Sampah Sepertiku Mempunyai Body Goals Yang Baru

Sampah Sepertiku Mempunyai Body Goals Yang Baru
38. Serius Belajar


__ADS_3

~~``~~


Edi melangkah dengan begitu semangat, berjalan di sepanjang koridor sekolah dengan sendiri saja. Langkahnya begitu tegas, dia bergegas pergi mencari pria berkacamata yang ada di kelasnya, bukan itu saja, tapi dia juga mencari Ronald dari kelas B.


Terakhir Edo juga mencari Andri, pria keturunan orang yang sangat kaya tersebut juga sebenarnya sangat pandai di balik rasa tak sukanya pada dirinya.


"Aku harus mencarinya," gumamnya. Kakinya terus melangkah menapaki lantai dengan keramik putih tersebut. Mengabaikan mata mata yang terus memandangi dengan penuh takjub untuk para gadis tapi juga pandangan penuh iri dari beberapa pria.


Edo melangkah semakin cepat, dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan pria berkacamata yang saat ini sangat ingin dia temui, entah siapa pria itu yang begitu ingin Edo temui.


Edo tersenyum, melihat beberapa buku yang ada di dekapannya. Buku-buku tebal itu mampu membuat Edo menarik senyum, dia sudah sangat tak sabar untuk mempelajari semua ilmu yang ada di dalamnya.


Akhir-akhir ini Edo memang semakin rajin belajar tiap harinya dia sangat ingin mendapatkan hasil terbaik saat ujian nanti. Senyum penuh kebanggaan di bibir Ratih membuat Edo semakin semangat, dia ingin senyum itu bisa terus dia lihat.


"Kalau aku berhasil nenek pasti akan sangat bangga, dia pasti akan sangat bahagia," gumamnya lagi. Dia kembali tersenyum bayangannya teralihkan pada senyum indah Ratih.


Hingga akhirnya Edo sampai di kelas, dia hanya ingin mencari guru yang akan memberikan jawaban dari beberapa pertanyaan yang belum dia ketahui, dan dia yakin bisa dia dapatkan jawabannya pada pria berkacamata itu.


"Loh, dia dimana?" tanya Edo. Matanya mengedar sempurna ke seluruh penjuru kelas, tak ada pria yang dia cari. Kecewa, sedikit sih. Tapi Edo tidak pantang menyerah, dia pasti bisa menemukannya.


Bukan pria berkacamata yang dia cari yang ada di sana, melainkan seorang guru. Tatapan keduanya langsung bertemu dan itu tentu membuat guru itu penasaran apa yang Edo lakukan di sana.


"Kamu, ada apa?" tanyanya. Guru itu datang menghampiri Edo, mendekatinya dengan penuh tanda tanya di dalam benaknya.


"Ini, Pak. Sa-saya ingin mencari murid berkacamata di kelas ini. Dimana ya?" tanya Edo.


"Nggak ada, saya juga tidak melihat dia kemana." Guru itu menjawab dengan acuh, matanya mengedar ke kanan dan kiri memastikan pria yang di cari benar tidak ada di dalam kelas itu.


"Oh, gini saja. Kalau begitu saya tanya saja sama bapak." Edo mulai membuka buku, mencari beberapa pertanyaan yang sudah dia siapkan untuk di tanya.


Guru itu terus melihat, hingga pada akhirnya buku benar terbuka di depannya.

__ADS_1


"Ini, Pak. Saya tidak tau apa yang di maksud dengan__," ucapan Edo terhenti.


"Kamu tanya sama yang lain saja, saya tidak tau apa yang kamu tanyakan." Dengan acuh pak guru langsung melenggang pergi, meninggalkan Edo yang jelas di buat termangu dengan jawaban dari gurunya itu. "Atau, kamu cari aja murid berkacamata itu."


"Eh, Pak!" panggil Edo setelah beberapa saat dia termangu, guru itu sudah semakin jauh.


Entah mendengar ataupun tidak tapi guru itu tak lagi menoleh ke arah Edo, dia terus melaju dengan cepat.


"Benarkah pak guru tidak tau? Tapi masak iya tidak tau, dia kan guru?" gumam Edo yang masih tak mengerti dengan gurunya itu.


Seandainya benar guru itu tidak tau maka para murid juga tidak perlu belajar yang rajin untuk mengejar nilai, apalagi guru tadi malah meminta Edo mencari murid berkacamata itu, Nino. Bukankah itu menandakan minimnya pengetahuan dari para guru juga?


