Sampah Sepertiku Mempunyai Body Goals Yang Baru

Sampah Sepertiku Mempunyai Body Goals Yang Baru
16. Mabuk


__ADS_3



Meski Andri begitu tak menyukai Edo karena Yulia yang lebih menyukai dia tapi Andri juga tak tega kalau sampai Edo jatuh pada para berandalan yang jelas telah di sewa oleh Dimas dan para teman-temannya.



Ada sisi buruk tapi ada sisi baiknya juga hati Andri yang ternyata memiliki perasaan tak tegaan pada orang lain.



Jika benar sampai Edo jatuh di tangan mereka sangat jelas kalau semua tak akan baik pada akhirnya. Edo pasti akan hancur, atau mungkin kalau Edo ikutan seperti mereka dia akan rusak.



Berandalan yang tentu menggenggam kekuasaan gelap di kota tersebut dan Andri sangat mengenal mereka. Siapa yang tidak akan kenal dengan kelompok yang di beri nama Roket yang sangat meresahkan para masyarakat.



"Dim, kamu tidak bisa melakukan ini padanya. Ini tidakkah benar, Dim!" ucap Andri.



Ucapan Andri sangat tidak di terima oleh Dimas dan para temannya. Mereka tidak menerima saran apapun dari siapapun termasuk dari Andri.



"Lo lebih baik diam dan jangan ikut campur urusan gue." Mata Dimas membulat, begitu tajam bersamaan dengan tangan yang terangkat dan juga sudah mengepal di depan wajahnya.



"Tapi ini salah, Dim!"



"Lo, sekali lagi bicara lo juga akan bernasib sama seperti dia." tunjuknya pada Edo meski tatapannya tertuju pada Andri.



Meski dengan keahlian yang Andri punya sangat yakin kalau dia tidak akan pernah bisa mengalahkan mereka semua. Apalagi para berandalan Roket.



"Lebih baik lo diam dan jadi penonton manis saja. Kita hanya mau melihat seberapa kuat anak ini," ucap Dimas.



King, ketua dari berandalan itu. Orang yang telah membuat kelompok tersebut dan membuatnya semakin kuat dan tak terkalahkan.



Matanya tajam menakutkan, wajahnya memiliki aura yang sangat gelap mengerikan, otot-ototnya yang besar pasti akan sangat mudah untuk meremukkan lawan dalam satu kali gerakan. Siapapun akan bergidik saat berhadapan dengannya. Bahkan bukan hanya King yang memiliki tubuh seperti itu, tapi semua anak buahnya juga memilikinya.



"Sudah, biar semua menjadi urusan kami. Biarkan kami yang bertindak dan kamu tinggal melihat hasilnya. Dan ya! Jangan lupakan dengan bayaran yang sudah kamu janjikan," ucap King.



Suaranya ternyata juga begitu berat, begitu khas seperti para berandalan lainnya.



Dimas tidak main-main, bahkan dia langsung menyewa berandalan yang begitu terkenal di kota. Entah dia kenal dari mana orang-orang seperti King.



"Tenang, semuanya sudah beres. Selama kamu bisa membereskan pekerjaanmu maka yang sudah aku janjikan akan kamu terima," jawab Dimas begitu yakin.

__ADS_1



"Ayo!" ajak King, memberikan isyarat pada anak buahnya untuk menyeret Edo keluar dari ruangan itu untuk segera memberikan pelajaran yang setimpal.



Semuanya mengangguk, ikut berjalan dan mulai bersiap untuk menyeret keluar Edo.



Dimas terlihat menyeringai, begitu juga dengan para teman-temannya. Mereka merasa puas karena yakin sebentar lagi bisa membalas apa yang sudah Edo lakukan pada mereka. Sementara Andri, dia hanya diam dengan perasaan yang campur aduk. Ingin menghentikan tapi dia tak punya keberanian.



Baru juga King dan anak buahnya akan meraih tangan Edo tiba-tiba Edo mengangkat kepalanya dari meja. Semua terkejut tak terkecuali Dimas, dia pikir Edo sudah tidak akan lagi sadar. Namun tidak dengan King yang terlihat biasa-biasa saja.



Edo menoleh ke belakang, terlihat jelas King tepat di depan wajahnya saat ini. Edo tersenyum ramah.



