Sampah Sepertiku Mempunyai Body Goals Yang Baru

Sampah Sepertiku Mempunyai Body Goals Yang Baru
09. Bekerja Paruh Waktu


__ADS_3



Edo duduk dengan pasrah, menangis meratapi apa yang terjadi padanya barusan. Kenapa semua begitu kejam, tak ada rasa kemanusiaan sama sekali kepadanya.



Dengan isak tangis Edo kembali memakai pakaiannya, dia hanya berharap bahwa Dimas tidak akan menyebarluaskan fotonya yang pasti sangat tidak baik dan tidak pantas untuk dilihat. Itu sangat memalukan.



Bersamaan dengan itu ponselnya berbunyi dan ternyata Ratih yang telah menghubunginya.



"Nenek," gumamnya. Cepat dia menghapus air matanya berusaha menetralkan semuanya supaya neneknya tidak akan mengetahuinya atau tidak akan khawatir.



"Hallo, Nek." ucapnya. Dibuat seperti biasa.



"\[Hallo, Do. Bagaimana kabarmu, kamu baik-baik saja kan di sana?\]" tanya Ratih dari seberang.



Nafas panjang Edo hirup dalam-dalam itupun dengan usaha tanpa terdengar dari tempat neneknya berada.



"Edo baik, Nek." Kembali. Edo hanya bisa menipu neneknya, mengatakan semuanya baik padahal semua yang terjadi adalah kebalikannya. Tak ada yang baik saat ini.



"\[Syukurlah. Nenek hanya merasa tak enak saja, mungkin karena nenek sangat merindukanmu.\]"



"Edo baik-baik saja, Nek." Kembali Edo meyakinkan Ratih. Tak akan dia buat neneknya tau apa yang terjadi sekarang, dia harus bisa menyembunyikannya.



"\[Jaga dirimu baik-baik, Do. Jangan lupa makan dan juga istirahat, belajar yang rajin supaya kamu bisa meraih semua yang sudah kamu impikan.\]"



"Iya, Nek. Pasti." Jawab Edo.



"\[Nenek tutup dulu ya, cepatlah istirahat.\]" pinta Ratih, tak tau dia kalau Edo masih bekerja saat ini di toko Pak Mamang.



"Iya, Nek." Telfon pun terputus setelah Ratih yang memutuskannya.



Hembusan nafas panjang kembali Edo hirup, sedih sebenarnya harus berbohong pada Ratih tapi Edo juga tak mungkin jujur. Semuanya demi kebaikan.



Melihat semua barang-barang yang berantakan. Dengan pelan Edo mulai membereskannya, mengembalikan ke tempat semula.



Teringat akan Dimas yang mengambil beberapa r\*kok tadi. Karena Edo tidak mau di pecat hanya karena itu hingga dengan sangat terpaksa dia mengeluarkan uangnya sendiri untuk membayar semua yang sudah Dimas ambil.



Hingga pagi Edo berada di sana. Lelah, kantuk jelas dia rasakan tapi demi mendapatkan uang dia akan lakukan. Dia harus lembur setiap malam dan itu memang sudah keputusannya.



Masih di sana, melihat-lihat semuanya dan Pak Mamang datang ke toko.

__ADS_1



"Pagi, Pak." Edo menyapanya dengan ramah.



"Hem," Pak Mamang hanya berdekhem saja sebagai jawabannya.



Tak lagi mengatakan apapun Pak Mamang bergegas ke kasir untuk menghitung uang yang di dapatkan.



Pak Mamang tersenyum, semua hitungannya pas dan tak ada kekurangan sedikitpun. Jelas dia sangat senang karena merasa Edo bekerja dengan sangat baik malam ini.



Pak Mamang berjalan-jalan, melihat barang-barang dan akhirnya melihat di rak adanya kerusakan. Mungkin itu adalah bekas dari Edo yang di hajar oleh Dimas dan teman-temannya semalam.



"Edo, apa ini?!" Pertanyaannya begitu menegaskan pada Edo.



Edo mendekat dan tentu langsung melihat apa yang Pak Mamang tunjukan padanya.



"Ada apa ini?" tanya Pak Mamang lagi.



"Sa\_ saya tidak tau, Pak." Dengan sangat berat Edo berbohong. Mengatakan tidak tau apa yang membuat kerusakan di salah satu rak.



"Benarkah kamu tidak mengetahuinya? Semalam kamu terus berada di sini kan?" tanyanya lagi. Tatapannya kian tajam pada Edo yang menunduk takut.




Pak Mamang tak lantas percaya begitu saja, dia tetap curiga pada Edo.



