
Edo yang telah mengalahkan Andri seketika membuatnya terkenal, bahkan sangat terkenal. Menjadi buah bibir di sekolah, bahkan semua orang membicarakannya, menjadi topik utama di lingkup sekolah.
Yang terpana dan kagum jelas semakin besar kekaguman mereka, tapi bagi yang benci akan semakin membenci. Namun setidaknya tak ada yang berani menyinggungnya lagi sekarang, paling tidak anak-anak sekelasnya.
Di dalam kelas Dimas dan gerombolannya tengah berbincang, berbicara dengan fokus.
"Ini tidak mungkin, aku tetap tidak terima dengan kemenangan Edo. Paling dia hanya sedang kebetulan saja," ucap Dimas. Masih mengelak kebenaran dari apa yang sudah dia lihat.
Dimas, Bagus dan tiga temannya lagi tak menerima semua itu. Mereka masih tetap membenci Edo meski mereka juga sudah di buat babak belur olehnya.
"Terus sekarang apa yang akan kita lakukan?" tanya Bagus.
Kelimanya begitu serius merundingkan hal itu, tentu bukan karena mereka menerima kekalahan begitu saja tapi ada rencana lain yang harus mereka buat untuk bisa mengalahkan Edo, sekaligus untuk membalas apa yang sudah Edo lakukan pada mereka.
"Tenang, aku ada solusinya," Dimas menyeringai penuh maksud. Seringainya akan selalu di hafal oleh para teman-temannya kalau dia memang tengah memiliki rencana yang sangat jitu.
"Apa rencananya?" tanya Bagus dan lainnya ikut mengangguk penasaran.
"Kita sewa berandalan luar sekolah," ucapan Dimas sedikit berbisik, di tengah-tengah mereka berlima yang berkumpul dengan melingkar.
"Boleh juga tuh," setuju Dodo.
"Ya, gue juga setuju," Sahut Kipli.
Sementara Bagus juga Didik hanya mengangguk mengiyakan, jelas mereka juga setuju dengan rencana Dimas. Kalau mereka tak bisa mengalahkan pastilah ada di luar sana yang bisa melakukannya.
Terlihat Andri masuk dan langsung menuju ke bangkunya lalu duduk, seketika Dimas memanggil juga beranjak untuk mendekati.
"Dri!" panggilnya.
Andri menoleh acuh. Dia masih kesal dan itu juga berlaku untuk semua orang juga Dimas dan teman-temannya.
"Gini, gue punya rencana untuk mengalahkan Edo. Kalau kamu ikut semua pasti akan lebih mudah. Bagaimana, kamu tertarik?" ajak Dimas.
Betul yang dia katakan. Kalau Andri mau ikut tentu dia akan mudah mencari orang yang lebih kuat dan bisa mengalahkan Edo yang mereka sendiri belum tau seberapa besar kekuatannya.
__ADS_1
"Gue nggak minat!" seru Andri. Ternyata dia menolak ajakan Dimas untuk bergabung. Padahal semua akan lebih mudah kalau ada Andri.
"Oke lah, tak masalah," Dimas melenggang acuh.
~~~~\`\`
Mata Edo memicing kecil saat Dimas dan teman-temannya mendatanginya. Senyum mereka terlihat akrab lalu duduk di bangku depan Edo dan lainnya hanya berdiri di sekitar.
"Ada apa?" tanya Edo penasaran. Tak biasanya mereka mendekat dengan wajah-wajah seperti itu. Bukan mau suudzon sih, cenderung ke aneh saja.
"Teman, gue hanya mau minta maaf soal kejadian kemarin. Sebagai permintaan maaf, gue mau undang kamu untuk makan-makan bersama kita. Bagaimana, bisa kan?" tanya Dimas.
Edo menatap aneh, dia terdiam melihat kelimanya bergantian. Bukan waspada atau memiliki pikiran akan kelicikan mereka semua, tapi Edo lebih tak menyangka saja.
Sudah bertahun-tahun tak ada yang mau memanggil dirinya teman, dan sekarang? Mereka terlihat begitu senang memanggilnya teman pada dirinya. Benarkah itu nyata, dia tidak sedang bermimpi kan?
Hati Edo terasa tersanjung, begitu terharu dengan mereka semua yang mau menganggapnya teman. Bukan itu saja, bahkan mereka juga mengajak makan-makan bersama, siapa yang tidak akan terharu dengan itu.
