
Ruangan yang tadinya luas kini menjadi sempit, Riki mengerutkan keningnya sambil menatap ke lima orang di depannya, ini sesuatu yang aneh dimana ia hanya ingin mencari anggota baru malah masuk ke dalam kekacauan yang tidak terduga.
Seorang perwakilan dari kelima orang tersebut mulai menjelaskan, tujuannya adalah untuk meminta bantuan pada Riki, saat pertama kali datang ke hotel Riki membunuh salah satu siluman dari atap dengan jarak 500 meter, tadinya ia mengira tidak akan ada yang tahu tentangnya namun di luar dugaan polisi sudah mengetahui tentang dirinya.
Mereka pasti sudah melacak datangnya peluru serta siapa saja yang baru menyewa hotel di sekitar dan ditemukanlah Riki sebagai dalangnya.
"Jadi apa yang harus kulakukan?"
"Mengalahkan siluman, kami sangat kewalahan melawannya... setiap kemunculannya mahluk itu selalu memakan beberapa orang kemudian menghilang."
"Bagaimana dengan orang berkekuatan spiritualnya?"
Setiap kota pasti memiliki hal itu walaupun jelas mereka tidak menamai diri mereka dengan Badan Penanggulangan Serangan Gaib seperti yang dinaungi Albert.
"Mereka saat ini terluka parah.. kami mohon pada Anda."
Riki menatap ke arah Nina yang duduk selagi memakan eskrim tanpa berkata apapun. Ia pasti berniat menyerahkan urusannya pada Riki.
"Baiklah, karena sedang disini kami akan berburu satu siluman."
"Terima kasih banyak."
Kelimanya meninggalkan kamar hotel saat permintaan mereka akhirnya disetujui.
"Kau yakin?"
"Bagaimana lagi, aku tidak mungkin pergi dan membiarkan orang-orang mati kan."
"Iya, terkadang Riki terlihat keren sesekali tadi."
__ADS_1
"Sesekali? Bukannya, aku selalu keren tiap saat."
"Aku tidak akan mengatakan itu."
Suara lolongan bergema di seluruh kota yang sepi, di bawah cahaya bulan, Riki dan Nina menelusuri asal suara dan mendapati seekor siluman serigala berdiri di atas mobil yang terparkir. darah segar menetes dari mulutnya yang dipenuhi taring. Di mulutnya itu adalah sebuah tangan manusia yang sudah kehilangan bentuk sempurnanya.
"Nina bersembunyilah, kali ini bukan siluman biasa."
Atas permintaan Riki, Nina bersembunyi di balik bangunan terdekat setelah mengangguk kecil. Karena merasakan aura yang tidak biasa dia mengambil ponselnya untuk memanggil satu orang lagi sebagai bantuan.
Sementara itu, Riki telah menarik pistol ke tangan kanannya dan terdengar bunyi "cekrek" saat ia menggeser moncong senjatanya.
"Siluman serigala kah, dari dulu aku sering mendengar ceritamu."
"Rraaauugh."
Serigala itu membuang tangan di mulutnya lalu mengalihkan pandangannya ke arah Riki yang berjalan mendekat tampak waspada. Matanya yang merah darah bersinar di kegelapan, sekilas pandangannya mirip Mai saat menemukan targetnya.
"Aku lebih suka dipanggil pemburu siluman."
Serigala tertawa terbahak-bahak.
"Manusia kuat sepertimu lebih pantas menjadi santapanku."
"Mari kita buktikan siapa yang mangsa dan pemburu."
Riki melangkah maju sambil menembakkan pistolnya. Serigala menerimanya dengan tubuh sekuat baja lalu berlari menerjang ke arah Riki.
Riki menangkap kedua pundaknya, lalu melompat ke atasnya, dia mengeluarkan belati yang di sembunyikan di tangan kanan kemudian bergerak untuk menusuk punggungnya, sayangnya si serigala menyadarinya dan menepis tangannya, dan saat dia membalas dengan ayunan cakarnya Riki mundur ke belakang.
__ADS_1
Tangan kanan belati tangan kiri pistol.
"Gwahaha menarik, karena inilah memburu orang kuat lebih menyenangkan."
Si serigala melangkah maju, Riki hanya harus menghindari tebasannya jadi dia tidak pernah melewatkan pergerakan dari tangannya, namun sayangnya di luar dugaan setelah beberapa saat bertarung musuhnya juga menggunakan kaki.
Dia bergerak seperti Pricil meskipun tidak lebih cepat dan kuat darinya, untuk sesaat Riki bersyukur bahwa dia sebelumnya melawan gadis tersebut.
Serigala menebaskan cakarnya sedikit melukai punggung tangan kiri Riki hingga dia menjatuhkan senjata apinya. Ketika dia hendak mengirimkan serangan berikutnya Riki telah mempersempit jarak dengan cepat belatinya yang mana itu dengan kuat menikam jantung si serigala tepat sasaran.
"Guakh."
Siluman serigala memuntahkan darah dari mulutnya berusaha menahan dirinya yang akan kehilangan kesadaran, dia berkata
"Kau tahu. Kami para serigala selalu berburu bergerombol."
"AAAAAAuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu."
Bersamaan dengan perkataannya lolongan mulai terdengar di seluruh kota. Empat serigala lain jatuh dari langit.
"Empat," seru Riki
"Tidak, lima lebih tepatnya," balasnya sebelum tumbang.
Tanpa diduga seekor lagi muncul di samping Riki. Ia hendak melayangkan cakarnya, sebelum ia sempat melakukannya sebuah pukulan menghantamnya hingga meledak.
Daging bercampur darah berjatuhan di sepanjang jalan.
Riki tersenyum ke arah orang yang melakukannya yaitu seorang gadis yang dia kenal.
__ADS_1
"Kau terlalu berlebihan Pricil."
"Soalnya aku membenci serigala sih...mereka musuh alami para kucing."