
~~``~~
Edo terlihat bingung, susi seorang diri dengan berkali-kali memijat pelipisnya yang terasa sedikit pusing. Tubuhnya yang gemuk sudah mendapatkan pekerjaan, bisa menghasilkan sesuatu meski keadaannya sedikit kesusahan, tapi tubuhnya yang sempurna? Dia belum bisa mendapatkan pekerjaan dan belum bisa menghasilkan uang.
“Aku harus mencari kerja, aku harus bisa menghasilkan. Tapi kerja apa, dimana?" gumamnya. Berpikir sesuatu yang mungkin bisa dia lakukan. Sudah beberapa saat dia duduk dengan posisi yang sama tapi belum mendapatkan hasil apapun.
“Kenapa begitu sulit?” Kembali dia bicara sendiri. Berpikir dan berpikir tapi malah membuat dia semakin pusing.
“Apa mungkin__?” Edo duduk dengan tega, sepertinya dia mendapatkan sesuatu ide untuk bisa membuat dia mendapatkan pekerjaan. Tapi baru juga sesaat dia di posisi itu pintu di ketuk seseorang.
Tok tok tok!
“Permisi!” Suaranya begitu nyaring keras bergantian setelah ketukan pintu yang Edo dengar.
Sejenak Edo mengernyit, siapa yang datang? Suaranya sangat asing di telinganya, sepertinya Edo belum pernah mendengar suara itu.
“Ya!" jawab Edo. Dia beranjak untuk menghampiri orang yang datang, memastikan siapa dia dan ada perlu apa? Apakah hal penting?
Langkah Edo terlihat begitu tergesa-gesa, dia sudah sangat penasaran dengan siapa tamu yang berkunjung di tempatnya. Hingga sampai di depan pintu dan dia melihat ada laki-laki berpakaian rapi, terlihat begitu formal dengan tas hitam yang dia bawa. Laki-laki itu berdiri dengan memunggungi tempat Edo keluar, sepertinya dia tengah melihat kearah sekitar.
‘Dia siapa, aku belum pernah melihatnya? Tapi, sepertinya dia bukan orang biasa,’ batin Edo. Dia terus melangkah hingga berhenti di ambang pintu.
“Maaf, cari siapa ya?" tanya Edo setelah berhenti dan mengamati sejenak laki-laki itu.
Laki-laki yang entah siapa itu langsung membalikkan badan, dia tersenyum begitu ramah dan sedikit membungkuk meski hanya sebentar.
“Perkenalkan, saya Hendra dari salah satu merek fashion ternama. Bisa berbicara dengan Mas Edo?" Tanyanya.
__ADS_1
“Ya saya sendiri," jawab Edo seraya menerima uluran tangan laki-laki itu. mari masuk." Edo melangkah lebih dulu dan laki-laki itu membuntutinya.
Edo masih bingung, orang dari merek fashion ternama datang mencarinya, untuk apa? Di tengah-tengah kebingungan Edo duduk berhadapan dengan laki-laki itu yang mengaku namanya Hendra.
Laki-laki yang masih terlihat tampan, tinggi, dengan rambut tertata rapi juga sedikit kumis itu terlihat begitu ramah, dia begitu murah senyum membuat Edo merasa tersanjung karena mendapatkan tamu yang begitu ramah.
“Maaf, ada perlu apa ya Pak Hendra mencari saya?" Tak tahan Edo menunggu, dia ingin secepatnya tau apa tujuan Hendra datang ke tempatnya. Tidak mungkin tanpa alasan kan?
Hendra tersenyum sejenak sebelum bicara, mungkin sebelum itu dia sempat berpikir kalau Edo terlalu buru-buru dan tak sabar ingin tau apa maksud kedatangannya. Mungkin?
“Kedatangan saya ke sini untuk mengajak Nak Edo bekerja di tempat saya. Sebagai duta merek di perusahaan fashion saya." jelasnya. Kembali Hendra tersenyum. Bingung, apa tidak ngilu tuh pipi tersenyum terus?
Edo terdiam. Sungguh tak dapat dipercaya, barusan Edo pusing karena ingin mencari pekerjaan dan bingung mau kerja apa, tapi sekarang? Lihatlah! Pekerjaan itu mendatanginya sendiri di rumah. Tampa harus Edo pergi mencarinya. Sungguh beruntung bukan?
