Sampah Sepertiku Mempunyai Body Goals Yang Baru

Sampah Sepertiku Mempunyai Body Goals Yang Baru
36. Tidak Menyangka


__ADS_3

~~``~~


Kedatangan para polisi jelas membuat Dito sangat terkejut tapi mau apa, toh dia juga sudah terjatuh dan tentu juga begitu banyak luka akibat pukulan dari Edo.


Dengan wajah yang babak belur Dito hanya bisa melihat dengan miris dirinya sendiri. Setelah ini pasti dia tak akan bisa terlepas dari polisi. Ingin lari pun sepertinya juga percuma karena dia tak akan punya kekuatan untuk melarikan diri dari para polisi yang tak hanya satu orang.


Dito terlihat pasrah, jangankan untuk melarikan diri dari para polisi hanya untuk berdiri saja dia tak kuasa. Dito terdiam tak mampu berbicara tapi masih terus berdesis karena menahan rasa sakit di beberapa tempat di bagian wajah dan juga tubuhnya.


Para polisi sudah siap mengamankan Dito yang sudah diyakini adalah orang yang melakukan kejahatan.


Sementara Edo masih tertegun, dia tak percaya kalau ternyata dia bisa melumpuhkan Dito dengan tubuhnya yang sekarang.


Edo begitu termangu, dia tak percaya. Beralih melihat kedua tangannya yang sudah membuat Dito tak berdaya. Edo tersenyum masih dengan tak hati yang begitu bergemuruh.


''Benarkah aku yang telah melakukan ini? Bagaimana mungkin?'' Edo terus bergumam. Benar-benar tak percaya dengan kemampuannya sendiri.


Semua gerakan yang dia lakukan masih terus dia ingat, gerakan yang sama dengan yang dilakukan oleh tubuhnya yang tampan dan sempurna. ''Bagaimana ini bisa?''


Sementara Yulia yang masih berdiri tak jauh dari Edo dengan masih takut didekati oleh salah satu polisi wanita. Dibantu untuk berjalan dan memilih menghampiri Edo yang masih tak menyadari kedatangannya.


''Terima kasih sudah melaporkan kejadian ini kepada kami. Dengan ini kamu telah membantu kami dalam mencegah terjadinya kejahatan.'' ujar salah satu polisi yang sudah berhenti di hadapan Edo.


Edo terkesiap, dia baru tersadar setelah beberapa saat bahkan setelah kata-kata dari polisi itu selesai dia katakan.


''Sa-saya, saya hanya melakukan apa yang saya anggap benar,'' jawab Edo. Ternyata meski dia baru tersadar nyatanya dia tetap mendengar semua yang polisi katakan padanya.


Polisi tersenyum dengan ramah dan juga merasa begitu terima kasih dengan yang dilakukan oleh Edo.


Edo melihat ke arah Yulia, gadis itu masih gemetaran. Tatapan keduanya saling bertemu dalam sesaat hingga tak beberapa saat Yulia langsung berlari dan berhambur memeluk Edo.

__ADS_1


''Ak!'' Edo begitu terkejut, bagaimana tidak, Yulia langsung memeluk dirinya. Tangan Edo menggantung begitu saja di udara, dia bahkan membatu karena Yulia.


Perasaan Edo sungguh campur aduk, hatinya begitu bergemuruh tak percaya mendapatkan pelukan dari Yulia, gadis paling cantik di kelasnya.


Perasaan Edo semakin tak karuan saat dia mendengar kalau ternyata Yulia menangis dengan memeluknya erat bahkan tangisnya semakin kencang. Dia terlihat tak ada rasa jijik atau ilfil dengannya.


"Kamu membuat aku takut," ucap Yulia. Ternyata dia juga takut melihat Edo yang terus berusaha untuk melumpuhkan Dito tadi.


Yulia yang tak pernah berhadapan dengan keadaan seperti itu jelas saja kalau dia sangat takut. Aksi Edo sangat luar biasa, baru saat ini dia melihat kejadian yang seperti ini, apalagi semua terjadi karena dirinya.


"Ma-maaf, a-aku tidak berniat untuk membuat kamu takut. A-aku hanya__," ucapan Edo terhenti saat Yulia melepaskan pelukannya namun beralih menatap wajah Edo. Semakin gugup Edo saat ini.


