
~~``~~
Sebelum sampai di rumah neneknya tinggal Edo berhenti sebentar di salah satu toko pakaian yang ada di pinggir jalan. Niatnya ingin membeli beberapa baju untuk neneknya.
Mobil yang Edo tumpangi berhenti di depan toko tersebut dan dengan cepat dan juga semangat dia turun setelah memberikan beberapa ongkos pada sang sopir.
"Terima kasih, Pak," ujarnya dengan sangat ramah. Edo juga tersenyum untuk menunjukkan keramahannya pada orang tersebut.
"Sama-sama, Dek. Terima kasih juga," jawabnya dengan ramah juga, beliau juga tersenyum setelah menerima uang dari Edo. "Mari, Nak."
Tak lama mobil kembali berjalan setelah Edo mundur dari mobil tersebut, melihat kepergian mobilnya yang kini semakin jauh. Edo perlahan membalik lalu bergegas masuk ke toko yang seakan melambai-lambai memanggilnya.
Edo begitu semangat, dia sudah memikirkan apa saja yang akan dia beli. Dia harus bisa memilih yang akan di sukai oleh Ratih sang nenek.
Tatapan Edo begitu berbinar melihat deretan baju yang mungkin salah satunya akan dia pilih untuk Ratih. Tapi binar itu mulai surut saat melihat ada salah satu pelayan toko yang melihat dirinya dengan begitu jijik. Bagaimana tidak, Edo yang gemuk dengan penampilan yang sederhana seperti biasa.
Bukan hanya pelayan itu, tapi juga dari beberapa pelanggan yang ada di dalamnya, mereka memandangi Edo dengan begitu sinis.
"Apa benar orang seperti dia bisa membeli baju di sini? Di sini baju-baju sangat mahal, rasanya sangat mustahil." ujarnya dengan begitu sinis.
Sejenak Edo terdiam, Dia terpaku di tempat dengan perasaan yang begitu sedih. Bukan sedih karena dirinya dihina, karena itu sudah hal yang biasa. Tetapi Edo bersedih karena dirinya selalu saja diragukan dan dianggap tidak mampu untuk melakukan sesuatu yang juga dilakukan oleh orang lain. Apakah orang seperti dirinya tidak ada kesempatan untuk bisa sama seperti yang lainnya?
"Tampangnya begitu menjijikkan apalagi pakaiannya itu, benar-benar mendukung dirinya terlihat begitu buruk." Semakin nyinyir pelayan itu. Tatapannya juga semakin meremehkan Edo.
Setelah menenangkan hatinya Edo langsung melangkah ke arah yang ingin dia tuju sudah sebelumnya. Mengabaikan pelayan itu, tetapannya maupun kata-katanya yang masih saja dia lontarkan untuk menghina Edo. Edo tidak mau mengambil pusing apa yang baru saja dia dengar karena itu juga tidak akan memberikan dampak baik kepadanya. Hanya saja membuat Edo lebih berhati-hati kepada orang lain, karena tidak semua orang bisa menerima keadaannya.
'Aku harus mengabaikannya, tak ada untungnya kan?' batin Edo. Dia benar-benar melangkah dan mulai memilih baju yang dikira pas untuk Ratih.
Pelayan itu masih saja terus mengawasi gerak- gerik Edo yang sedang memilih pakaian yang akan dia hadiahkan kepada neneknya. Terlihat dia begitu ragu kalau Edo benar-benar bisa membeli pakaian yang akan dia pilih. Dia lebih ke waspada karena berpikir yang tidak tidak pada Edo.
"Paling dia juga tidak akan bisa membeli," ucapnya lagi, dan itu samar-samar Edo dengar namun dia abaikan.
Setelah begitu lama Edo memilih dan mempertimbangkan pakaian mana yang akan dia beli dia langsung berjalan ke arah pelayan tadi dengan membawa beberapa potong pakaian.
Pelayan itu begitu terkejut, dia tidak percaya kalau ternyata Edo malah memilih beberapa pakaian. "Ahh, paling hanya memilih saja dan tak mau niat beli." sinisnya yang semakin menjadi.
Dengan penuh yakin Edo kembali melangkah, semakin dekat dengan pelayan itu hingga akhirnya berhenti tepat di hadapannya.
"Kak, saya mau membeli ini," ujar Edo. Memberikan beberapa baju itu pada pelayan.
"Kakak kenapa?" tanya Edo. Pelayan itu begitu terperangah karena rasa tidak percayanya sekarang sudah berganti dengan rasa terkejut.
