Sampah Sepertiku Mempunyai Body Goals Yang Baru

Sampah Sepertiku Mempunyai Body Goals Yang Baru
50. Kembali Menikmati Masakan Nenek


__ADS_3

~~``~~


Dengan keadaan yang lesu akhirnya Edo sampai di tempat dimana neneknya tinggal. Dia masuk, tapi tak mendapati nenek di rumah. Edo terus mencari dengan terus berteriak hingga sampai belakang rumah tapi tetap saja hasilnya nihil, Edo tidak menemukan neneknya.


"Apakah nenek masih keliling mencari barang-barang bekas?" gumamnya. Melihat pelataran belakang yang begitu sepi. Edo kembali masuk ke dalam.


Seperti biasa, neneknya pasti sedang pergi bekerja. Pergi mencari barang-barang bekas seperti kardus, botol dan lainnya yang bisa diuangkan.


"Aku akan mencari nenek," gumamnya lagi. Edo kembali melangkah keluar dari rumah sederhana itu dan bergegas mencari Ratih. Entah dimana titik keberadaannya sekarang tapi dia harus tetap menemukannya, Edo sangat merindukannya.


Berjalan dan terus berjalan, menyusuri jalanan yang begitu ramai akan orang yang lalu lalang, begitu bising penuh dengan suara berbagai macam kendaraan dan juga perbincangan dari orang-orang. Edo tetap melaju langkah dengan wajah yang sesekali celingukan untuk mencari Ratih.


"Nenek dimana?" Sejenak Edo berhenti melangkah rasa lelah mulai terasa namun dia harus kembali berjalan, dia harus kuat dan tak boleh gampang lelah. Mungkin karena inilah kenapa Ratih selalu melarang Edo untuk ikut serta dalam mengumpulkan sampah, pasti Ratih sangat takut kalau Edo akan kelelahan dan tak bisa fokus dalam belajar.


Edo kembali berjalan setelah mengusap keringatnya yang membasahi wajahnya. Ternyata, tak mudah untuk bisa menemukan neneknya.


"Saya mohon, Tuan. Izinkan saya mencari kardus bekas di daerah sini. Saya mohon."


Suara begitu memohon dan terdengar begitu memelas masuk ke telinga Edo dan membuatnya berhenti. Edo menoleh dan ternyata dia melihat neneknya yang tengah memohon pada seorang pria dengan rapi, dengan setelan jas berwarna hitam.


"Tidak bisa. Ibu tidak bisa mencari kardus atau apapun di sini lagi. Tempat ini sudah di kelola oleh pihak lain dan seluruh kardus bekas juga akan mereka ambil sendiri," ujarnya.


"Saya mohon, Tuan. Izinkan saya," Ratih terus memohon. Biasanya dia akan mendapatkan hasil yang lumayan jika berkeliling di daerah tersebut, tidak taunya sekarang sudah dikelola oleh orang lain dan dia tidak akan bisa kembali kesana lagi.


"Maaf, Bu. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Jika saja saya masih mengelola tempat ini pastilah saya akan biarkan Ibu mencari apapun di sini, tapi sekarang tidak lagi. Sekali lagi saya minta maaf."


Orang itu juga terlihat begitu kasihan dengan Ratih, dia sudah hafal betul dengan Ratih yang selalu datang tapi mau bagaimana lagi dia juga tidak bisa berbuat banyak sekarang. Ini adalah ketentuannya.


"Ya sudah, saya akan pergi," dengan begitu lesu dan sangat tak berdaya Ratih pergi dari sana, mau dia memohon seperti apapun juga tidak akan bisa membuatnya bisa mengambil kardus atau apapun di sana.




Rupanya Edo tak menemui Ratih tadi saat melihatnya, dia hanya mengikutinya saja dan akhirnya mereka berdua sampai rumah. Namun sampainya ternyata lebih dulu Edo karena dia mencari jalan lain.



"Edo?" Ratih begitu terkejut tapi juga sangat senang. Awalnya dia sangat sedih tapi setelah melihat Edo kesedihan itu luntur dan berganti dengan kebahagiaan.



Gegas Ratih mendorong gerobak sampahnya, dia ingin sekali cepat sampai di hadapan cucunya itu. Dia juga sangat merindukannya.



Edo memandang dengan sedih neneknya yang masih saja bekerja keras. Terus kepanasan, mendorong gerobak kesana kemari dengan penghasilan yang tak menjanjikan.

