
Bugh bugh bugh!
"Ak! Ak!" Jeritan kesakitan begitu jelas terdengar di luar toilet. Suaranya sangat jelas masuk ke telinga semua orang yang ada di sekitar.
Tentu saja itu adalah perbuatan dari Edo yang tengah meluapkan semua kemarahannya kepada Dimas dan juga teman-temannya. Benar-benar langsung di bayar tunai kelakuan mereka yang mempermalukan Edo yang gemuk dan juga menghina keluarganya.
Edo sudah tak lagi bisa menahan semuanya hingga dia melakukannya di dalam toilet yang di ketahui tak ada yang lain di sana selain hanya mereka.
Semua yang mendengar merasakan kengerian yang sangat besar, bahkan mereka juga langsung bergidik ngeri dan membayangkan jika mereka dalam posisi di dalam sana sekarang. Tak ada yang tau, siapa pelaku yang sebenarnya, tak ada yang tau kalau itu adalah perbuatan dari Edo.
"Ih, jangan-jangan itu perbuatan dari Dimas dan teman-temannya yang tengah menindas murid yang lemah. Kasihan sekali ya dia, siapa sih yang mereka tindas kali ini?" ucap salah satu murid yang mendengar kejadian itu.
"Iya, sungguh kasihan. Dimas dan teman-temannya memang sangat keterlaluan." Jawab yang lainnya.
Orang yang sebenarnya menjadi korban malah mereka anggap sebagai pelaku, itu semua juga karena mereka sudah terbiasa melakukan hal itu, apalagi dari beberapa murid mengetahui yang ada di dalam adalah komplotan dari Dimas. Bugh!
"Akk!" Suara kesakitan kembali terdengar.
Semua yang ada di luar merasa sangat takut hingga mereka langsung berlari pergi karena tak mau juga mendapatkan hal yang sama.
Tak berapa lama Edo keluar, terlihat dia begitu puas karena telah berhasil membuat Dimas dan teman-temannya babak belur. Ini adalah upah yang harus mereka dapatkan dari semua perbuatan mereka semuanya.
Dengan langkah mantap namun dengan wajah datar Edo masuk ke dalam kelas. Duduk dengan tenang dan mengabaikan semua yang ada.
Dengan wajah bengkak dan penuh lebam Dimas dan teman-temannya masuk juga ke kelas. Tangan mereka tak diam begitu saja, tapi terus memegangi pipi-pipi mereka yang terkena hajar oleh Edo.
"Sshh," Dimas mendesis kesakitan begitu juga yang lain, terasa begitu ngilu pipinya dengan bengkak di beberapa tempat.
Wajah mereka begitu suram, berjalan ke arah kursi mereka lalu duduk, sekali mereka melirik takut ke arah Edo yang duduk manis dan seolah tak pernah melakukan apapun.
Semuanya jelas saja merasa heran, siapa sebenarnya yang telah membuat Dimas dan teman-temannya babak belur seperti sekarang ini. Ini adalah hal yang lucu menurut mereka, biasanya mereka yang membuat murid lain babak belur karena perbuatan mereka, tapi kenapa sekarang malah jadi mereka sendiri? Siapa yang telah berhasil membuat mereka seperti ini?
Tak tak tak!
__ADS_1
Langkah kaki yang terdengar begitu tegas dan juga cepat menuju ke kelas tersebut, semua tetap biasa-biasa saja tak ada yang bereaksi bahkan tetap asyik dengan apa yang tengah mereka lakukan.
Pak Bandi, Administrator akademik datang dan langsung melihat apa yang terjadi pada Dimas dan juga teman-temannya. Pastilah ada yang melapor hingga akhirnya beliau datang untuk melihat secara langsung dan membuktikan kebenarannya.
"Apa yang terjadi pada kalian, kenapa bisa seperti ini?" tanyanya matanya begitu bulat ke arah Dimas dan beberapa teman yang mengalami hal yang sama.
Edo memandangi mereka dengan agak takut, memandangi Pak Bandi dengan bergidik.
Karena begitu kesalnya dia tidak dapat menahan kekesalannya saat berada di toilet hingga dia kehilangan kendali dan menghajar mereka semua. Jika saja mereka tidak memancing-mancing lebih dulu mungkin Edo tidak akan melakukan hal ini.
Yang dia lakukan saat ini sama persis dengan kejadian kemarin di depan rumahnya saat menghadapi para berandalan. Mereka yang ingin mencuri telur ayam milik neneknya, Edo juga tak bisa menahan diri hingga dia membayar tunai perbuatan mereka dengan membuat mereka juga babak belur.
Melihat kejadian ini membuat Edo mengingat kejadian saat dulu dia sering kali di bully di sekolah lamanya. Dia mulai takut, bagaimana kalau Administrator mengetahui kalau dirinya yang melakukan itu? Bagaimana kalau sampai mereka memanggil neneknya sama seperti dulu?
