
~~``~~
Setelah acara perayaan ulang tahun kemarin Edo dan juga Ronald menjadi semakin terkenal. Semua teman-teman di sekolah tak ada satupun yang tidak mengenalnya. Keduanya benar-benar menjadi murid yang begitu di kenal, bukan hanya dari para murid saja, tapi juga dari para guru.
Edo semakin lagi, pria itu kini benar-benar menjadi terkenal, menjadi primadona. Ada banyak perempuan yang datang padanya dengan tujuan yang sama. Mereka begitu menyukainya dan datang memberikan surat cinta pada Edo.
"Edo! Edo!" teriak semua murid perempuan yang sudah menunggu kedatangannya sejak tadi. Semua berlari mengejar Edo yang baru saja datang.
Edo mengernyit bingung, awalnya dia tak mengerti kenapa semua menjadi seperti itu. Mengejarnya dengan begitu antusias.
"Edo, tunggu!" teriak mereka lagi. mereka saling berebut, mengejar Edo dan ingin lebih dulu sampai di hadapannya. Satupun dari mereka tidak mau ada yang tertinggal, mereka benar-benar saling mendahului dan berdesak-desakan hanya untuk sampai lebih dulu kepada Edo dan memberikan surat yang sudah mereka buat.
Edo dibuat terdiam, Dia terpaku di tempat saat semua para gadis menyerbu dirinya dan memberikan surat cinta mereka. Sebenarnya Edo tidak ingin menerimanya tetapi mereka memaksa dan menyerahkannya langsung di telapak tangan Edo, hingga begitu banyak surat cinta yang ada di tangannya.
"Jangan lupa di baca ya."
"Edo, di balas ya!"
"Kak Edo, suratku di baca dan jangan lupa di balas ya. Aku akan menunggu kakak balas suratnya."
"Edo, aku suka padamu. Balas cintaku ya, dan jadilah kekasihku."
Begitu banyak ucapan dari mereka semua. Menginginkan Edo membalas surat dan tentu membalas cinta mereka, berharap Edo akan mau menjadi kekasih mereka.
Edo diam, melihat kepergian mereka satu persatu dari hadapannya. Mereka terlihat begitu bahagia setelah berhasil memberikan surat mereka pada Edo.
Tatapannya beralih pada setumpuk surat cinta yang ada di tangan, dia begitu bingung mau dia buat apa surat sebanyak itu. Edo tak ada niat untuk membacanya apalagi untuk membalasnya. Edo masih merasa rendah hingga dia tidak mau menanggapi semua murid perempuan yang terus mengejarnya.
Bukan hanya para murid perempuan yang berdatangan mencari Edo dan ingin menjadikan orang paling spesial di hidup mereka, tapi juga ada banyak para agensi yang menginginkan Edo untuk tanda tangan kontrak dan menjadi artis di bawah naungan mereka.
Edo benar-benar mendadak tenar. Dia begitu terkenal hanya dalam sekejap saja. Bukan dari para murid perempuan, bukan dari para agensi, semua tak ada yang Edo terima, satupun.
~~~~``
Edo yang juga masih harus bekerja part time hanya bisa melakukan siaran langsung satu kali saja dalam satu minggu. Dia benar-benar menggunakan waktu itu dengan baik bersama dengan Ronald.
Siaran yang kembali dilakukan bersama dengan Ronald tentu kembali mendapatkan apresiasi dari penonton dengan begitu baik. Ronald juga mulai diakui oleh para penonton di internet.
"Syukurlah, akhirnya mereka semua bisa mengakui keberadaan ku." gumam Ronald dengan begitu bahagia, dia tersenyum di tengah-tengah siaran langsungnya.
Melihat pujian yang mulai berdatangan pastilah membuat Ronald sangat senang dan juga menjadi begitu semangat untuk melakukan siaran lagi. Menoleh ke arah Edo dan dia juga tersenyum merasa bahagia.
Mungkin keadaan Ronald masih tidak cukup untuk bisa mendapatkan pujian dari semua para penonton, tapi suaranya? Suaranya yang merdu tidak bisa dibohongi oleh semua orang.
"Syukurlah," ucap Edo. Dia menepuk pundak Ronald dengan begitu bangga. Edo pun juga tersenyum bahagia.
