
Selama dua hari kelompok Nina berada di markas milik Mei Ling untuk saling belajar satu sama lain dan di hari ketiga sebelum mereka kembali, mereka pergi ke suatu tempat.
Keinginan Pricil adalah mengunjungi pantai dan kini terlaksana, ia mengenakan pakaian renang bersama Nina dan saling menyipratkan air laut ke wajah masing-masing, sementara Riki hanya duduk di pinggir pantai mengawasi. Ia masih mengingat bagaimana ia tidur di bantalan paha Nina dan anehnya dia merasa sangat nyaman hingga melupakan bahwa fakta seekor kucing sedang berenang di tengah laut juga.
"Kucing itu hebat."
"Aku penasaran siapa yang mengajarinya."
Mengesampingkan hal itu, dari tempatnya duduk ia dapat melihat keseluruhan pantai, ujung laut serta matahari yang semakin panas cukup menyengat kulitnya.
Pricil menoleh ke arahnya selagi melambaikan tangan.
"Riki, kemarilah.... kita main bareng yuk."
"Apa enaknya hanya duduk di sana sepanjang waktu," tambah Nina meski begitu jawabannya tetap sama, dia tidak mau melakukannya.
"Kerena kami tidak mengenakan bikini, kau jadi lesu ya."
"Bukan itu masalahnya."
"Lupakan saja dia, ayo lanjut Nina."
"Oke."
Alasan kenapa Riki tidak ikut, karena semua laki-laki sedang menatapnya sekarang, saat Riki membalas tatapan mereka, semuanya mengalihkan pandangannya. Melihat Riki bersama dua gadis cantik mana mungkin ada seorang pria yang tidak iri padanya. itulah kenyataannya dan Riki harus mulai terbiasa dengan hal itu.
Ia pikir jika saja ada Luis mungkin situasinya tidak seperti ini.
Demi merubah suasana hatinya, Riki akhirnya pergi untuk membeli minuman dingin.
Dia memilih minuman bersoda untuk menghilangkan dahaganya.
Lalu..
__ADS_1
"Kau juga disini rupanya." Saat dia menoleh dimana asal suara berada, ia menemukan si pria Afro dengan pakaian cutbray sedang menatapnya, ia mengangkat satu tangan sambil mengerak-gerakan pinggulnya dengan pose aneh.
Menjijikan, gumam Riki.
"Bukannya kau harus berada di rumah sakit sekarang."
"Adikku marah dan dia menyuruhku untuk segera pergi kemari, katanya dia ingin sendirian."
Riki pikir dia adik yang baik sebelum memberikan satu kaleng untuk Luis.
"Aku yang traktir."
"Thank you," dia membalasnya dengan bahasa Inggris.
Keduanya hendak kembali namun di saat itu dia melihat Nina dan Pricil yang sedang digoda beberapa pria kasar.
"Mereka dalam kesulitan, apa tidak dibantu."
"Biarkan saja, aku kasihan pada mereka."
"Hajar Nina, berikan pukulan untuk para Lolicon ini."
Setelah selesai keempatnya mulai bermain bersama, mereka memainkan permainan voli pantai.
"Rasakan serangan beta, Dragon Ball."
"Itu judul Anime," teriak Riki dan bola melesat ke arah Nina yang mampu dia pantulkan ke atas, kini giliran Pricil yang melompat jauh lalu memberikan smash yang mana mengenai wajah Luis.
"Kau baik-baik saja."
"Jangan khawatir, bola adalah teman."
"Salah olah raga."
__ADS_1
Mereka bermain cukup lama sampai sebuah suara dering terdengar, itu berasal dari ponsel Luis dan di sana tertulis rumah sakit.
"Luis?"
"Aku akan ke sana."
"Ada apa?"
"Kondisi adikku sedang kritis, beta harus pergi."
"Aku ikut denganmu."
Tak ingin berlama lama Luis hanya mengangguk atas permintaan Riki dan mereka berlari berbarengan menuju rumah sakit.
Untuk Nina dan Pricil mereka belum diberitahu karena sedang membeli es krim di salah satu toko di pantai.
"Dokter! bagaimana kondisi adikku."
"Kita harus segera mengoperasinya... tidak ada jalan lagi, jika dibiarkan kondisinya akan makin memburuk."
"Tapi.."
Riki yang ada di belakang menepuk pundak Luis lalu melangkah maju.
"Tolong segera lakukan operasinya, semua administrasi biar saya yang urus," ucapnya selagi menunjukan id card miliknya, seketika wajah dokter itu tampak tercengang.
Ia segera memberi hormat pada Riki.
"Siap pak! Kami akan mengerahkan seluruh dokter terbaik yang sedang tidak bertugas."
"Aku mengandalkanmu."
"Saya permisi."
__ADS_1
Sampai sekarang Riki tidak tau Id card yang di pegangnya itu apa namun dia pikir ini semacam kartu sakti, saat ia bertanya pada Albert atau Nina mereka hanya bilang itu "kartu khusus" tanpa memberikan penjelasan lainnya.