"Hay kakak kakak," sapanya dengan begitu ramah. Bahkan Edo juga tersenyum manis pada mereka.



Semua kebingungan, apakah Edo tidak mengenal para berandalan yang ada di hadapannya ini? Kenapa tak ada rasa takut sama sekali dan terlihat biasa-biasa saja.



Edo kembali bergerak, memiringkan kepalanya dan melihat ke belakang King, jelas yang dia temukan adalah Dimas dan para teman-temannya.



Memandang dengan begitu serius ke arah Dimas yang terlihat bingung.




"Bahkan kalian juga menghina anggota keluarga lain, kalian sungguh keterlaluan!!" mata Edo membulat ke arah Dimas.



'Ada apa ini?' batin Dimas. Dia begitu kebingungan dengan yang Edo katakan.



Padahal semuanya sudah mulai berjalan sesuai rencana tapi kenapa malah menjadi kacau seperti ini? Bagaimana mungkin Dimas tidak akan bingung.



"Sini lo!" Panggil Edo menunjuk ke arah Dimas.



Dimas sedikit bergidik melihat tatapan Edo yang tak biasa seperti saat ini.



"I\_ iya," Dimas begitu gugup. Ingin melangkah tapi takut, tidak melangkah Edo pasti akan datang sendiri. Dan benar, Dimas berjalan seperti bergerak sendiri.



"Siniin ponsel loh!" pinta Edo.



Edo sangat tau kalau di dalam ponsel tersebut pasti banyak foto perundungan yang dilakukan oleh Dimas pada dirinya juga pasti ada orang lain juga yang menjadi korban.

__ADS_1



"I\_ iya," Dimas semakin gugup, dia semakin takut, tubuhnya sudah mulai gemetar.



Perlahan Dimas mengeluarkan ponselnya dari saku, begitu pelan bahkan pergerakannya sangat lambat di mata Edo. Langsung Edo mengambilnya dengan cepat.



Tidak langsung menghapusnya tapi Edo malah m\*remasnya hingga ponsel itu perlahan hancur dan mulai jatuh setelah menjadi kepingan-kepingan kecil.



Mata Andri membulat melihat apa yang Edo lakukan, begitu jelas di matanya. Kakinya bergerak mundur dua langkah dalam pikiran yang masih tidak percaya. Bahkan Kepala Sasana tinju tidak bisa melakukan itu, tapi Edo?



"I\_ ini bagaimana bisa?" gumamnya.



Kekuatan Edo pasti sangatlah hebat dan tidak akan bisa di bandingkan dengan Kepala Sasana tinju yang dia kenal.



Sementara Dimas dan juga teman-temannya sudah tidak berani bergerak lagi, mereka terus memandangi Edo dengan wajah yang penuh ketakutan juga tubuh yang gemetar.



"Ki\_ kita bisa saja hancur dalam sekejap," ucap Kipli.



Meskipun takut tetapi mereka tidak berani memalingkan wajahnya dari Edo dan terus memandangnya seolah memastikan bahwa dia tidak akan bergerak ke arah mereka.



Dimas terus diam dengan rasa takut yang begitu menyeruak di dalam hatinya, tubuhnya terus gemetar dan semakin kencang dengan keringat dingin yang mulai keluar karena mata tajam Edo masih terus memandangi dirinya.



Dimas memberanikan diri untuk menoleh ke arah King dan juga teman-temannya, mereka juga terlihat begitu tertegun melihat aksi dari Edo yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya.



King juga tidak percaya dengan apa yang dia lihat, karena dia juga baru menghadapi musuh yang kuat seperti yang ada di hadapannya sekarang yaitu Edo.



"Apakah dia manusia?" Gumam King dengan terus ke arah Edo yang masih terus menatap ke arah Dimas.



"Bagaimana bisa dia menghancurkan ponsel dengan begitu mudah?" gumamnya lagi.



Dan saat itu juga, dengan gerakan tiba-tiba Edo menoleh ke arahnya. Seketika King dan juga anak buahnya terkesiap melihat tatapan itu yang dalam sekejap mata langsung tertuju ke arah mereka semua. Kecepatannya sungguh luar biasa.



"I\_ ini?" lirih King.



••


__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2