“Bekerja di tempat bapak?” Edo masih tak percaya. Apakah ini nyata atau hanya mimpinya di siang bolong? Apakah, Jangan-jangan dia sedang tidur saat ini.
Untuk memastikannya sengaja Edo mencubit tangannya sendiri tanpa sepengetahuan Hendra, jelas rasa sakit yang dia rasakan karena semua yang terjadi ini adalah nyata. Dia tidak sedang bermimpi.
“Bagaimana, apakah Nak Edo setuju bekerja dengan saya. Tentu dengan imbalan yang besar.” ujarnya. Belum apa-apa sudah diiming-imingi gaji besar, siapa yang tidak akan ngiler dengan gaji besar. Apalagi dapat bekerja di perusahaan besar dan sudah sangat terkenal, siapapun pasti menginginkannya.
“Saya__”
Kring kring kring!
Baru juga Edo ingin menjawab ponsel yang dia letakan di atas meja berdering. Cepat dia melongok dan melihat nama Ronald yang tertera di sana. ‘Ronald, kenapa dia menghubungiku, apa ada hal penting? Apa mungkin mau mengajak siaran?’ batin Edo. Seperti biasa kan kalau Ronald akan menghubunginya saat akan ada siaran langsung.
Lama tak diangkat ponsel itu mati, tapi disaat Edo mau bicara lagi ponsel kembali berdering.
__ADS_1
“Saya permisi sebentar, Pak. Saya harus menerima telfon dari teman saya." Pamit Edo. Dia mulai beranjak.
“Silahkan,” jawab Rendra. Dia setuju dan memberi izin untuk Edo. Biar bagaimanapun dia tak bisa melarangnya.
Tak jauh dari tempat semula, Edo mengangkat telfon dari Ronald. Suaranya sudah langsung dikenali dan satu yang membuat Edo mengernyit suara Ronald terdengar begitu antusias. Apakah dia mendapatkan sesuatu yang indah?
“Ronald, ada apa?” tanya Edo. Dia melirik sekilas ke arah Rendra. Tak enak sebenarnya meninggalkan tamu untuk berbicara dengan temannya. Seperti kurang sopan sih.
“Edo, kamu harus tau ini. Kamu harus tau,” ucapan Ronald terdengar begitu antusias, dia begitu semangat untuk mengatakan sesuatu pada Edo, tapi apa?
“Iya, tau apa?” Edo semakin penasaran dengan apa yang ingin dibicarakan oleh Ronald kepadanya. Mendengar begitu antusiasnya Ronald tentu itu bukan hal yang biasa.
“Begini, siaran langsung kita ternyata dilihat begitu banyak orang sampai-sampai dari salah satu merek fashion ternama juga melihatnya.”
“Terus?” tanya Edo menyela ucapan Ronald karena dia juga semakin tidak sabar ingin mendengar penjelasan dari temannya itu.
“Berita baiknya adalah, dari pihak fashion ternama itu menghubungiku dan menginginkan kita menjadi Duta merek untuk perusahaan mereka. Mereka ingin menjadikan kita terkenal di bawah naungan mereka. Bagaimana, ini berita bagus bukan?”
Berita bagus yang memang berita bagus tapi bagaimana mungkin itu akan menerima 2 pekerjaan sekaligus di dua perusahaan di bidang yang sama? Seketika Edo menoleh ke arah Hendra dan dia masih setia menunggu di sana dengan duduk dengan tenang.
Tadi dibuat bingung tetapi sekarang di saat pekerjaan datang kenapa harus dua sekaligus? Edo bingung.
“Do, bagaimana? Kita terima kan? Ini adalah kesempatan yang bagus untuk kita. Kita bisa menghasilkan uang dan tentu kita akan lebih dikenal oleh orang banyak. Mau ya ya!” rayu Ronald.
Ronald nampak begitu menginginkan pekerjaan itu, jelas saja, Edo pun juga menginginkannya. Tapi?
“Ini bagaimana? Siapa yang harus aku pilih?” Kembali Edo menoleh ke Hendra, laki-laki itu kebetulan pas melihatnya juga, dia tersenyum begitu ramah dan masih sabar menunggu. Dilema kan Edo sekarang?
__ADS_1
~``~
Bersambung....