
Selepas pulang sekolah Riki menyapa Pricil yang berada di luar gedung markas.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
"Bukan sesuatu yang serius, akhirnya aku bisa mengusir para kucing itu dengan cepat," Pricil mengatakannya dengan bangga.
Belakangan ini memang banyak kucing yang berkeliaran di sekitar sini, dan jelas bahwa Pricil yang telah mengusirnya.
"Kau melakukan pekerjaan dengan baik, mau aku belikan sesuatu."
"Kalau begitu aku ingin makan es krim."
"Jika es krim, mari ambil beberapa milik Nina."
"Fufu itu ide bagus."
Ketika mereka mencarinya, kulkas yang selama ini terbuka telah dikunci dengan kode suara.
"Nina benar-benar marah."
"Benar sekali."
Pagi itu seseorang telah masuk ke dalam kelas.
"Riki ada yang mencarimu," suara itu berasal dari teman sekelasnya.
Masih bertanya-tanya siapa yang mencarinya, Riki berjalan ke arah pintu dan mendapati seorang pria culun berdiri di sana. Rambutnya berponi rata.
"Kau rupanya Dery, ada yang bisa aku bantu?"
Laki-laki itu membetulkan kaca mata besarnya.
"Tidak, aku hanya ingin menyapamu, kukira kau tidak akan kembali ke sekolah lagi tapi syukurlah."
"Begitu."
"Karena kau baik baik saja, aku pergi."
"Terima kasih sudah menghawatirkanku, tolong sampaikan permintaan maafku pada ibu asuh"
"Ya... Berkunjunglah kalau ada waktu, yang lain juga akan senang."
Dery berjalan pergi, di saat yang sama Pricil muncul dari belakang Riki.
__ADS_1
"Kau mengenalnya?"
"Namanya Dery kami tinggal di panti asuhan yang sama, sama sepertiku ia juga memutusnya untuk mandiri dari panti asuhan."
"Kalian benar-benar hebat, aku ingin bertanya apa kau tidak berniat mencari orang tua aslimu?"
Riki menggelengkan kepalanya.
"Bagi kami panti asuhan adalah orang tua kami, entah kami dibuang atau ditelantarkan, kami sudah merasa cukup dengan itu... kami mensyukuri hidup kami yang sekarang."
"Aku mengerti."
Dari kejauhan keduanya melihat lima orang tengah menganggu Dery, entah apa yang mereka bicarakan yang jelas Dery terlihat bermasalah.
"Bisakah kau mengurusnya."
"Tentu saja, aku akan menghajar mereka dengan pukulanku," Pricil memamerkan tinjunya.
"Jangan sampai membunuh."
"Memangnya kau pikir aku ini siapa, akan kubuat mereka tak bisa bergerak selama seminggu."
"Kuserahkan padamu."
Di belakang sekolah.
"Hey Dery, ini adalah PR kami... cepat kerjakan semuanya sekarang sebelum waktu istirahat berakhir."
"Ba-baik," Dery menjawab lemah.
"Jika sampai salah, itu sama dengan pukulan yang akan kau terima nantinya."
"Baik."
Dery segera mengerjakannya dengan buru-buru, baginya pukulan sesuatu yang menakutkan yang membuatnya selalu trauma.
"Ah, jadi seperti ini kelakuan anak SMA jaman sekarang," suara muncul membuat ke lima orang itu terkejut, saat mereka menoleh pricil berdiri disana sedang melipat lengan seragamnya ke atas.
"Siapa wanita jelek ini... Pergilah dari sini, ini bukan urusanmu."
"Siapa yang kau panggil jelek. Hah?"
'Aku datang kemari untuk membantunya."
__ADS_1
"Mau jadi sok pahlawan, kalian serang dia."
"Oke bos."
Dua orang melangkah maju tanpa tahu siapa yang sedang mereka lawan, setiap anggota badan penanggulangan serangan gaib sudah dilatih untuk menjadi mesin pembunuh, tentu bukan untuk membunuh manusia melainkan siluman hanya saja ketika bertarung dengan manusia akan sulit untuk mengontrolnya.
Bahkan sebelum itu Pricil sudah ahli dalam bela diri.
Keduanya mengirimkan tinjunya di saat yang sama terdengar bunyi aneh dari tangan mereka.
"Aaaaaaaa"
Kedua orang itu terjatuh selagi memegangi tangan masing masing. Baru saja Pricil mematahkan tangan mereka bagaikan sebuah lidi.
"Kau... sialan."
Sisanya mulai menyerang dengan menggunakan balok kayu. Bagi Pricil yang sudah terlatih, balok kayu hanyalah sebuah lelucon dia bahkan bisa memecahkan 50 balok beton dengan tangannya.
Balok diayunkan, Pricil menerimanya dengan tendangan hingga balok patah, semua orang tercengang namun sudah terlambat ke tiga orang itu mengalami hal yang sama yang dialami kedua orang sebelumnya.
Pricil memasukan uang ke dalam salah satu pelaku.
"Uang ini untuk berobat kalian, percuma jika kalian berusaha melaporkanku. Polisi tidak akan mengurus kalian tapi malah akan lebih memperburuk keadaan."
Kelima orang itu memekik ketakutan.
"Apa itu sakit? Orang ini lebih merasakan sakit dibanding kalian, jika kalian bijak kalian tidak akan mengganggunya lagi...yaah, jika pun itu terjadi aku akan menghancurkan kalian."
"Ampun, kami tidak akan melakukannya lagi."
"Senang mendengarnya."
Pricil yang hendak pergi dihentikan oleh suara Dery.
"Terima kasih banyak."
"Berterima kasihlah pada Riki, dialah yang memintaku melakukannya."
"Riki?"
"Dia sudah lebih kuat dari yang dulu, aku pergi."
Dery hanya bisa melihatnya dari kejauhan sampai sosok Pricil menghilang.
__ADS_1
Sebenarnya apa yang sudah kau lakukan selama ini Riki, gumamnya selagi menatap langit biru.