Sampah Sepertiku Mempunyai Body Goals Yang Baru

Sampah Sepertiku Mempunyai Body Goals Yang Baru
55. Dipermalukan


__ADS_3

~~``~~


Edo merasa sedikit tenang sekarang di rumah, setelah bekerja dia bisa mendapatkan penghasilan sendiri, penghasilan lebih yang bisa dia gunakan untuk kebutuhannya sehari-hari juga sesekali akan dia berikan pada Ratih.


Semakin hari, pemasukan semakin bertambah, jelas membuat dirinya semakin senang. Bukan karena bisa memenuhi kebutuhannya saja, tapi yang jelas dia tak lagi merepotkan Ratih. Dia tidak akan membebani Ratih yang sudah tua, bukankah saatnya memang Edo yang harus memberi, bukan diberi?


“Mau buat apa ya?” gumamnya. Di tangannya ada beberapa jumlah uang dari hasil kerja kerasnya. Memandangi dengan puas, dengan penuh kagum pada dirinya sendiri.


“Hem, bagaimana kalau aku beli baju saja, ya! Aku akan membelinya.” Edo tersenyum. Melihat sejenak uang yang sebenarnya tak seberapa itu lalu beralih pada tubuhnya yang gemuk yang hanya memakai pakaian sederhana saja.


Pakaian yang sedang sua kenakan adalah baju yang sudah sangat lama, sudah sangat bias dan juga sudah mulai pudar warnanya. Bukankah itu memang lebih baik di ganti saja?


“Ya! ku akan membeli baju saja untukku sendiri.”Edo sudah tersenyum, membayangkan tubuhnya yang gemuk akan memakai baju baru. Akan sangat puas karena dia mendapatkan baju itu dari hasil kerja keras sendiri.


Teringat beberapa waktu lalu, Edo tampan pergi bersama Andri ke salah satu toko besar dan mewah. Berbagai pakaian modis berjajar rapi di sana, beraneka macam warna, model dan juga brand ternama ada di sana.


Edo juga teringat, saat itu Andri membeli dan selalu saja memakai pakaian modis itu sungguh membuat Edo ingin juga mencobanya. Mungkin memang akan sedikit berbeda, tapi tak akan menjadi masalah kan? Siapapun bisa memakai pakaian seperti apapun, begitu juga dengan dirinya.


Kembali Edo mengajak pergi neneknya ke toko. Dia meminta ditemani, tapi bukan karena dia takut melainkan Edo hanya ingin sekalian mengajak Ratih jalan-jalan supaya tidak jenuh di rumah. Syukurnya Ratih setuju dan mereka hanya berangkat dengan kendaraan seadanya. Hanya naik bis.


Setelah tak berapa lama di perjalanan akhirnya bisa berhenti di depan toko yang kebetulan ada di pinggir jalan. Sungguh menguntungkan bukan. Edo sudah sangat tak sabar, ingin sekali membeli pakaian yang modis yang mungkin akan membuatnya semakin terlihat baik.


“Nek, kita sudah sampai,” ujarnya. Wajahnya begitu sumringah setelah turun dari bis dan memandang toko yang begitu ramai akan pengunjung tersebut.


Ratih tersenyum, jelas dia juga akan sama bahagianya seperti Edo. Bukan karena ingin membeli baju lagi juga, tapi karena melihat Edo yang begitu bahagia. Ratih mengangguk sekilas, menatap cucunya. “Kamu senang?”


Jelas Edo mengangguk cepat mendapat pertanyaan itu dari Ratih, Ratih pun tambah tersenyum lagi. “Tentu saja, Nek. Edo sangat senang.”


“Kalau begitu kita masuk sekarang.” ajak Ratih.

__ADS_1


Begitu antusias Edo untuk segera masuk, melihat pakaian yang ada di dalam, berjajar rapi, seolah sedang melambai-lambai ingin secepatnya di ambil oleh Edo, padahal itu hanya bayangan Edo saja.


“Nek, Edo harus beli yang paling bagus. Dengan itu Edo akan terlihat berbeda.” ujarnya seraya melangkah masuk.


“Tentu, kamu harus membeli yang paling bagus. Nenek juga ingin melihat cucu nenek ini terlihat tampan.” Senyum Edo semakin merekah, tapi dia merasa sedikit malu.


”Ayo,” ajak Ratih kembali. Dan Edo mengangguk semangat.


Baru juga sampai depan pintu, Edo dan juga Ratih sudah menjadi pusat perhatian. Mata-mata yang ada di dalam semua memandangnya, bahkan orang yang sedang sibuk memilih pun juga langsung menoleh, seakan ada magnet yang membuat mereka seketika menoleh.


