
"Kalian benar-benar tidak melihatnya," Riki kembali mengkonfirmasi keberadaan Lia.
Semua orang menggelengkan kepalanya, sementara Nina menjelaskan.
"Berbeda dengan siluman, roh memliki energi yang lembut, kami tidak mungkin bisa melihatnya. Ini juga perbedaan antara kekuatan spiritual yang memberi kemampuan dan kekuatan spiritual yang menguatkan panca indra."
Nina terdiam sejenak sebelum melanjutkan.
"Kalau saja kami memiliki bakat sepertimu kami pasti bisa melihatnya juga, tapi lewatmu juga itu sudah cukup."
Riki mengangguk mengerti.
"Menurut novel yang kubaca, hantu adalah kumpulan emosi yang tertinggal di dunia ini, jadi jika penyesalannya sudah menghilang dia bisa pergi ke akhirat." Mai menambahkan.
"Aku masih hidup," protes Lia walaupun suaranya tidak bisa didengar mereka.
"Aku kira kau hanya membaca buku sesat," ucap Riki demikian.
"Riki apa kau tahu seberapa tajamnya pedangku ini."
"Aku tidak ingin tahu."
"Baguslah kalau mengerti," Mai tertawa kecil sedangkan Albert dan Pricil tersenyum pahit memperhatikan.
Hanya kedua orang ini yang bisa membuat hal barusan sebagai sebuah lelucon.
Mai memberikan usul.
"Ada banyak orang di sini apa kalian mau pergi ke kamarku, di tempatku banyak hal yang bisa dimainkan bersama loh."
Pricil yang lebih dulu menanggapi.
"Hoh, aku penasaran dengan kamar Mai."
"Sebenarnya aku juga," tambah Nina.
Mai membuka pintu kamarnya dan semua orang mengikutinya masuk dari belakang, rak berjejer dengan rapih dihiasi berbagai buku seperti novel, komik dan hal lainnya, sebagian menggunakan bhs jepang dan sebagian lagi menggunakan bahasa Indonesia.
Bisa dibilang buku itu terlalu banyak sehingga terlihat seperti perpustakaan mini di ruangan.
Pricil maupun Nina menulusuri buku dari tiap rak sementara Albert dan Claudia hanya melihat dari tempatnya berdiri. Awalnya dia penasaran dengan kamar ini, ketika ia tahu hanya seperti ini, Albert menghela nafas.
"Ini rahasia wanita itu toh."
Beberapa kali Mai selalu mengatakan bahwa kamarnya dipenuhi rahasia.
Mai menatap Riki selagi memainkan rambutnya. Sikap imutnya hanya membuatmu terlihat aneh.
"Bagaimana menurutmu?"
"Kamar ini luar biasa, semua komiknya juga lengkap."
"Hehe."
Lia tampak melayang-layang di atas ruangan selagi menilai lalu keluar karena bosan.
__ADS_1
"Kau sangat menyukai buku rupanya," ucap Nina selagi mengambil satu di rak.
"Dari kecil aku selalu mengoleksi buku, hingga tak terasa aku sudah mengumpulkan sebanyak ini."
Mai tersenyum bangga lalu melanjutkan.
"Kalau Riki mau pinjam aku bisa mengijinkannya, kau boleh meminjamnya kapanpun yang kau mau. Ini kunci kamarku."
"Itu terlalu berlebihan jadi aku jelas menolak kuncinya."
Nina tampak mengembungkan pipinya walau demikianlah dia memilih memalingkan wajahnya.
"Kalian asyik mengobrol berdua saja, bagaimana kalau kita bermain ini?" Pricil datang selagi menyodorkan sebuah papan permainan, di sampingnya Nina terlihat bersemangat seakan ada kilatan cahaya di matanya.
Melihat hal itu, Riki tidak bisa menolaknya.
Albert memutuskan untuk keluar sedangkan kelimanya mulai membentuk lingkaran kecil dan sebuah kertas berbentuk persegi di tempatkan di antara mereka, itu adalah sebuah permainan yang terkenal disebut Monopoli.
