
Mengayuh sepeda dengan begitu lincah, menghasilkan perputaran roda yang begitu cepat begitu juga dengan lajunya. Sepeda pemberian Ratih, sepeda yang di pungut, sepeda yang sudah rusak namun di perbaiki lagi. Itulah kendaraan yang Edo pakai untuk pulang pergi ke sekolah.
Sesuai rencana, Edo dengan tubuh tampannya pergi ke sekolah, meninggalkan tubuh gemuknya tidur di rumah yang dia sewa. Terus Edo mengayuh sepedanya hingga sampai di depan sekolah barunya.
SMP Tunas Bangsa, adalah sekolah yang sangat biasa juga memiliki banyak murid yang juga tidak taat akan peraturan, hampir sama dengan sekolah Edo sebelumnya. Banyak pembullyan, penindasan pada murid yang lemah.
Edo berhenti di depan gerbang, turun dari sepeda dan melihat sekitar. Berjalan beberapa langkah masuk ke pekarangan sekolah, terlihat begitu banyak jajaran mobil mewah yang terparkir di sana. Di sekolah tersebut tentu saja masih begitu banyak anak-anak dari keturunan orang kaya yang pasti juga dengan segala sifat yang mereka bawa. Entah itu baik atau sebaliknya.
Edo melihat saat ada mobil mewah berhenti tak jauh dari tempatnya berdiri dengan memegangi sepedanya, semua pasang mata langsung tertuju ke arah mobil tersebut. Setiap kali ada mobil mewah yang berhenti dan pemiliknya turun maka akan menjadi pusat perhatian dari semua orang.
Sekali anak keturunan orang kaya datang, itu sudah bagaikan artis ternama yang datang. Seperti seorang idola yang begitu di puja.
"Heh, semoga saja di sini lebih baik," gumamnya setelah menghembuskan nafas panjang sekali.
Itulah harapan terbesarnya, dia menginginkan semua kebaikan saat berada di sekolah itu, berharap apa yang terjadi di sekolah lama tidak akan pernah terjadi lagi.
Kembali Edo melihat cowok yang turun dari mobil tadi, semua cewek berhamburan padanya, mereka berteriak, juga memanggilnya dengan begitu antusias hingga akhirnya mengerumuninya. Segitu mempersona kah dia di mata para cewek yang ada?
Edo tak ambil pusing dengan apa yang dia lihat, mulai berjalan masuk pekarangan sekolah dan mencari tempat untuk memarkirkan sepedanya. Setelah mendapatkannya Edo berjalan kembali.
Langkah mantapnya semakin memasuki sekolah.
Kini giliran dirinya yang menjadi pusat perhatian. Semua cewek bahkan juga cowok melihat ke arahnya, mengabaikan anak orang kaya tadi yang memiliki mobil mewah.
Semua gadis-gadis cantik kini beralih berhamburan ke arahnya, mereka begitu terpana dengan Edo karena ketampanannya yang sangat sempurna. Mata-mata terpesona dalam sekejap mata ada di hadapannya.
Edo bingung, apa yang harus dia lakukan?
"Eh!" Edo begitu bingung, dia belum pernah berada di posisi ini sebelumnya. Ya! Jangankan banyak cewek yang mendekatinya, satu saja tak pernah di saat dia dengan tubuh gemuknya.
__ADS_1
"Ka\_ kalian mau apa?" tanya Edo gugup. Netranya berputar, melihat semua cewek yang berkerumun di sekitarnya.
Ternyata, dalam sekejap ketenaran Edo mengalahkan para anak-anak orang kaya di sana. Hal itu jelas saja akan membuat iri, dengki dan penyakit sejenisnya dari para pria di sana.
Berhadapan dengan para cewek cantik ternyata tidak lantas membuat Edo senang, dia malah bergidik ngeri melihat semuanya, juga bagaimana wajah-wajah penggemar visual tampan itu tersenyum manis-manis manja dengan suara mendayu-dayu seperti ombak di hadapannya.
Tatapan-tatapan suka dia dapatkan dari para cewek-cewek yang seketika menjadi penggemarnya, tapi tatapan penuh kebencian seketika dia dapatkan dari para cowok yang tak menyukai kedatangan. Mereka merasa tersaingi.