Kini Ratih merasa ragu. Dia ingin masuk tapi tatapan yang mereka berdua dapatkan bukan tatapan penuh ketertarikan, melainkan seperti orang merendahkan. Tatapan sinis yang selalu mereka dapat dan lagi-lagi mereka dapat di toko itu.


“Nenek kenapa?” tanya Edo. Melihat Ratih berhenti jelas ikut berhenti dan bertanya. Disaat Edo bertanya pandangan Ratih hany sebentar saja tertuju padanya lalu kembali pada para pengunjung di sana juga para pelayan toko.


‘Nenek pasti takut, kejadian kemarin pastilah membuatnya trauma.' batin Edo. Ya! Kejadian mereka saat mau menukar baju Ratih jelas sudah membuat hati Ratih bergemuruh, dan itu pastilah kembali dia rasakan sekarang.


“Hem, ti-tidak. Ayo," ajak Ratih. Dia tersenyum gagu di hadapan Edo. Dia tak mau mengecewakan cucunya, tak mau mematahkan kebahagiaan yang ingin memiliki baju baru.


Tatapan sadis semakin mereka dapatkan dari para pelayan toko, benar-benar mereka meremehkan, merendahkan mereka yang hanya berpakaian biasa.


“Ngapain kalian ke sini?" tanya salah satu diantara mereka. Dengan sangat sadis dia bicara, tatapannya juga sangat tak bersahabat.


“Saya mau beli baju di sini, Kak." jawab Edo ramah. Meski tatapan sadis dan tanda tak suka sudah dia dapatkan tapi Edo masih terlihat tenang.


“Emangnya kamu mampu beli baju di sini?” sinis yang lainnya.


Sejenak Edo terdiam. Benar juga ya. Toko yang sangat besar dan juga sangat terkenal, baju-baju yang dirancang oleh desainer ternama, pastilah harganya sangat luar biasa. Tapi, Edo yakin uang yang dia bawa pasti akan cukup kan?


“Hem, saya yakin mampu membeli baju di sini, Kak. Saya bawa uangnya kok.” jawab Edo berani. Kepolosannya ini sungguh berbanding terbalik dengan tubuhnya yang sempurna.

__ADS_1


“Yakin bisa beli baju di sini? Heh!” ujarnya lagi sembari menyunggingkan bibirnya. Tangannya juga beralih dilipat di depan dada. Sedikit menjengkelkan sih.


“Iya, Kak.” Edo mengangguk yakin.


‘Ih, kotor banget sih. Mana mungkin orang seperti ini bisa membeli baju yang mahal-mahal di sini. Mustahil.’ batinnya.


“Ada apa ini?" Manajer toko datang dengan langkah yang begitu gagah. Berpakaian rapi dengan setelan jas berwarna hitam dengan kemeja putih juga dasi hitam sebagai pelengkap penampilannya.


Baru juga datang tatapannya sudah langsung mengintimidasi Edo yang masih tertahan. “Kenapa kalian biarkan gelandangan masuk?" Beralih dia menoleh ke arah para pelayannya.


Gelandangan?


Mata Edo seketika membulat begitu juga dengan Ratih. Lagi dan lagi, hinaan mereka dapatkan. Hidup mereka sungguh tak adil, kenapa semua orang begitu memandang mereka sebelah mata saja? Apakah orang seperti mereka tak ada hak untuk bisa menyamai orang-orang kaya?


“Maaf, Pak. Katanya mereka ingin membeli pakaian di sini.”


“Heh, kamu mau beli baju di sini? Hehehe!" Sang manajer malah terkekeh, tak mungkin dia percaya kalau Edo bisa membeli pakaian di sana.


“Iya, Tuan. Saya mau beli pakaian di sini. Saya juga sudah bawa uangnya." ujar Edo. Dengan begitu polosnya dia mengeluarkan uang yang hanya beberapa lembar itu dari saku celananya yang sudah pudar warnanya.


“Hahaha!” Sang manajer semakin terpingkal melihat uang yang Edo tunjukkan. “Dengan uang segitu kamu mau beli baju di sini? Hahaha! Bahkan kaus kaki saja uangmu tidak cukup.”


Mata Edo meremang panas, sungguh sakit hatinya karena begitu dipermalukan di sana.


“Sekarang pergilah, dan jangan datang lagi di sini. Ih ya, aku kasih saran. Kamu bisa beli baju bekas di pinggir pasar. Hahaha!" Sang manajer berlalu pergi begitu saja setelah menghina Edo.


Dengan kasihan Ratih mengusap pundak Edo, menguatkan sang cucu yang tengah rapuh hatinya.


“Tidak apa-apa, kita cari di tempat lain.” ucap Ratih. Edo mengangguk dan mulai melangkah perlahan.

__ADS_1


~~``~~


Bersambung..


__ADS_2