuinya dan juga akan mulai suka. Dan ternyata benar juga yang selalu Edo katakan itu.


"Selamat ya, akhirnya perjuanganmu mulai membuahkan hasil," ucap Edo. Dia tersenyum.


"Terima kasih, Do. Semua ini juga berkat kamu. Kalau tidak, entah aku sanggup atau tidak. Mungkin aku tidak akan sampai di titik ini." jawab Ronald.


Kembali keduanya tersenyum bersama. Lalu kembali melakukan siarannya.


Dulu, begitu banyak yang menertawakan Ronald, menganggap dia tidak bisa melakukan apapun, tapi sekarang? Semua mendukungnya. Mereka mulai mendukung Ronald untuk menyanyi juga dalam pembuatan lagu.


Bukan itu saja, beberapa hari belakangan ini juga mulai ada agensi yang mencari Ronald untuk tanda tangan kontrak. Mereka menginginkan Ronald menjadi artis di bawah naungan mereka.

__ADS_1


~~``~


Bersambung....


__ADS_2