Tak sedikit yang mengepalkan tangan, seolah ingin langsung memberikan pelajaran pada Edo. Tapi tidak! Rupanya mereka masih bisa menahan diri mereka untuk tidak melakukan apa yang seketika muncul di otak mereka.
~~~~~\`\`
Pembullyan juga tetap terjadi di sana. Meski hanya sekolah biasa tak lantas terbebas dari pembullyan.
Di dalam kelas 3 beberapa anak tengah membully seorang murid perempuan berkaca mata. Bukannya ada yang menghentikannya tapi yang lainnya malah ikut tertawa, seakan itu adalah sebuah hiburan yang membuat mereka senang.
"Kembalikan kaca mata saya!" pintanya setelah kacamata yang menjadi alat bantu melihat itu di ambil dengan paksa.
"Hahaha!" Semua tertawa begitu senang, mengabaikan berapa takut dan juga malunya teman yang mereka bully habis-habisan.
Ada yang ikut berbahagia dan melihat aktivitas itu, ada juga yang tak melihat namun ikut tertawa, tapi ada juga yang asyik dengan kegiatannya sendiri. Begitu beraneka macam isi di dalam kelas itu.
"Berikan!" ucapannya kian tinggi bersamaan dengan usahanya untuk mengambil kacamata dari tangan temanya itu.
Usaha yang begitu susah untuk membuahkan hasil, kacamata itu terus berpindah tangan setelah di lemparkannya ke teman yang lain, dan terus berputar sesuai keinginan mereka.
"Ayo ambil, kamu mau ini kan? Ayo ayo," ucapnya dengan kata-kata dan pergerakan yang seolah meledeknya.
Tangannya terus melemparkan kecil dan kembali menangkap kacamata tersebut. Jelas gadis itu sangat takut jika sampai kacamata terjatuh dan akan pecah.
Dia berlari, menghampiri yang memegang kacamata tersebut untuk mengambilnya, namun itu tetap tak dia dapatkan lagi. Usahanya kembali gagal setelah kacamatanya sudah berpindah tangan lagi.
__ADS_1
Ingin sekali dia menangis, tapi dia berusaha menahannya.
Semakin gadis itu kewalahan semakin mereka tertawa keras. Sungguh mereka sangat keterlaluan.
"Pagi semua!" Wali kelas masuk, seorang laki-laki yang sebenarnya berwibawa tapi itu sepertinya tak berlaku di kelas itu karena tidak mendapat sikap baik dari semua murid-muridnya.
Tak ada satupun yang menjawab sapaannya, bahkan yang menoleh dan melirik saja hanya ada beberapa, dapat di hitung dengan sangat jelas.
Bukan itu saja, tapi mereka tetap dengan kesenangan mereka masing-masing, bahkan di saat wali kelas datang pembullyan pun tetap terjadi.
Pak Djarot menggeleng, sampai kapan mereka semua akan seperti sekarang ini, sampai kapan mereka akan menghargainya sebagai wali kelas.
Tatapan Pak Djarot mengabsen satu persatu semua muridnya, memang komplit masuk semua tapi tak ada satupun yang benar. Tak ada yang menjawab sapaannya bahkan malah tidak melihatnya. Mereka begitu acuh. Sungguh kelas yang luar biasa.
Beralih menoleh ke arah pintu untuk memanggil Edo yang sudah datang.
"Bapak ingin beri tau, kita kedatangan murid baru. Edo!" Panggil Pak Djarot.
Dengan wajah datar Edo masuk, jelas terlihat semua teman-temannya yang seketika menoleh ke arahnya satu persatu. Begitu pendiam Edo, dia tak banyak bicara.
Begitu juga dengan Edo, dia juga ikut mengabsen satu persatu teman barunya. Terlihat tak beda jauh dari teman lamanya yang memiliki wajah-wajah sebagai penindas.
Kedatangan Edo membuat semua mata tertuju padanya. Menatap dengan terkejut juga juga penuh terpesona dari beberapa murid-murid cewek.
Kelas yang semula ribut dengan kekacauan yang begitu menggemparkan kali ini seketika tenang dengan mata yang tertuju pada Edo, bahkan murid yang sedang membully tadi juga diam tak menyadari saat gadis yang dia bully mengambil kacamata dari tangannya.
"Buset," satu kata yang lolos dari salah satu murid.
~~~~••~~~~
Bersambung...
__ADS_1