Pak Mamang mengeluarkan uang mengambil beberapa lembar dan dia berikan pada Edo. Karena tak ada kepercayaan dalam hatinya Pak Mamang memotong gaji Edo setengahnya.



"Ini untuk mu. Saya potong gajimu karena kejadian ini. Dan ya! Aku memaafkan mu, tapi kamu harus merapikan toko ini setiap pagi. Kamu mengerti!" ucap Pak Mamang dengan begitu tegas.



Matanya menatap tajam ke arah Edo, mungkin itu juga karena dia tak menyukai Edo dari sejak awal hingga dia juga bertingkah semena-mena pada Edo.



"I\_ iya, Pak." Edo hanya patuh itu dia lakukan karena dia tak mau kehilangan pekerjaannya. Dia menyadari akan susahnya mencari pekerjaan jadi dia harus tetap mempertahankannya meski perilaku tak baik dia dapatkan.



"Pergilah," Pinta Pak Mamang. Waktu pulang Edo telah tiba dan dia memang harus pulang.



"Baik, Pak." Edo menangguk, dia langsung bergegas untuk segera pulang. Kecewa, sebenarnya dia sangat kecewa karena yang dia dapatkan sekarang tak seperti apa yang dia bayangkan. Apalagi di tambah dengan dia yang juga harus kehilangan uang untuk mengganti rugi akibat Dimas dan teman-temannya.



Menyadari hari sudah siang Edo begitu bergegas. Mengayuh sepedanya dengan sangat cepat. Dia harus segera sampai rumah.



"Aku harus cepat sampai. Ini sudah sangat kesiangan." Gumamnya. Terus kakinya mengayuh dengan cepat.

__ADS_1



Beberapa kali Edo melihat langit, matahari semakin naik menandakan hari memang sudah semakin siang.



Sampai di rumah Edo begitu buru-buru untuk segera mengganti tubuh. Dia tak boleh terlambat ke sekolah, dia tidak mau sampai ada masalah lagi.



Cepat Edo berbaring di sebelah tubuh tampannya dan dia seketika langsung terpejam. Tak lama setelah itu Edo yang tampan bangun dan juga langsung bergegas.



"Aku harus bergegas," ucapnya. Terus dia berjalan kesana kemari dengan cepat, mempersiapkan diri untuk segera ke sekolah.



Begitu buru-burunya Edo saat ini hingga dia melupakan kalau dia belum makan apapun. Edo tetap bergegas ke sekolah.



Kembali Edo mengayuh sepedanya. Menyusuri jalanan dengan cepat, mengejar waktu yang sudah sangat terlambat.



Tak peduli dengan apapun, tak menoleh dan terus fokus pada jalan yang dia lewati.



"Semoga belum terlambat." Ucapnya. Semakin cepat Edo mengayuhnya.



Tiba di sekolah keadaan sudah begitu sepi, semua sudah masuk ke dalam kelas masing-masing. Edo begitu panik masak iya baru dua kali masuk sudah terlambat.



"Astaga, aku terlambat." Cepat Edo memarkirkan sepedanya di tempat yang sama seperti kemarin, tak lagi dia melihat sekeliling dan mengabaikan segalanya yang ada.



Edo berlari. Dia begitu bergegas dan harus cepat sampai di kelas. Jangan sampai dia terlambat dan akan membuat guru marah karena keterlambatannya.



Lelah, Edo juga pasti sangat lelah karena terus berlari. Begitu buru-buru dan seperti di kejar harimau karena mau di mangsa. Jelas Edo di kejar oleh waktu yang sudah habis.



Sesekali Edo berhenti, membungkuk sejenak untuk menghilangkan rasa lelah. Menetralkan nafas dan juga detak jantungnya, setelah lumayan normal Edo kembali berlari.



Hingga akhirnya Edo sampai di dalam kelas. Dia sudah bersiap untuk meminta maaf pada Pak Djarot yang menjadi wali kelasnya. Tapi ternyata?



"Pak, ma\_\_,"



Edo mengedarkan pandangannya ke segala penjuru dan ternyata tak ada Pak Djarot di sana. Menoleh ke arah teman-temannya yang ternyata masih sibuk dengan kegiatan mereka sendiri.



"Syukurlah," Edo menyadari. Bahwa di sekolah itu tak akan sama dengan sekolahnya yang dulu yang selalu tepat waktu dalam pelajaran. Ini adalah tempat baru yang bahkan gurunya juga sering terlambat masuk.



Mungkin itu karena beliau malas karena anak-anak juga selalu mengabaikannya.



~~~~••~~~~


__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2