"Kamu tidak bersalah," ucap Yulia yang memutuskan kata-kata Edo sebelum berhasil menyelesaikannya.


"A-aku, aku sangat berterima kasih padamu, kalau kamu tidak ada__," kata-kata Yulia juga terputus, tapi dia sendiri yang memang berniat menghentikannya.


Yulia kembali memeluknya dan tentu membuat dirinya semakin malu sekarang. Wajahnya terasa panas, mungkin sudah berubah warnanya sekarang.


Edo bersikap biasa-biasa saja, dia mengabaikan semua orang yang ada. Entah sejak kapan ada banyak orang yang ada di sana melihat yang terjadi.


Mungkin karena suara gaduh yang mereka dengar juga beberapa kali suara teriakan dari Yulia yang sangat jelas terdengar. Edo semakin malu. Edo hanya bisa tersenyum gagu melihat semuanya.


Semua yang datang tampak memuji Edo yang begitu berani juga keahliannya dalam menjaga Yulia.


Setelah semua selesai Edo kembali pergi ke tempat dia bekerja. Namun apa mau di kata, saat dia sampai di tempat ada bosnya. Bukan hanya bosnya saja tapi juga ada beberapa para pelanggan yang berdiri di depan pintu.


"Darimana kamu?" tanya Bosnya. Pertanyaan terdengar begitu dingin juga dengan mata yang menatap Edo begitu tajam.


"Sa-saya, maaf, Pak." jawab Edo. Dia tak menjelaskan apa yang telah terjadi. Menutupinya dan berpikir itu lebih baik karena juga tak ada sangkut pautnya dengan bosnya itu.

__ADS_1


Melihat Edo yang seperti itu semakin membuat marah dan juga sangat kesal. Dia begitu emosi dengan Edo.


"Dasar nggak becus kerja, aku akan potong setengah gajimu karena tak mau menghargai pekerjaan," ancamnya. Matanya menyala-nyala ke arah Edo yang baru saja menunduk lalu melihat bosnya karena mendengar perkataannya.


"Jangan, Pak. Saya benar-benar minta maaf. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Saya janji," Edo begitu memohon, namun hal itu malah membuat bosnya semakin marah.


Begitu banyak pelanggan yang datang, mereka jelas melihat kejadian itu. Dimana bosnya mau memotong gajinya hanya karena Edo pergi untuk menolong Yulia.


Beberapa orang menatap sinis tapi juga ada yang menatap penuh iba, tapi tetap saja tak ada yang mau memberitahu apa yang Edo lakukan barusan. Mereka tak mau ikut campur atau mungkin malas bicara.


"Bukannya pria itu yang menyelamatkan gadis tadi?" kata salah satu dari mereka dengan berbisik.


"Iya benar," jawab yang lain dengan suara pelan juga. Bosnya jelas tidak akan mendengar ucapan mereka yang begitu pelan.


Padahal mereka bisa mengatakan dengan keras supaya bosnya bisa mendengarkannya tapi ternyata itu tidak mereka lakukan. Sepertinya mereka memang tak punya rasa simpati pada Edo.


"Ingat baik-baik, sekali lagi kamu mengulangi kesalahan yang sama bukan hanya aku potong gajimu saja, tapi aku akan memecatmu!" ucap Bosnya menegaskan. Matanya begitu membulat.


"Jangan, Pak. Jangan pecat saya. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi. Saya janji akan bekerja lebih baik lagi." Edo begitu memohon, wajahnya terlihat jelas begitu memelas, jelas dia tidak mau sampai kehilangan pekerjaan.


Seandainya ada pekerjaan yang lebih baik dan lebih terhormat pastilah Edo akan keluar sendiri dari sana, tapi sekarang? Sekarang tak ada, bahkan begitu susah untuk mencari pekerjaan.


Orang-orang biasa saja sangat susah apalagi Edo yang juga seorang pelajar. Hanya bisa bekerja separuh waktu saja dan tidak bisa full. Edo menyadari itu dan tetap bertahan meski terpaksa.


"Makanya, bekerja yang bener! Jangan keluyuran nggak jelas!" sinisnya. Semua para pengunjung tetap diam, tak ada yang bersuara dan mengatakan apa yang sudah dilakukan oleh Edo.


~~``~~


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2