"Ti-tidak," jawabnya dengan gagap, kepalanya juga menggeleng karena dia begitu canggung. Mengabaikan rasa malunya pelayan itu langsung membungkus baju yang dia pilih. Edo langsung memberikan sejumlah uang untuk membayarnya.
"Te-terima kasih sudah berbeda di sini," ujarnya lagi.
__ADS_1
"Iya, terima kasih juga, Kak." Edo mengangguk dan tangannya langsung meraih paper bag.
Begini semangat dan senang Edo setelah mendapatkan semua yang akan dia berikan pada neneknya. Ada beberapa baju dan juga makanan dia sudah membelinya.
Jarak yang memang tak begitu jauh membuat Edo memilih berjalan kaki. Sesekali dia melihat jalan dan sesekali akan melihat apa yang ada di tangannya.
"Semoga saja nenek akan bahagia," gumamnya. Wajahnya begitu berbinar cerah.
Baru saja dia mengangkat wajahnya dan melihat jalan yang ada di depan dia melihat para pembully di sekolah lamanya. Alex dan juga beberapa temannya.
Langkah Edo berangsur pelan, dia begitu ragu untuk berjalan untuk semakin dekat dengan mereka. Tentu karena dia mengingat semua yang mereka lakukan dulunya.
Ada rasa takut di hati Edo, tapi dia harus bisa yakin kalau tidak akan terjadi apa-apa. Edo terdiam sejenak dan akan berjalan setelah itu, tapi lengannya langsung di dorong oleh Alex dan membuat Edo kembali mundur.
"Mau kemana, kenapa buru-buru sekali. Sudah lama kita tidak bertemu kan, apa kamu tidak merindukan kami?" tanya Alex, suaranya terdengar dingin.
Edo diam tak menjawab, dia bahkan menunduk.
"Eh, bawa apa kamu? Hem, sini berikan," pinta Alex. Tangannya langsung hendak meraih apa yang Edo bawa.
"Jangan," tangan Edo seketika menyingkirkan tangan Alex yang sudah berhasil menyentuh barusan.
__ADS_1
"Kamu melawanku? Berikan!" suara Alex sudah terdengar begitu marah. Ya! Seperti biasa dia tidak menerima penolakan. Apapun yang dia ingin harus dia dapatkan.
"Tidak," Edo menggeleng. Dia tidak ada niat untuk melawan tapi dia hanya ingin mempertahankan apa yang menjadi miliknya. Pakaian, makanan dan juga uangnya, itulah yang menjadi incaran mereka.
"Kurang ajar!" Alex benar-benar marah. Dia hendak memukul Edo namun tidak sadar tangan Edo terangkat dan berhasil menghentikan gerakan tangannya.
Ternyata, kekuatan yang ada di dalam tubuh tampannya sedikit banyak memberikan pengaruh juga pada tubuhnya yang gemuk.
Tapi sayang, meski sudah beberapa kali Edo berhasil menahan pukulan dari Alex dan teman-temannya dia tetap bisa dikalahkan. Tubuhnya masih sangat lemah untuk bisa mengalahkan mereka semua.
"Hahaha! Sok-sok pakai ngelawan, tidak akan bisa menang!" seru Alex dengan tawanya yang menggelegar keras dan di ikuti oleh para teman-temannya.
Edo ingin merebutnya kembali tapi dia tak berhasil. Bukannya berhasil mendapatkan barang-barangnya tapi Edo malah mendapatkan beberapa pukulan lagi hingga membuat dia begitu kesakitan.
Edo begitu kesal, dia sudah berusaha keras untuk bisa mengumpulkan uang dan membeli semua untuk neneknya supaya bahagia dan juga tidak lelah-lelah untuk mencari uang.
"Hahaha!" Tawa mereka menggelegar dengan begitu melengking seiring dengan mereka mulai melangkah untuk menjauh, mereka ingin pergi dari sana setelah mendapat apa yang tadi di bawa oleh Edo. Tentunya, mereka juga sangat puas karena sudah berhasil menghajar Edo setelah sekian lama tidak mereka lakukan.
'Aku harus bisa membawa tubuhku yang sempurna untuk datang ke sini, apa yang menjadi milikku harus tetap menjadi milikku,' batin Edo begitu yakin. Meski dia dalam keadaan kesakitan.
~~~~\`\`~~~~
__ADS_1
Bersambung...