Sampah Sepertiku Mempunyai Body Goals Yang Baru

Sampah Sepertiku Mempunyai Body Goals Yang Baru
21. Berbincang Dengan Ratih


__ADS_3

~~`~~


Bukan hanya Ratih saja yang terlihat begitu terkejut sekaligus bingung, tapi Edo yang baru pulang sekolah lebih lagi. Dia gugup sekaligus tubuhnya yang terasa langsung kaku untuk bergerak. Memandangi neneknya yang ternyata sudah lebih dulu datang daripada dirinya yang pulang.


'Nenek,' batin Edo. Ada rasa bahagia tapi juga ada rasa takut. Hatinya begitu berseru senang bisa melihat neneknya hingga dia melihat tanpa berkedip. Edo begitu hanyut dalam wajah neneknya yang begitu menenangkan, tentunya juga sangat dia rindukan.


"Kamu siapa?" tanya Ratih. Menatap lekat Edo yang berwajah sangat tampan dan berdiri di ambang pintu tak berani melangkah masuk.


"Hah!" Seketika Edo terkesiap. Semua atensi yang ada di kepalanya buyar karena pertanyaan sekilas dari Ratih. Edo sangat bingung, apa yang harus dia katakan. Bagaimana dia menjelaskan semua yang sudah terjadi?


'Gawat! Bagaimana ini?' batin Edo lagi. Dia benar-benar bingung. Seperti tak ada ide untuk bicara.


Ratih semakin mengernyit melihat Edi yang diam, dia berinisiatif berdiri. "Kamu siapa?" Kembali Ratih bertanya. Apakah mungkin dia pria yang akan mengganggu Edo, cucunya?


"Hem, sa-saya?" Edo terdiam sejenak, mencari alasan apa yang tepat dan tidak akan menumbuhkan kecurigaan pada Ratih.


Ratih masih setia menunggu jawaban dari Edo. Dia tetap menatap lekat meski sesekali melihat ke arah cucunya yang terbaring tidur dengan nyenyak.


'Bagaimana ini, aku tidak mungkin menjelaskan pada nenek. Aku juga tidak mungkin membangunkan tubuhku yang gemuk di depan nenek. Sial! Bagaimana aku bisa mengganti tubuh kalau begini?' lagi-lagi Edo hanya membatin.


"Sa-saya? Saya Naufal, teman sekamar Edo," Jawabnya yang jelas sangat bohong. Edo tersenyum sembari menggaruk tengkuknya sendiri untuk menghilangkan rasa gugupnya. Yang jelas, dia harus bisa terlihat meyakinkan.


"Oh, teman Edo. Kenapa kamu tidak bilang dari tadi? Nenek pikir kamu pria yang akan mengganggunya." Ratih ikut tersenyum, tapi ada rasa lega di hatinya karena ternyata pemikirannya salah.


"Saya neneknya, Edo." Ratih memperkenalkan dirinya. Dia terlihat begitu ramah pada Edo yang mengaku namanya Naufal.


"Hem, ternyata Edo benar. Nenek sungguh seperti yang Edo sering ceritakan. Nenek cantik," pujinya.


"Ah, kamu bisa saja. Nenek sudah tua, tidak mungkin nenek cantik." Ratih tersenyum malu dengan pipi yang merona. Dia pikir pria setampan Naufal alias Edo akan menghinanya karena keadaan dia yang tidak seperti orang lain yang hanya bekerja di dalam rumah.


"Nek, bagaimana kalau kita keluar saja? Kita bisa berbincang-bincang di luar. Kalau disini takut mengganggu tidurnya Edo." sarannya.


Ratih menoleh ke arah Edo, sebenarnya dia sangat ingin bertemu dan berbincang banyak dengan cucunya juga menanyakan keadaannya, tapi melihat Edo yang terlihat begitu lelap sangat kasihan jika di bangunkan.


"Hem, baiklah." Akhirnya Ratih menerima saran dari Edo. Dia mulai melangkah keluar dan Edo membuntuti setelahnya.


*****

__ADS_1


Di restoran yang biasa Edo datangi, di situlah Edo dan Ratih berada sekarang. Dengan begitu sabar Edo merangkul Ratih, memperlakukan seperti neneknya sendiri dan membuat Ratih merasa begitu tersanjung.


Perhatian Edo dan juga semua tingkahnya sama persis dengan Edo yang gemuk, bagaimana mungkin dia tidak akan tersanjung?


"Terima kasih, Nak." Ratih menoleh setelah duduk di kursi. Tersenyum begitu manis melihat Edo yang memperkenalkan diri sebagai Naufal itu juga akan duduk di hadapannya.


"Tidak usah sungkan, Nek. Anggap saja saya cucu nenek juga." jawabnya. Padahal di dalam hati dia tengah merutuki dirinya.


'Menganggapnya? Kamu memang cucu Nenek Ratih, Edo!' batinnya.


"Nenek kenapa?" tanya Edo lagi. Terlihat aneh melihat Ratih yang berbeda dari yang tadi.


"Nenek jarang sekali makan di tempat seperti ini, Nak. Nenek tegang sekali," bisik Ratih, menoleh ke arah kanan dan kiri setelah melihat Edo.


Edo tersenyum, neneknya sungguh lucu sekali.


