
Semua anggota badan penanggulangan serangan gaib telah menunggu di luar ruangan, ketika dokter muncul mereka dipersilahkan masuk untuk menjenguk pasien.
Di atas ranjang itu Kaede duduk selagi mengalihkan pandangannya, tak perlu baginya untuk menyadari bahwa Mai telah memeluknya erat.
Ini pertama kalinya semua orang melihat Mai begitu manja pada seseorang.
"Aku pikir aku bisa mati dengan tenang."
"Dibandingkan berfikir mati bukannya ini awal bagus untuk memulainya kembali," ucap Riki demikian.
"Hmm perkataan bagus, terima kasih sudah merawat adikku yang merepotkan ini mulai sekarang tolong awasi dia untukku."
"Onee-chan."
"Kami jelas tidak akan melakukannya, sebagai kakaknya kau sendiri yang harus melakukannya."
Nina menambahkan.
"Begitulah, aku sudah lelah melakukannya sekarang giliranmu."
"Itu artinya."
Albert memotong.
"Kamu punya banyak kamar kosong, tinggallah bersama kami, tentu saja setelah kamu diperbolehkan keluar rumah sakit."
"Terima kasih banyak."
Luis tampak menangis.
"Ini sangat menyentuh."
"Kakak kau terlalu cengeng."
"Gadis tidak boleh menangis," ucap Pricil yang kembali dijawab oleh Claudia.
"Gadis tidak masalah jika mereka ingin menangis."
Riki hanya tersenyum mengawasi semuanya.
Tiga hari berikutnya ketiga gadis meliputi Pricil, Claudia dan Mai telah dikirim ke pusat perbelanjaan untuk mengatasi sebuah kekacauan yang terjadi di sana.
Mereka semua bertemu dengan tiga sosok pria dengan pakaian badut.
"Jadi kau yang namanya Ayumi Mai, perkenalkan namaku La, ini Li dan sana Lu. Kami tiga bersaudara."
La mengenakan pakaian badut berwarna hijau, Li kuning sementara Lu merah.
Li berkata selagi mengacungkan pedangnya.
__ADS_1
"Tiga lawan tiga, jumlah yang pas."
"Aku juga setuju," ucap Mai sebelum melangkah maju sambil mengayunkan pedangnya, di saat yang sama La menahan dengan pedangnya.
"Kau kuat juga."
"Terima kasih,"jawab Mai.
Li dan Lu pun memutuskan masing masing melawan satu persatu.
Pricil menggunakan cakarnya sementara Claudia mengandalkan serangan esnya. Mereka bertarung cukup lama hingga sebuah letusan tembakan terdengar.
"Tidak mungkin, sniper?"
La tumbang dengan sekali tembakan di kepalanya. Disusul Li dan yang terakhir Lu.
Semuanya dilakukan oleh satu orang yaitu Riki, yang berada di atas gedung lain.
"Target sudah dihabisi."
"Kerja bagus Riki....cobalah untuk bersama Mai dan kembali ke markas, ada yang ingin aku tunjukan."
"Laksanakan."
Mai melirik ke arah tiga badut tersebut.
"Aku lupa mengatakannya, kami sebenarnya berempat.
"Kuserahkan padamu, Lili."
mendapat pernyataan itu, gadis kecil itu mengangguk selagi menempatkan tangan mungilnya di jendela.
Lalu.
Jendela itu meledak dan hancur berantakan yang membuat pecahan kaca berserakan dimana-mana.
Melihat itu, para petugas keamanan berusaha menghentikan keduanya namun saat Lili menyentuh mereka, kepala mereka meledak bagaikan sebuah petasan. Cairan merah berserakan di setiap lantai, isi kepala itu membuat yang melihatnya ikut muntah.
Orang-orang yang panik pun berhamburan keluar.
Riel melewatinya begitu saja. Dia bertanya pada resepsionis.
"Di mana tempat yang sedang menayangkan acara langsung?"
"la-lantai tiga."
"Terima kasih, ayo pergi Lili."
"Ya."
__ADS_1
Keduanya menaiki lift ke lantai dimaksud, memasuki salah satu ruangan.
Setelah mengusir reporter yang sedang membaca berita. Riel berkata.
"Jika acaranya dihentikan, seluruh bangunan ini akan hancur sekaligus."
Semua orang terdiam membisu termausk orang yang menontonnya.
Di saat yang sama lima petugas masuk ke ruangan berusaha menghentikan keduanya.
"Biar aku saja Lili. Jika ada mayat di sini itu akan mengganggu penayangannya."
Riel melemparkan lima buah batu ke luar jendela, bersamaan dengan itu ia segera menyentuh kelima petugas dan hasilnya mereka berpindah tempat dengan batu yang di lemparkannya.
"Ah. Pasti kalian bingung, apa yang terjadi? Kalian tahu situasi jika telur dijatuhkan dari ketinggian, kelima orang barusan mengalami hal yang sama."
Perkataan itu membuat semua gemetaran, itulah kebenaran yang Riel lakukan sekarang, ia kemudian beralih menatap kamera kembali.
"Namaku Riel ketua Fallen. Alasan aku berada di sini karena aku ingin memberitahukan pada kalian bahwa kalian semua akan mati, aku sudah meletakan empat bom di setiap penjuru kota."
Orang yang menyaksikan hanya bisa menelan ludah dengan keringat membanjiri wajah mereka. Riel melanjutkan.
"Bom itu akan mampu menghancurkan seluruh kota ini dalam waktu 20 menit dari sekarang, jadi bersiaplah kalian manusia yang menjijikan. Bukannya kalian itu suka saling membunuh, aku hanya ingin mempercepat kepunahan kalian, kota per kota, pulau per pulau dan akhirnya dunia. Kami bangsa siluman akan mengambil alih dunia kalian, dan kalian semua akan musnah," Riel tersenyum menakutkan layaknya iblis lalu bersama Lili keduanya menjadi sebuah batu.
"Aku harus keluar dari kota."
"Tidak, aku tidak mau mati."
"Menyingkirlah dari jalanku"
Teriakan putus asa, bunyi klakson seta kepanikan kini membajiri seluruh kota, dalam 20 menit ledakan akan terjadi, ledakan yang mampu membunuh seluruh isi kota.
Riel dan Lili muncul di luar bagunan stasiun tv yang baru mereka serang.
Lili yang membawa boneka hanya asik bermain dengannya.
"Semua orang sudah siap di posisinya tapi apa aku juga harus ikut bertarung?"
"Maaf Lili tapi aku sekarang mengandalkan kekuatanmu."
"Begitu..... selama ini aku tidak pernah ikut campur apapun, jika kau membiarkan aku mengeluarkan kekuatanku, aku akan mengamuk sepuas hatiku."
"Yup itu tidak masalah, lakukan saja apa yang kau inginkan. Kami tidak akan mengganggumu."
Lili tersenyum, selama ini dia tidak pernah di ikutkan pertarungan apapun, alasannya karena kekuatan Lili sangatlah kuat bahkan ia selalu kehilangan kesadaran dirinya dan selalu membantai apapun yang ada di depannya termasuk temannya sendiri.
"Kalau begitu aku pergi, sebentar lagi tamu yang penting akan tiba."
"Baiklah."
__ADS_1
Lili hanya berjalan pergi sambil menyeret boneka di tangannya.
Pertarungan terakhir akan tiba, apakah manusia yang akan memenangkan pertarungan ini ataukah siluman, hal itu ditentukan dari sekarang.