
``
Akhirnya, mereka semua turun gunung setelah hari sudah sore. Wajah-wajah lelah sudah terlihat jelas di mereka semua tapi tetap mereka sembunyikan dengan senyum yang masih terus menghiasi wajah mereka.
Kaki yang sudah lelah seakan tidak terasa karena mereka bersama-sama. Tak ada yang berwajah cemberut saat ini, semua melangkah juga masih semangat meski sebenarnya tidak seperti itu.
Setelah turun gunung, pemimpin membawa mereka semua berkunjung ke banyak pangkalan militer. Rasa lelah terasa hilang seketika setelah melihat semua yang ada di pangkalan militer.
Banyak dari mereka yang juga mengabadikan momen itu, tapi juga ada yang hanya sekedar mengambil foto dari beberapa perlengkapan militer yang terpajang begitu rapi.
"Ronald, kamu masih kuat?" tanya Edo. Dia menoleh ke arah Ronald yang tetap berjalan di sebelahnya sedari awal. Hanya sesekali saja mereka akan berjalan beriringan, lebih sering berjalan berdampingan sih.
"Masih, aku masih sangat kuat." jawab Ronald. Memberikan senyum yang sumringah, wajahnya masih terlihat berbinar dan seolah tak ada semburat lelah sama sekali.
"Syukurlah kalau begitu. Ayo," ajak Edo. Keduanya kembali berjalan. Mengikuti para teman-teman yang sudah jalan lebih dulu.
Sesekali Edo dan Ronald juga mengabadikan beberapa perlengkapan militer tersebut, mereka tidak ketinggalan seperti temannya. Keduanya juga harus mengabadikan momen tersebut, karena semua yang terjadi sekarang belum tentu akan kembali terjadi lagi.
Di sisi lain, Dimas dan juga para teman-temannya begitu heboh. Mereka begitu senang dan melangkah kesana kemari untuk melihat semua tempat. Mereka juga terlihat begitu menikmati acara tersebut. Sementara Andri, dia berjalan di depan mereka seperti menjadi seorang pemimpin. Jelas, dia adalah orang yang bertanggung jawab atas perjalanan ini.
Perjalanan yang begitu menyenangkan harus berakhir, semua masih nampak semangat keluar dari pangkalan militer. Semua langsung menuju ke tempat penginapan untuk istirahat.
Setelah sampai di tempat penginapan semua menuju ke tempat masing-masing, begitu juga dengan Edo.
Edo yang merasa sudah lelah dan juga sudah bersih-bersih lebih dulu langsung merebahkan tubuhnya. Berbaring dengan nyaman hingga akhirnya dia tertidur dengan begitu cepat.
Dengan tidurnya Edo di tempat penginapan maka dia juga akan terbangun namun di tempat yang lain. Edo gemuk yang terbangun sekarang.
Sejenak Edo merenggangkan badannya, meski baru bangun tidur tapi tetap saja terasa kaku-kaku semua. Edo harus banyak-banyak olahraga mulai sekarang supaya badannya tidak akan lemah seperti sekarang ini.
__ADS_1
Wajahnya mendongak, melihat jam dinding yang bertengger di dinding. Jam sudah menunjukkan waktu untuk Edo pergi ke tempat kerja paruh waktunya.
"Aku harus segera berangkat, kalau tidak aku bisa terlambat." gumamnya. Seketika Edo beranjak dari tempatnya dan bergegas untuk membersihkan diri sebentar sebelum pergi.
Edo begitu memastikan semuanya, setelah semuanya beres baru dia berangkat.
~~~~``
Kesibukan kembali Edo jalani sekarang di tempat kerjanya. Semua sudah dia bereskan dan terlihat rapi, menunggu para pembeli datang.
Ada beberapa pembeli yang berdatangan, membeli perlengkapan yang mereka perlukan. Dan Edo melayani mereka dengan begitu ramah, sesekali tersenyum ramah untuk membuat mereka semua nyaman berada di toko dan akan selalu datang.
Pelayanan terbaik harus selalu di berikan, jika mereka semua mau terus belanja di tempat itu pastilah toko akan ramai dan hati pemiliknya akan selalu senang. Itu akan membuat dirinya jiga ikut senang.
Setelah menerima uang dari pembeli Edo bergegas menyimpannya di tempat yang sudah semestinya. Disaat yang bersamaan toko kedatangan beberapa polisi yang ingin membeli beberapa camilan dan juga rokok.
Samar-samar Edo mendengar percakapan mereka. Edo begitu pasang telinga untuk bisa mendengar dengan jelas pembicaraan mereka.
"Susah sekali mencari tahanan itu. Kemana lagi kita harus mencarinya." ucapnya salah satu diantara mereka.
"Iya, tapi setidaknya kita harus tetap mencari, siapa tau dia ada di daerah sekitar sini. Kita tidak boleh mengabaikannya begitu saja, jangan sampai kejahatan yang dia lakukan akan kembali terulang lagi."
"Iya, kita harus bisa menangkapnya dengan cepat. Kalau tidak, bisa bahaya. Bisa jadi akan ada korban-korban baru yang menjadi sasarannya."
Suaranya begitu jelas Edo dengar, apalagi Edo juga mendengar dengan begitu seksama dan tidak membuat pergerakan yang akan membuat pembicaraan mereka tidak dia dengar, Edo diam dan fokus mendengarnya.
"Dek, tolong bungkus ini," ucap salah satu polisi. Memberikan camilan yang sudah dipilih dan juga rok*k yang dia ambil.
"Baik, Pak." Edo langsung melakukan apa yang di minta. Membungkus semua camilan yang ada di hadapannya dan juga membungkus dengan plastik yang berbeda beberapa bungkus rok*k.
__ADS_1
Beberapa polisi itu nampak menunggu dengan sabar, mengawasi Edo yang sudah sibuk dengan pergerakannya. Menghitung satu persatu dari harga semuanya baru menoleh ke arah polisi sembari memberikan.
"Berapa?" tanyanya.
"Tujuh puluh lima ribu, Pak." jawab Edo. Uang langsung di Terima oleh Edo tentu polisi masih menunggu uang kembaliannya saat ini.
Tak lama Edo memberikan kembaliannya pada polisi. Mereka bergegas keluar. Tapi belum juga jadi keluar dari toko salah satu polisi menyodorkan kertas pada Edo.
"Dek, apa kamu pernah melihat orang-orang ini di sekitar sini?" Tanya salah satu polisi menunjukkan foto yang ada di gambar.
Edo nampak terdiam, melihat dengan teliti foto tersebut. Melihat salah satu foto di hadapannya seketika wajah Edo nampak berubah. Terlihat begitu aneh.
"Dek, kamu tidak apa-apa?" tanya polisi. Wajah Edo terlihat begitu aneh untuknya.
'Bu-bukankah ini Dalam Mario?" G
gumam Edo. Dia sangat ingat betul aja wajahnya. Edo masih sangat ingat.
"Dek, apa kamu pernah melihatnya?"
"I-ini Mario kan, Pak?"
"Ya, benar. Apakah kamu pernah melihatnya."
"I-iya, Pak. Dia ada di__,, " Edo langsung memberitahu keberadaan Mario sekarang.
"Benar kan, Dek?"
"Benar, Pak." Jawab Edo. Polisi seketika langsung beraksi setelah mendapat informasi dari Edo.
__ADS_1
~~``~
Bersambung..