Ronald pelan-pelan mulai mendapatkan penggemar baru di internet, hal itu membuat Ronald menjadi semakin tambah semangat untuk melakukan siaran langsung, tentu juga lebih percaya diri.
__ADS_1
'Aku harus bisa menjadi lebih baik lagi dan bisa diakui oleh semuanya.' batin Ronald, berniat untuk berolahraga sendiri supaya bisa mengubah tubuh gendutnya menjadi yang diharapkan.
Dan benar, setelah selesai siaran langsung Ronald mulai berolahraga sendiri dan itu menjadi motivasi untuk Edo supaya bisa melakukannya juga pada tubuh gemuknya. Dia juga harus bisa berubah menjadi lebih baik bukan.
Malam mulai larut, dan seperti biasa Edo akan selalu berada di tempat dia bekerja. Baru juga dia mulai beberes dia di kejutkan dengan kedatangan seorang pria dengan tubuh kurus kering yang datang. Wajahnya selalu saja terlihat mesum, entahlah Edo bingung melihatnya.
"Hey! Berikan aku mie," pintanya. Suaranya begitu lantang mengejutkan. Edo sampai terperanjat dibuatnya.
Edo terus memperhatikan pria itu yang tak lain adalah Dito, tangannya juga menunjuk sebuah pisau. Biasanya dia hanya akan membeli mie saja, tapi kenapa sekarang juga dengan pisau?
Dito memang tak lagi bicara pada Edo, tapi bibirnya terus saja mengeluarkan suara, dia terus bergumam.
"Kamu itu milikku, kamu milikku," gumamnya terus menerus. Dan itu hanya samar-samar Edo dengar. Bibirnya terus mengeluarkan suara, tapi matanya terus saja menatap ponsel yang ada di tangan, entah apa yang dia lihat.
'Untuk apa dia membeli pisau, tidak biasanya.' batin Edo bingung.
Mie Edo berikan kepada Dito lalu Edo kembali masuk untuk mengambil pisau yang dia minta juga.
"Ini mie nya," ucap Edo. "Sebentar."
"Hem," Dito hanya berdehem saja dalam menjawab itupun masih dengan tetap fokus pada foto yang ada di ponsel.
Edo ragu-ragu mengambilkan pisau itu, tapi tetap saja dia mengambil lalu dia berikan pada Dito yang memang memintanya.
__ADS_1
"Ini pisaunya," ucap Edo.
Dengan kasar Dito mengambil dari Edo, terlihat sekali kalau dia sudah tidak sabar. Dia begitu ingin cepat mendapatkan pisau itu dan sekarang berhasil dia dapatkan.
Edo sedikit tersentak dengan sikap Dito tapi dia mencoba untuk memaklumi. Dia tidak mempermasalahkannya.
Tak sengaja Edo melihat layar ponsel Dito saat memberikan pisau itu. Edo di buat begitu penasaran melihatnya, sebenarnya dia tidak ingin melihat terlalu jauh. Tapi akhirnya?
'Apa sih yang dia lihat, serius sekali.' batin Edo yang sangat penasaran.
Akhirnya, seorang gadis cantik yang sedang melakukan siaran yang Edo lihat. Terlihat begitu langsung cantik tapi terasa tidak begitu asing.
'Kenapa aku seperti pernah melihatnya, kenapa sangat tidak asing?' Edo kembali membatin. Berpikir dengan begitu serius, mengingat-ingat dimana dia pernah bertemu dengan gadis yang sedang siaran langsung itu.
Edo kembali melihat dengan teliti hingga akhirnya..
'Kok seperti Yulia? Apakah benar itu Yulia?' Edo kembali membatin. Edo benar-benar melihat dengan seksama layar ponsel itu dan ternyata dia sangat yakin kalau yang ada di layar ponsel dan yang Dito lihat itu adalah Yulia. Yulia yang sedang melakukan siaran langsung.
Edo melihat Dito sekejap, pria itu sama sekali tidak menyadari kalau Edo melihat ponselnya, entah apa yang akan dia lakukan kalau tau Edo melihatnya.
'Ja-jadi Yulia??' tanda tanya besar hinggap di kepala Edo. Dia sangat penasaran.
~~~~\`\`~~~~~
__ADS_1
Bersambung...