__ADS_1



'Aku harus merebut kembali uangku,' batin Edo. Dia menjadi begitu bertekad untuk bisa mengambil kembali uang yang di ambil oleh Alex dan juga temannya. Dengan uang itu tentu bisa meringankan beban neneknya meski hanya beberapa saat.



"Do," kembali Ratih memanggil. Suara itu tentu seketika mengejutkan Edo yang tengah melamun. Edo tersadar lalu bergegas.



"Nenek, buat Edo bantu," ucap Edo. Melihat Ratih yang kepayahan dalam mendorong gerobak membuat hati Edo tergerak dan langsung secepatnya membantu Ratih.



Keduanya sama-sama tersenyum bersamaan dengan melangkah. "Kamu sudah dari tadi, Do?" tanyanya.



"Belum sih, Nek. Baru beberapa saat saja," jawab Edo. Padahal sebenarnya dia sudah lama datang bahkan dia mencari neneknya tadi hingga menemukan Ratih dengan keadaan yang memohon pada orang asing yang tidak Edo kenal.



"Kamu pasti lapar kan, biar nenek masak masakan kesukaanmu." Gegas Ratih melepaskan gerobaknya lalu mulai melangkah masuk dengan menggandeng tangan Edo.



Edo tersenyum, dia begitu bahagia karena kembali merasakan kebahagiaan dari Ratih yang sudah begitu sudah tidak dia rasakan. Terus memandangi wajah Ratih yang terus berbinar. Ada satu hal yang Edo lihat, kebahagiaan Ratih bukan terdapat pada semua uang dan juga kemewahan dunia, melainkan kedatangannya dan senyumnya, itu adalah sumber kebahagiaannya.




~~~~\`



Beberapa masakan tersaji di atas meja di hadapan Edo dan juga Ratih. Hanya masakan sederhana saja, tak ada daging di dalamnya seperti saat dia bersama dengan teman-temannya di tempat rekreasi. Tapi ternyata, makanan sederhana itu mampu membuat Edo begitu bahagia.



Kebahagiaan melebihi kebahagiaan di acara rekreasi yang diadakan oleh Andri anak dari orang kata di sekolahnya.



"Kenapa, kok hanya dilihat saja? Dimakan dong. Ini nenek masak banyak untuk hari ini," ucap Ratih begitu ramah.


__ADS_1


Tangan Ratih mulai bergerak, mengambilkan makannya di atas piring Edo yang merasa terharu. Hingga penuh.



"Sudah, Nek. Nanti Edo tidak akan habis." ucap Edo menghentikan pergerakan tangan Ratih yang masih ingin mengambilnya lagi.



"Baiklah. Sekarang makan dan habiskan, kalau belum kenyang bisa nambah lagi." senyum lagi-lagi terpancar di wajah Ratih memberikan Edo begitu senang. Dia begitu bahagia dan mulai menikmati makanan yang dimasak oleh Ratih untuknya.



"Bagaimana, enak?" tanya Ratih, dia juga mulai menikmati makanannya juga sama seperti Edo.



"Enak, makanan Nenek selalu paling enak," jawab Edo. Terus dia menyuapkan nasinya hingga memenuhi mulutnya.



Begitu lahap Edo makan makanannya hal itu tentu membuat Ratih begitu senang. Meski sudah sangat lama Edo tidak makan masakannya tapi ternyata dia masih begitu menyukainya.



Sesekali Ratih akan melihat Edo dan kembali menyuapkan nasinya sendiri lagi.



~~~~\`\`



Malam hari Edo bergegas untuk berbaring, dia tidur dan sangat pasti dia akan kembali bangun di tubuh yang lain. Edo yang sudah terbangun lagi di tubuhnya yang sempurna langsung bergegas beres-beres, dia akan pulang.



Dan benar saja, setelah selesai beres-beres Edo bergegas pergi ke dia ingin bisa sampai di rumah secepatnya. Tapi sayangnya, di perjalanan menuju stasiun Edo malah bertemu dengan Andri.



"Edo!" Panggil Andri.



Edo tercengang, gagal sudah dia akan cepat pulang kalau seperti ini. Tapi dia juga tidak bisa mengabaikan begitu saja kan?


__ADS_1


~~~~\`\`~~~~


Bersambung...


__ADS_2