Seorang yang lama tak ada teman satupun, tak pernah mendapatkan perhatian dari seorang teman dan kini Edo mendapatkannya. Jelas Edo akan terenyuh hatinya. Jika saja pantas, mungkin air mata bahagia akan terjun bebas saat ini juga saking bahagianya.
Semakin di buat terharu Edo saat ini. Haruskah dia berterima kasih dan menerima tawaran mereka, ataukah menolaknya?
Terus membayangkan bahwa selama ini tak ada teman yang mau dekat dengannya hanya karena tubuhnya yang berlebih. Jangankan mengajak jalan dan juga makan-makan? Sekedar menyapa saja mereka begitu tak sudi.
Mereka bahkan terus menghina dirinya, membully dan merundung tanpa ampun. Mempermalukan dengan berbagai cara hingga tak ada kesempatan sedikitpun untuk dirinya membela diri. Dan sekarang?
Sedih jika mengingat semua itu, bahkan Edo ingin sekali menitikkan air mata mengingat betapa lemah dirinya waktu itu yang terus mendapatkan perlakuan tak baik dari semua teman-temannya.
Sekarang, ada teman-teman barunya yang mau memanggil dirinya sebagai teman. Mau berdamai dan mau berteman dengannya.
'Apakah aku harus menerimanya?' batin Edo. Dia sangat bingung untuk memutuskan ajakan Dimas dan teman-temannya.
Melihat wajah-wajah yang terus tersenyum di hadapannya, memandangnya dengan penuh harap bahwa dia akan menerima tawarannya.
Ada was-was di hati, tapi juga ada keinginan di hati untuk bisa melakukan semua dengan teman-teman. Makan, jalan, bersenang-senang bersama dan menghabiskan waktu dengan bahagia bersama mereka. Tapi...
__ADS_1
"Ayolah, kami akan terus merasa bersalah kalau kamu tidak menerima ajakan kami." Kekeuh Dimas.
"Iya, Do. Kita akan bersenang-senang bersama, kami benar-benar minta maaf dan mulai sekarang kita adalah teman," ucap Bagus seraya menepuk pundak Edo.
Semakin terharu Edo. Sekuat apapun dia tetap akan lemah jika di hadapkan dengan hal yang seperti ini. Dia memang begitu berharap akan punya teman seperti yang lainnya, dia begitu haus akan pertemanan.
Sekarang mereka semua datang, menawarkan pertemanan, apakah Edo akan menyia-nyiakan semua itu?
"Ta\_ tapi?" Edo masih sangat ragu. Dia terus menoleh ke arah mereka semua yang kini berubah dengan wajah-wajah memelas.
"Please, ikut ya," ucap mereka semua serempak. Benar terlihat begitu memohon, terlihat juga penyesalan dari wajah mereka tentang semua yang sudah terjadi.
"Ayo lah, Do. Kita hanya akan bersenang-senang kan? Kita hanya akan makan-makan saja, kita akan heppy sekaligus merayakan pertemanan kita," ucap Dimas lagi.
Terus saja Dimas menyogok dengan kata-kata yang penuh kebaikan, berusaha membuat Edo terharu, berharap hatinya akan tersentuh dan bisa menerima ajakannya.
"Beneran hanya itu kan?" tanya Edo. Jelas saja tetap ada rasa takut jika akan ada hal lain yang akan mereka lakukan.
"Iya, hanya makan-makan dan bersenang-senang!" Dimas tersenyum, wajahnya sumringah dengan pertanyaan Edo. Keberhasilan sudah mulai hadir di depan mata dan itu semakin mendekat dan jelas.
"Bagaimana?" Desak Dimas.
Bukan hanya Dimas saja yang tidak sabar tapi juga Bagus, Kipli, Didik dan juga Dodo. Mereka tak sabar untuk mendapatkan jawaban dari Edo.
"Baiklah," jawab Edo. Setelah berpikir cukup keras akhirnya dia menerima tawaran mereka. Tak masalah untuk di coba seperti apa berteman dengan mereka.
'Yes!' seru Dimas dalam hati.
Semua tersenyum senang. Saling melihat dan memberikan kode-kode rahasia yang Edo tak paham.
"Besok, setelah pulang sekolah kita berkumpul. Kita makan-makan dan bersenang-senang." ucap Dimas yang begitu girang.
Semuanya mengangguk senang dan Edo hanya tersenyum gagu saja melihat mereka berlima yang kini sudah menjadi 'Teman' katanya.
~~~~••~~~~
__ADS_1
Bersambung....