Edo tetap mencari Nino untuk menanyakan pertanyaan yang sudah dia siapkan hingga akhirnya Edo dapat menemukannya. Edo tersenyum senang, dan melangkah semakin antusias untuk menghampiri.


"Hey, kamu!" panggilnya.


Nino pria berkacamata itu seketika menghentikan langkah padahal dia hampir duduk di bangku, dia menoleh dan melihat Edo yang menghampirinya.


Edo sedikit bingung, dia merasa bahwa Edo dan juga para pembully dari keluarga kaya dalam sekelas itu adalah satu geng, yang sewaktu-waktu bisa menindasnya.


"Hay," sapa Edo yang merasa canggung setelah berhenti di hadapan Nino. Dia tersenyum, tapi terasa kaku.


"Ha-hay," jawab Nino, dia juga lebih canggung lagi apalagi ada perasaan yang mencampurinya yaitu rasa penasaran dan juga takut.


"A-aku hanya mau bertanya soal__," ucapan Edo menggantung, tapi tangannya sudah langsung bergerak membuka buku.


Bukan hanya Nino saja yang merasa bingung dan terkejut karena kedatangan Edo, tapi juga teman-teman sekelasnya. Mereka tentu melihat Edo penuh dengan segudang tanya di benak mereka.


Edo berhasil membuka buku itu, dan kembali menunjukkan pada Nino, "saya mau tanya tentang ini," lanjutnya. Jarinya menunjuk pertanyaan yang sudah dia siapkan sebelumnya.


Nino mulai penasaran, dia mendekati Edo dan melihat pertanyaan yang Edo tunjuk, tentu Nino juga berusaha menghilangkan pikiran negatif yang barusan hinggap di kepalanya.

__ADS_1


"Oh ini," jawab Nino. Sepertinya dia tau jawabannya. "Duduk sini, aku akan jelaskan."


Edo mengangguk, dia menurut dan ikut Nino yang mengajaknya duduk di bangku yang sudah dia tunjukkan.


Semua teman-teman memandang tak percaya, keduanya mampu memecahkan masalah yang dialami oleh Edo. Keduanya terlihat tak canggung lagi bahkan terlihat sesekali tersenyum bersama.


Di sekolah itu, melihat pemandangan seperti itu adalah hal yang langka. Tak ada yang benar-benar serius dalam belajar, mereka selalu sibuk dengan urusan masing-masing yang tentu tidak sejurus dengan pelajaran sekolah. Tapi Edo dan Nino? Mereka mampu serius belajar.


Bukan hanya dengan Nino, tapi juga dengan Ronald. Edo juga sering melakukan hal yang sama dengan Ronald, pria gendut yang selalu menjadi peringkat pertama di kelasnya. Edo bisa belajar dengan Ronald dan juga Nino dengan bergantian sekarang.


Ronald adalah pria yang sangat pandai, dia paling maju dari teman-teman sekelasnya, dia juga begitu berbakat dengan selalu membuat lagu-lagu di saat waktu luangnya. Mengenal keduanya membuat Edo semakin rajin dalam belajar, tentu dia juga sangat ingin bisa maju seperti mereka.


~~~~``


Memiliki dua tubuh yang berbeda tentu ada hal positifnya, Edo bisa belajar selama dua puluh empat jam.


Malam hari Edo bekerja di market, seperti biasa dia akan mengerjakan semua yang sudah menjadi rutinitasnya. Biasanya begitu banyak pelanggan yang datang, tapi tidak dengan malam ini.


Tidak banyak pelanggan yang datang hingga ia bisa memanfaatkan waktunya untuk belajar. Ada begitu banyak kosa kata yang belum Edo hafal dan dia mulai menghafal saat itu.


"Aku harus bisa menghafalnya, kalau tidak, aku akan tertinggal banyak pelajaran," gumamnya. Edo begitu serius dengan buku di hadapannya.


Terus dia melihat satu persatu, membacanya dan mulai menghafalkannya.


Ditengah usahanya menghafal kosakata mendadak ada yang datang dan itu mengejutkan Edo yang tengah serius. Matanya membulat melihat siapa yang datang.


Wajah yang terlihat berbinar di hiasi dengan senyum manis di bibirnya. Langkahnya pelan namun pasti, ragu tapi tetap melangkah maju dengan malu-malu.


"Yulia?" gumam Edo. Dan ternyata gadis cantik itu yang datang menemuinya.


"Malam," sapanya.

__ADS_1


~~``~~


Bersambung..


__ADS_2