'Bagaimana ini, bagaimana kalau beliau tau aku yang melakukannya, bagaimana kalau sampai nenek kembali di undang untuk datang?' batin Edo, dia mulai takut juga bingung.
Membayangkan sesuatu yang kemungkinan akan terjadi, hatinya begitu was-was, berdebar karena ketakutan.
Dimas masih terdiam dia juga sangat bingung dengan Edo yang tiba-tiba berubah menjadi begitu garang dan sangat menakutkan. Dari wajahnya yang begitu humble dan tadi seperti harimau jantan yang di usik tempat tinggalnya.
Dimas juga sangat bimbang, apa yang akan dia katakan pada Pak Bandi sekarang? Jika jujur apakah itu menjamin dia akan selamat?
"Ka\_ kami tidak apa-apa kok, Pak. Kami berkelahi hanya untuk bersenang-senang saja," ucap Dimas beralasan.
Alasan yang tak masuk akal, bagaimana mungkin berkelahi hanya untuk bersenang-senang, apalagi babak belurnya juga beneran. Mereka mau buat petaka untuk mereka sendiri?
Pak Bandi mengangguk antara percaya dan tidak, tapi dia juga tidak ada bukti yang memberatkan siapapun kalau tetap kekeuh mempermasalahkan kejadian ini.
"Baiklah, lain kali jangan berkelahi lagi di lingkup sekolah, kalian mengerti?" ucapnya. Sebenarnya kasihan juga melihat para murid-murid itu babak belur, tapi ya sudahlah.
Tak ada yang menjawab, mereka tetap acuh tak peduli. Itulah yang selalu terjadi, bukan hanya wali kelas saja yang selalu di abaikan bahkan Pak Bandi selaku Administrator akademik pun juga sama.
Mendengar Dimas tak menyebutkan namanya Edo begitu bersyukur. Kembali dia teringat dulu, dia selalu saja ikut menanggung kesalahan dari teman-temannya yang dia sendiripun tak pernah ikut-ikutan. Tapi sekarang? Dimas menutupinya.
__ADS_1
Haruskah Edo berterima kasih pada Dimas karena itu?
Hingga Pak Bandi keluar Edo masih memandangi Dimas dan teman-temannya secara bergantian, ternyata mereka semua diam. Entah karena takut padanya atau mungkin memang karena mereka menyadari mereka yang salah?
"Halo tampan ku," Sapaan dan juga kedatangan Yulia jelas saja mengejutkan Edo yang tengah melamun.
Edo menoleh cepat dan ternyata Yulia sudah duduk di kursi sebelahnya dengan memandangi dirinya. Edo cepat menggeser duduk.
Tangannya Yulia tak kosong, ada beberapa makanan yang dia bawa.
"Edo tampan, nih aku bawakan beberapa makanan enak untuk mu. Di makan ya, Atau mungkin mau aku suapin?" tanyanya begitu antusias. Memperlihatkan semua yang dia bawa dan menyerahkan di hadapan Edo yang masih termangu.
Dengan senyuman manis penuh goda Yulia berdiri, meraih tangan Edo dan menariknya, seolah dia mengajak Edo untuk berdiri juga. Edo bingung, sebenarnya apa yang ingin Yulia lakukan. Dengan canggung Edo berdiri, memandangi semua teman sekelas yang juga fokus padanya.
'Apa-apaan nih,' batin Edo. Dia berusaha melepaskan tangannya tapi Yulia menahannya.
"Edo tampan, aku menyukaimu, aku mencintaimu sejak pandangan pertama. Bersediakah kamu menjadi pacarku?"
"Buset!" Satu teman berseru. Secara terang-terangan Yulia menyatakan cinta pada Edo.
Setelah sepatah kata itu keadaan kelas menjadi hening, semua fokus pada Yulia yang terus tersenyum penuh harap dan Edo yang semakin canggung dan bingung untuk menjawab dengan jawaban apa.
"Mau ya, jadilah pacarku dan aku akan membuat kamu bahagia." ucap Yulia lagi.
Brakk!
Semua terperanjat. Gebrakan meja yang terdengar setelah suara lantang Yulia menyatakan Cinta.
Semua menoleh dan ternyata ada Andri yang sudah berdiri dengan wajah garangnya, sepertinya dia tak terima dengan Yulia yang menyatakan cinta pada Edo. Andri juga sangat mencintai Yulia, bahkan mereka kenal lebih lama , bagaimana mungkin Yulia lebih menyukai Edo.
"Aku tantang kamu, jika kamu menang kamu boleh menerima cintanya!" tunjuk Andri pada Edo.
~~~~••~~~~
Bersambung...
__ADS_1