Yang memulai mengambil dadu adalah Nina. Ia menggunakan teknik yang cepat dari kedua tangannya lalu melemparnya pelan, kedua dadu menunjukan mata 6.
"Dua belas," teriak semua orang.
"Yah, aku benar benar beruntung."
Nina menggerakan pionnya 12 kotak dan mendapatkan kartu kesempatan.
"Tunjuk salah satu pemain untuk dijadikan pasanganmu lalu minta ia memberikan 2.000 padamu."
"Aku memilih Riki, cepat berikan uangmu."
Tidak, ini hanya permainan, pikir Riki dalam hati.
Dia berusaha bernegosiasi.
'"Tunggu sebentar, baru juga main sudah keluar uang, lagipula dana awal kita 1.500 masa aku harus mengeluarkan 2.000," jawab Riki memprotes, sementara Nina tersenyum.
"Berarti Riki punya hutang padaku, 500... tentu tiap giliran hutang itu akan berlipat ganda."
"Dasar lintah darat."
"Aturan tetap aturan, mana uangnya?"
"Aku tidak akan memberikannya."
"Jangan curang loh," ucap Pricil demikian yang mendapatkan anggukan Claudia.
"Aku tidak curang, kartunya bilang tunjuk salah satu pemain untuk dijadikan pasanganmu lalu minta ia memberikan 2.000 padamu, di sana tidak tertulis bahwa aku harus memberikannya jadi dengan kata lain aku bisa menolaknya."
Nina tertawa.
"Memang benar, apa boleh buat aku memilih menyerah... karena apapun hasilnya tetap saja aku yang akan menang."
Nina memberikan aura permusuhan untuk semua orang, di saat seperti dia malah serius.
Karena angkanya sama sekarang giliran Nina lagi.
__ADS_1
Nina melemparkan dadunya kembali, mendapat akan 8 dan ia mendapatkan kartu kesempatan.
"Pasanganmu tidak mau memberikan uang padamu, maka dia berhak masuk penjara."
"Oi... apa - apaan permainan ini," protes Riki.
"Sebenarnya akulah yang memodifikasi permainan ini," orang yang membanggakan dirinya itu adalah Mai.
Dia menambahkan.
"Tak apa kan, biar makin seru."
Sekarang giliran Mai yang melempar dadu.
"Aku juga dapat kartu kesempatan....hmmmm kita lihat, jika ada pemain yang masuk penjara hukumannya akan ditambah, lewat 5x putaran, maaf Riki kau akan berada di penjara lebih lama," Mai menutup satu matanya menggoda Riki yang tersenyum masam.
Riki bahkan memeriksanya sendiri dan itu benar adanya.
"Sepertinya permainan ini membenciku."
"Giliranku kartu kesempatan. Jika ada pemain yang masuk penjara hukumannya akan di tambah, lewat 5x putaran lagi," Pricil berkata demikian.
Riki menatap Mai yang berpura pura bersiul.
"Mai, dimana kartu kesempatan yang tadi kau pakai."
"Sudah hilang. Aduh, aduh sakit-sakit jangan menarik-narik pipiku."
Untuk Claudia dia orang yang berjalan dengan normal.
"Yeeey, aku akan beli rumah di sini."
Semua orang bertepuk tangan untuknya.
Akhirnya tiba giliran Riki, ia melemparkan dadu dan mendapat angka 6 dari dua dadu.
"Wahh Riki dapat dana umum, biar kubacakan."
"Aku pasti dapat banyak uang."
"Aaah."
"Ada apa Nina?" tanya Pricil.
"Di sini bertuliskan, Anda harus membayar pajak sebesar uang yang Anda miliki."
Riki menundukkan kepalanya frustasi.
"Tak apa, Nina yang baik akan membantu... kau bisa menjadi pembantuku, kita bisa berbagi uang"
"Ogah."
Setelah satu jam berlalu pemenangnya sudah diputuskan. Ninalah yang menjadi orang paling kaya bahkan dalam permainan pun dia menjadi konglomerat.
Kedua Pricil, ketiga Mai, Keempat Claudia dan kelima bangkrut.
__ADS_1
"Aku tidak akan pernah memainkan permainan ini lagi," gumam Riki dalam hati.