"Nenek biasanya makan di rumah bersama Edo. Nenek selalu masak sendiri daripada datang ke tempat seperti ini. Di samping lebih irit, juga bisa memasak sesuai selera." Lanjut Ratih.


"Tidak apa-apa, Nek. Nenek yang tenang saja, tidak usah tegang. Anggap saja nenek makan di rumah sendiri."


"Hem," Ratih hanya bisa tersenyum. Hatinya tetap sangat aneh merasakan duduk di tempat yang menurutnya sangat mewah. Jauh sekali dengan kebiasaannya.


**


Menatap pesanannya yang sederhana dan itu adalah kesukaan dari Ratih. Terong tumis dan juga sup telur.


"I-ini?" Ratih begitu termangu tak percaya. Bagaimana bisa anak yang baru dia temui ini bisa mengetahui Kesukaannya. Apakah hanya kebetulan ataukah?


"Edo sering cerita tentang nenek, jadi saya tau sedikit banyak tentang nenek, hehe," Deretan giginya yang putih langsung di pamerkan oleh Edo. Jelas dia akan mengatakan itu.


"Ah anak itu, nenek pikir...?"


"Memang nenek berpikir apa, sudahlah jangan berpikir yang aneh-aneh. Sekarang kita makan." ujar Edo dengan wajah yang sumringah. Sudah siap dan langsung melayani Ratih, mengambilkan nasi dan juga lauknya.


"Ini, Nek." Edo menyodorkan.


"Terima kasih, Nak. Kamu malah jadi repot kan gara-gara nenek."

__ADS_1


Edo menggeleng, tak mungkin dia merasa direpotkan karena hal kecil yang dia lakukan sekarang belum ada artinya apapun dibanding dengan semua pengorbanan Ratih yang merawatnya hingga sekarang. "Tidak."


Ditengah-tengah acara makan, Ratih begitu banyak bicara. Dia menceritakan masa lalu Edo yang begitu menyedihkan menurutnya. Meski Edo tidak pernah mengatakan langsung tapi dia tau apa yang terjadi.


Mata Ratih kian berembun, hingga akhirnya menggenang dan menyeruak keluar begitu saja berupa air mata kala menceritakan semua yang terjadi juga yang ada pada Edo. Semua orang menganggap apapun yang ada pada Edo adalah sebuah kekurangan dan juga sesuatu yang menjijikkan, tapi tidak di mata Ratih.


"Bagi nenek, semua yang ada pada Edo adalah kelebihan. Tapi para teman-temanya tidak menganggap seperti itu hingga dia selalu mendapatkan hal tak baik." ucap Ratih seraya bercerita.


"Semua memandang rendah dirinya. Mereka memperlakukan Edo hanya seperti sampah." Ratih semakin terisak.


Edo terus diam, dalam hatinya dia hanya berpikir darimana neneknya tau semua itu?


"Kedua orang tuanya sudah meninggal saat dia masih kecil, hanya nenek yang selalu bersamanya. Nenek hanya memiliki dia saja, begitu juga dengan dia. Hanya ada nenek sebagai keluarganya." Imbuh Ratih.


Begitu banyak Ratih berbicara. Semua yang ada di hatinya dia keluarkan di hadapan Edo.


Edo begitu terharu, matanya juga mulai ikut berembun karena semua cerita dari Ratih tapi dengan sekuat tenaga Edi menahannya supaya tidak meluncur. Tapi, di dalam hati, Edo begitu menjerit-jerit, hatinya merasa ikut begitu sakit.


Duka yang selama ini dia rasakan dan juga dia sembunyikan ternyata di ketahui oleh Ratih. Dia diam tak pernah bercerita, Edo pikir Ratih tidak mengetahuinya, tapi nyatanya?


Meski terus bicara, makanan mereka tetap bisa habis. Ratih menghentikan ceritanya dan bergegas untuk pulang.


"Nak, bolehkah nenek membawa pulang minuman nenek?" tanyanya.


Edo yang masih dalam keharuan langsung menoleh dan melihat minuman Ratih yang masih utuh. Ternyata beliau tidak meminumnya seperti biasa. Edo sangat tau itu, Ratih memang tidak pernah meminumnya saat ke restoran meski hanya sesekali saja.


Edo mengangguk pelan, tertahan diam sebentar sebelum jawabannya terucap. "Boleh." Air mata Edo begitu tak tertahan, rasanya sudah siap seperti ombak yang siap menerjang, tapi tetap saja Edo tak membiarkan keluar.


"Nenek mohon, selalu tolong Edo, jangan pernah menindasnya seperti apa yang dulu dia dapatkan. Nenek tau kamu anak baik." Suara parau Ratih begitu memohon. Suaranya juga masih gemetar menahan rasa duka yang sekarang sudah mulai berkurang.


"Dan ini, ada beberapa uang. Tolong terima ya, Nak." Ratih langsung menarik tangan Edo, meletakkan bener lembar uang padanya.


Edo begitu terkejut, dia terkesiap ingin menolak tapi tangan Ratih sudah memegangnya dengan erat dan memindahkan uang itu di tangan Edo.


"Nek, ini?"


Ratih hanya tersenyum juga mengangguk.

__ADS_1


~~``~~


Bersambung...


__ADS_2